
Waktu terus berlalu. Pencarian setiap harinya terus dilakukan. Seperti apa yang dikatakan Zeroun, semua terasa sulit. Tidak ada jejak membuat semuanya tidak tahu harus ke mana. Begitu juga dengan Letty dan Miller yang sudah mencari ke beberapa pelosok daerah. Bukan menemukan petunjuk justru mereka semakin khawatir karena belum pernah Jordan dan Oliver hilang seperti ini.
Leona sudah semakin frustasi. Kehilangan suami sungguh menyakitkan. Syukurnya Serena dan Daniel selalu ada di sampingnya. Zeroun lebih memilih mencari sendirian. Sedangkan Katterine diperintahkan Zeroun untuk menemani Emelie di istana. Semua memiliki tugas masing-masing. Siapa saja yang menemukan petunjuk akan menghubungi yang lainnya.
Entah usia yang membuat kemampuannya menurun entah juga karena kali ini lawan mereka sangat cerdas. Zeroun benar-benar tidak habis pikir jika sudah dua hari ini ia belum mendapatkan petunjuk apapun. Bahkan satu-satunya orang yang ia harapkan untuk memberikan petunjuk kini belum sadar. Pria itu adalah Roberto.
Dengan melipat tangan di depan dada, Zeroun memperhatikan wajah Roberto yang sudah mulai memerah. Keadaannya semakin membaik. Hanya tinggal menunggu kapan pria itu mau membuka mata.
"Tuan, ini kursi untuk Anda." Seorang perawat membawa kursi dan meletakkannya di samling Zeroun. Sudah berjam-jam pria itu berdiri sambil memperhatikan Roberto. Zeroun terlihat seperti patung.
"Kapan dia akan bangun? Apa tidak ada alat atau obat yang bisa membuatnya segera membuka mata?" protes Zeroun dengan wajah tidak sabar.
"Kami sudah melakukan sebaik mungkin, Tuan. khusus Tuan Roberto, kami melakukan perawatan yang rahasia. Jadi, kami tidak bisa sembarangan memanggil dokter atau melakukan tindakan yang mencurigakan."
Zeroun memijat dahinya. Kepalanya benar-benar pusing. Bukan jadwal makannya saja yang tidak teratur. Bahkan hidupnya kini jauh lebih berantakan. Ia tidak pulang-pulang ke istana hanya karena tidak tega melihat istrinya menangis. Zeroun merasa sebagai ayah yang tidak berguna.
Seorang pria berjalan mendekati Zeroun. Dokter yang ada di samping Zeroun memutuskan untuk pergi. Ia tahu kalau kabar yang ingin disampaikan adalah hal yang rahasia.
"Selamat sore, Bos."
"Ada apa?"
"Kami baru saja mengetahui kalau Roberto memiliki saudara. Kini perusahaannya di pimpin oleh pria bernama Marco."
Zeroun memandang wajah bawahannya. "Apa dia memiliki hubungan atas semua ini?"
"Saya tidak menemukan hal yang aneh selama beberapa hari ini, Bos. Pria bernama Marco ini hanya diam di dalam kamar hotel selama berhari-hari. Ia tidak melakukan kegiatan apapun."
"Apa dia merasa sedih karena kehilangan Roberto?" ucap Zeroun pelan.
__ADS_1
"Bos, apa Anda tidak mau memberi tahu Marco tentang keberadaan Roberto? Mungkin saja Roberto bisa segera sadar nanti."
"Tidak. Kita tidak bisa bertindak gegabah. Bagaimana kalau Marco juga ada hubungannya dengan kecelakaan yang di alami Roberto?"
Pria itu kembali diam. Dalam keadaan seperti ini mereka memang harus selalu waspada. Salah langkah bisa membuat mereka semakin jauh dari Jordan dan Oliver.
"Ikuti saja ke mana pria bernama Marco itu pergi. Ke manapun. Jika benar dia memiliki hubungan atas kecelakaan Roberto, dia pasti bisa menggunakan kita dengan keberadaan Jordan dan Oliver."
"Baik, Bos." Pria itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Zeroun. Ia ingin memberi perintah kepada rekannya agar melakukan pengintaian terhadap aktifitas yang aman dilakukan oleh Marco. Sedangkan Zeroun kembali diam membisu sambil memikirkan strategi yang akan ia ambil selanjutnya.
"Apa mungkin saat ini Jordan dan Oliver sedang kritis juga?" gumam Zeroun di dalam hati saat melihat alat penunjang kehidupan yang kini ada di tubuh Roberto.
***
Marco berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia terlihat ketakutan dan bingung. Tinggal satu hari sebelum Pangeran Martine menemuinya dan meminta jawaban atas tawaran yang pria itu berikan. Marco masih dilema. Bahkan untuk pergi mengunjungi Jordan dan Oliver di rumah sakit bawah tanah saja ia tidak berani. Ia tahu kalau akan ada orang yang mengikutinya nanti.
"Bagaimana ini?" Marco kembali duduk di kursi yang baru beberapa detik ia tinggalkan.
Tok tok
Marco kaget bukan main ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia memandang pintu itu seolah ada monster di baliknya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Marco benar-benar tidak berani untuk beranjak dan membuka pintu itu.
"Servis kamar."
Marco kembali bernapas lega ketika mendengar suara wanita dari luar sana. Ia beranjak dan berjalan ke arah pintu. Tapi, tetap saja ia waspada dan tidak mau membuka pintu itu sebelum mengintip. Ketika memastikan keadaan aman, Marco membuka pintu kamar.
"Silahkan masuk."
Seorang wanita berpakaian karyawan hotel mengangguk pelan. Ia masuk sambil membawa peralatan bersih-bersih ke dalam kamar Marco. Sedangkan Marco memilih untuk memeriksa lorong dan memastikan tidak ada orang lain di depan sana.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Marco merasa sesuatu menancap di lehernya. Sebuah cairan berjalan menelusuri bagian dalam kulitnya. Samar-samar ia melihat wanita yang kini sedang menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya.
"Siapa kau?" lirih Marco sebelum tidak sadarkan diri. Beberapa pria muncul ketika Marco sudah tidak berdaya.
"Bawa dia ke tempat pangeran Martine."
"Baik."
Para pria itu membawa Marco pergi. Sedangkan wanita yang baru saja berhasil membuat Marco tidak berdaya kini tersenyum puas.
"Pekerjaan yang mudah."
***
Di sisi lain, Serena dan Leona mengintip kejadian tersebut. Zeroun telah menceritakan kalau kini ia merasa Marco ada hubungannya dengan kehilangannya Jordan dan Oliver. Tanpa di sengaja, beberapa saat yang lalu pasukan Gold Dragon ada yang menemukan barang yang diyakini milik Marco. Benda itu ada di hutan lebih tepatnya di lokasi helikopter menjemput dirinya sebelum kabur.
"Leona, apa kau yakin ingin melakukannya sendirian?" tanya Serena kembali memastikan. Kali ini mereka berdua harus memutuskan siapa yang akan mengikuti orang suruhan Pangeran Martine untuk pergi membawa Marco. Hanya satu orang yang bisa menyamar dan bergabung.
"Ma, biarkan Leona melakukannya. Leona tahu mama yang terbaik. Mama bisa pikirkan cara melindungi Leona ketika sudah tahu di mana posisi Leona nanti. Jika tidak ada yang berkorban, kita tidak akan pernah tahu siapa dalang dari semua ini."
Serena mengangguk setuju. "Pergilah sayang. Doa mama selalu menyertaimu. Mama dan papa tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya."
Leona tersenyum. Dengan menggunakan masker dan pakaian yang sama dengan orang suruhan Pangeran Martine, Leona berlari untuk bergabung. Jika ketahuan memang akan cukup menguras tenaga. Leona pasti harus bertarung untuk menyelamatkan dirinya. Tapi, jika semua rencana ini berhasil ia akan mengetahui sebuah kebenaran.
"Apapun akan aku lakukan asalkan aku bisa bertemu denganmu lagi Jordan. Di manapun kau berada aku harap kau bisa bertahan di suatu tempat."
Di sisi lain, di sebuah ruangan, seorang Dokter sedang sibuk memeriksa perkembangan dari Jordan dan Oliver secara bergantian. Ada pesan singkat yang dikirimkan Marco. Pria itu berkata tidak akan bisa datang berkunjung karena keadaan sedang tidak baik. Dokter itu tidak mau banyak tanya lagi. Ia langsung mengambil tugasnya untuk membuat Jordan dan Oliver segera membuka mata.
Dokter itu membenarkan kaca matanya. Ia menatap wajah Oliver dan Jordan secara bergantian. Seharusnya Oliver yang lebih dulu sadar. Tapi baru saja Jordan lah yang menggerakkan jemarinya secara perlahan. Mungkin doa Leona telah berhasil membuat semangat pria itu agar bisa bangun lebih cepat.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku melihat orang yang kritis bisa sadar dengan begitu cepat. Mereka berdua benar-benar pria yang luar biasa." Dokter itu tersenyum. Tidak alam lagi pasien yang akan ia tangani akan segera bangun. Hal itu membuatnya merasa lega dan tidak memiliki beban lagi.