Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 113


__ADS_3

"Cepat mandi. Aku tidak suka bau seperti ini!" Leona mendorong Jordan masuk ke kamar mandi. Padahal pria itu baru saja selesai mandi. Wanginya sangat segar jika tercium di hidung.


Tapi, tidak dengan penciuman Leona. Di hidung Leona aroma segar itu seperti aroma busuk yang ingin membuatnya mual. Bahkan Leona tidak sekedar kata saja. Mualnya itu terus saja membuatnya ingin muntah hingga membuat Jordan tidak tega dan memutuskan untuk mandi lagi.


Leona berdiri di depan pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Wanita itu merasa puas karena suami akan segera mandi. Dengan tangan terlipat di depan dada, Leona mengukir senyuman kemenangan.


"Jordan, gunakan sabun dan sampo yang ada di sana. Jangan gunakan sampo atau apapun itu selain yang aku katakan!"


"Ya … ya!" Jordan hanya bisa pasrah. Pria itu berdiri di depan rak untuk melihat sampo dan sabun yang dikatakan Leona. Alisnya saling bertaut ketika melihat produk mandi yang akan ia gunakan.


"Apa ini? Produk bayi?" Karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Jordan mengambil sampo yang ada di sana. Ia membaca tulisannya dengan saksama. Seperti apa yang ia lihat ternyata. Sampo itu benar-benar sampi bayi. Ketika tutup ya di buka, aroma lembut yang begitu manis tercium jelas. Jordan meletakkan sampo itu kembali ke tempatnya sebelum menggeleng kepala. 


Siang ini Jordan memiliki jadwal pertemuan dengan klien pertamanya. Kini dia bukan lagi seorang pangeran. Walaupun di mata semua orang ia tetap di panggil pangeran Jordan. Jordan tidak tahu bagaimana respon semua orang ketika nanti mencium aroma tubuhnya yang sama dengan aroma bayi.


"Apa wanita hamil seperti ini?" Untuk beberapa menit Jordan hanya merenung di kamar mandi. Ia tidak mau mandi ulang jika harus menggunakan produk bayi seperti itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya mandi. Ia ingin membujuk Leona saja agar mau menerima dirinya yang seperti ini.


Saat baru beberapa langkah ke arah pintu, terdengar suara ketukan.


"Jordan, apa kau sudah selesai? Aku ingin memelukmu."


Jordan menahan langkahnya. "Belum, sayang. Sebentar lagi."


Mendengar kalimat yang dikatakan Leona membuatnya bersemangat. Bahkan Jordan tidak lagi ingat dengan arom bayi yang akan ia gunakan. Apapun akan ia lakukan asal berakhir di dalam pelukan sang istri.


"Oke Jordan. Sepertinya kau harus berlatih mulai dari sekarang. Aroma ini akan melekat di tubuhmu hingga sembilan bulan yang akan datang. Ya. Hanya sembilan bulan saja." 


Jordan membuka pakaiannya dan segera mandi. Ia tidak peduli dengan aroma bayi yang kini sudah melekat sempurna di tubuhnya.


Saat Jordan masih mandi, Leona kembali duduk di sofa. Ia merasa bosan karena menunggu Jordan mandi terlalu lama. Hingga akhirnya ia mengambil majalah agar ada bahan bacaannya. 


Di sampul depan majalah Leona melihat wajah Aleo dan Kwan. Mereka sukses menjadi rekan bisnis hingga akhirnya kini di kenal seluruh dunia. Rasa bangga di hati Leona sungguh luar biasa. Sekarang tinggal giliran dirinya dan Jordan yang memulai bisnis. Leona ingin kembali melanjutkan bisnisnya yang dulu sempat tertunda.


"Aku bangga terhadap Kwan. Setelah menikah ia benar-benar serius dalam memajukan Z.E Group. Tante Shabira dan Paman Kenzo pasti bangga padanya. Semoga saja semua ini ia lakukan bukan karena ia takut dengan mertuanya."


Pintu terbuka. Leona meletakkan majalahnya kembali di atas meja. Jordan sudah mandi dan terlihat segar. Rambutnya masih basah. Ada handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan tetesan air di rambut. Jordan memakai kemeja putih yang dua kancingnya sengaja di lepas. Pria itu terlihat tampan hingga berhasil menggoda sang istri.


"Jordan …." Leona tersenyum. Ia sudah tidak sabar memeluk sang suami. 


"Bagaimana? Apa aku sudah wangi?"


Leona bisa mencium dengan jelas aroma sampo dan sabun yang digunakan Jordan. Benar-benar segar hingga membuat hatinya tenang. Berbeda dengan aroma farpum mahal yang sebelumnya digunakan Jordan.


"Ya. Sangat wangi." Leona berhambur ke dalam pelukan Jordan. Ia memeluk suaminya dengan erat seolah tidak mau melepaskannya.


"Aku akan sering-sering mandi jika kau seperti ini." Satu kecupan di layangkan Jordan di pucuk kepala Leona. Senyuman istrinya yang sedang mengandung menghilangkan rasa malu ketika mungkin nanti semua orang akan menertawakannya.

__ADS_1


"Jangan pergi."


Jordan menunduk untuk memandang wajah sang istri. Wajah mereka saling memandang dengan jarak beberapa centi saja.


"Yakin?"


Leona melepas pelukannya. Ia terlihat ragu ketika baru saja melarang suaminya pergi. "Lama atau tidak?"


"Tidak."


"Apa kau akan segera kembali setelah selesai?"


"Tentu saja. Apa yang mau aku lakukan setelah kerja samanya berjalan lancar."


"Kau yakin bisa?"


Kali ini Jordan hanya bisa menggeleng saja. Tanpa bekerja sebenarnya kekayaan yang ia miliki masih cukup. Tapi, Jordan juga memikirkan kedepannya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk keturunannya nanti.


"Aku bisa melakukannya. Hal ini sudah biasa aku lakukan. Bedanya selama ini aku bernegosiasi dengan para menteri sekarang dengan para pengusaha."


"Tidak akan sama. Biasanya mereka menghargaiku sebagai seorang pangeran. Sekarang mereka akan memandangmu dengan derajat yang sama. Aku tahu bagaimana sulitnya memulai bisnis dari nol."


"Jangan ragukan aku. Jika istriku tidak percaya dengan kemampuan yang aku miliki, bagaimana dengan orang lain?" 


Leona terdiam beberapa saat.


Leona tersenyum bahagia. "Aku akan selalu mendukungmu suamiku."


Dering ponsel Leona membuat wanita itu mencari ponselnya. Ia menjauh dari Jordan dan berjalan ke arah meja yang terdapat tas di sana. Ponselnya tersimpan di dalam. Leona mengeryitkan dahi ketika melihat nama Zean di ponselnya.


"Hallo, Zean." Jordan mendekat. Ia juga ingin tahu sebenarnya hal penting apa yang ingin di sampaikan oleh Zean.


"Hallo, Zean?" Leona tidak mendengar jawaban apapun. Bahkan akhirnya panggilan telepon itu terputus dengan sendirinya.


"Ada apa?"


"Zean menelepon. Tapi tidak ada suara dari sana." Leona mencoba menghubungi Zean gantian. Tapi nomor pria itu tidak bisa dihubungi lagi.


"Dia akan menghubungimu lagi jika ada hal penting nantinya," ujar Jordan.


"Ya. Aku harap seperti itu." Leona memasukkan ponselnya ke dala tas.


***


Di sisi lain, Zean mengumpat ketika jaringan yang semula baik-baik saja kini tidak lancar. Ponsel yang ada di tangan ia lempar begitu saja ke meja. Suara gebrakan membuat Clara yang sedang menyantap makannya kaget.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau marah-marah di hadapanku?"


Zean memandang wajah Clara sekilas sebelum memalingkan wajahnya. "Aku tidak bisa menghubunginya."


"Siapa?"


"Leona."


Clara meletakkan makanannya. "Untuk apa kau menghubungi Leona?"


"Bukankah kalian saling kenal?"


Clara tidak mau berhubungan dengan keluarga Aleo lagi. Leona adalah bagian dari keluarga Aleo. Ia tidak mau nantinya Leona memberi tahu keadaannya saat ini kepada Aleo. 


"Tidak! Jika Kak Aleo tahu aku di culik, ia akan melakukan sesuatu. Hubungannya dengan Tamara bisa rusak karena salah paham. Aku tidak mau menjadi duri di antara hibungan mereka. Lagian, aku tidak sanggup bertemu dengan Kak Aleo lagi. Hatiku belum sembuh total sejak dia memilih Tamara. Sebaiknya masalah ini aku selesaikan sendiri saja," gumam Clara di dalam hati.


"Apa kau mendengarku?"


Clara memandang Zean. "Hei, Tuan. Kau kelihatan tangguh. Ilmu bela dirimu sangat hebat. Apa kau bekas pengawal S.G Group?"


Zean menjauhkan tubuhnya ke belakang hingga mentok di sandaran kursi. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Clara semakin ngawur seperti ini.


"Apa maksud Anda, Nona Clara!"


"Begini. Saya tidak suka merepotkan orang lain. Bukan bukan. Maksud saya, saya tidak mau merepotkan Leona dan keluarganya lagi. Apapun yang terjadi pada saya cuma saya yang tahu. Saya tidak mau ada yang tahu."


"Bagus! Ternyata Anda wanita yang mandiri!"


"Ya. Tapi aku tidak bisa sendiri. Maksudku, aku butuh pengawal pribadi. Pengawal bayaran yang semalam bersamaku sangat payah. Satu pukulan saja mereka sudah kalah. Bagaimana caranya mereka melindungiku dari penjahat. Tuan, apa kau tahu.  Pria yang menculikku ini orang yang sangat hebat. Ia ingin menjadikanku istrinya. Memang dia sangat kaya dan tampan. Tapi aku-"


"Sebenarnya apa yang Anda inginkan dari saya?" Potong Zean. Ia lelah mendengar ocehan Clara yang tidak jelas itu. Apa lagi tidak menguntungkan sama sekali bagi dirinya.


"Saya ingin Anda menjadi pengawal saya. Saya akan bayar dengan harga yang mahal. Bahkan jauh lebih mahal dari gaji Anda selama bekerja di S.G. Group."


"Wanita ini benar-benar merepotkan! Kenapa semalam aku menolongnya. Sepertinya membiarkannya di culik juga pilihan yang tepat. Bukankah orang yang menculiknya juga orang hebat. Mungkin saja mereka memiliki kecocokan," umpat Zean di dalam hati.


"Tuan Zean, bagaimana? Apa Anda setuju?"


"Anda tidak akan sanggup membayar saya!" ketus Zean tidak tertarik.


"Sombong sekali Anda!" Clara memandang vila yang kini di tempat Zean. Sederhana namun nyaman. Clara justru menilai Zean tidak memiliki uang untuk menyewa vila yang mahal. Maka dari itu ia sangat yakin kalau Zean orang biasa.


"Nona, saya akan membantu Anda pergi meninggalkan kota ini. Setelah itu kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Anggap saja saya malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menolong Anda. Tanpa di bayar saya ikhlas membantu anda."


Clara memajukan bibirnya. "Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Tiba-tiba pengawal setia Zean muncul dengan wajah panik. Keringat berkucur deras seperti habis berlari jauh.


"Mereka menyerang!"


__ADS_2