Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Penyelidikan Jordan


__ADS_3

Sehari sebelumnya.


Jordan mengukir senyuman indah. Pria itu terlihat asyik berbincang dengan sosok wanita yang ada di dalam telepon. “Apa kau akan datang bersama Oliver?” ucap Jordan sambil mengetuk-ngetuk setir mobilnya.


“Ya, kak. Aku akan datang dengan Oliver. Aku tidak terlalu suka di kawal, tapi Mommy dan Daddy tidak akan pernah mengijinkanku pergi sendirian,” ucap wanita yang menjadi lawan bicara Jordan saat itu.



Jordan tertawa riang. “Bagus! Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada Oliver. Aku membutuhkannya saat ini,” ucap Jordan lagi.


“Kak, tapi ada kakak di Meksiko. Seharusnya aku tidak perlu memiliki pengawal. Apa lagi, pengawalnya seperti pria es ini,” rengek Katterine dengan suara manjanya.


“Katterine, kau seharusnya bersyukur. Kau wanita yang sangat beruntung. Jarang-jarang ada bos mafia yang mau merelakan waktunya hanya untuk melindungi wanita manja seperti dirimu,” ucap Jordan dengan suara yang serius.


“Tapi, Kak ....”


“Katterine, aku akan menunggumu. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan di Meksiko. Aku menunggu kehadiranmu di sini,” ucap Jordan dengan senyuman manis.


“Ya. Aku akan segera tiba. Bersiap-siaplah. Karena setelah aku tiba, Kakak tidak akan memiliki banyak waktu untuk sendirian. Waktu kakak hanya akan menjadi milikku,” ucap Katterine lagi.


Jordan mengukir senyuman. Pria itu mematikan sambungan teleponnya saat merasa obrolannya telah selesai. Jordan memasukkan ponselnya di dalam saku. Tiga hari lagi adik kandungnya akan tiba di Meksiko. Bersamaan dengan pria yang ia gunakan namanya untuk menyamar. Satu momen yang tidak pernah ia tebak sebelumnya.


“Semoga saja Oliver tidak marah kalau kini aku menggunakan namanya,” gumam Jordan lagi sebelum melajukan mobilnya. Pria itu ingin segera tiba di mansion untuk beristirahat dan menunggu informasi mengenai Leona dan pria yang baru saja mencium wanita itu.


***


Langit yang terang berubah gelap. Bulan dan bintang kembali menerangi Meksiko. Malam itu udara terasa dingin. Leona tinggal di kota Meksiko yang memiliki suhu jauh lebih dingin jika dibandingkan dengan pedalaman Meksiko bagian utara dengan suhu yang jauh lebih hangat.

__ADS_1


Leona duduk di sebuah kursi sambil menggenggam ponsel di tangan kanannya. Ada tawa riang dari bibir wanita itu. Kakinya ia letak di atas meja yang terlihat berserak. Beberapa pasukan Queen Star ada di ruangan yang sama dengan dirinya. Hanya Kwan yang membuat Leona tertawa. Ya, memang malam itu seseorang yang menjadi lawan bicaranya adalah Kwan.


Pria murah senyum itu sudah berada di San Fransisco. Ia tinggal disebuah apartemen karena memang menolak untuk tinggal di rumah Biao. Suaranya sempat khawatir karena Leona tidak ada kabar. Namun, setelah mendengar suara wanita itu lagi dan Leona juga mengatakan baik-baik saja, Kwan kembali tenang.


“Kwan, San Fransisco dan Meksiko sangat dekat. Hanya menempuh waktu empat jam saja kita sudah bisa bertemu. Apa yang harus kau khawatirkan?” ucap Leona dengan tawa kecil.


“Ya. Aku tahu. Itu alasanku sejak awal menerima pekerjaan ini. Aku tidak ingin berjarak terlalu jauh denganmu, Kak. Aku sangat takut kau sendirian di kota yang di tempati pria itu,” ucap Kwan dengan suara pelan.


“Ya sudah. Kau harus selesaikan pekerjaanmu. Jangan terlalu memaksakan keadaan agar cepat kembali ke Meksiko. Aku juga baik-baik saja di sini,” ucap Leona lagi.


“Ya. Aku akan tenang di sini. Aku akan segera menyelesaikan masalah di sini. Kak, besok aku akan bertemu dengan Alana,” ucap Kwan dengan suara yang mulai pelan.


Leona terdiam sejenak dengan senyuman manis. Wanita itu kembali ingat dengan kelakuan Kwan beberapa tahun yang lalu. “Kwan, jika kau benar sangat mencintainya. Perjuangkan Alana. Jangan lakukan hal bodoh seperti waktu itu lagi,” ucap Leona sambil memainkan pulpen yang ada di hadapannya. Ada sebuah kertas kosong di atas meja tersebut. Leona mencoret-coret kertas tersebut sambil menelepon Kwan.


“Ya, Kak. Kali ini aku memang akan memperjuangkan Alana. Kak Aleo kirim salam. Katanya kakak harus segera pulang,” ucap Kwan lagi.


“Kak, istirahatlah. Aku akan menghubungimu besok pagi,” ucap Kwan lagi.


“Hmm, Ya,” jawab Leona pelan. Panggilan telepon itu terputus. Leona meletakkan ponselnya di atas meja. Kedua matanya terbelalak kaget saat melihat tulisan nama seseorang yang sejak tadi ia coret-coret di atas kertas. Leona tidak menyangka kalau nama pria itu yang tertulis di sana.


“Oliver?” celetuknya pelan.


Di sisi lain.


Jordan sedang menikmati teh hangat yang tersaji di hadapannya. Posisinya sangat tenang. Jordan menikmati dinginnya kota Meksiko di bawah taburan bintang yang indah. Seorang pria berjalan cepat mendekati posisi Jordan duduk. Pria itu menunduk hormat setelah tiba di hadapan Jordan.


“Selamat malam, Pangeran,” sapa pria itu dengan wajah ramah.

__ADS_1


“Selamat malam. Apa kau berhasil mendapatkan informasi mengenai Leona dan pria itu?” tanya Jordan dengan wajah yang sangat serius.


Pria itu menunduk dengan wajah bersalah. “Maafkan saya, Pangeran. Saya tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai hubungan Nona Leona dan pria itu. Tapi saya berhasil mendapatkan identitas pria itu. Ia bernama Zean Wick. Pemimpin mafia yang menguasai kota Meksiko,” ucap pria itu dengan wajah yang serius.


“The Devils?” celetuk Jordan dengan wajah serius.


“Benar, Tuan,” jawab pria itu sambil mengangguk setuju.


Jordan terlihat serius saat mendengar nama geng mafia yang memang ia kenal berbahaya itu. Oliver pernah sesekali bercerita kepadanya dan menyebutkan nama The Devils akan menjadi lawan terberat jika mereka sampai bermusuhan.


“Pangeran, hubungan mereka terlihat tidak baik. Mereka bermusuhan,” ucap pengawal itu lagi.


Jordan mengangkat kepalanya. Tidak tahu kenapa, saat bawahannya bilang mereka bermusuhan, Jordan kembali bahagia. Setidaknya, ciuman Leona dan Zean tidak terus-terusan mengganggu pikirannya.


“Kau yakin?” ucap Jordan dengan wajah serius.


“Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, besok The Devils akan melakukan penyerangan kepada Queen Star. Sepertinya Zean ingin membunuh Nona Leona,” ucap pria itu dengan wajah serius.


Jordan beranjak dari kursi yang ia duduki. Wajah pria itu panik bukan main. “Kau ... apa kau tidak salah? Mereka tadi-” Jordan menghentikan perkataannya. Ia juga tidak mau bawahannya tahu apa yang ia lihat tadi siang. “Lupakan. Siapkan semuanya. Aku tidak ingin pria itu melukai Leona,” sambung Jordan lagi.


“Baik, Pangeran,” jawab pria itu dengan penuh hormat. Ia menunduk dan melangkah pergi meninggalkan Jordan sendiri di taman belakang.


Jordan menatap ke arah lain. Sebenarnya informasi yang baru saja ia dapat membuat hatinya menjadi sangat bingung. Namun, satu hal yang kini menjadi sorot perhatian Jordan. Leona tidak boleh terluka. Pemimpin The Devils tidak boleh melukai wanita yang ia cintai.


“Aku akan melindunginya. Pelan-pelan aku akan menyelidiki masalah yang terjadi di antara mereka. Dua mafia ini memang  memiliki alat pelindung yang cukup hebat. Bisa-bisanya orang terbaikku tidak berhasil mengetahui identitas mereka,” gumam Jordan di dalam hati.


Flashback Off.

__ADS_1


__ADS_2