Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 15


__ADS_3

Oliver mematikan mesin mobilnya. Ia sudah tiba di tempat yang ingin di kunjungi Katterine. Namun, tidak seperti biasanya. Katterine masih duduk di sana tanpa mau turun dari mobil. Oliver lebih dulu turun dari mobil. Ia berjalan ke samping mobil dan membuka pintu samping agar Katterine bisa turun.


Katterine memandang wajah Oliver sekilas sebelum memasang wajah jutek lagi. Ia justru mencari posisi nyamannya untuk bersandar.


"Katterine, apa lagi sekarang?"


"Apa lagi sekarang? Apa aku beban bagimu hingga kau mengucapkan kalimat yang tidak pantas seperti itu?" Katterine semakin kesal. Ia segera turun dan berdiri di hadapan Oliver. Tatapannya terlihat tidak bersahabat sama sekali.


"Katterine, apa masalahnya?" Oliver memegang lengan Katterine agar wanita itu tidak pergi begitu saja meninggalkannya.


"Apa masalahnya? Tidak ada. Semua baik-baik saja. Aku hanya wanita bodoh yang tidak boleh tahu hal apapun tentangmu. Di saat kau susah, atau dalam masalah sekalipun, aku hanya boleh diam tanpa boleh bertanya. Seperti itu yang kau mau?"


"Apa yang ingin kau tahu? Tentang polisi tadi? Itu Miller."


Katterine mulai mengatur napasnya agar kembali normal. Ia sedikit menjaga ekspresi wajahnya agar tetap membuat Oliver bingung.


"Miller? Untuk apa dia mengejarmu?"


"Mungkin dia tidak mengejarku. Tapi dia berusaha mengejarmu," ketus Oliver dengan wajah dinginnya.


"Kau cemburu?" Katterine menyipitkan kedua matanya sambil menunjukkan satu jarinya tepat di depan wajah Oliver.


"Cemburu?"


Katterine mengangguk setuju. "Katakan saja jika kau cemburu ... kau tidak perlu malu jika ada di hadapanku. Hal itu biasa terjadi dan sangat wajar jika seorang pria cemburu melihat wanita yang ia cintai lebih diperhatikan pria lain."


"Katterine, Apa kau tidak jadi masuk ke dalam?"


"Kau berusaha menghindar ya?" ledek Katterine semakin menjadi.


"Tidak!"

__ADS_1


"Oliver, kau bilang kalau kau juga mencintaiku. Apa saat itu kita sudah resmi pacaran?"


Oliver terlihat berpikir keras ketika mendengar pertanyaan Katterine. Ia tidak menyangka kalau hari ini ia akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Katterine.


"Oliver, jangan diam saja. Katakan padaku. Apa sejak saat itu kita resmi pacaran?" rengek Katterine sambil menggoyangkan lengan kiri Oliver.


"Pacaran?"


"Ya, apa kita sudah bisa dibilang pacaran? Kita saling mencintai bukan."


Oliver menghela napas. Ia mengacak rambut Katterine dengan senyuman. "Ya."


"Ya? Oh my God. Katakan sekali lagi kalau kita sudah pacaran? Ini berita yang baik. Berarti mulai bulan besok kita sudah bisa merayakan hari jadian kita," teriak Katterine kegirangan.


"Tunggu, bukankah merayakan hari jadian setiap satu tahun sekali?"


"Tidak, aku ingin merayakannya setiap satu bulan sekali." Katterine berhambur ke dalam pelukan Oliver.


Oliver hanya mengusap rambut Katterine yang bergelombang. Hatinya selalu saja jauh lebih tenang setiap kali wanita itu ada di dalam pelukannya.


"Bisa-bisanya dia bertanya soal pacaran," gumam Oliver di dalam hati.


***


Kwan dan Alana baru saja tiba di toko gaun pengantin. Secara diam-diam sepasang kekasih itu merencanakan soal pernikahan mereka. Tanpa acara pertunangan lebih dulu. Bagi Kwan tunangan adalah hal yang tidak wajib. Toh dia belum bebas dengan Alananya jika mereka hanya tunangan. Tahu sendiri ayah mertua yang ia hadapi sedikit-sedikit pegangan pistol. Dan itu cukup membuat Kwan trauma hingga tidak berani menyentuh Alana sembarangan.


"Satu Minggu lagi kak Leona akan pulang dari bulan madunya. Mereka baru saja tiba di Swiss." Kwan memegang tangan Alana dan mengecupnya dengan mesra.


"Dari mana kau tahu? Bukankah Kak Leona bulan madu tanpa ponsel?"


Kwan tertawa kecil. "Walau mereka pergi tanpa ponsel, tetap saja status Jordan tidak bisa di pungkiri. Semua orang mengenalnya sebagai sosok Pangeran. Terkadang beritanya selalu saja masuk media. Lihatlah." Kwan memberikan ponselnya kepada Alana.

__ADS_1


Seperti apa yang dikatakan Kwan sebelumnya. Berita bukan madu Leona dan Jordan saat mereka sudah tiba di Swiss memang benar-benar ada di media. Setidaknya dengan berita dari media itu mereka jadi tahu kalau Leona dan Jordan baik-baik saja.


"Kwan, hingga sekarang aku masih penasaran. Jika kita melakukan sebuah penyerangan, kenapa media tidak pernah meliput? Bukankah dari yang aku tahu, sosial media sangat cepat."


Kwan tertegun mendengar pertanyaan Alana. Tentu saja dia tahu jawabannya tapi tidak mau mengatakannya.


"Kwan, kenapa kau diam saja?"


"Mungkin media tidak tahu kalau kita sedang berkelahi. Oh ya, gaun mana yang kita pesan kemarin? Pergilah ke sana aku ingin melihat kau memakainya."


Alana hanya bisa menghela napas. Ia menuruti apa yang dikatakan Kwan untuk pergi mencoba gaun yang sudah mereka pesan sejak kemarin-kemarin.


Kwan hanya diam di Sofanya sambil memasang wajah yang serius. "Bagaimana bisa aku jawab kalau Oliver dan Gold Dragon telah membunuh dan mengancam beberapa media yang berani meliput. Belum lagi jika Queen Star sampai turun tangan. Bisa-bisa tujuh turunan wartawan itu tidak bisa hidup dengan tenang," gumam Kwan di dalam hati.


Kwan memandang beberapa gaun yang ada di hadapannya. Ia sudah tidak sabar melihat Alananya memakai gaun pernikahan mereka. Wanita itu akan semakin cantik dan sangat mempesona. Membuat Kwan tidak pernah bisa berhenti untuk memujinya.


Alana berdiri di depan cermin saat seorang wanita memakaikan gaun pengantin di tubuhnya. Alana terlihat sangat bahagia. Tidak lama lagi ia akan hidup bersama dengan pria yang sangat ia cintai. Rasanya kebahagiaannya terasa lengkap.


"Kwan bilang setelah Kak Leona pulang bulan madu, kami akan ke sana untuk memberi tahu tanggal pernikahan kami. Semoga saja kali ini tidak ada masalah lagi. Aku selalu takut setiap kali memikirkan pertarungan yang pernah mereka lakukan di Belanda. Apa lagi saat Kak Leona sampai masuk rumah sakit."


"Nona, Anda sedikit gemuk sekarang ya."


Alana melebarkan kedua matanya. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. "Apa benar? Apa itu terlihat jelas?" Alana memegang pipinya.


"Pakaian ini ukurannya sudah pas. Tapi, saat di pakai tidak bisa di resleting dengan sempurna. Saya akan mencobanya sekali lagi, Nona. Anda tidak perlu khawatir."


Alana memejamkan kedua matanya. "Kwan, ini gara2 Kwan. Sejak dia ada di sini aku jadi sering makan. Bahkan dia tidak mengizinkanku diet. Bagaimana ini?" Alana benar-benar frustasi.


"Nona, sudah selesai. Apa Anda merasa sesak?" tanya pelayan itu untuk kembali memastikan keadaan Alana.


"Tidak. Ini sangat indah." Alana mengukir senyuman dan mengatur napasnya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau semakin gemuk. Aku harus diet sampai pernikahan kami tiba. Bagaimana jika nanti di hari pernikahan semua gaun ini tidak muat?" gumam Alana di dalam hati.


__ADS_2