Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kristal


__ADS_3

Jordan dan Letty ada di atap gedung rumah sakit. Mereka saling memandang satu sama lain. Tatapan mereka sama-sama dipenuhi dengan kebencian dan amarah. Jordan yang biasanya tidak memiliki dendam kepada Letty kini harus menyimpan hal buruk seperti itu di dalam hatinya. Ia kecewa dan marah karena Letty telah melukai wanita yang sangat ia cintai


“Letty, aku memang menolaknya. Aku tidak cinta padanya. Tapi, aku tidak pernah memiliki niat untuk membunuhnya!” ujar Jordan dengan wajah yang sangat serius. Pria itu memejamkan mata beberapa detik dan kembali membayangkan bagaimana Kristal bisa meninggal.


Suatu sore, Jordan berdiri di sebuah tempat yang menjadi tempatnya bertemu dengan Letty dan Oliver. Ada sebuah paper bag di tangannya. Pria itu membawa makanan kesukaan Letty. Setiap kali ini pulang ke Cambridge, Letty selalu minta di bawain sebuah kue yang di masak langsung olek koki istana Cambridge.


Sambil mengotak-ngatik ponselnya, Jordan duduk di sebuah sofa yang ada di atap gedung tersebut. Di lihat dari lokasi yang sudah di persiapkan, Jordan berpikir tempat itu sangat asyik. Mereka bisa menghabiskan waktu hingga semalaman.


“Pangeran Jordan ....”


Suara lembut seorang wanita mengalihkan pandangan Jordan. Jordan mengangkat kepalanya dan menatap wajah seorang wanita cantik yang baru saja menyapanya. Bibirnya tersenyum kecil. “Hai, Kristal. Di mana Oliver dan Letty?” tanya Jordan dengan suara yang sopan. Pria itu berjalan ke arah meja untuk  meletakkan paper bag yang ada di tangannya.


Kristal mengukir senyuman sambil menggerak-gerakkan tubuhnya. Wajahnya memerah karena malu. Sore itu Kristal mengenakan gaun berwarna putih yang sangat indah. Rambutnya di gerai dengan poni tipis di bagian depan. Wajahnya yang memang sudah terlihat cantik, semakin cantik ketika berpenampilan menarik seperti itu.


“Mereka akan segera datang,” jawab Kristal.


Jordan memandang wajah Kristal lagi. Bibirnya tersenyum. “Kau terlihat cantik hari ini.”


“Benarkan?” tanya Kristal dengan wajah semakin memerah. Selama ini penampilan Kristal dan Letty selalu sama. Memakai tangtop dan celana saja. Sesekali memakai rok itu juga ketika mereka ingin menghadiri sebuah pesta.

__ADS_1


“Ya,” jawab Jordan sekali lagi. Pria itu berdiri di hadapan Kristal. Tidak ada hal lain yang di rasakan Jordan saat itu selain rasa nyaman sebagai sahabat. Apapun yang terjadi pada Kristal atau Letty, dia akan ada di depan untuk melindungi wanita itu.


Namun, semua tidak sama dengan apa yang di pikirkan oleh Kristal. Wanita itu merasa kalau pujian dan sikap manis Jordan selama ini adalah CINTA.


“Ada hal penting yang ingin aku katakan,” ucap Kristal dengan wajah gugup. Bahkan karena salah tingkah, wanita itu sampai menyelipkan rambutnya yang hanya beberapa helai di balik telinga. Kedua matanya mengitaru keadaan sekitar. Sesekali ia menggigit bibirnya bagian bawah.


“Apa yang ingin kau katakan?” ucap Jordan dengan alis saling bertaut. Ia merasa kalau sifat dan tingkah laku wanita yang berdiri di hadapannya jauh berbeda. “Kristal, apa kau baik-baik saja?” ucap Jordan lagi.


Kristal membisu hingga beberapa detik. Wanita itu mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Debaran jantungnya semakin tidak karuan sore itu. Keringat dingin mulai menetes walau saat itu angin bertiup dengan sangat kencang.


“Kristal ...,” ucap Jordan lagi. Pria itu melangkah maju. Ia ingin memastikan kalau Kristal baik-baik saja. Hingga mereka berdiri saling berhadapan.


Jordan tertawa kecil. Pria itu memajukan wajahnya untuk melihat wajah Kristal dari jarak yang sangat dekat. “Apa kali ini Letty memintamu untuk meminta sesuatu?” Jordan menjauhkan wajahnya dan berdiri tegap. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Baiklah, katakan. Apa yang kalian inginkan. Seminggu ini aku akan meninggalkan istana dan berlibur dengan kalian. Katakan tempat mana yang ingin kalian kunjungi. Aku akan-”


“Aku mencintaimu,” ucap Krsital cepat sebelum Jordan menyelesaikan kalimatnya. Hal itu membuat Jordan menghentikan kalimatnya dan menatap wajah Kristal dengan begitu serius. Ia merasa kini Kristal sedang bercanda. Namun, ketika melihat wajah serius dan gugup wanita itu. Jordan bisa menyimpulkan kalau wanita itu benar-benar serius dengan apa yang ia katakan.


“Aku tahu aku bukan wanita yang pantas untukmu. Aku mendengar cerita dari Letty kalau kau akan segera di jodohkan dengan seorang putri. Pastinya jauh lebih cantik dan sempurna jika dibandingkan dengan diriku. Tapi, aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku lebih memilih mati dari pada melihatmu berbahagia dengan wanita lain,” ucap Kristal dengan kepala menunduk.


Jordan mengukir senyuman kecil. Pria itu memegang dagu Kristal agar wanita itu bisa melihat jelas wajahnya. “Kristal, perjodohan itu tidak sama seperti apa yang kau pikirkan. Aku bahkan sudah merencanakan sebuah tempat untuk bersembunyi. Aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Kecuali aku memang tidak menemukannya,” ucap Jordan dengan wajah yang serius. Pria itu mengusap pipi Kristal dengan penuh perasaan. “Kau wanita yang sangat baik dan sopan. Kau juga cantik. Kau wanita yang sangat sempurna. Tapi ....” Jordan menahan kalimatnya. Pria itu juga bingung untuk mengungkaplan isi hatinya kalau dia tidak suka kepada Kristal.

__ADS_1


“Pangeran Jordan ... kau bisa mencobanya. Mungkin kita bisa berpacaran selama satu hari?” ucap Kristal lagi dengan wajah penuh harap.


Jordan semakin bingung saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kristal. Pria itu mematung dan tidak tahu mau berkata apa lagi. Namun, tiba-tiba saja di saat Jordan tidak waspada. Kristal merebut pistol miliknya. Wanita itu melangkah mundur dengan senjata api di tangannya. Ia bahkan melekatkan senjata berbahaya itu di depan dadanya. 


“Kristal, apa yang kau lakukan?” ucap Jordan dengan wajah panik. Selama ini Jordan tahu kalau Kristal tidak pandai menembak bahkan memegang senjata api saja kadang ia masih terlihat gemetar.


“Pangeran Jordan, saya tahu kalimat apa yang ingin anda katakan. Anda tidak mencintai saya?” Kristal tertawa riang namun ada tetes air mata di pipinya. Wanita sedih, sakit hati dan malu. Dia bahkan tidak lagi tahu cara melanjutkan hidupnya jika sore ini ia di tolak oleh pria yang ia cintai.


“Kristal, jangan bercanda. Senjata itu berbahaya. Kita bisa membicarakan masalah ini. Tapi, aku mohon ... berikan senjata itu kepadaku,” ucap Jordan sambil mengulurkan tangannya.


“Katakan satu kata saja. Apa kau menerima cintaku?” ucap Kristal dengan suara serak.


“Kristal-”


“Ya atau tidak!” teriak Kristal semakin frustasi. 


Jordan menghela napasnya. Pria itu memikirkan strategi cepat agar senjata api itu tidak ada di tangan Kristal lagi. Namun, belum sempat ia melakukan sebuah tindakan. Suara tembakan itu terdengar dengan jelas.


Jordan melebarkan kedua matanya dan segera menangkap tubuh Kristal. Pria itu merebut paksa pistol miliknya yang ada di tangan Kristal. Ia menatap wajah Kristal dengan wajah yang sedih. “Kristal, apa yang kau lakukan?”

__ADS_1


__ADS_2