Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 1


__ADS_3

Jerman.


Katterine duduk di sebuah kursi yang ada di pinggir jendela. Ia baru saja tiba di kota Hamburg. Di sini dia akan melangsungkan banyak kegiatan. Bukan tanpa alasan. Cinta bertepuk sebelah tangan memang sakit. Walau di lihat dari mata terbuka Oliver masih sendiri, nyatanya itu tetap saja melukai hati dan perasaannya.


Zeroun mengirim beberapa pengawal tersembunyi untuk melindungi putrinya. Ia tahu tidak ada gunanya memaksa Oliver agar tetap ada di samping Katterine. Semua hal tidak sepenuhnya ada di dalam genggaman Zeroun. Jika Oliver tidak bisa mencintai, maka Zeroun tidak bisa memaksa agar pria itu mau mencintai putrinya.


Emelie yang saat itu merasa sangat sedih harus merelakan putrinya pergi. Bahkan pada hari yang bersamaan, Jordan juga pergi bersama Leona untuk memulai bulan madu mereka. Seminggu di kapal pesiar sebelum akhirnya mereka berangkat ke Swiss untuk melanjutkan bulan madu.


Tidak tahu kapan mereka akan pulang. Hal yang membuat Emelie sedih hanya satu. Jordan dan Leona pergi tanpa penjagaan dan tanpa ponsel. Debaran jantung Emelie tidak tenang sejak sepasang pengantin baru itu melangkah pergi meninggalkan Cambridge. Walaupun niatnya untuk bersenang-senang.


"Kembalilah jika hatimu sudah jauh lebih tenang sayang," ucap Emelie saat Katterine pergi.


Katterine tersenyum ketika membayangkan wajah sedih ibunya. Ini pertama kalinya ia pergi meninggalkan istana dalam waktu yang lama. Bahkan Katterine berencana untuk pulang sekitar dua bulan kemudian.


"Bahkan dia bersikap biasa saja saat aku pergi," gumam Katterine ketika membayangkan wajah Oliver. Katterine menopang kepalanya dengan tangan. Ia melihat keindahan kota di sore hari yang cerah. Kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Kebanyakan orang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi mereka.


Katterine kembali menghela napas. Ia bersandar dan menatap langit-langit kamarnya. Ada harapan di dalam hatinya kalau Oliver akan menjemput dan membujuknya kembali. Tapi tidak mungkin. Melihat reaksi Oliver, pria itu justru terlihat senang ketika berada jauh dari Katterine.


"Baiklah, lupakan soal cinta. Apa itu cinta? Hal konyol yang tidak penting. Sama seperti pria itu. Dia sangat konyol dan sangat menyebalkan. Apa dia tidak tahu kalau aku benar-benar membutuhkannya!" Katterine beranjak dari sofa. Ia melangkah ke dapur untuk memasak.


Langkahnya terhenti. Ekspresi wajahnya berubah. Katterine tidak pandai memasak. Dia bahkan dengan keras kepalanya menolak Emelie membawakan pelayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Katterine terduduk di lantai sambil memegang meja makan yang tidak jauh dari posisinya berada. Tidak pandai memasak bukan berarti ia tidak pernah masak sama sekali.


"Hiks hiks. Ini lebih tepat di bilang sebagai tempat pengasingan. Namun di asingkan karena keinginan sendiri. Bukan di usir karena melakukan kesalahan. Katterine, apa yang kau pikirkan. Kau membuat dirimu sendiri semakin menderita."


Sudah cukup lama Katterine terduduk di lantai yang dingin dengan kepala bersandar. Ia menahan perutnya yang terasa lapar. Tangannya yang satu memegang perut.


Katterine kembali ingat kalau dia pernah belajar memasak. Bibirnya tersenyum. Walau sebenarnya saat itu ada pelayan yang membantunya, tapi setidaknya ia tahu cara mengolah makanannya. Dengan penuh semangat wanita itu berdiri. Ia berjalan ke arah kulkas untuk mengambil bahan makanan.


Senyumnya luntur seketika. Kulkas kosong tanpa makanan dan minuman. Katterine kembali menghela napas.


"OLIVER! Ini semua karena kau!" teriak Katterine dengan suara yang histeris.


***


Symphony of the Seas

__ADS_1



Jordan dan Leona merasa sangat bahagia dengan bukan madu mereka kali ini. Berada di kapal pesiar itu sama sekali terasa seperti masih ada di daratan. Leona tidak sadar kalau kini dirinya telah ada di atas laut. Leona meletakkan topi yang sejak tadi ia pakai di atas meja. Memandang lautan biru melalui jendela kamar yang kini ia tempati.


Fasilitas yang terdapat dalam kapal pesiar itu memang tidakk tanggung-tanggung. Kapal pesiar itu memiliki hotel berbintang, restoran, pusat perbelanjaan, perlengkapan olahraga dan arena permainan.


Symphony of the Seas menjadi salah satu kapal pesiar terbesar di dunia. Kapal pesiar ini adalah kapal keempat yang diluncurkan oleh Royal Caribbean Internasional. Kapal ini menjadi salah satu kapal terbesar di dunia karena memiliki bobot sekitar 230 ton.


Symphony of the Seas memiliki berat nyaris sama dengan 42.200 ekor gajah Asia, panjang 362 meter, dan tinggi mencapai 18 lantai. Raksasa laut milik Royal Caribbean ini siap menampung hingga 6.000 tamu, yang disebar dalam tujuh distrik.


Kapal ini memiliki tujuh distrik yang lengkap dengan fasilitasnya masing-masing. Di antaranya Boardwalk, Royal Promenade, Central Park, Entertainment Place, Youth Zone, Pools-Sport Zone, dan Vitality Spa/Fitness center.


Di area Broadwalk, terdapat berbagai macam hiburan dan juga restoran. Lalu Royal Promenade, tempat ini adalah jantung dari kegiatan yang ada di kapal, terdapat bar serta restoran mewah di sana.


Bahkan Symphony of the Seas memiliki Bionic Bar yang futuristik yaitu sebuah robot bartender yang akan melayani kamu seperti dalam film ‘Passanger’. Terdapat juga sebuah taman di atas kapal yaitu di bagian Central Park, tempat ini sangat cocok bagi kamu yang menginginkan suasana alam yang memiliki kedamaian dan ketenangan.


(sumber :https://m.liputan6.com/hot/read/4061051/5-fakta-menarik-symphony-of-the-seas-kapal-pesiar-terbesar-di-dunia)


"Sayang, apa yang kau lihat?" Jordan yang saat itu duduk di atas tempat tidur melihat Leona hanya berdiri mematung. Sejak tiba di dalam kamar wanita itu belum melakukan tindakan apapun terhadap dirinya. Jordan kangen ciuman sang istri.


"Jordan, siapa orang hebat yang sudah membuat kapal sebesar ini?" tanya Leona tanpa memandang.


"Ayo kita mandi. Aku ingin merasakan tidur di kamar ini," bisik Jordan dengan ajakan lebih cinta.


"Baiklah." Leona tersenyum. Ia menuruti permintaan sang suami untuk mandi bersama. Bisa di bilang ini pertama kalinya mereka mandi bersama seperti itu. Sangat aneh memang, mengingat selama ini baik Leona maupun Jordan sama-sama menjaga tubuh mereka agar tidak terlihat oleh lawan jenis mereka.


Setibanya di dalam kamar mandi, hanya ada canda tawa dari sepasang pengantin baru itu. Mereka sama-sama tertawa geli ketika melihat tubuh masing-masing.


"Sayang, kenapa wajahmu memerah seperti kepiting. Kau masih malu memamerkan tubuhnu di hadapanku?" ledek Jordan sambil melemparkan air ke arah tubuh sang istri.


"Bukankah ini sangat aneh."


"Aneh? Apa yang aneh?" Jordan mengeryitkan dahi dengan wajah bingung.


"Bagaimana bisa ada hotel di atas kapal." Leona tertawa. Ia sendiri tidak menyangka kalau akan mengucapkan pernyataan konyol seperti itu. Dia wanita kaya dan berpendidikan. Namun anehnya ini pertama kalinya ia berada di atas kapal seperti itu. Tidak terpikirkan semasa hidupnya untuk menghabiskan waktu luangnya dengan berlibur seperti ini.

__ADS_1


"Kau yang aneh," ucap Jordan dengan tawa geli.


Leona mengambil minuman yang ada di sampingnya. Wanita itu meneguk minumannya secara perlahan. Ia mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Zean. Pria itu memang unik. Jalan pikirannya tidak pernah bisa di tebak.


"Di manapun kau berada, aku harap kebahagiaan selalu menghampirimu, Zean. Walau kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih, setidaknya saat ini kita tidak bermusuhan."


***


Katterine membawa beberapa kantung belanjaan di tangannya. Senyumnya mengembang indah. Dalam waktu dekat mungkin ia hanya akan memasak telur dan mie instan. Setelah itu ia akan mulai memasak ikan dan sayuran. Katterine tidak memiliki banyak waktu untuk tempur di dapur. Nanti malam saja ia sudah harus melakukan rapat untuk kegiatan besok.


Sambil bernyanyi kecil Katterine menekan tombol lift yang ada di depannya. Ia tinggal di sebuah apartemen yang ada di lantai 20. Sejauh ini tempat tinggalnya bisa dikatakan aman.


"Putri Katterine," sapa seseorang sambil menepuk pundak Katterine. Secara spontan ia berbalik untuk melihat wajah pria itu. Senyumnya mengembang dan kepalanya menunduk perlahan.


"Tuan Roberto, Senang bertemu dengan Anda."


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini."


Mereka masuk ke dalam lift yang sama ketika pintu lift terbuka. Katterine merasa kalau Roberto adalah orang baik. Tidak ada yang perlu ia takutkan. Pria itu juga belum pernah melakukan kesalahan apapun.


"Ada beberapa kegiatan amal yang harus saya lakukan." Katterine menekan nomor lantainya. Sudah sejak tadi ia menunggu namun kelihatannya Robert menunggu dirinya.


"Apa Anda tinggal di sini juga?" tanya Katterine. Ia memandang penampilan Robert dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pria itu terlihat sudah lama tinggal di tempat itu. Penampilannya sangat sederhana. Tidak seperti orang yang baru saja tiba.


"Beberapa hari. Kebetulan ada proyek baru to tempat ini. Jadi, dalam beberapa Minggu ke depan saya akan tinggal di sini."


Katterine hanya mengangguk pelan. Tidak ada yang menarik di sana. Ia memandang ke depan dan merasa tidak sabar berada di lift bersama dengan Robert. Biasanya selalu ada Oliver di sampingnya. Berduaan dengan pria asing membuatnya merasa tidak nyaman.


"Putri, apa saya boleh berkunjung ke tempat Anda?" tanya Robert dengan senyuman ramah.


Katterine mengangguk pelan. "Boleh, tapi tidak untuk sekarang."


"Baiklah, bagaimana kalau besok sore? Saya akan datang untuk menjenguk Anda?" Robert terlihat sangat bersemangat untuk mendekati Katterine. Memang sejak dulu pria itu sudah tergila-gila atas pesona Katterine. Bahkan hingga detik ini ia semakin tidak bisa menolak pesona putri Cambridge itu.


"Baiklah."

__ADS_1


Katterine melangkah pergi ketika lift terbuka. Sedangkan Robert mengukir senyuman dengan kedua tangan di dalam saku. Ponselnya ia keluarkan. Dengan senyuman licik pria itu menghubungkan teleponnya kepada seseorang.


"Cari tahu soal Katterine. Dan ... siapkan kamar untukku. Tepat di samping kamarnya!"


__ADS_2