
Jordan memandang wajah Kwan yang kini ada di hadapannya. Mereka seperti sedang bermusuhan. Tidak berbicara sepatah katapun dengan pemikiran masing-masing.
Jordan harus mengurungkan niatnya menemui Katterine. Tadinya pria itu ragu untuk menghubungi Oliver mengingat tadi kata Katterine Oliver sedang bertarung dengan Zean. Tapi, ketika Oliver mengangkat panggilan teleponnya dan berjanji untuk menjaga Katterine. Jordan bisa kembali bernapas lega. Pria itu bisa tetap duduk tenang untuk menjaga Leona.
"Kwan, apa kau bisa memposisikan dirimu di posisiku saat ini?" ucap Jordan sambil memandang wajah Kwan.
Kwan menghela napas. Pria itu membalas tatapan Jordan dengan tatapan kesal bercampur marah.
"Aku tidak suka kau membela Letty. Aku sangat membencinya. Aku hanya ingin kau berada di pihakku saat ini. Cukup Oliver saja yang memihak wanita jahat seperti dirinya," ucap Kwan dengan wajah yang sangat serius.
"Kwan, sejak awal aku sudah bilang. Ada Katterine di sana. Aku sangat mengkhawatirkan adikku. Memang aku tidak suka Zean dan Oliver bertengkar. Tapi memang tujuanku sejak awal adalah Katterine. Kau dengan mudahnya memberiku sebuah satu pilihan. Leona atau Katterine," ucap Jordan dengan nada meninggi.
"Jika kau mencintai Kak Leona, seharusnya kau memilih kak Leona."
Jordan tertawa kecil. "Kau pria yang tidak dewasa, Kwan. Kau memintaku untuk memilih antara wanita yang aku cintai dan wanita yang aku sayangi. Jika aku menanyakan hal yang sama padamu, siapa yang akan kau pilih. Alana atau Leona?" Jordan menatap wajah Kwan dengan tatapan yang sangat serius
Kwan tertegun ketika mendengar pertanyaan Jordan. Pria itu memalingkan wajahnya karena tidak bisa menjawab pertanyaan Jordan.
"Kau pasti tidak bisa memilihnya. Satu ya wanita yang kau cintai. Satunya lagi wanita yang sangat kau sayangi. Kita sama."
Kwan kembali mengunci mulutnya tanpa mau protes lagi. Semua yang dikatakan Jordan memang masuk akal. Kali ini Kwan berusaha memaafkan Jordan. Ia tidak ingin memperbesar masalah tadi lagi. Yang terpenting baginya saat ini adalah Leona.
__ADS_1
Tamara keluar dari ruangan Leona. Wanita itu memandang wajah Kwan dan Jordan secara bergantian. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hanya satu orang saja yang boleh masuk ke dalam. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi," ucap Tamara dengan wajah galaknya.
Kwan memandang wajah Jordan. "Masuklah. Aku akan memeriksa pengawal yang menjaga rumah sakit ini. Aku tidak ingin musuh berhasil masuk dan melihat keadaan Kak Leona yang tidak berdaya," ucap Kwan dengan wajah sedih.
Jordan beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu menepuk pundak Kwan dan berjalan masuk ke dalam ruangan Leona. Ia memandang wajah Tamara sekilas ketika berselisihan dengan dokter cantik tersebut.
Tamara berjalan ke arah kursi ketika Jordan telah masuk ke dalam. Wanita itu melipat kakinya dan memandang wajah Kwan.
"Kita tidak pernah bertemu. Kedua orang tua kita jarang membuat acara yang membuat kita saling bertemu. Hanya kak Leona yang aku kenal. Itu juga hanya beberapa kali bertemu secara tidak sengaja di Sapporo. Semakin ke sini, aku semakin sadar. Kalau ada banyak orang-orang baik yang ternyata saudaraku sendiri."
Tamara tertawa riang. "Benarkah?" Ia juga membalas uluran tangan Kwan. Bibirnya tersenyum indah. "Senang bertemu denganmu, Kwan. Apa kau bisa menceritakan sifat beberapa sepupu kita?"
Kwan tertawa geli. "Hmm, baiklah. Dari semua sepupu yang kita miliki, aku yang paling sempurna. Jadi, kau tidak perlu terlalu memujiku dan mengagumimu ya," ledek Kwan dengan wajah penuh percaya diri.
Tamara dan Kwan terlihat sangat akrab. Selain sama-sama memiliki hobi yang sama, beberapa makanan dan minuman yang mereka sukai juga sama. Mereka terlihat akrab layaknya saudara yang sudah lama tidak bertemu. Lorong rumah sakit yang ada di depan kamar Leona hanya di gunakan sebagai tempat canda tawa antara Tamara dan Kwan saat itu.
Dari kejauhan, Alana muncul dengan wajah manisnya. Siang itu ia mengenakan gaun cream dengan rambut tergerai indah. Jejak sepatunya terdengar dengan jelas ketika Alana berjalan mendekati posisi Kwan dan Tamara berada.
"Maaf, apa aku menganggu?" ucap Alana dengan suara pelan.
__ADS_1
Kwan dan Tamara memang terlalu asyik bercerita hingga tidak sadar ketika Alana ada di dekat mereka. Mereka sama-sama kaget dan segera berdiri untuk menyambut kedatangan Alana.
"Alana, kau di darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi," protes Kwan dengan alis saling bertaut.
"Kwan, aku ingin kembali ke San Fransisco. Sekarang!"
Kwan mematung. Ia tidak menyangka kalau secepat ini akan berpisah dari Alana. Kwan ingin Alana tetap ada di sampingnya untuk menjaga Leona di rumah sakit.
Kwan memandang wajah Tamara dengan senyuman. "Dokter Tamara, kita akan melanjutkan cerita kita nanti. Saat ini ada urusan penting yang harus aku selesaikan lebih dulu."
"Baiklah," ucap Tamara dengan senyuman manis. Wanita itu tidak lupa memberi senyuman kepada Alana. "Alana, senang bertemu denganmu. Aku selalu mendengar bakat hebatmu dari papa. Kau wanita yang cantik seperti ibumu."
"Kau wanita yang murah senyum seperti Paman Tama," ucap Alana dengan senyum indah. "Padahal kedua ayah kita sangat dekat. Tapi sayang sekali kita tidak bisa seperti mereka."
"Selama ini aku terlalu fokus mengejar impianmu hingga tidak punya waktu untuk bermain. Sekarang, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Sepertinya sudah waktunya kita menentukan hari untuk bercerita," ucap Tamara penuh semangat.
"Baiklah. Aku setuju."
Tamara pergi meninggalkan Kwan dan Alana yang masih ada di lorong itu. Kwan memandang wajah Alana dengan tatapan yang sangat sedih. Hatinya masih belum rela jika harus di tinggal Alana secepat ini.
"Baru saja beberapa menit yang lalu Jordan menanyakan pertanyaan aneh seperti ini kepadaku. Detik ini Tuhan sudah meletakkanku di posisi yang sangat sulit. Jika seperti ini, siapa yang harus aku pilih? Menjaga Kak Leona atau mengejar cinta Alana?" gumam Kwan di dalam hati.
__ADS_1