
“Maafkan aku,” ucap Kristal dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Gaun putih yang di kenakan Kristal kini di penuhi dengan darah segar yang keluar dari dada wanita itu. Kristal memegang pipi Jordan dan mengukir senyuman indah. “Apa kau mau menciumku untuk yang terakhir kalinya?” pinta Kristal lagi. Wanita itu terbatuk hingga mengeluarkan darah segar dari sana.
“Kristal, kenapa kau lakukan ini! Maafkan aku ... maafkan aku. Seharusnya aku mengatakan ya tadi. Maafkan aku ....” Jordan memeluk tubuh Kristal yang tidak lagi bernyawa. Darah wanita itu melekat di jas berwarna cream yang ia kenakan. Jordan benar-benar menyesal sudah menolak Kristal. Setidaknya ia harus memberikan kesempatan satu kali saja untuk mencintai wanita. “Maafkan aku,” ucap Jordan lirih. Senjata api itu masih ada di tangan kanannya. Bahkan saat ia memeluk Kristal sambil menangis, senjata api itu masih melekat di sana.
Pada saat yang bersamaan, Letty dan Oliver tiba di lokasi tersebut. Letty sangat syok ketika melihat apa yang terjadi di depan matanya. Wanita itu tidak lagi mau berpikiran jernih. Ia berlari kencang dan mendorong tubuh Jordan. Letty berteriak dengan wajah marah.
“Kau membunuhnya!” teriak Letty dengan wajah marah. “Kau membunuh Kristalku!” teriak Letty lagi. Bahkan wanita tangguh itu mengeluarkan senjata apinya dan menodongkannya ke arah tubuh Jordan. Sebuah peluru menancap di lengan kanan Jordan.
“Letty!” Oliver segera berlari untuk menenangkan Letty. Pria tangguh itu juga bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Semua orang yang ada di sana adalah orang-orang yang berarti bagi hidupnya.
“Maafkan aku ....”
__ADS_1
Hanya kalimat itu yang terdengar oleh Letty. Letty berpikir kalau Jordan memang membunuh Kristal. Pria itu tidak sempat menjelaskan semuanya yang terjadi.
***
“Apa kau pikir aku akan percaya dengan penjelasanmu hari ini? Jordan, kau pasti tahu bagaimana berharganya Kristal bagi hidupku. Dia adikku. Dia satu-satunya orang yang selalu ada di saat aku hidup di jalanan. Hanya dia nama yang memenuhi hati dan pikiranku. Lalu, kau muncul dan menolaknya. Bahkan kau menembaknya,” tuduh Letty dengan wajah dipenuhi emosi. “Jika benar sore itu Kristal bunuh diri. Ia akan menodongkan senjata di kepala. Kenapa ia harus terluka tepat di bagian dadanya. Nyawanya tidak tertolong bahkan aku tidak memiliki kesempatan untuk membawanya ke rumah sakit!”
“Letty, jika waktu bisa di putar ulang. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kejadiannya begitu cepat. Aku juga syok waktu itu!” ucap Jordan dengan suara yang mulai meninggi.
“Bullshits!” Letty mengambil senjata apinya. Wanita itu menodongkan senjatanya di hadapan Jordan. “Sekarang aku akan memberi tahumu. Mana perbedaan menembak diri sendiri dan di tembak oleh orang lain,” ucap Letty dengan kedua mata berkaca-kaca.
Di belakang tubuh Letty, Oliver berdiri dengan kedua tangan di dalam saku. Pria itu hanya ingin menonton tingkah laku Letty yang sudah di luar akal sehat. Apa saja kalimat yang ia katakan juga akan percuma. Karena sejak kejadian itu, Letty menghilang dan tidak mau mendengar apapun penjelasan mereka lagi. Bahkan cerita Jordan hari ini adalah untuk pertama kalinya di dengar oleh Letty.
Letty tertawa kecil. “Jika aku membunuhmu, semua orang akan datang menyalahkanku. Mungkin juga, ada seorang wanita yang berdiri di hadapanku dan membunuhku untuk membalas kematianmu. Dari perkiraanku, Leona akan selamat. Sayangnya, Kristal tidak mendapatkan kesempatan indah seperti itu,” ucap Letty dengan nada yang sangat serius. Wanita itu menatap wajah Jordan lagi. Namun, kali ini ia mengangkat senjata apinya dan melekatkannya di pelipis kanannya. Letty ingin membunuh dirinya sendiri. “Bagaimana kalau posisinya seperti ini? Aku akan menjemput Kristal. Kami akan berbahagia di sana.”
__ADS_1
“Letty, kau tidak pernah memahami sifatku. Aku tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Apa lagi kepada wanita. Aku tahu, Kristal adalah adik yang sangat kau sayangi. Tapi, kau juga harus menerima kenyataan kalau Kristal memang bunuh diri,” ucap Jordan lagi.
Letty mengukir senyuman. “Selamat tinggal. Jordan ....” Ia mulai memejamkan matanya. Jemarinya menarik pelatuk pistol itu secara perlahan. Namun, saat pelatuknya sudah kandas, tidak ada terdengar suara tembakan. Senjata yang ada di genggamannya tidak lagi memiliki peluru. Letty memandang senjata apinya. Betapa terkejudnya Letty saat melihat senjata api itu milik Oliver. Saat menarik tangan Letty tadi, Oliver telah menukar pistol Letty dengan senjata api miliknya yang tidak memiliki peluru.
Letty tertawa. Wanita itu memandang senjata api yang ada di tangannya sambil tertawa seperti orang gila. “Kalian pasti sudah bekerja sama untuk mempermainkan perasaanku? Kalian berdua pria yang sangat jahat,” ucap Letty lagi. Wanita itu melempar senjata apinya dan menjambak rambutnya dengan geram. “Kalian jahat! Kembalikan Kristalku!” teriak Letty dengan wajah frustasinya.
Letty memutar tubuhnya dan memandang wajah Oliver. Ia kembali mengatur napasnya dan tersenyum. Namun, kondisinya saat itu memang sangat lemah. Letty sudah jarang mengurus dirinya sendiri. Di dalam pikirannya hanya ada rasa sakit hati dan balas dendam atas kematian Kristal. Hingga saat itu, tubuh Letty terasa tidak bertenaga. Semua yang ia lihat seperti bergoyang.
Oliver segera menangkap tubuh Letty dan mengangkat wanita itu ke dalam gendongannya. Oliver tidak pernah benci kepada Letty. Sampai kapanpun Letty akan tetap menjadi adiknya. Adik yang paling ia sayangi.
“Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan semua ini agar dia mengerti,” ucap Jordan dengan wajah sedih. Ia juga tidak tega melihat sahabat terbaiknya menjadi seperti itu.
Oliver menatap wajah Jordan. “Pangeran, sebaiknya Pangeran tidak memikirkan masalah ini lagi. Saat ini, kondisi Nona Leona jauh lebih penting dari pada Letty. Aku akan berbicara dengannya lagi. Aku juga akan mengawasinya agar dia tidak membuat masalah lagi. Maafkan atas kecerobohanku hari ini. Aku berharap kalau Nona Leona segera sadar,” ucap Oliver dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Jordan mengangguk pelan sebelum memutar tubuhnya. Pria itu memandang keindahan kota Jerman dengan wajah yang sedih. Ia berharap besar kalau Leona bisa melewati masa kritisnya dan kembali membuka mata.