Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Bersamamu


__ADS_3

Leona membuka mata secara perlahan. Ia terlihat kaget ketika berada di Padang rumput yang sebelumnya pernah ia kunjungi. Tempat itu adalah tempat dimana Zean pernah menusukkan sebuah belati di tubuhnya. Memang hanya dalam mimpi. Namun, rasa sakit itu sama dengan apa yang ia rasakan setelah bangun dari mimpi itu. Leona memandang jurang yang ada di hadapannya. Ada cahaya terang di sana. Ia sangat penasaran hingga tertarik untuk memeriksa tempat tersebut.


"Tempat apa itu?" gumamnya sambil terus berjalan. Leona berjalan tanpa alas kaki. Telapak kakinya berpijak langsung pada rumput yang ada di tebing tersebut. Leona mengenakan gaun putih yang panjang hingga semata kaki. Rambutnya tergerai indah. Tidak tahu kenapa, Leona tidak memikirkan apapun detik itu. Ia tidak ingat dengan keluarganya bahkan apa yang sudah terjadi padanya. Kini yang memenuhi pikiran Leona hanya tempat yang dipenuhi cahaya terang itu saja.


"Leona," ucap seseorang dari belakang. Suara itu berhasil menghentikan langkah kaki Leona. Wanita itu memutar tubuhnya untuk memeriksa wajah sang pemilik suara.


Leona mengernyitkan dahi saat melihat Zean berdiri di sana. "Leona, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri," lirih Zean dengan mata berkaca-kaca. Pria itu berjalan selangkah demi selangkah untuk membujuk Leona agar kembali.


Ekspresi wajah Leona berubah. Ia kembali ingat kalau pria yang ada di hadapannya adalah pria jahat. Bahkan pria itu juga yang pernah membunuhnya dengan cara menusuk jantungnya dengan belati.


"Jangan mendekat. Aku tidak ingin bersamamu," ucap Leona sambil mengangkat tangannya. 


"Leona …."


"Aku ingin pergi dan hidup dengan tenang. Jangan ganggu hidupku lagi," ucap Leona lirih. Wanita itu segera memutar tubuhnya dan ingin segera melompat ke cahaya terang yang ada di depan jurang.


"Leona sayang … kau mau pergi meninggalkan mama?" 


Langkah Leona kembali terhenti. Wanita itu memutar tubuhnya untuk memeriksa sosok yang sudah mencegahnya. Kali ini wajah Serena. Wanita itu merentangkan tangannya dan menangis. Ia seperti tidak rela melihat Leona pergi. Begitu juga dengan Leona. Ia menjadi tidak tega untuk pergi.


"Mama …."


"Sayang, kembali nak. Kemari peluk mama. Jangan tinggalkan mama," lirih Serena dengan derai air mata.


Leona mengukir senyuman. Wanita itu menggeleng pelan. "Ma, relakan Leona pergi. Leona bahagia di sini. Leona gak akan mempersulit hidup Mama lagi," jawab Leona dengan kedua mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Jangan sayang. Jangan tinggalkan mama," teriak Serena histeris. 


"Selamat tinggal, Ma." Leona berpamitan dengan bibir tersenyum. 


Setelah beberapa langkah, lagi-lagi terdengar suara. Suara itu berasal dari orang-orang yang menyayangi Leona. Daniel, Aleo, bahkan Kwan dan juga Shabira. Semua muncul untuk mencegah Leona pergi. Tapi tidak ada satupun yang berhasil mencegah Leona pergi.


Hingga akhirnya, Leona hanya tinggal satu langkah lagi menuju cahaya terang itu. Kali ini tidak ada suara apapun. Sebuah tangan menggenggam tangannya. Seorang pria berdiri di samping Leona sambil memandang cahaya terang yang ada di atas jurang tersebut.


Leona memiringkan kepalanya. Ia mengeryitkan dahi saat melihat Jordan berdiri di sana. "Kau tidak melarang ku pergi?" ucap Leona wajah penasaran.


Jordan mengukir senyuman. Pria itu memandang wajah Leona dengan hati yang tenang. "Kita akan pergi sama-sama. Jika kau ingin pergi aku juga akan ikut denganmu."


"Jangan," ucap Leona menolak. "Kau harus tetap di sini. Masih banyak orang yang menyayangimu dan membutuhkanmu."


"Tapi aku menyayangimu dan membutuhkanmu," ucap Jordan pelan. "Tanpamu aku tidak ingin hidup lagi."


"Jordan, jangan! Aku mohon hentikan Jordan."


.


.


.


"Jordan …."

__ADS_1


Angel mematung ketika mendengar suara dari bibir Leona. Wanita itu memandang Tamara yang kini juga ada di samping tempat tidur Leona. Dua dokter cantik itu sedang melepas peralatan medis yang melekat di tubuh Leona. Sudah satu jam mereka bersedih atas kepergian Leona. Kali ini mereka ingin segera mengurus jasad Leona untuk segera di makamkan besok pagi.


"Leona," ucap Angel tidak percaya.


Tamara dengan sigap memeriksa keadaan Leona. Betapa terkejudnya wanita itu ketika melihat denyut nadi Leona kembali berdenyut. Bahkan Tamara juga memeriksa detak jantung Leona yang sudah berdetak dengan normal.


"Ini mustahil, tapi Kak Leona kembali," ucap Tamara dengan wajah tidak percaya. Walau pernah mendengar kata mati suri. Tapi ini pertama kalinya bagi Tamara menghadapi pasien yang seperti itu.


Angel mengukir senyuman bahagia. "Benarkah?Leona telah kembali?" ucap Angel dengan mata berkaca-kaca. Ia bisa kembali mengukir senyuman ketika mendengar penyataan yang dikatakan oleh Tamara.


"Jordan ... jangan pergi," lirih Leona lagi.


"Jordan?" celetuk Tamara dan Angel bersamaan.


"Siapa Jordan?" ucap Tamara dengan wajah bingung.


"Aku akan memberi tahu yang lain tentang kabar baik ini. Aku juga akan meminta pria yang bernama Jordan untuk berada di sini," ucap Angel cepat. Dengan penuh semangat Angel berlari menuju ke arah pintu. ini kepada keluarga besar Daniel Edritz Chen.


Di ruangan itu tersisa Tamara dan Leona. Tamara kembali memasang alat-alat medis yang ada di tubuh Leona. Ia menangis bahagia. "Kak Leona, terima kasih sudah kembali. Terima kasih Tuhan ...."


Di sisi lain. Angel berdiri di depan semua orang. Wanita itu mengukir senyuman indah. "Leona kembali. Leona sudah memberi tanda kalau dia telah kembali. Dia ...." Angel kesulitan melanjutkan kalimatnya. Kejadian ini membuatnya ingin menangis haru.


Zean mengukir senyuman. Sama halnya dengan Kwan, Alana, Aleo dan semua orang yang sedang menangis di sana. Mereka mengukir senyuman dengan wajah tidak percaya.


"Baiklah. Siapa yang bernama Jordan? Leona terus saja memanggil namanya. Saya yakin, jika Jordan ada di samping Leona, itu akan mempercepat proses penyembuhan Leona."

__ADS_1


Semua orang mematung. Mereka terlalu sedih dengan kepergian Leona hingga sejak tadi tidak sadar dengan kepergian Jordan. Kwan mengitari lorong tersebut. Ia mengeryitkan dahi sebelum mengambil ponselnya. Pria itu ingin segera menghubungi Jordan agar segera menemui Leona.


Sedangkan Zean yang sudah tahu kalau Jordan pergi, hanya diam membisu. Pria itu memutar tubuhnya dan pergi dari tempat tersebut. "Jordan? Aku harus membawa pria itu ke sini demi Leona," gumam Zean di dalam hati.


__ADS_2