
Emelie duduk dengan posisi nyamannya. Wanita itu membuang tatapannya ke arah depan. Ia memandang wajah Jordan dan Katterine yang sudah dewasa. Kakak beradik itu sedang lelap dalam tidurnya. Mereka duduk berdampingan dengan satu selimut yang sama.
"Waktu berjalan dengan begitu cepat bukan? Tidak terasa 20 tahun telah tiba," ucap Zeroun sambil menggenggam tangan Emelie. Sesekali pria itu mendaratkan kecupan cintanya di punggung tangan sang istri.
"Zeroun, aku mencintaimu," ucap Emelie dengan suara yang sangat pelan. Ada rasa bersalah dari perkataan Ratu Cambridge tersebut. Ia terlihat sedih saat membayangkan kejadian yang pernah terjadi di dalam hubungannya dengan Zeroun. Sebuah salah paham yang menyebabkan hubungan persahabatan antara Serena dan Zeroun harus berpisah 20 tahun lamanya.
Mereka sering memberi kabar melalui telepon. Tapi, untuk bertemu secara langsung. Itu belum pernah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. Baik Serena maupun Zeroun memegang janji mereka dan tidak mau mengingkarinya. Semua demi kebaikan pasangan mereka masing-masing.
Zeroun mengukir senyuman. "Apa sekarang kau percaya dengan cintaku? Aku sudah menunggu selama 20 tahun hanya untuk menyakinkan dirimu kalau aku benar-benar mencintaimu. Hanya kau Emelie ... hanya namamu yang ada di hatiku.
Dengan mata berkaca-kaca, Emelie meletakkan telapak tangan Zeroun di pipi kanannya. "Ya, aku percaya. Aku sangat mencintaimu Zeroun. Maafkan aku. Mulai detik ini, aku tidak akan pernah meragukan rasa cintamu lagi. Aku tahu kalau hanya ada namaku di dalam hatimu," ucap Emelie dengan suara yang sangat pelan. Ia terus-menerus mengecup tangan Zeroun dengan sejuta cinta yang ia miliki.
Zeroun mengusap rambut Emelie sebelum mendaratkan kecupannya di pucuk kepala wanita tersebut. "Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu. Hanya maut yang dapat memisahkan kita," ucap Zeroun pelan. Pria itu memejamkan mata dan kembali mengingat peristiwa yang pernah ia alami.
20 tahun yang lalu ...
Serena dan Daniel berkunjung ke Istana Cambridge. Mereka ingin mengisi waktu liburan sekolah Aleo dan Leona dengan berjalan-jalan ke London. Ada Shabira dan Kenzo juga di sana. Tidak lupa mereka membawa Kwan Daeshim Chen.
__ADS_1
"Serena," teriak Emelie kegirangan. Bersama dengan pengawal dan pelayan kerajaan, ia menyambut kedatangan Serena dan yang lainnya. Suasana terlihat sangat bahagia. Seperti penyambutan sebelumnya. Akan ada pesta makan malam untuk merayakan kunjungan Serena dan yang lainnya.
"Emelie, apa kabar? Bagaimana dengan Katterine dan Jordan? Apa mereka sehat?" Dimana mereka saat ini?" ucap Serena setelah pelukannya terlepas dari tubuh Emelie.
Dari arah belakang, Zeroun muncul sambil menuntun dua anak kecil di sampingnya. Yang satu berusia 8 tahun, yang satu lagi berusia 5 tahun. Bibirnya mengukir senyuman indah. Sejak memutuskan untuk menetap di istana dan menjadi seorang Raja, Zeroun terlihat jauh lebih bahagia.
Daniel dan Kenzo saling menatap satu sama lain. Walau sudah memiliki anak, tapi tetap saja jiwa meledek mereka masih ada.
"Daddy, jangan jalan cepat-cepat,. Daddy, aku mau kuda itu," sindir Daniel sambil menahan tawanya.
Dua pria itu tertawa dengan begitu riang. Zeroun menatap wajah Daniel dan Kenzo dengan kesal sebelum menyerahkan Jordan dan Katterine kepada Serena.
Serena dan Shabira hanya bisa menggeleng pelan. Dua wanita itu berjongkok dan mempertemukan buah hati mereka kepada kedua anak kandung Zeroun.
"Aleo, ini Katterine dan Jordan. Mereka adikmu," ucap Serena Dengan senyuman. "Sama seperti Leona dan Kwan. Kau harus menyayangi mereka seperti kau menyayangi Leona dan Kwan." Serena mengusap lembut rambut Aleo dan menegaskan tanggung jawab seorang kakak pada diri putranya.
Aleo terlihat akrab dengan Jordan dan Katterine. Kelima anak kecil itu berlari kencang untuk menuju taman belakang tempat mainan mereka tersedia. Katterine yang paling kecil harus di gendong oleh baby sister karena tidak bisa menyeimbangi langkah yang lainnya. Pemandangan lucu dan menggemaskan itu membuat Serena mengukir senyuman indah.
__ADS_1
"Mereka sering bertemu, tapi terlihat seperti tidak bertemu sebelumnya," ucap Emelie pelan.
"Mereka penerus kita," ucap Zeroun sambil memperhatikan kelima anak kecil tersebut.
"Generasi penerus kerajaan Cambridge. Bukan generasi penerus Gold Dragon," sindir Kenzo sebelum melirik wajah Zeroun.
Serena mengukir senyuman tanpa mau protes. Wanita itu melipat tangannya di depan dada sambil melamun sejenak. Melihat masa kecil putra-putrinya, Leona kembali ingat dengan Ayah kandungnya. Tuan Wang.
"Ayo kita makan. Aku sudah menyiapkan semuanya di meja makan," ajak Emelie dengan senyuman. Wanita itu menggandeng tangan Serena dan membawanya ke arah meja makan. Serena yang tadinya melamun juga tidak lagi mau larut dengan kesedihannya. Saat ini tujuan mereka berlibur hanya untuk bersenang-senang.
Shabira dan yang lainnya hanya bisa ikut di belakang tubuh dua wanita cantik tersebut.
Daniel merangkul pundak Zeroun. Mereka berdua berbincang seputar perkembangan Gold Dragon yang kini di pegang oleh Lukas. Semua berjalan dengan baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Persaudaraan mereka terjalin semakin kuat. Tidak ada yang bisa memecahkan kekuatan mereka. Setiap kali mereka menyatu, musuh sehebat apapun akan kalah dalam waktu dekat. Satu di sakiti, maka semua akan turun tangan.
Tapi, sayangnya persahabatan mereka tidka berjalan sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Pada suatu hari, sebelum Serena dan yang lainnya memutuskan untuk pulang ke Sapporo. Sebuah kejadian telah terjadi. Masalah itu yang berhasil memisahkan mereka semua.
Tidak ada lagi perkumpulan seperti yang terjadi selama beberapa tahun ini. Tidak ada lagi hal bahagia yang mereka bagi dengan bertatap muka. Semua memikirkan hidup dan kebahagiaan keluarga mereka masing-masing.
__ADS_1