
Eleonora dan pasukan miliknya baru saja tiba di lokasi pesta. Wanita itu turun dari dalam mobil secara hati-hati. Ada sebuah topeng digenggaman tangannya. Malam itu Leona mengenakan dres merah menyala dengan taburan kristal di bagian dadanya. Dres itu panjang hingga menutupi mata kakinya.
Leona berjalan dengan wajah tenang. High Heels yang ia pilih malam itu berwarna hitam. Punggungnya yang terbuka membuat semua mata tertuju pada keindahan warna kulit miliknya. Setiap jejak kaki yang dilakukan Leona memamerkan lekuk kaki jenjangnya yang indah. Ada belahan di samping hingga ke paha. Bibirnya yang merah mengukir senyuman kecil dengan wajah angkuh.
“Di mana dia?” ucap Leona pelan. Sudah ada sebuah Handsfree di telinga kirinya. Bentukya sangat kecil hingga tidak terlihat jelas. Di tambah lagi tertutup rambutnya yang sengaja di gerai indah.
“Arah jam 12, jas cokelat,” ucap lawan bicaranya dari kejauhan.
Leona memperhatikan target yang akan ia habisi malam itu. Ia berjalan mendekati posisi pria tua itu berada. Sebelum bisa tiba di dekat targetnya, Leona harus melewati lokasi dansa yang memang sudah di penuhi para tamu undangan.
Eleonora terlihat sangat anggun dan seksi. Wanita itu mengukir senyuman indah sambil memperhatikan lokasi dansa yang sudah dihuni banyak tamu. Semua memakai topeng. Wanita itu segera memasang topengnya sebelum bergabung dengan yang lainnya. Kedua kakinya melangkah dengan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah.
Tiba-tiba saja tangan dingin seorang pria berada di pinggang kanannya. Leona memiringkan kepalanya ke kiri untuk melihat wajah sang pemilik tangan. Wanita itu terdiam sejenak. Di lihat dari sorot matanya saja ia sudah tahu kalau pria yang berani menyentuhnya bukan Kwan.
Leona berusaha melepas tangan pria itu. Tapi, bukan terlepas dan berhasil menghindar. Justru Leona bergabung dengan para tamu di lokasi dansa. Pria itu menggerakkan pinggang Leona dengan ahli. Satu tangannya meraih tangan Leona lalu membawa wanita itu berputar indah. Rambut Leona berterbangan saat tubuhnya berputar. Bahkan pria itu mengambil sebagian rambutnya lalu menghirup aromanya dengan penuh perasaan.
Leona memperhatikan kedua mata indah milik pria yang kini menyentuhnya. Senyum kecil dari bibir pria itu terlihat sedang meledeknya. Leona berusaha untuk memberi pelajaran. Tapi, dengan sangat elegan pria itu menahan gerakannya. Pria itu justru semakin ahli membuat Leona berdansa dengan indah.
Melihat dansa Leona yang sangat indah membuat para tamu yang ada di lantai dansa menyingkir. Mereka lebih memilih untuk menonton pertunjukkan dansa daripada harus ikut bergabung. Lampu sorot hanya menerangi tubuh Leona dan pasangan dansanya.
Leona memperhatikan tamu undangan. Ia sempat berpikir, jika melakukan hal aneh maka para pengawal akan menyadari keberadaannya. Wanita itu lebih memilih untuk berdansa dengan pria misterius yang baru saja ia temui.
“Awas saja kau,” ucap Leona sambil menatap pria itu dengan ancaman.
Pria itu hanya mengukir senyuman, “Baby girl.”
__ADS_1
Leona memandang pria itu sejenak sebelum memutar tubuhnya. Pria itu meletakkan kedua tangannya di lengan Leona dan membelainya dengan penuh kelembutan dan perasaan. Leona memejamkan mata saat menikmati sentuhan pria itu. Ia mengukir senyuman tipis lalu memutar lagi tubuhnya.
Kali ini Leona menarik tangan pria itu dan meletakkannya di paha kiri. Satu tangannya ia letakkan di pundak pria. Dengan gaya manja, Leona menjatuhan tubuhnya ke belakang. Secara spontan, tangan pria itu menahan pinggang Leona. Ia menunduk lalu mendekatkan wajahnya di depan leher Leona. Napas hangat pria itu bisa dirasakan dengan jelas oleh Leona.
“Babygirl, are you ready?” bisik pria itu dengan suara beratnya.
Leona mengeryitkan dahinya. Ia sudah berdansa hampir lima menit tapi pria itu menanyakan kesiapannya. Dengan gerakan cepat tubuh Leona di tarik agar berdiri dan berada di hadapan pria tersebut.
Sesuai dengan perkataan pria misterius. Leona memutar lagi tubuhnya lalu melanjutkan dansanya. Ia tidak tahu harus marah atau tertawa. Hanya ada satu hal yang dipikirkan Leona malam itu. Dansanya sangat indah. Pria itu berhasil menutupi kekurangan Leona dalam berdansa. Leona terlihat seperti pedansa yang sangat profesional.
Hingga beberapa menit kemudian, dansa itu berada pada puncaknya. Leona mengalungkan satu tangannya di leher pria lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Tangan pria itu menahan pinggangnya. Kedua matanya menatap mata Leona tanpa berkedip.
“Thank you babygirl,” ucap pria itu sebelum membantu Leona berdiri.
Sorak tepuk tangan terdengar begitu meriah. Suara tepuk tangan itu menyadarkan Leona dari lamunannya sejenak. Pria itu membantunya berdiri. Ia menyelipkan rambut Leona ke belakang telinga sebelum memutar tubuhnya dan pergi.
Leona masih mematung memperhatikan punggung pria itu. Ia tidak lagi sadar dengan tujuan utamanya berada di gedung mewah dan megah tersebut, “Pria bertopeng? Siapa dia?” gumamnya di dalam hati sambil melamun.
Leona hanya diam membisu. Sekilas ia berpikir kalau pria tadi sengaja dikirimkan untuk mengagalkan rencananya, “Sh*it!” umpat Leona kesal sebelum memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan lokasi tersebut.
“Apa yang dia pikirkan? Terkadang marah, terkadang balas dendam. Sekarang dia mala mengalah dan menyerah.” Kwan menggeleng kepalanya pelan sebelum mengikuti jejak kaki Leona dari belakang.
Leona berjalan ke arah mobil. Wanita itu melepas topengnya dengan wajah kesal. Kedua matanya menatap mobil yang telah terparkir. Ada banyak pasukan Queen Star yang sudah menunggunya dengan setia. Semua orang menunduk hormat untuk menyambut Leona.
“Selamat malam, Bos,” ucap seluruh pasukan secara serempak.
“Kemana pria tua itu?” tanya Leona sambil berdiri di depan mobil.
__ADS_1
“Ia berjalan menuju ke bandara, Bos. Sepertinya ada yang mengetahui rencana kita malam ini,” ucap salah satu pasukan Queen Star.
Leona hanya bisa mengumpat kesal karena mangsanya malam ini berhasil lolos. Tidak salah lagi. Pria tadi berada di pihak musuh. Leona tertawa kecil sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita itu ingin melupakan masalah malam ini dan memikirkan cara lain untuk melanjutkan misinya. Ia lebih memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lalu meninggalkan lokasi tersebut.
Pasukan Queen star miliknya juga mengikutinya dari belakang. Termasuk mobil Kwan yang sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Malam ini untuk pertama kalinya Leona gagal dalam misi besarnya.
Dari kejauhan, seorang pria mengukir senyuman tipis. Ia membidik Leona dari kejauhan dengan sniper favoritnya. Ada beberapa pria berbadan tegab di belakangnya. Mereka memasang wajah waspada dan siap melindungi sang majikan dari bahaya.
“Wanita yang menarik,” celetuk pria itu sebelum menyudahi bidikannya.
Ponselnya berdering. Pria itu meraih ponselnya lalu melekatkannya di telinga kanan, “Ya, paman. Ada apa?”
“Terima kasih, Nak. Kau sudah menyelamatkan nyawa paman malam ini,” ucap pria tua dari dalam telepon. Terdengar suara batuk sesekali dari pria tersebut, “Aku tidak tahu, kenapa ada orang yang ingin membunuhku. Padahal usiaku tidak lagi lama.”
Pria itu mengukir senyuman indah, “Semua akan baik-baik saja.”
“Nak, apa kau mau membantu Paman? Tolong cari tahu orang yang mengirimkan pembunuh bayaran itu.”
“Baik, Paman. Saya akan memberi tahu namanya besok malam. Sekarang paman istirahat saja dulu.” Panggilan telepon itu terputus.
Seorang pria berjalan mendekati pria misterius itu dan memberikan beberapa berkas kepadanya. Ada foto dan data lengkap tentang Leona di dalamnya.
“Eleonora?” celetuknya pelan, “Bagaimana dengan kehidupan pribadinya? Keluarganya?” tanya pria itu penasaran.
“Kami tidak berhasil menemukannya, Pangeran. Sepertinya wanita itu cukup berbahaya dan sangat waspada.”
__ADS_1
Pria itu tertawa kecil, “Tapi, dia hanya seorang wanita. Perasaannya masih sangat mudah di kuasai,” sambung pria itu lagi. Ia kembali mengingat wajah Leona yang terlihat sangat menikmati dansanya tadi. Pria misterius itu pergi meninggalkan gedung kosong tersebut.