
Leona menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu merasa sedih dan kecewa atas rahasia masa lalu sang ibu yang selama ini tidak ia ketahui. Wanita yang selama ini ia pandang dengan hati yang lembut dan penuh kasih sayang itu ternyata pernah berada di dalam dunia yang sangat mengerikan. Sebuah dunia penuh darah dan air mata.
“Mama jahat! Mama berbohong padaku. Aku harus menanggung semuanya karena mama,” ucap Leona dengan air mata yang terus saja menetes deras. Kedua jemarinya menggenggam erat bantal yang ia tiduri. Posisi wanita itu terlungkup dengan kepala yang di benamkan di dalam bantal.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Aleo muncul dari sana. Pria itu berjalan cepat mendekati tempat tidur Leona. Ia tahu, bagaimana perasaan adiknya saat ini. Ia duduk dan mengusap lembut rambut adiknya.
“Leona, jangan sedih lagi.” Aleo berusaha membujuk Leona. Ia tidak ingin antara adik dan sang ibu memiliki perselisihan.
Leona beranjak dari tempat tidur. Wanita itu melangkah ke laci dan melemparkan beberapa foto masa lalu Serena. Ia tahu semuanya dari Zean. Cukup menyakitkan memang. Saat kita mengetahui masa lalu orang tua kita melalui pria yang sangat kita benci. Bahkan dengan sadar, pria itu menghinanya dan kembali melukai hatinya.
Aleo memandang foto-foto yang berserak di lantai. Pria itu mengutip satu persatu lembar foto yang ada. Ia memperhatikan wajah sang ibu saat masih muda. Cantik. Itulah hal yang pertama kali terlintas di dalam pikiran Aleo. Namun, saat melihat dua buah pistol dan penampilan Serena di dalam foto, ia bisa menggeleng tidak percaya. Apa benar ini ibunya? Wanita lemah lembut yang selalu terlihat lemah dan tak berdaya.
“Kak, aku tidak mau membahas apa-apa lagi. Sekarang kakak pergi dan tinggalkan aku sendiri,” ucap Leona sebelum membuang tatapannya. Wanita itu belum siap untuk menjelaskan keadaannya yang sebenarnya. Hanya memberi tahu kalau ia telah disakiti seorang pria saja sudah membuat seisi rumah seperti ini. Leona tidak bisa membayangkan reaksi semua orang kalau tahu Zean hampir saja merenggut paksa kehormatannya.
Aleo merapikan foto-foto tersebut. Pria itu menghela napas lalu membawa foto itu ke arah laci tempat dimana Leona mengambilnya. Ia memasukkan foto Serena ke dalam laci itu lagi sebelum memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Leona dengan saksama.
“Leona, kau marah sama mama karena telah menyembunyikan masa lalunya dari kita. Lalu bagaimana denganmu? Kau menyembunyikan masalahmu dari kami. Apa kau pikir aku pria bodoh yang bisa dengan mudah kau bohongi. Aku tahu apa yang kini kau alami. Kwan telah menceritakan semuanya kepada kami,” ucap Aleo dengan tatapan yang sangat tajam.
Leona tersenyum kecil, “Bagus kalau kakak dan semua orang sudah tahu. Aku sudah siap di usir dari rumah ini. Aku memang wanita bodoh yang tidak berguna,” sambung Leona dengan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.
__ADS_1
Aleo mengatur kesabarannya. Leona wanita yang sangat keras kepala. Pria itu tidak ingin membuat masalah semakin besar dan sulit mendapatkan solusi. Ia berjalan pelan mendekati Leona. Berharap kalau bujukannya berhasil membuat adik tersayangnya luluh dan berubah.
“Leona, kau tidak bisa menyalahkan mama atas semua ini,” ucap Aleo pelan. "Setiap orang memiliki masa lalu."
Aleo meraih tangan Leona. Pria itu berusaha membujuk adiknya agar mau berdamai dengan sang ibu. Tapi, dengan gerakan cepat Leona menghempaskan tangannya. Wanita itu menatap wajah Aleo dengan emosi tertahan. Suasana hatinya sedang tidak baik.
“Tapi Mama sudah berbohong. Mama seorang mafia. Semua ini karena kesalahan Mama! Aku menderita dan sakit hati seperti ini karena Mama! Mama yang salah. Mama yang seharusnya mendapat hukuman seperti ini!" teriak Eleonora dengan suara serak.
Wanita itu tidak bisa terima mendengar kabar yang baru saja ia dengar. Sang ibu tercinta yang selama ini ia banggakan dan ia sayangi ternyata seorang pembunuh bayaran. Sudah banyak nyawa yang hilang karena direnggut paksa oleh tangan sang ibu. “Mama yang membuat hatiku hancur seperti ini, Kak!”
Plakk
“Berhenti menyalahkan Mama!” teriak Aleo tidak terima. Bahkan suara pria itu terdengar hingga memenuhi seisi kamar, “Kau yang salah, Leona. Kenapa kau kabur dari para pengawal yang aku kirim. Kenapa kau mematikan ponselmu. Kenapa kau percaya pada pria yang baru saja kau kenal. Kakak sudah sering memperingatimu. Kau wanita. Kau harus bisa menjaga dirimu agar tidak menyesal di kemudian hari.”
Leona menatap wajah Aleo dengan mata berkaca-kaca sebelum membuang tatapan matanya. Wanita itu tidak ingin melihat wajah Aleo dan mendengar perkataan pria itu lagi, “Pergi Kak. Pergi dari kamarku!” usir Leona dengan tangisan tertahan.
Aleo memandang foto dirinya yang ada di dalam kamar Leona. Pria itu mengatur emosinya agar tidak lagi marah terhadap Leona. Aleo menarik tubuh adik tersayangnya ke dalam pelukan.
“Maafkan Kakak,” ucap Aleo pelan. Pria itu mengusap lembut punggung Leona, “Ini salah Kakak. Seharusnya Kakak bisa menjagamu. Kakak terlalu sibuk dengan perusahaan hingga mempercayakan semuanya kepada pengawal.”
__ADS_1
“Aku telah kehilangan harga diriku, Kak. Pria itu dengan sesuka hatinya memperlakukanku seperti wanita murahan. Dia juga sudah membuat hatiku terluka hingga separah ini. Bahkan rasa percayaku kepada pria telah hilang. Aku membenci semua pria kak. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.”
Leona melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aleo. Wanita itu mengangis sejadi-jadinya. Ia ingin melampiaskan rasa sedih dan kecewa yang kini ia rasakan kepada Kakak tersayangnya. Bibirnya gemetar. Ia merasa sangat lemah dan tidak tahu harus bagaimana.
“Kakak akan memberi pelajaran kepada pria itu. Ia akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatannnya,” ucap Aleo dengan penuh rasa dendam. Pria itu menggertakkan giginya sambil membayangkan wajah pria yang berusaha merusak adiknya.
“Aku dan Kwan sudah mengirim orang untuk menangkapnya. Tapi tidak ada satu pengawalpun yang berhasil menangkapnya. Bahkan kebanyakan pengawal kita tewas di tangannya. Sepertinya dia memang bukan orang biasa Kak,” ucap Leona dengan suara seraknya.
“Apapun caranya akan Kakak lakukan untuk membalas rasa sakit hatimu, Leona.” Aleo memejamkan mata. Ia berusaha meminta sebagian kesedihan Leona agar wanita itu tidak lagi bersedih dan kembali tenang, “Apa ini sakit? Maafkan aku,” ucap Aleo sambil mengusap lembut pipi Leona.
Leona menggeleng kepalanya pelan, “Ini hukuman yang setimpal untukku.”
Aleo menghela napas sebelum menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya lagi, “Maafkan Kakak. Kau bisa memukul Kakak untuk membalasnya.”
Leona hanya menggeleng pelan sebelum menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria itu, “Seperti ini saja aku sudah sedikit tenang. Aku ingin meminta maaf kepada Mama.”
Aleo mengukir senyuman, “Ayo. Kakak akan menemanimu.”
Aleo dan Leona berjalan pergi meninggalkan kamar tersebut. Mereka ingin berkunjung ke kamar Serena dan Daniel untuk meminta maaf atas prilaku Leona yang terbilang kurang ajar.
__ADS_1