Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Hadiah Unik


__ADS_3

Oliver dan semua orang yang ada di ruangan itu terlihat bingung. Jika Oliver merasa takut kalau Katterine tidak menyukai hadiahnya. Sedangkan yang lain justru penasaran dengan benda yang ada di dalam paper bag tersebut. Katterine memasukkan tangannya ke dalam paper bag. Wanita itu mengangkat sepasang sepatu sneaker berwarna putih. Setelah memperhatikan sepatu itu dengan saksama, ia memandang wajah Oliver dengan tatapan menuduh.


“Kau menyuruhku berolahraga?” Katterine menaikan alisnya.


Oliver mengukir senyuman. “Hanya benda itu yang tidak ada di dalam kamarmu!” ucapnya dengan santai.


Prok Prok. Jordan tepung tangan dengan riang. Pria itu beranjak dari sofa yang ia duduki dan berjalan mendekati Katterine dan Oliver. Tatapannya tidak teralihkan. Sepatu sneaker itu menjadi pandangan utama Jordan kala itu.


“Bukankah Oliver pria yang so sweet? Dia mengetahui benda apa yang tidak kau miliki. Bahkan aku yang jelas-jelas kakak kandungmu tidak pernah kepikiran dengan hadiah seperti ini,” ledek Jordan dengan senyum kecil di bibirnya. Entah kala itu dia sedang menjatuhkan Oliver entah sedang membela pria itu. Tapi yang pasti, oleh-oleh Oliver malam ini membuat Jordan tertawa geli. Bahkan sampai perutnya sakit. 


“Aku dan Leona salah. Kami menebak kalau isinya tas atau sepatu high heels misalnya. Tapi, ternyata ....” Jordan memandang sepatu itu lagi dan menghela napas. “Sudahlah. Aku mau tidur. Mom, Dad. Jordan ke kamar dulu.” Dengan santai Jordan melangkah menuju ke kamar tidurnya. Sesekali terdengar jelas tawa pangeran Cambridge tersebut.


Emelie dan Zeroun saling memandang dengan bibir tersenyum. Mereka mulai membuka hadiah yang diberikan Jordan kepada mereka. Pura-pura tidak tahu dengan apa yang kini terjadi antara Oliver dan Katterine.


Katterine memasukkan sepatu itu ke dalam paper bag lagi. Ia menjinjing paper bag itu lalu tersenyum manis. “Terima kasih, Oliver.”


“Kau tidak suka?” Wajah Oliver terlihat sedih. Pria itu memandang ke arah lain dengan rasa bersalah.


“Siapa bilang? Aku suka.” Katterine mengukir senyuman lagi. “Besok pagi, temani aku olahraga. Kita lari pagi, bagaimana? Aku ingin menggunakan hadiah ini dengan suka cita.”

__ADS_1


Oliver terlihat keberatan. Besok adalah jadwal dirinya melatih pasukan Gold Dragon. Tapi, ia tidak ingin membuat Katterine kecewa. Mau tidak mau pria itu menyetujui permintaan Katterine.


“Baiklah, Putri. Saya permisi dulu.” Oliver menunduk hormat sebelum memutar tubuhnya. Pria itu pergi tanpa menunggu satu kata dari Katterine lagi.


Katterine mengukir senyuman sambil memandang kepergian Oliver. Setelah pria itu benar-benar menjauh, Katterine memeluk paper bagnya dengan hati yang sangat bahagia. Selain ini adalah hadiah pertama dari Oliver. Ini juga benda yang tidak pernah ada di lemarinya. Terakhir kali ia mengenakan sepatu seperti itu saat dirinya masih SD. Sejak saat itu Katterine tidak pernah menggunakan sepatu seperti itu lagi.


“Sayang, ini sangat indah.” Emelie memegang sebuah gaun yang dipilihkan Leona. Wanita itu terlihat sangat menyukai gaun pemberian Leona. Calon menantu yang sangat ia sayangi.


Ucapan Emelie menjadi daya tarik Katterine. Wanita itu memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Emelie. Ia duduk di samping Emelie dan mengukir senyuman. “Selera Kakak Ipar memang tidak pernah bisa diragukan,” ucap Katterine sambil memegang gaun tersebut.


“Sayang, apa yang terjadi dengan kau dan Oliver? Akhir-akhir ini mommy lihat hubungan kalian tidak sedekat dulu.” Emelie memasukkan kembali gaun tersebut ke dalam paper bag. Ia lebih tertarik untuk mengkorek informasi mengenai hubungan putrinya dan Oliver.


“Mom, Oliver pria yang sangat menyebalkan.” Katterine memandang ke arah lain. “Mommy tenang saja, putrimu ini pasti bisa meluluhkan hati pria es seperti dia.”


“Seperti Lana dan Lukas?” celetuk Emelie dengan senyuman.


Katterine memandang wajah Emelie. Ia terlihat penasaran dengan kehidupan orang tua Oliver saat masih muda dulu. Ia kembali ingat kalau kedua orang tuanya dan kedua orang tua Oliver bersahabat. Sudah pasti mereka tahu bagaimana hubungan percintaan Lukas dan Lana.


“Mom, ceritakan,” rengek Katterine.

__ADS_1


Zeroun mengukir senyuman. Secara perlahan pria itu memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelahnya. Walau kedua matanya terpejam, tetap saja telinganya masih bisa mendengar jelas perbincangan antara istri dan putri kesayangannya.


“Sayang, Lana dan Lukas adalah pasangan favorit mommy. Apa kau tahu? Mereka itu seperti tom and jerry. Saling bermusuhan. Mommy juga tidak tahu kenapa mereka bisa saling jatuh cinta. Oliver meniru sifat Lukas. Dingin, cuek dan sangat menyebalkan.”


“Ya, Katterine tahu. Bahkan sampai sekarang saja Paman Lukas terlihat lebih mendominan.” Katterine menyandarkan tubuhnya dengan wajah tidak semangat.


“Itu hanya di depan orang lain saja. Di belakang kita, paman Lukas sangat mencintai Tante Lana. Ia menuruti semua yang diperintahkan Tante Lana. Sayang, sedingin dan secuek apapun seorang pria, dia tetap punya hati dan cinta. Apa kau tahu? Jika dia sudah mencintai satu wanita maka wanita itu akan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Tatapannya tidak akan pernah teralihkan kepada wanita lain. Hanya wanita yang ia cintai saja yang ada di dalam ingatannya.” 


Emelie kembali mengingat dirinya dan Zeroun. Sebenarnya hubungan percintaan antara dirinya dan Zeroun juga tidak terlalu mulus. Hanya saja, memang dia datang di saat yang tepat. Emelie berhasil mengisi kekosongan pada hati Zeroun kala itu. Berbeda dengan Lukas. Pria itu tidak pernah mengenal cinta dan sangat membenci cinta. Tapi, saat ia bertemu dengan Lana yang jahil dan begitu periang, ia menjadi luluh dan lama kelamaan menjadi cinta.


“Oke, Mom. Katterine tahu apa yang harus Katterine lakukan,” ucap Katterine penuh semangat.


“Sayang, mommy dukung apapun yang ingin kau lakukan. Tapi, satu pesan mommy. Sebagai wanita, kau harus bisa menjaga dirimu. Harga dirimu adalah hal yang paling berharga. Kau harus tahu kalau itu hanya boleh diberikan kepada suamimu. Bukan pria yang kau cintai. Karena terkadang, pria yang kita cintai belum tentu akan menjadi suami kita.” Emelie memasang wajah sedih. Ia memandang ke depan dan membayangkan betapa sedihnya hidup Adriana dulu.


Zeroun membuka matanya. Ia memegang tangan Emelie dan mengecupnya dengan penuh cinta. Ia tahu kalau suasana hati istrinya sudah mulai buruk. “Sayang, ayo kita tidur.”


Katterine memandang wajah Emelie dan Zeroun secara bergantian. “Mom, Dad. Katterine mau di sini dulu ya.”


“Oke sayang, jangan tidur larut malam ya.”Emelie mengecup pucuk kepada Katterine. Wanita itu mengacak rambut putrinya sebelum merangkul lengan Zeroun. Mereka berdua berjalan pergi menuju ke arah kamar.

__ADS_1


Katterine memandang paper bag tersebut dengan wajah penuh tanya. “Sepertinya aku harus main-main ke Hongkong. Aku tahu, siapa yang bisa membantuku kali ini.” Katterine mengukir senyuman penuh arti. 


__ADS_2