Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 3


__ADS_3


Pagi yang cerah secerah wajah pengantin baru yang sedang menikmati bulan madu mereka. Leona tidak bisa menghilangkan senyuman di bibirnya. Saat memandang Jordan selalu saja membuatnya ingin tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Jordan. Mereka saling memadu kasih. Selalu bersama saat melakukan hal apapun yang ingin mereka kerjakan.


"Baby girl," ucap Jordan tiba-tiba.


"Hmm," jawab Leona dengan suara pelan.


"Aku sedang berbicara dengan calon anakku, Leona."


Leona membuka matanya dengan wajah protes. Ia sempat tidak menyangka saat melihat Jordan kini ada di dekat perutnya yang rata. Pria itu mengusap perutnya bahkan sesekali mengecupnya dengan penuh cinta.


"Bagaimana kalau baby boy?"


"Jika dia laki-laki, dia akan menjadi pangeran hebat yang akan selalu melindungi mommynya."


"Seperti Daddy nya?" Leona mengusap wajah Jordan.


Jordan tersenyum lagi. "Terima kasih karena sudah mencintaiku."


"Terima kasih karena telah membuatku bahagia. Membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia ini."


Jordan duduk di samping Leona. Ia memandang ke depan untuk menikmati pemandangan laut yang tersaji di sana. Sangat indah dan ini benar-benar perjalanan menarik yang pernah ia lewati.


"Jordan sayang, ambilkan minuman itu." Leona menunjuk minuman yang ada di samping Jordan. Jordan mengikuti arah tunjuk Leona sebelum mengambil minuman tersebut.


Cup. Namun sebelum minuman itu di pegang Leona, ia lebih dulu mendaratkan kecupan manis di bibir sang istri.


"Sayang, tempat ini privasi. Aku memberi uang tambahan agar hanya kita yang bisa ada di tempat ini," bisik Jordan dengan tatapan penuh arti.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Leona merebut minuman yang ada di genggaman Jordan. Ia meneguknya secara perlahan.


"Sayang, semakin sering semakin baik. Semoga saja saat kita pulang nanti jumlah kita sudah bertiga."


Leona hanya tertawa geli mendengar ucapan suaminya. Wanita itu melanjutkan untuk meneguk minumannya. "Dasar pria!"

__ADS_1


***


Katterine baru saja tiba di sebuah pantai. Setelah beberapa hari ada di Jerman, akhirnya ia bisa melihat pemandangan alam yang memanjakan mata. Sambil membawa bekal yang ia masak sendiri, Katterine berencana untuk piknik sendirian di pinggiran pantai.



"Saatnya melepas penat yang sejak kemarin memenuhi isi kepala," gumam Katterine dengan wajah ceria. Ia duduk di atas tikar yang tikar dan menata makanan dan minuman yang ia bawa di atasnya. Seiring berjalannya waktu, Katterine mulai bisa melupakan ambisinya mendapatkan hati Oliver. Ia tidak lagi tersiksa karena cintanya yang tidak terbalas.


Senyum indah mengembang di bibir Katterine. Ia meletakkan dua gelas di atas tikarnya. Bukan tanpa tujuan. Satu gelasnya lagi untuk air putih dan satunya lagi untuk jus segar yang ia bawa.


"Biasanya Oliver sangat suka air putih. Dia berpikir kalau tubuhnya akan jauh lebih sehat hanya dengan meminum air putih." Lagi-lagi Katterine ingat Oliver. Padahal baru beberapa detik yang lalu ia merasa kalau dirinya sudah bisa melupakan Oliver.


"Putri, Anda ada di sini juga?"


Saat ingin meneguk minumannya Katterine mendengar suara pria di belakangnya. Wanita itu memutar tubuhnya dan tersenyum ramah. Walau sebenarnya di dalam hatinya jauh berbeda.


"Kenapa pria ini ada di sini? Ini sangat buruk. Sepertinya aku tidak bisa lama-lama di sini," gumam Katterine di dalam hati.


"Apa saya boleh duduk di sini?" tanya Robert dengan senyuman ramah.


Katterine mempersilahkan Robert duduk di hadapannya. Wanita itu meletakkan kembali gelas yang ada di tangannya. Dalam hitungan detik saja keinginannya untuk berlibur dan menenangkan diri hilang seketika. Kehadiran Robert membuat suasana hati Katterine kembali buruk.


"Anda sendirian di sini, Putri?"


"Seperti yang anda lihat," jawab Katterine tanpa memandang.


"Apa Anda keberatan saya ada di sini?"


"Sebenarnya ya. Tapi itu tidak mungkin aku katakan langsung," umpat Katterine dengan senyuman kecil.


"Tidak. Saya senang bisa ada yang menemani saya di sini."


Robert mengangguk pelan. "Pantai di sini sangat indah bukan? Ada beberapa tempat wisata lainnya di Jerman. Putri, apa Anda ingin saya temani untuk menjelajahi Jerman?"


"Tidak perlu repot-repot. Saya memiliki kegiatan yang sangat padat. Saya tidak akan memiliki banyak waktu untuk jalan-jalan." Katterine mengambil roti yang ia bawa. Memasukkannya ke dalam mulut tanpa tertarik memberikannya kepada Robert.

__ADS_1


Robert mengangguk lagi. Ia memandang beberapa pria yang sejak tadi bersamanya. Sebuah rencana telah tersusun rapi di dalam benaknya. Kali ini ia ingin membuat Katterine memiliki utang budi terhadapnya.


"Angin di sini sangat kencang. Sebaiknya Anda pakai jas saya, Putri." Robert melepaskan jas yang ia kenakan. Pria itu berharap besar kalau Katterine akan menerima pemberiannya kali ini. Sayangnya hal diharapkan Robert tidak bisa ja dapatkan begitu saja. Katterine menolak jas milik Robert.


"Saya sudah bawa selimut." Katterine mengambil selimut dari dalam tasnya lalu memakainya dengan segera. Wanita itu terlihat sangat nyaman dengan selimut yang ia bawa. Mungkin kalau pria yang memberikannya jas itu Oliver akan beda lagi ceritanya.


DUARR


Katterine di kagetkan dengan tembakan yang berasal dari sampingnya. Gelas yang ada di hadapannya pecah ketika ada yang sengaja menembak gelas tersebut. Dengan wajah kaget Katterine memandang sumber tembakan. Aksinya saling bertaut ketika melihat beberapa pria berdiri di sana.


"Bukankah wanita ini adalah putri Cambridge yang terkenal itu? Kita akan dapat uang banyak jika berhasil menculiknya."


Katterine berdiri dengan wajah tetap waspada. Bersamaan dengan itu, Robert juga berdiri dan menghadang para penjahat di hadapan Katterine. Ia terlihat seperti pahlawan yang sedang menyelamatkan wanita lemah.


"Kalian harus menghadapi aku dulu, baru bisa membawanya pergi!" ucap Robert dengan wajah percaya dirinya.


Katterine melipat kedua tangannya di delan dada. Saat Robert melangkah maju ia memukul pundak Robert pelan.


"Berhati-hatilah," bisiknya pelan.


"Anda tenang saja, Putri. Saya akan melindungi Anda dengan baik." Robert maju ke depan untuk menghajar beberapa pria yang ada di hadapannya. Sedangkan Katterine memilih kabur dari tempat itu. Ia tidak mau terlibat dengan para penjahat yang mengincarnya. Bahkan Katterine kabur tanpa diketahui oleh Robert.


"Sini kalian! Leher kalian akan patah karena sudah berani mengusik ketenangan Putri Katterine!" ujar Robert dengan wajah sok hebatnya.


"Tuan, wanita itu telah pergi. Apa kita lanjutkan rencananya?"


"APA?!" Robert memutar tubuhnya untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Wajahnya benar-benar kecewa ketika melihat Katterine tidak ada lagi di sana. Wanita itu menghilang entah kemana.


"Sial, kenapa kalian tidak menghalanginya pergi?"


"Anda tidak bilang kalau rencananya akan seperti itu, tuan."


"Bodoh!" umpat Robert sebelum pergi mengejar Katterine.


Dari kejauhan Oliver tertawa geli melihat ala yang terjadi. Ia membidik dan menjaga wanita itu dengan senjata laras panjang miliknya. Di sampingnya ada beberapa pasukan Gold Dragon yang sejak tadi bingung melihat tingkah laku Oliver. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di sana karena tidak menggunakan alat seperti Oliver.

__ADS_1


"Dia benar-benar menjadi wanita mandiri sekarang!"


__ADS_2