Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kau Bisa Tertawa?


__ADS_3

Katterine, Letty, Oliver dan Miller berdiri di depan mobil sambil berbincang-bincang. Tidak dengan Jordan. Pangeran Cambridge itu duduk di dalam mobil sambil membayangkan  percakapan antara Leona dan Zean saat ini. Ia bisa melihat jelas kalau kini Zean dan Leona berpelukan. Bahkan selama ini Leona selalu marah jika ia memeluknya. Tapi, di depan matanya Leona mau di peluk oleh Zean.


“Dasar wanita! Kenapa dia mau saja di peluk? Bukankah tadi katanya hanya mengobrol saja,” umpat Jordan di dalam hati. Pria itu mendorong jok mobilnya dan menghidupkan MP3 dengan volume yang keras. Tidak ada suara apapun yang ia dengar kecuali suara musik yang baru ia pilih. "Tubuhku terasa sakit semua ...." Jordan memejamkan mata. Ia berharap setelah bangun nanti tubuhnya sudah jauh lebih baik.


Oliver mengukir senyuman saat melihat tingkah laku Jordan. Namun, ia tidak lagi mau ikut campur dalam hal ini. Oliver sendiri tidak tahu apa itu cinta dan bagaimana bentuknya. Oliver angkat tangan jika kini pangeran yang ia jaga memiliki masalah dengan cinta.


“Aku pikir pria yang dekat dengan Eleonora adalah Jordan. Tapi, kenapa kini ada Zean di sana?” tanya Miller dengan alis saling bertaut. Pria itu masih belum rela menerima kenyataan kalau kini Leona sudah memiliki nama pria lain di hatinya.


“Sebenarnya masalah ini juga berawal dari mereka berdua. Tanpa ada kisah cinta mereka, masalah besar seperti ini tidak akan ada,” sambung Letty dengan santai. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang sangat tenang. Ia menikmati cahaya matahari yang kini menyentuh wajahnya. 


“Benarkah?” ucap Miller tidak percaya. Sepertinya aku harus mencari pengganti Leona di dalam hatiku. Aku tidak mau terjadi masalah lagi,” ucap Miller dengan wajah yang sangat serius. Pria itu memandang wajah Katterine yang cantik. Bibirnya mengukir senyuman penuh arti. Oliver melirik wajah Miller saat pria itu memandang Katterine dengan saksama. Pria itu memukul lengan Miller hingga membuat pria itu merasa sakit.


“Hei, apa yang kau lakukan! Jangan bilang kalau putri cantik ini  juga sudah jadi milikmu,” protes Miller tidak terima.


Katterine memandang wajah Oliver dan Miller secara bergantian. Wanita itu tertawa kecil. “Apa yang kalian lakukan?”


“Apa kau memiliki hubungan dengannya? Apa kau kekasihnya?” tanya Miller dengan wajah yang serius kepada Oliver.

__ADS_1


Oliver memandang wajah Katterine sesaat sebelum memandang wajah Miller lagi. “Tidak!”


“Bagus! Kalau begitu aku memiliki banyak kesempatan untuk menjadi kekasih putri Katterine. Aku bersedia merubah statusku menjadi Pangeran Cambridge,” ucap Miller kegirangan. “Putri, apa kau mau menjadi kekasihku?” tanya Miller tanpa mau basa-basi.


“Eh!” Katterine terlihat bingung. Namun, dalam sesaat bibirnya mengukir senyuman manis. Ia menerima uluran tangan Miller. “Tentu saja aku ....”


“Tanganmu sudah sangat dingin! Sebaiknya masuklah ke dalam mobil.” Oliver menggenggam tangan Katterine dan membawa wanita itu pergi secara paksa. Ia tidak suka jika hal itu benar-benar terjadi.


Miller mematung dengan tangan yang masih mengulur ke depan. Pria itu terlihat kesal melihat tingkah laku Oliver. Letty tertawa geli melihat Miller. Wanita itu menggeleng pelan sebelum pergi mengikuti Oliver dan Katterine dari belakang. Baru beberapa meter ia melangkah, Letty kembali memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Miller lagi.


“Hei, polisi! Apa kau tidak mau bersama dengan wanita mafia saja?” ucap Letty menawarkan diri.


Letty terlihat kesal ketika mendengar perkataan Miller. Wanita itu mengambil salju dan melemparkannya dengan geram. “Kau juga pria yang jelek dan tidak berguna! Berani sekalli kau mengatakan hal seperti itu tentangku. Awas saja kau! Aku akan membunuhmu nanti!”


Miller melebarkan kedua matanya sebelum lari. “Kau bahkan sepuluh kali lipat lebih galak daripada singa yang ada di rumah!” ujarnya sebelum berlari lagi.


***

__ADS_1


Leona masuk ke dalam mobil. Ia terlihat kesal ketika mendengar musik yang begitu berisik. Leona mematikannya. Ia berharap Jordan akan segera bangun setelah musik itu tidak ada lagi. Tapi, bukan bangun Jordan justru terlihat semakin nyenyak dengan tidurnya.


“Pria ini. Bisa-bisanya dia tidur dengan nyaman di dalam mobil,” umpat Leona kesal. Leona bersandar di jok mobil. Ia melihat ke arah depan. Jalanan masih tertutup salju. Beberapa  jam lagi jalanan baru bisa digunakan. Leona kembali mengingat pertarungannya dengan Clouse tadi. Ia memegang lehernya. Rasa sakit itu masih terasa hingga sekarang. Leona benar-benar syok tadi. Bahkan wanita itu berpikir kalau tadi dia tidak akan selamat.


“Dia seperti monster yang sangat menakutkan,” gumam Leona di dalam hati.


Leona kembali ingat dengan luka yang diterima Jordan. Wanita itu memiringkan kepalanya untuk melihat lengan Jordan. Ada luka sayatan di sana. Namun, lukanya sudah kering. Akan bahaya jika tidak segera di obati. Leona mengambil belati untuk merobek pakaian yang dikenakan Jordan. Ia sempat kesal karena Jordan tidak juga bangun.


"Kenapa kau tidak bangun juga!"


Leona kaget ketika memegang tubuh Jordan dan merasakan suhu tubuh pria itu sangat tinggi. Leona menurunkan belati yang ia genggam. “Jordan, bangunlah. Apa kau baik-baik saja?” ucap Leona khawatir. Ia terus saja menepuk-nepuk pipi Jordan namun pria itu tidak juga bangun. “Jordan jangan menakutiku!”


Leona memandang keadaan sekitar yang telah sunyi. Semua orang sudah ada di dalam mobil masing-masing. Leona menekan klakson mobil berulang kali. Ia tidak tahu harus minta tolong siapa lagi.


Setelah menekan klakson mobil, Leona memandang wajah Jordan lagi. Ia menarik tubuh pria itu dan memeluknya. “Bangunlah, jangan menakutiku dengan cara sepert ini. Ini hanya luka kecil kan?” ucap Leona dengan histeris. 


Jas yang digunakan Jordan untuk menutupi tubuhnya terjatuh. Leona terlihat kaget ketika melihat baju yang dikenakan pria itu sudah dipenuhi darah segar. Leona mengangkat bajunya ke atas. Betapa kagetnya Leona ketika meliha ada luka sayatan di mana-mana. Walau tidak terlalu dalam, tapi sangat banyak.

__ADS_1


Tadi Jordan memang mati-matian mengalahkan dan menghalangi Clouse agar tidak berhasil menyentuh Leona. Walaupun pada akhirnya ia hampir gagal, tapi ia sudah berjuang keras demi wanita yang sangat ia cintai.


“Jordan, bangun!”


__ADS_2