Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 109


__ADS_3

Letty menahan langkahnya ketika beberapa pria menghalangi jalannya. Beberapa pasukannya sudah mengangkat senjata dan siap menembak musuh. Tapi, Letty belum memberikan perintah. Hingga akhirnya jari mereka ada di pelatuk tanpa berani bergerak satu centi pun.


Suara tepuk tangan yang sangat keras membuat Letty miring ke samping. Di sana ia melihat pria paruh baya yang tadi menemui Bella bahkan berhasil menghasut wanita itu.


"Akhirnya, kau datang juga. Sudah lama aku ingin melihat wajah mu. Pemimpin Queen Star memang selalu misterius. Bahkan generasi penerusnya juga sangat sulit di lacak."


Letty menyunggingkan senyum ke samping. "Sepertinya aku tahu siapa yang kini berdiri dihadapanku. Seorang pria yang sedang kecewa karena menunggu orderannya tidak kunjung datang. Maafkan saya, Tuan. Bukan maksud mengkhianati. Tapi, saya tidak akan menyerahkan harta sahabat saja kepada pria serakah seperti Anda."


"Sahabat?" Pria itu mengangguk pelan. "Hubungan kalian berjalan dengan baik ya. Satu malam saja sudah sedekat ini. Aku tahu kau sudah melihat chipnya dan mengetahui lokasi emas itu berada. Baiklah, aku pikir aku juga tidak boleh serakah. Bagaimana kalau kita mengambil jalan tengah dari masalah ini?"


"Apa maksud Anda?"


"Saya hanya butuh 2 titik. Sisanya terserah mau kau apakan emas-emas itu," jawab pria itu dengan senyum percaya diri.


"2? Bahkan satu keping emas pun tidak akan kuberikan kepada Anda."


Ekspresi wajah pria itu berubah. Ia menatap tajam wajah Letty. "Percuma saja kau mengetahui keberadaan emas-emas itu. Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa membuka gerbangnya. Hanya aku yang mengetahui sandi untuk membuka gerbang itu!"


"Benarkah? Bagus sekali. Tapi yang pasti, Bella bisa membukanya kan? Bukankah dia putri dari pemilik harta Karun itu?"


Pria itu semakin geram. Ia meminta anak buahnya untuk bertindak. Begitu juga dengan Letty yang tidak mau kalah. Ia juga meminta anak buahnya untuk menembak setiap musuh yang ingin mencelakai mereka.


DUARR DUARR


Ketika pria itu ingin kabur, Letty segera mengejarnya. Ia tidak mau musuhnya lolos begitu saja.


Walau lari pria itu sangat kencang, tapi Letty juga tidak mau kalah. Hingga tidak di sangka-sangka, pria itu menahan langkah kakinya karena merasa terjebak. Rombongan Miller ada di depannya. Kali ini dia tidak memiliki jalan untuk lari.


"Apa Anda tidak lelah berlari?" ledek Letty dari belakang. Wajah Letty berseri ketika melihat Bella ada di gendongan Miller.


Pria itu memutar tubuhnya dan mengeluarkan senjata tajam. Seperti sebuah pedang namun sangat lentur. Pedang itu digunakan sebagai pecut untuk menyayat kulit lawannya.


"Hadapi aku, jika kau berani!"


Tentu saja Miller tidak tinggal diam. Ia meletakkan Bella di bawah dan maju untuk membantu Letty. Ia tidak rela jika sampai benda tajam itu melukai kulit wanitanya.

__ADS_1


"Dua lawan satu? Apa kalian pikir aku takut? Bahkan saat menghadapi anak buahku saja kalian pernah kalah."


Letty mengeluarkan belatinya. Begitu juga dengan Miller. Mereka mengepung pria itu dengan sikap waspada. Sedangkan pasukan Queen Star lebih memilih membantu pasukan Queen Star yang lain yang saat itu sedang menghabisi pasukan pengawal pria tua tersebut.


SREKKK


Satu sabetan membuat Letty waspada. Benda lentur yang tajam itu ada di depan wajahnya. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika sampai berhasil menyentuh wajahnya. Ia merasa beruntung bisa menghindari sabetan lawannya.


Miller menunduk dan mengincar kaki pria itu. Di detik seperti ini mereka butuh pedang. Tapi, siapa yang punya pedang. Mereka tidak pernah menyangka akan bermain dengan senjata seperti itu.


Pria itu tahu penyerangan Miller. Ia segera menyabet ke arah Miller. Namun sabetannya kaki ini masih gagal. Miller menghindar secepat kilat.


Ketika melihat Letty dan Miller yang tetap baik-baik saja, pria itu geram. Ia mulai membantai musuhnya dengan wajah sangarnya. Ia mengincar leher Miller dan Letty agar segera tewas di tangannya.


Bersamaan dengan itu, Bella terbangun. Memang Miller sengaja membuat Bella tidak tidur terlalu lama. Ia tidak mau Bella kesakitan jika tertidur terlalu lama. Ketika melihat Letty, Miller dan pria itu bertarung, Bella hanya bisa diam. Ia tidak tahu harus membela yang mana karena kini dimatanya, semua orang mendekatinya hanya karena harta.


"Apa harta adalah tujuan hidup semua orang? Mereka bertarung hanya karena harta?" Bella berdiri. Ia lelah dengan semuanya. Bahkan ia tidak lagi bersemangat untuk hidup. Bella melihat pistol yang ada di lantai. Ia mengambil pistol itu untuk mengakhiri hidupnya.


"Hentikan!"


"Aku benar-benar menyesal membuatnya tidur sebentar saja. Seharusnya aku membuatnya tertidur 5 hari. Lihatlah, sekarang apa yang ingin dia lakukan?" umpat Miller di dalam hati.


"Bella, apa yang mau kau lakukan?" Letty yang paling panik. Ia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. Ketika sahabat harus pergi karena bunuh diri.


"Kenapa tidak ada yang tulus menyayangiku seperti Ella menyayangiku?"


"Apa yang kau katakan? Aku dan Miller sama-sama menyayangimu," jawab Letty.


"Bohong. Kau datang untuk mencuri gelangku. Lalu kau datang lagi seperti seorang pahlawan!"


Deg. Letty mematung. Ia tidak menyangka kalau Bella kini sudah tahu yang sebenarnya terjadi.


"Bella, kau bukan anak kecil lagi. Turunkan senjata itu!" pria paruh baya itu terlihat sangat takut. Ia seperti tidak tahu mau kalau sampai Bella meninggal dunia. Hal itu menjadi daya tarik Letty.


Saat Letty melangkah ingin menghabisi pria paruh baya itu. Tiba-tiba pria itu tersadar dan berputar. Sayatan yang sangat tajam terkena di tangan kanan Letty. Belati yang sempat di genggam juga terlepas. Darah segar mengalir di sana.

__ADS_1


"Bahkan aku bisa membunuh tanpa melihat, Nona!"


Miller tidak tahu harus bagaimana. Posisi ya di tengah-tengah. Jika ia berlari menolong Letty, siapa lagi yang membujuk Bella. Namun, membujuk Bella sama saja membiarkan Letty sekarat.


"Selamat tinggal, Miller."


Letty mengangkat senjata apinya dengan tangan kiri. Senjata itu ia tembakkan ke arah Bella hingga membuat pistol yang dipegang Bella terpental sebelum akhirnya Letty terduduk. Ia butuh waktu untuk menguasai rasa sakit yang kini ia rasakan.


"Bella!" Miller segera mengambil senjata api yang terlepas. Ia tidak mau Bella mempersulit keadaaan.


"Seharusnya pria yang kau bunuh adalah pria tua ini!" teriak Miller penuh emosi.


Bella hanya diam memandang wajah Miller. Ia terlihat seperti orang yang depresi. Tidak bisa di ajak berbicara apa lagi di ajak berdiskusi.


Suara sirine polisi terdengar dengan jelas. Miller segera menembak pria itu. Ia tidak mau pria itu kabur. Tembakan Miller berhasil mengenai kaki pria itu hingga ia tidak bisa berlari lebih jauh lagi.


Bella mulai memejamkan matanya. Ia lelah dengan semua yang terjadi. Miller segera menangkap tubuh Bella sebelum terjatuh.


"Letty, pergilah. Aku tidak mau kau tertangkap!" teriak Miller kepada Letty. Akan sulit bagi Miller membawa Bella berlari dalam keadaan seperti ini.


"Bagaimana denganmu?"


"Jangan pikirkan aku. Bawa Queen Star pergi. Cepat!"


Letty berdiri di bantu pasukannya. Walau tidak tega meninggalkan Miller di sana, tapi ia harus kabur sekarang juga. Letty tidak tahu sampai tertangkap. Pria yang tadi tertembak hanya bisa diam di tempat. Selama Miller ada di dekatnya, ia tidak akan bisa kabur ke manapun.


"Cepat! Apa yang kau lihat!" teriak Miller lagi ketika Letty hanya berdiri dan mematung di posisinya.


"Berjanjilah untuk menemuiku nanti."


Miller tersenyum dan mengangguk. "Ya, aku janji. Sekarang, pergilah."


Letty merasa sedih. Ia memutar tubuhnya dengan rasa ragu. Langkahnya di bantu pasukan Queen Star agar bisa lebih cepat lagi.


"Temui aku, Miller. Aku akan menunggumu!"

__ADS_1


__ADS_2