Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kabar Letty


__ADS_3

_Kak, apa kau baik-baik saja? Apa kau bersama dengan Pangeran menyebalkan itu? Apa kabar dia? Apa dia masih menangis karena kehilangan Leona? Walau aku tidak suka mengatakannya. Tapi, katakan padanya kalau aku meminta maaf. Aku telah menyesalinya. Jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak ingin melakukan semua ini. _Letty


Oliver mengukir senyuman saat membaca pesan dari Letty. Hatinya bahagia karena kini masalah di antara Jordan dan Letty tidak lagi berkepanjangan. Oliver sendiri tahu kalau Jordan pasti akan memaafkan Letty. Kini Leona juga baik-baik saja. Bahkan Leona sendiri tidak menyimpan dendam kepada Letty.


Oliver menekan nomor Letty. Ia ingin menghubungi dan berbicara secara langsung dengan adik angkatnya itu. Sudah beberapa detik ia menunggu namun panggilan itu tetap tidak terjawab. Saat Oliver sudah menyerah, panggilan itu ada yang menjawab. Namun, bukan Letty yang menjawab panggilan teleponnya. Seorang pria. Oliver sempat menebak suara pria yang kini berbicara dengannya.


“Zean, apa yang kau lakukan dengan Letty?” ucap Oliver dengan suara menuduh.


“Aku sudah menjadikannya bubur manusia dengan taburan lada. Apa kau mau mencobanya?” ledek Zean dengan tawa kecil.


Oliver masih diam untuk mencerna perkataan Zean. Namun, tidak lama kemudian. Ia mendengar suara Letty. Wanita itu terdengar baik-baik saja saat ini. Oliver kembali bernapas dengan tenang ketika mendengar suara wanita itu sangat ceria.


“Kakak, apa kau merindukanku?” ucap Letty dengan suara manjanya. Sebenarnya sejak dulu ia tidak pernah bersikap semanja itu dengan Oliver. Bisa di bilang ini pertama kalinya Letty bersikap manja layaknya wanita.


“Hmm, apa kau bersama Zean?” ucap Oliver tanpa basa-basi.


“Ya. Dia pria yang tampan dan baik,” puji Letty yang seolah-olah sedang amnesia. Wanita itu sama sekali tidak dendam apa lagi ingat dengan penyiksaan yang pernah di lakukan Zean terhadap dirinya. Padahal kejadian itu belum terlalu lama. 


“Apa yang kau lakukan? Apa dia mengancammu?” ucap Oliver lagi dengan wajah tidak percaya. Ia sempat berpikir kalau Zean mengancamnya dengan sesuatu hingga mau menurut seperti itu.


“Tidak. Setelah aku pikir-pikir, bergabung dengan The Devils lumayan menguntungkan. Bisnis mereka jauh lebih berkembang jika dibandingkan Gold Dragon,” ucap Letty lagi.

__ADS_1


“Kau ada di mana? Mommy bilang kau tidak ada di Hongkong!” Kali ini Oliver mulai menaikan nada bicaranya. Ia lelah berbicara dengan penuh basa-basi.


“Amsterdam,” jawab Letty cepat.


“Letty! Aku tidak bercanda. Sekarang kau ada di mana?”


“Aku di Belanda. Aku berlibur dan menikmati salju di sini. Kakak, aku bermain seluncur es di sini. Sangat asyik. Zean mengajariku banyak hal.” Letty sengaja mengalihkan pembicaraannya karena ia tidak ingin Oliver tahu kalau ia berada di sana untuk menyerang istana Isabel.


Oliver menghela napasnya. “Jangan lakukan apapun. Pasukan The Devils akan kalah jika menyerang pada saat seperti sekarang. Lakukan setelah musim dingin hampir berakhir. Kau bisa mengatakannya kepada Zean,” ucap Oliver lagi. Walau Letty menutupi tujuannya ada di sana. Tetap saja Oliver bisa mengetahuinya dengan jelas.


“Kak, apa kau sedang merencanakan sesuatu?” tanya Letty penuh selidik. “Kalian juga akan ke sini?” 


“Tidak. Kami tidak akan mengincar istana itu. Kami mengincar pria bernama Clouse. Hingga sekarang, kami berusaha mencari keberadaannya. Dia yang menjadi pertahanan bagi istana Isabel. Jika aku berhasil mengalahkan pertahanan itu. Maka kita akan dengan mudah masuk untuk menyerang.”


“Penyerangan?” 


“Ya. Aku baru saja bertemu dengan Gold Dragon dan Queen Star palsu. Sangat fantastis bukan? Kali ini Clouse memiliki pasukan yang sama seperti kalian,” ucap Letty lagi dengan tawa kecil.


“Berhati-hatilah. Aku akan menghubungimu lagi.” Oliver segera mematikan panggilan teleponnya. Kini Kwan berjalan mendekati Oliver. Pria itu berjalan dengan wajah yang bahagia. Dia sudah mendapatkan cinta Alananya tanpa perlu berjuang lagi. Satu bonus yang tidak terduga memang.


Oliver memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia mengatur posisi duduknya. Alisnya saling bertaut ketika melihat Kwan mengukir senyuman aneh seperti orang kasmaran. “Apa kau baik-baik saja?”

__ADS_1


Kwan menatap wajah Oliver dengan serius. Pria itu menghela napas sebelum duduk. “Apa arti baik-baik saja yang kau maksud? Aku sedang tersenyum. Tentu saja aku baik-baik saja. Jika aku menangis atau terluka. Pertanyaan seperti itu baru pantas kau katakan!” protes Kwan.


“Aku takut kau ....”


“Gila?” sambung Kwan cepat.


Oliver menahan tawanya. “Kau sendiri yang menjawabnya.”


Kwan menatap ke arah depan. “Kau memang selalu suka meledek orang lain. Kau tidak akan tahu apa artinya jatuh cinta.”


“Apa kau sedang jatuh cinta?”


“Hmm, ya. Aku baru saja jadian dengan Alana. Aku pacaran dengannya. Kau tahu bagaimana orang pacaran?” ucap Kwan penuh semangat.


“Kau ke sana untuk memeriksa camera. Kenapa jadi pacaran,” protes Oliver tanpa mau memandang.


Kwan memasang wajah bersalah. Ia kecewa karena tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun dari camera itu. “Cameranya tidak bisa di lacak. Clouse telah mematikan koneksinya. Dia pria yang jenius. Kali ini kita tidak butuh tenaga saja. Tapi kita butuh keahlian,” ucap Kwan lagi.


“Pria itu hilang secepat kilatan di langit. Ia tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Hanya membuat keributan yang menggunakan nama kita. Bahkan ia juga sudah memasang banyak perangkap dan pertahanan di sana,” ucap Oliver lagi.


“Mungkin jika kita tahu wajahnya, kita akan maju satu langkah,” sambung Kwan sambil berpikir keras.

__ADS_1


Oliver diam sejenak. “Katterine. Dia pernah berkata kalau dua pria yang menculiknya adalah pria yang tampan. Apa mungkin dia melihat wajah Clouse?” gumam Oliver di dalam hati.


__ADS_2