Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 104


__ADS_3

Bella melangkah turun dari mobil yang sejak tadi di tumpanginya. Di sinilah ia akan tinggal selama beberapa hari. Batinnya menolak ketika melihat ada banyak pria dan wanita berwajah sangar di sana. Bukan hanya penampilannya saja yang mengerikan. Masing-masing dari mereka memiliki senjata tajam dan senjata api yang seolah sengaja mereka pamerkan.


Miller dan Letty yang juga sudah turun memandang Bella yang kini kebingungan. Mereka berdua langsung paham dengan apa yang kini dipikirkan oleh Bella.


"Mereka baik, kok." Miller berusaha menyakinkan Bella agar mau menetap di markas Queen Star. Letty memalingkan wajahnya sebelum melangkah masuk.


"Jika kau suka cari masalah, berhati-hati saja!"


Bella langsung merinding mendengar perkataan Letty. Ia merangkul lengan Miller dan menolak untuk masuk ke dalam.


"Apa tidak bisa kita tinggal di rumah yang layak?"


"Gudang ini juga layak," jawab Miller dengan wajah menyakinkan.


"Maksudku hotel gitu."


"Bella ...." Miller melepas tangan Bella yang ada di lengannya. "Tempat ini bisa melindungi kita dari bahaya. Jika di hotel, resiko gelangmu di curi sangat besar. Apa kau mau gelangmu hilang lagi?" Bella hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sebuah pilihan yang sulit memang.


"Ya, sudah. Ayo kita masuk!" Miller melihat pasukan Queen Star yang membawa brangkas Bella masuk ke dalam.


"Itu milikku!" protes Bella.


"Ya. Mereka juga tahu kalau brangkas itu milikmu. Tenang saja." Miller melanjutkan langkahnya. Sedangkan Bella masih bertahan di samping mobil sambil memperhatikan sekelilingnya. Ini pertama kalinya ia tinggal di lingkungan kriminal seperti itu.


DUARRR.


Suara tembakan mengagetkan Bella. Wanita itu segera berlari masuk ke dalam tanpa pikir panjang lagi. Beberapa pasukan Queen Star yang sedang berlatih tembak tertawa melihat tingkah Bella. Bagi mereka Bella seperti hiburan baru untuk melupakan rasa lelah mereka.


"Miller, tunggu aku!" Bella berlari kencang mengejar punggung Miller yang semakin menjauh.


"Jangan tinggalkan Aku!" proses Bella ketika tangannya berhasil menghentikan langkah kaki Miller.


Letty yang melihat kejadian itu hanya memasang wajah juteknya sebelum masuk ke dalam kamar. Dia butuh mandi untuk membersihkan dirinya Yang kini dipenuhi keringat.


"Ada apa? Kau tidak akan tersesat selama di sini."


"Ya, aku tahu. Tapi, ini pertama kalinya aku berada di tempat seperti ini. Setidaknya temani aku sampai merasa cocok dengan tempatnya."


Bella memandang ruangan luas yang kini ada di sekitarnya. Lagi-lagi hatinya mengumpat dengan wajah jijik. Selain kotor dan berdebu, tempat itu dipenuhi senjata api dan minuman beralkohol.


Memang pasukan Queen Star baru saja pindah do gudang kosong itu. Mereka yakin kalau tempat mereka yang sebelumnya pasti sudah diketahui oleh pihak musuh.


"Baiklah. Ayo kita duduk di sana. Aku haus." Bella mengangguk dan mengikuti Miller. Wanita itu tidak mau melepas tangan Miller karena tidak mau ditinggal lagi.


Di dalam kamarnya, Letty melepas jaket hitam yang ia kenakan. Memandang wajah takut Bella hanya bisa membuatnya geleng-geleng kepala.


"Hanya tempat tinggal sudah protes. Bagaimana kalau dia berada di gudang belakang yang isinya mayat semua? Dasar wanita payah." Letty melangkah ke kamar mandi. Ia butuh berendam di dalam kamar mandi itu. Walau gudang itu terlihat seperti rumah hantu. Tapi tetap saja Letty bisa memiliki kamar yang layak untuk istirahat. Bahkan alat komunikasinya juga tetap ada walau ia tinggal di tempat terpencil sekalipun.


"Ini, minumlah." Miller memberikan minuman hangat dan meletakkannya di atas meja. Bella menerima minuman itu dan mulai meneguknya secara perlahan. Lagi-lagi kedua bola matanya tidak berhenti bergerak untuk menilai tempat tinggalnya yang baru.


"Di sini hanya ada satu kamar. Jadi, kau akan tidur bersama Letty malam ini."

__ADS_1


"Bersama wanita tadi?"


"Ya. Bukankah kalian sudah pernah bertemu?"


"Di mana?"


"Di Dan Fransisco."


"Pesta itu? Dia wanita yang kau bawa malam itu?" sorak Bella tidak percaya.


"Ya, kenapa? Apa kini dia terlihat berbeda?"


Bella mengangguk cepat. "Bukan hanya terlihat berbeda. Tapi dia jauh berbeda. Wanita yang kau bawa malam itu sangat feminis dan manis. Bahkan aku mengira hatinya lembut dan mudah menangis. Oh, ya. Bagaimana bisa dia berubah menjadi wanita sangar dan menakutkan seperti ini? Apa kau yang membuatnya berubah?"


"Ya," jawab Miller cepat.


"Benarkah? Apa yang kau lakukan hingga ia berbuah menjadi wanita seperti itu?"


"Semua karena dirimu yang tiba-tiba saja mengumumkan pertunangan kita malam itu."


Deg. Bella mematung. Bahkan menelan salivanya ia tidak sanggup. "Aku? Karena diriku?" tanya Bella sambil menunjuk wajahnya sendiri.


"Kau tidak percaya? Tanya saja sendiri padanya."


"No No. Aku tidak mau menjadi sarang peluru miliknya."


Miller terkekeh geli mendengar perkataan Bella. Memang bisa dibilang beberapa hari ini lah dirinya baru mengenal Bella. Pertemuan pertama mereka tidak meninggalkan kesan yang baik. Miller sendiri tidak menyangka kalau Bella adalah wanita yang sangat penakut dan mencintai nyawanya.


"Pantas saja dia terlihat tidak suka memandang ku. Jangan-jangan dia menyimpan dendam lagi. Astaga! Bagaimana kalau dia sengaja membawaku ke sini karena ingin balas dendam? Bagaimana kalau ini caranya agar bisa membunuhku tanpa jejak?"


"Apa yang kau pikirkan?" Miller terlihat curiga ketika melihat wajah Bella berubah takut.


"Miller, kau tidak lupa kan kalau Natalie memiliki jantung Ella di dalam tubuhnya." Bella meletakkan gelasnya di meja. Wajahnya berubah serius. Bahkan kedua matanya menyipit agar bisa fokus memandang ekspresi wajah Miller saat ini.


"Tentu saja aku tidak lupa. Apa lagi yang kau inginkan? Bukankah kau sudah memilki segalanya. Apa yang kau inginkan dariku? Bahkan kekayaan kita saja tidak sama. Kau berada di atasku saat ini."


Bella mengangguk dengan senyuman licik. "Bagus! Jadi ingatlah untuk mengucapkan terima kasih."


"Terima kasih? Apa maksudmu? Katakan saja jika kau menginginkan sesuatu dariku!" Miller tidak suka bermain tebak-tebakan. Ia lebih suka Bella mengatakan apa yang dia inginkan. Jika Miller sanggup ia akan segera melakukan apa yang diinginkan Bella.


Bella memandang sekelilingnya. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Miller. Wajah wanita itu mendekati Miller untuk berbisik. Namun, Miller yang salah paham justru menghindar.


"Apa yang mau kau lakukan?" teriak Miller.


"Sssttt." Bella meletakkan jarinya di depan mulut Miller. "Jangan berisik. Aku tidak mau ada yang dengar."


Miller berusaha tenang. Ia ingin mengetahui sebenarnya apa yang ingin dilakukan Bella kepada dirinya.


"Miller, jika wanita itu ingin membunuhku. Apa kau mau melindungiku?" bisik Bella takut-takut.


Wajah Miller tanpa ekspresi seketika. Ia tidak menyangka kalau ketakutan Bella sudah sampai pada level itu. Hingga tidak lama kemudian, Miller tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Bella ... Bella ... bisa-bisanya kau berpikir seperti itu. Jika Letty ingin membunuhmu, sejak awal dia tidak akan muncul untuk menyelamatkanmu. Kau ini. Ada-ada saja!"


Bella kembali mengingat penyelamatan Letty. Memang semua yang dikatakan Miller benar. Letty tidak perlu bersusah payah melindunginya bahkan membawanya ke tempat persembunyian ini jika pada akhirnya ingin menghabisi nyawanya.


"Bagaimana kalau ini hanya trik agar ia bisa menghilangkan jejak."


Miller menghentikan tawanya. Ia juga tidak mau Bella berlarut-larut menuduh Letty yang bukan-bukan.


"Bella, dengarkan aku baik-baik. Letty wanita yang paling hebat dalam membunuh. Dia bisa membunuh tanpa menyentuh. Letty tidak suka bermain-main dengan hewan buruannya. Jika dia ingin kau mati, maka kau tidak akan berdiri di sini detik ini."


Akhirnya Bella lega. Ia bisa tinggal di sana dengan tenang tanpa memikirkan hal aneh yang membuatnya gelisah. Bibirnya mulai tersenyum ketika membayangkan ternyata Letty adalah wanita yang baik dan masih memiliki hati.


"Semoga saja Letty benar-benar wanita yang baik. Aku sudah lama tidak memiliki teman. Andai saja Letty bisa jadi temanku, aku pasti bisa dengan tenang menjaga gelang ini. Di tambah lagi Miller yang seorang polisi," gumam Letty di dalam hati.


***


Berjam-jam sudah Letty ada di dalam kamarnya. Berjam-jam juga Miller dan Bella duduk di kursi. Karena lelah mereka menjatuhkan kepala mereka di atas meja agar bisa tertidur walau hanya beberapa menit saja.


Letty keluar dari dalam kamar dengan wajah yang sudah segar. Ia melihat Miller dan Bella dengan alis saling bertaut.


"Apa yang mereka lakukan di sini?" Letty berjalan mendekat.


Saat sudah ada di depan meja, baik Bella maupun Miller tidak ada yang bangun lebih dulu. Hingga akhirnya Letty memutuskan untuk menggebrak meja dan mengagetkan kedua nya.


"Pembunuh!" sorak Bella dengan wajah kagetnya. Sedangkan Miller hanya diam walau sebenarnya wajahnya juga kaget bukan main.


"Kenapa tidur di sini?" tanya Letty sambil memandang Miller dan Bella bergantian.


"Bukankah kau bilang di sini hanya ada satu kamar?" jawab Miller apa adanya. Letty tertegun. Ia sadar kalau Bella tidak mungkin tidur di tempat yang sembarangan. Berbeda dengan Miller yang mungkin tidur di mobil saja tidak jadi masalah.


"Masuklah ke kamar itu. Ada baju ganti dan alat mandi di dalamnya. Jika ingin istirahat kau juga bisa di dalam sana," ucap Letty sambil memandang Bella. Bella mengangguk senang. Memang sejak tadi ia sudah jijik dengan tubuhnya yang terasa kotor.


"Baiklah. Terima kasih, Letty." Bella turun dari kursi. Ia memandang Miller beberapa detik sebelum melangkah ke kamar. Baru beberapa meter dari Letty ia kembali memutar tubuhnya.


"Letty," sapa Bella.


"Hmmm," jawab Letty tanpa memandang.


"Apapun yang terjadi padamu, maafkan aku ya. Sejak awal aku hanya iseng dan tidak berniat menyakiti siapapun."


Letty tertegun. Belum sempat ia bertanya balik Bella sudah berlari masuk ke kamar. Miller yang mengerti maksud Bella hanya tertawa mendengarnya.


"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" Letty duduk di salah satu kursi.


"Tidak ada. Kelihatannya kalian berdua cocok. Berdamailah. Jangan pasang wajah jutek gitu kepadanya. Dia baik kok."


Letty menopang kepalanya dengan tangan. "Ya, sepertinya aku mulai suka dengannya."


Miller menghentikan tawanya. "Suka kau bilang?"


Letty menatap tajam wajah Miller. "Kenapa ada yang salah?"

__ADS_1


Miller menggeleng pelan. "Apa maksud Letty? Dia suka dengan Bella? Apa Letty penyuka sesama jenis?"


__ADS_2