
Leona dan Jordan tiba di halaman samping. Semua orang yang saat itu sedang berkumpul dan menunggu-nunggu kehadiran Leona menyambut Leona dengan suka cita. Emelie yang terlihat paling antusias saat itu. Ia melangkah mendekati Leona bahkan di saat Serena ingin menghampiri putrinya.
“Sayang, kau sangat cantik. Gaun ini sangat pas denganmu,” puji Emelie sambil memegang kedua pipi Leona.
Leona mengukir senyuman. Ia memandang wajah Serena sejenak sebelum memandang wajah Emelie lagi. “Terima kasih, Tante. Jordan yang memilih gaun ini tadi,” jawab Leona dengan suara sedikit keras agar Serena mendengar alasannya tidak memakai gaun pilihan Serena.
Serena hanya mengukir senyuman ketika mendengar perkataan Leona. Wanita itu merangkul lengan suaminya dan membawanya berjalan mendekati Leona. Begitu juga dengan Zeroun. Pria itu berjalan pelan mendekati posisi Leona dan Jordan berada. Mereka para orang tua ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Leona dan Jordan.
“Ma,” sapa Leona ketika Serena berdiri di hadapannya. Wanita itu berjalan dan memeluk Serena. Tidak tahu kenapa ia ingin menangis saat itu. Ia merasa memiliki banyak dosa kepada ibunya. “Ma, maafin Leona.”
Serena memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. “Sayang, apapun yang pernah kau lakukan. Mama akan selalu memaafkan semua kesalahanmu. Kau sudah dewasa. Tdiak lama lagi kau akan menjalani kehidupan yang baru bersama dengan suaminya. Mama harap kau tidak lagi mengulang kesalahan yang sama. Berbahagialah bersama Jordan. Mama dan papa akan selalu merestuimu dan mendoakanmu.”
“Ma, jangan berbicara seolah-olah aku akan pergi dari rumah ini. Aku masih lama di sini. Jangan mengusirku,” protes Leona dengan suara kecil.
Daniel mengusap rambut Leona. Ia sangat bahagia melihat putrinya sudah berubah dewasa. Walaupun begitu, di mata Daniel. Leona tetaplah putri kecilnya yang menggemaskan dan manja.
__ADS_1
Dari posisi yang agak jauh, Aleo memperhatikan pemandangan itu dengan wajah bahagia. Ia bangga melihat kedua orang tuanya yang selalu harmonis dan kompak. Dia bangga kepada kedua orang tuanya yang memiliki sifat pemaaf dan sabar. Aleo juga bangga dengan kembarannya yang kini sudah berubah dewasa.
“Kak, kenapa kau tidak bergabung dengan Kak Leona dan Jordan?” Kwan merangkul pundak Aleo dan memandangnya dengan wajah sok akrab. Padahal sejak dulu Kwan tidak terlalu berani bersikap seperti itu kepada Aleo. Tidak tahu siang ini kenapa ia bisa begitu berani.
“Kwan, apa kau mau membantuku?” tanya Aleo dengan wajah yang serius. Pria itu memandang wajah Kwan dengan tatapan tidak berkedip.
Kwan mengatur napasnya. Sejak dulu Aleo bukan orang yang mudah di tebak jalan pikirannya. Pria itu mulai ragu dengan permintaan Aleo kali ini.
“Kak, kau pria sukses yang memiliki banyak harta. Kau tidak mungkin minta sesuatu yang memiliki nominal bukan? Kau pasti tahu sendiri kalau aku tidak terlalu kaya.”
“Bisa-bisanya dia berkata seperti itu,” umpat Kwan di dalam hati. “Oke, lalu apa yang bisa Kwan bantu untuk Kak Aleo?”
“Kwan, carikan aku seorang wanita. Aku akan menikahinya setahun lagi.”
Kwan mematung. Ia tidak menyangka kalau Aleo akan meminta dirinya melakukan hal yang seperti itu. Hingga tiba-tiba saja ia tertawa geli dan memukul lengan Aleo. “Kak, kau sudah bisa bercanda saat ini. Walau tidak terlalu lucu tapi berhasil membuatku tertawa. Hahahaha.” Kwan tertawa di buat-buat. Di dalam pikirannya masih tersimpan harapan kalau hingga detik ini Aleo hanya bercanda saja.
__ADS_1
“Aku tidak bercanda. Carikan aku wanita yang baik hati untuk menjadi istriku. Aku ingin menikah di usia 31 tahun nanti,” ucap Aleo dengan wajah yang serius. Pria itu merapikan jas yang ia kenakan sebelum berjalan ke arah Leona dan Jordan.
“Tunggu! Kak, jangan pergi dulu.” Kwan menghalangi langkah Aleo. Pria itu berdiri di hadapan Aleo dan memandangnya masih dengan wajah bingung.
“Wanita seperti apa yang kau inginkan? Kau pria sukses pasti banyak wanita yang mengincarmu. Kau saja yang tidak mau membuka hati.”
“Aku sudah membuka hati tapi dia mencintai pria lain!” protes Aleo dengan wajah kesal.
Kwan tertegun sebelum akhirnya mengangkat telunjuk dan menunjuk wajah Aleo. “Kau sudah jatuh cinta tapi cintamu bertepuk sebelah tangan ya?” ledek Kwan dengan senyum jahatnya. Jarang-jarang bagi Kwan bisa meledek Aleo seperti itu.
Aleo menajamkan tatapannya seolah ingin melahap tubuh Kwan bulat-bulat. Tentu saja hal itu membuat nyali Kwan menciut. “Oke, kak. Bagaimana kalau aku salah pilih? Bagaimana kalau aku memilih wanita yang matrealistis?” tanya Kwan dengan wajah yang serius.
“Tidak masalah. Asal dia mau menikah denganku. Yang terpenting dia baik hati dan setia," jawab Aleo santai. Pria itu menyingkirkan Kwan dari hadapannya dan melanjutkan langkah kakinya.
Kwan masih berdiri dengan wajah bingung. “Kenapa dia juga ingin menikah? Apa dia takut menjadi perjaka tua?” ledek Kwan dengan suara kecil. Pria itu berjalan ke sisi lain sambil berpikir kira-kira wanita mana yang pantas untuk mendampingi Aleo nantinya. Ia juga tidak tahu kali ini harus meminta bantuan siapa. Walau sejak dulu banyak wanita yang di kenal oleh Kwan, tapi tetap saja tidak ada satu wanitapun yang cocok untuk menikah dengan Aleo.
__ADS_1
“Aku akan memikirkannya nanti setelah pernikahan Kak Leona dan Jordan berjalan dengan lancar.”