
Pagi yang cerah. Matahari bersinar terang menyinari dunia. Semua orang telah kembali bekerja mengawali hari yang indah. Alana duduk di kursi kerjanya sambil memandang wajah Kwan. Bibirnya tersenyum indah. Masih terngiang jelas ucapan pria itu di telepon.
Alana, aku akan datang menemuimu setelah Kak Leona bangun. Setelah hari itu, aku tidak akan pernah menjauh darimu lagi. Aku akan selalu berada di sampingmu. Aku akan menetap di San Fransisco. Sudah ada Jordan di samping Kak Leona. Aku yakin, Kak Leona akan aman dan tetap baik-baik saja.
"Kwan, kau memang pria yang baik. Hanya saja, terkadang kau bisa berubah menjadi sangat menyebalkan. Bahkan saat aku ingin kembali ke San Fransisco, kau tidak mencegahku pergi." Alana meletakkan foto Kwan di atas meja. Wanita itu memutar-mutar kursi yang ia duduki. Kepalanya ia sandarkan sambil memandang langit-langit ruangan kerjanya di kantor.
Sejenak, pikiran Alana kembali melayang memikirkan Leona. Ia merasa kedekatan Leona dan Kwan memang satu hal yang mustahil untuk di pisahkan. Sejak kecil, Kwan dan Leona sudah menjalin kedekatan layaknya adik kakak.
"Aku yang salah. Tidak seharusnya aku meminta Kwan memilih antara diriku dan Kak Leona saat itu."
Alana merasa bersalah. Ia memandang jam yang ada di dinding. Pikirannya tidak lagi berkosentrasi untuk memeriksa hasil kerja karyawannya. Alana lebih tertarik untuk mendengar suara Kwan.
Jarak San Fransisco dengan rumah sakit Leona sangat dekat. Maka dari itu sangat memudahkan Alana untuk datang dan pergi menemui Kwan di sana. Tapi, untuk kunjungannya kali ini, ada perasaan gengsi di dalam hatinya. Ia ingin terlihat jual mahal agar Kwan tidak menganggapnya murahan.
"Tapi aku merindukannya ...," rengek Alana lagi. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di meja kerja dan mengetuk-ngetuk jarinya di sana. "Pergi atau tidak?" gumamnya lagi dengan bingung.
Suara pintu terbuka. Alana terperanjat kaget ketika seseorang masuk tanpa mengetuk pintunya. Wanita itu segera mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu.
__ADS_1
"Daddy?"
"Ada apa? Kenapa kau kaget seperti itu Alana?" tanya Biao dengan wajah bingung. Pria itu melanjutkan langkah kakinya dan berjalan ke arah sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja Alana.
Alana menghela napas dan mengukir senyuman manisnya. "Daddy, Daddy masuk secara tiba-tiba. Alana kaget," ucap Alana dengan manja.
Biao mengukir senyuman sebelum menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk itu. "Apa kau memikirkan seseorang?" Biao menatap menyelidik terhadap Alana.
"Memikirkan?" tanya Alana dengan wajah bingung. Wanita itu melirik foto Kwan yang ada di atas meja dan segera menyembunyikannya di laci.
"Ya. Tidak biasanya kau kaget seperti ini," ucap Biao dengan wajah yang santai.
"Pria?"
Alana mengangkat kepalanya dan memandang wajah Biao. Ia terlihat malu karena keceplosan mengatakan hal seperti itu. Apa lagi di depan Biao. Si pria penuh trik yang tidak mudah di bohongi.
"Daddy ... jangan meledekku lagi," rengek Alana.
__ADS_1
Biao tertawa kecil. Pria itu memeluk putrinya dengan kasih sayang. "Ok, katakan bagaimana pria itu? Apa dia baik? Apa dia sangat menyayangimu?" tanya Biao dengan wajah yang serius.
"Daddy, pria yang mana? Tidak ada pria lain selain Daddy di sini," kila Alana dengan senyum tertahan.
Biao menarik sudut bibirnya ke samping. Kepalanya mengangguk pelan. "Alana, kau putriku satu-satunya. Kau malaikat di dalam hatiku. Apapun yang kau pikirkan selalu menjadi pikiranku juga. Jangan berbohong dengan Daddy. Daddy tahu, kau sedang jatuh cinta pada seseorang. Untuk soal hati, Daddy memang tidak ahli. Tapi setidaknya, Daddy akan membantumu untuk mendapatkan pria yang kau cintai."
Alana menunduk. Ia terlihat bingung untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. "Tapi, Dad ... aku takut jika dia tidak mencintaiku. Sifatnya mudah berubah. Terkadang dia membawaku terbang melayang. Lalu dalam hitungan detik ia mendorongku hingga jatuh."
Biao mengeryitkan dahinya. "Siapa pria itu, Alana? Apa dia orang yang dekat dengan kita? Temanmu di sekolah. Rekan bisnismu Atau ... karyawan di perusahaan kita?
Alana memandang wajah Biao dengan saksama. Debaran jantungnya sangat tidak karuan. Alana cukup kesulitan untuk mengucapkan nama Kwan kepada Biao.
"Aku akan memberi tahu Daddy setelah aku benar-benar yakin dengan perasaanku," ucap Alana sambil memalingkan wajahnya.
Biao mengukir senyuman. Sifat Alana kembali mengingatkannya kepada sang istri. Sangat sulit dan butuh kesabaran untuk bisa membuat Sharin sadar kalau dia juga mencintai Biao dulu.
"Semoga saja, kau mencintai pria yang tepat Alana. Jika tidak, Daddy harap kau bisa menerima semuanya."
__ADS_1
Alana mengangguk setuju. Wanita itu memandang ke arah jendela. "Kwan, apa kau serius dengan ucapanmu? Kau itu playboy. Aku takut jika kau akan meninggalkanku ketika sudah mendapatkan yang jauh lebih baik."