Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Balapan Jalanan


__ADS_3

Leona mengokang senjata apinya sebelum menembak ke arah kerumunan polisi yang berbaris di luar toko. Semua melangkah maju untuk menghadapi lawan mereka.


Beberapa pasukan Queen Star gugur saat mendapat serangan brutal dari komplotan polisi. Leona memfokuskan pandangannya pada mobil miliknya yang berjarak sekitar 20 meter dari posisinya berdiri. Sambil menembak, wanita itu memperhitungkan resiko yang akan ia dapatkan untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


Kwan yang berjarak tidak terlalu jauh dari Leona terus saja menembak tanpa jeda. Pria itu berusaha melindungi Leona dari peluru yang mengincar. Ia bahkan tidak peduli dengan nyawa yang ia miliki.


Leona memandang jam yang melingkar di tangannya. Berdasarkan perhitungannya hanya tersisa waktu sekitar 30 detik sebelum bahan peledak milik Zean meledak bersamaan dengan bahan peledak yang sebelumnya telah di pasang pasukan Queen Star. Tidak banyak lagi waktu yang mereka miliki. Namun, satu langkah saja mereka maju sudah berhasil menewaskan lima pasukan miliknya sekaligus.


"Kak, pergilah. Aku akan menghalangi mereka menembakmu," teriak Kwan dengan wajah bersungguh-sungguh.


Leona menolak keras penawaran yang baru saja diajukan Kwan. Dia yang membawa Kwan berada dalam posisi terjebak seperti ini. Padahal sejak awal semua sudah ia rencanakan. Bahkan seluruh isi markas the Devils itu juga sudah dipahami dengan baik oleh Leona. Tapi, tidak di sangka kalau kenyataan yang mereka terima seperti ini.


"Tidak!" teriak Leona lantang. Wanita itu berjalan ke arah posisi Kwan berdiri. Ia berdiri di samping Kwan dan berjalan bersama untuk maju. Tidak peduli luka yang akan ia dapatkan.


DUARRR


Sebuah peluru mendarat di lengan kanan Leona. Leona merasa sakit. Tapi, ia tidak selemah itu. Wanita itu terus saja maju dan menyerang pasukan polisi yang ada. Hingga akhirnya, Kwan dan Leona berhasil mendekati mobil mereka.


Kwan masuk ke mobil yang berbeda dari Leona. Mereka tidak bisa berada dalam satu mobil. Sebuah strategi harus mereka jalankan agar bisa mengalahkan polisi yang akan mengejar mereka nanti. Malam itu kota Meksiko akan menjadi lokasi permainan pasukan Queen Star dan tim polisi yang ada.


Jordan yang baru saja tiba, melihat Leona masuk ke dalam mobil. Wajah pria itu semakin serius saat melihat Leona melajukan mobilnya dan pergi menjauh dari kejaran polisi yang berusaha menangkapnya.


Bersamaan dengan itu. Gedung tinggi milik Zean meledak... Asap cokelat lagi-lagi mengepul dengan kobaran api yang begitu panas.

__ADS_1


Seluruh pasukan Queen Star yang tidak lagi bernyawa terpanggang di gedung tersebut. Leona memandang ledakan gedung itu dengan tetes air mata. Ia sedih dan merasa bersalah. Ia malu telah menjadi pemimpin yang tidak berguna seperti itu.


"Bodoh!" umpatnya kesal untuk dirinya sendiri.


Sirine beberapa mobil polisi telah mengikuti laju mobil Leona dari belakang. Leona menambah laju mobilnya. Ia ingin menghindar dari kejaran polisi dan bersembunyi di suatu tempat yang tidak terlacak.


Katterine yang juga bergabung dengan pasukan Leona dan Queen Star karena mengikuti jejak Jordan kini terlihat bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana. Jejak mobil Jordan juga hilang entah kemana. Putri Kerajaan itu terjebak di tengah-tengah kekacauan yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Katterine kaget karena tempat yang dikunjungi kakak kandungnya adalah tempat berbahaya penuh resiko seperti itu.


Oliver menghadang laju mobil Katterine. Pria itu segera keluar dan meminta Katterine berpindah kursi. Katterine yang masih dalam keadaan bingung hanya bisa menurut. Wanita itu berpindah kursi ke jok penumpang dan memberikan posisi kemudi kepada Oliver.


"Apa ... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Katterine masih dengan wajah bingung.


"Putri, pasang sabuk pengamannya," perintah Oliver tanpa memandang. Pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengejar laju mobil Jordan yang sudah tidak terlibat lagi.


"Kak Jordan!" teriak Katterine histeris saat melihat aksi nekad kakak kandungnya. Wanita itu bahkan merema*as kuat lengan kekar Oliver. Kukunya yang panjang menancap di lengan pria itu bahkan menembus kemeja dan jas yang dikenakan Oliver. Walau tidak menyisakan luka, tapi cengkraman itu berhasil menarik perhatian Oliver. Pria itu tahu bagaimana khawatirnya Katterine saat ini.


Oliver memberi perintah kepada Gold Dragon miliknya untuk melindungi Jordan dan ... pasukan Queen Star yang masih hidup. Tidak ada pilihan lain bagi Oliver. Jika ia ingin menyelamatkan nyawa Jordan maka harus menyelamatkan si biang masalah lebih dulu.


Jordan sudah sadar kehadiran Oliver saat itu. Ia mengukir senyuman dan menyerahkan pasukan polisi itu kepada Oliver dan timnya. Jordan memutuskan untuk mengejar Leona dan memastikan wanita itu baik-baik saja saat ini.


Kwan dan beberapa mobil pasukan Queen Star yang berhasil menghindari kejaran polisi mulai kebingungan mencari keberadaan Leona. Mereka tidak menyangka kalau akan kacau seperti ini. Sebelumnya Leona tidak pernah melakukan kesalahan hingga sefatal ini. Pertemuannya dengan Letty dan terbongkarnya kebohongannya Jordan telah menyebabkan semua ini terjadi.


Demi melampiaskan rasa kecewanya terhadap Jordan dan rasa bingungnya terhadap hutang budi kepada Letty membuat Leona berniat menghancurkan markas Zean. Ia sebenarnya tidak ingin menyerang markas kosong. Tapi karena sudah kesal dan dipenuhi emosi yang tak terkendali. Leona terpaksa melakukan semua itu.

__ADS_1


Kini mobil wanita itu melaju di jalanan sunyi menuju ke perbukitan yang sebelumnya ia jadikan tempat untuk bersembunyi.


Leona tidak sadar kalau kini tangannya menyetir ke arah tempat itu lagi. Baru beberapa kilometer ia memasuki jalan menanjak, tiba-tiba saja mobil Jordan menghadang laju mobilnya. Leona terpaksa menghentikan mobilnya secara mendadak. Ia terlibat kesal ketika melihat sosok yang muncul dari dalam mobil yang menghalanginya adalah Jordan.


Leona turun untuk melampiaskan rasa kesalnya. "Jangan halangi aku!" teriak Leona dengan suara lantang.


"Apa kau puas, Leona? Apa seperti ini Ratu Mafia? kau wanita ceroboh yang pernah aku temui seumur hidupku," umpat Jordan kesal. Perasaan takut dan khawatir kalau Leona akan celaka kini melebur menjadi satu di dalam hatinya.


"Apa pedulinya denganmu? Ingat Jordan. Aku sudah bilang untuk tidak lagi menemuiku. Jika kita bertemu secara tidak sengaja juga jangan pernah saling menyapa lagi. Apa kau lupa?" Leona melipat kedua tangannya di depan dada. Terlihat jelas kucuran darah segar yang keluar dari lengan wanita itu. Membuat perhatian khusus dari Jordan.


"Leona, kau terluka?" Jordan memegang tangan Leona.


"Lepaskan!" Leona menghempaskan tangan Jordan. Wanita itu memutar tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam mobil. Tapi, tidak semudah itu untuk menghindari Jordan.


"BERHENTI LEONA. KAU BOLEH MEMBENCIKU. Kau boleh menyimpan keinginan untuk membenciku selamanya. Tapi jangan pernah lukai dirimu dan korbankan hidupmu hanya karena emosi sesaat. Itu bukan hanya merugikan dirimu sendiri. Kau juga akan merugikan orang di sekitarmu. Kau bisa lihat, berapa banyak pasukan Queen Star yang tewas karena keegoisanmu malam ini."


Leona masih diam sambil menatap wajah Jordan. Ia tidak tahu harus berbicara apa. Semua yang dikatakan Jordan benar adanya.


"Leona, ijinkan aku untuk mengobati lukamu. Setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Sesuai dengan keinginanmu. Jika nanti kita bertemu, aku akan menganggap dirimu sebagai orang lain. Bukan Leona yang kini aku kenal," ucap Jordan penuh keyakinan.


Tidak tahu kenapa perkataan yang baru saja diucapkan oleh Jordan membuat rasa sakit di dalam hati Leona. "Aku bisa mengobatinya sendiri," ucap Leona sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita itu melajukan mobilnya lagi dan meninggalkan Jordan sendirian di tempat sunyi tersebut.


Jordan memperhatikan kepergian mobil Leona dengan mata yang dipenuhi kesedihan dan kekecewaan. "Apa malam ini akan menjadi malam perpisahan kita, Leona?" gumam Jordan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2