
Oliver melajukan mobilnya dengan penuh keraguan. Sesekali ia melirik Jordan dan Leona yang ada di belakang dengan wajah bingung. Sepasang kekasih itu keluar dengan wajah bahagia dan berseri. Kini saat kembali justru wajahnya terlihat tidak bersemangat.
Jordan memandang Leona dengan bingung. Ia menggenggam tangan Leona dan mengecupnya mesra.
"Baby girl, apa yang kau pikirkan?" tanya Jordan dengan wajah pura-pura tidak tahu. Padahal ia paham betul apa yang menyebabkan wanitanya berubah cemberut seperti itu.
"Aku lelah. Aku ingin istirahat," jawab Leona tanpa ingin memandang wajah Jordan. Ia lebih tertarik memandang keluar jendela untuk menikmati keindahan kota pada malam hari.
"Oke." Jordan melepas tangan Leona. Ia memandang ke arah depan.
"Oliver, lebih cepat kemudikan mobilnya. Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan Leona? Kau mau tunanganku tertidur di dalam mobil? Aku sih bisa menggendongnya. Tapi aku tidak ingin kau melihat Leonaku saat sedang tertidur!" teriak Jordan asal saja.
Oliver terlihat kaget ketika mendengar perintah Jordan. "Baik, Pangeran." Oliver menambah laju mobilnya. Tapi, hatinya tidak sama dengan wajahnya. Karena sebenarnya pria tangguh itu mengumpat di dalam hati.
"Pangeran, kenapa kau berubah menjadi cerewet seperti ini?"
Leona mengeryitkan dahi saat mengingat apa yang baru saja dikatakan oleh Jordan. "Apa maksudmu? Kenapa kau memarahi Oliver seperti itu?" protes Leona dengan wajah kesal. Emosinya tidak stabil. Perkataan Jordan sangat cepat memancing emosinya kala itu.
"Baby girl, kau kalau tidur sangat jelek. Aku tidak mau Oliver mengetahuinya," bisik Jordan dengan wajah serius.
Leona melebarkan kedua matanya. Mulutnya terbuka sedikit. Leona kembali ingat kalau Jordan memang pernah melihatnya saat sedang tertidur. Hal itu menjadi sangat memalukan ketika Jordan mengatakan kalau tidurnya terlihat jelek.
"Apa benar seperti itu?" tanya Leona dengan wajah serius. Ia sendiri tidak menyangka kalau saat tertidur ia terlihat jelek. Leona menutup mulutnya karena tidak ingin giginya terlihat.
__ADS_1
Jordan mengangguk pelan. "Apa kau benar-benar lelah? Jika kau sangat lelah kau bisa tidur di mobil. Aku akan menutup wajahmu dengan jas." Jordan memainkan alisnya dengan senyuman penuh arti.
Leona memalingkan wajahnya. "Tidak. Aku tidak mau tidur." Leona menghela napas. "Aku lapar. Sebaiknya kita pergi makan saja."
Jordan mengukir senyuman. Ia senang karena Leona sudah melupakan masalah yang tadi. Pangeran Cambridge itu memandang ke depan. Ia siap memberi perintah kepada Oliver lagi.
Namun, belum sempat ia berteriak. Oliver lebih dulu melirik Jordan melalui spion. Bahkan pria itu sudah menyiapkan intonasi yang pas untuk melawan Jordan.
"Saya tahu tempat makan yang paling enak di tempat ini, Pangeran. Anda tidak perlu khawatir. Selain enak, tempatnya di jamin aman," ucap Oliver cepat. Nadanya sedikit membentak. Namun karena Oliver saat berbicara posisinya membelakangi. Suaranya tidak terlalu keras di dengar.
Jordan menaikan satu alisnya. Sedangkan Leona terlihat tertawa geli ketika mendengar Oliver gantian membentak Jordan.
"Kau satu-satunya pengawal yang berani membentak sang Pangeran, Oliver. Kau memang unik," ucap Leona di sela tawanya. "Lihatlah wajah Pangeranmu ini. Dia terlihat syok."
Oliver melirik Jordan dari spion. Pria itu saling memandang satu sama lain. Ada senyum kecil di bibir mereka.
Oliver menggeleng pelan. "Cinta. Astaga, apa cinta seperti ini. Kenapa setiap pria selalu berubah bodoh di depan wanita yang ia cintai. Ini sangat memalukan," gumam Oliver di dalam hati. "Apa benar dia Pangeran Jordan? Aku melihatnya seperti Mr. Bean saat ini," keluh Oliver di dalam hati.
***
Setibanya di lokasi, Jordan dan Leona saling bergandengan tangan. Mereka berjalan masuk dan mencari tempat untuk duduk. Sedangkan Oliver lebih memilih berjalan di belakang dengan jarak yang lumayan jauh.
"Sayang, di sana." Jordan menunjuk lokasi yang menurutnya pas.
__ADS_1
Leona mengangguk setuju. Ia memandang Oliver dan melambaikan tangan pada pria itu. Hal itu membuat Jordan bingung.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kasihan Oliver sendirian di sana," jawab Leona apa adanya.
"Dia memang selalu sendiri. Jangan pedulikan dirinya. Kau hanya boleh peduli padaku saja," ucap Jordan dengan wajah yang serius.
Leona memandang wajah Jordan dan mengukir senyuman. Ia memberikan kecupan singkat di bibir kekasihnya.
"Aku hanya ingin mengatakan kepadanya untuk membelikan sesuatu buat Katterine. Di sana." Leona menunjuk sebuah toko yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka berdiri.
Jordan melihat toko itu dan mengukir senyuman. Rasa cemburu yang sempat memenuhi hatinya berangsur-angsur hilang.
Bersamaan dengan itu, Oliver berdiri di samping Jordan. Ia menunduk hormat sebelum menatap wajah Leona dan Jordan bergantian.
"Maaf, Pangeran. Ada yang bisa saya bantu?"
"Oliver, masuklah ke toko itu. Pilihkan beberapa benda untuk dijadikan oleh-oleh. Tadi Katterine menghubungiku dan dia minta oleh-oleh. Kau pasti tahu benda apa yang dia suka bukan?" Leona merangkul lengan Jordan dengan mesra. "Sayang, ayo kita makan."
"Kau pasti bisa," ledek Jordan.
Jordan memukul pundak Oliver dengan senyuman meledek. Ia sangat yakin kalau Oliver tidak akan tahu apa yang mau di beli. Jordan juga paham kalau kali ini Oliver tidak berani membantah Leona.
__ADS_1
Oliver diam mematung memandang toko yang ada di sana. Seperti apa kata Jordan. Pria itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Oleh-oleh? Untuk Katterine?"