Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Latihan Menembak


__ADS_3

Waktu terus berlalu hingga tidak terasa Leona dan Aleo sudah ada tiga bulan di Sapporo. Meninggalkan bisnis mereka yang masih naik daun di negara lain. Tidak peduli dengan pundi-pundi yang berjumlah fantastis itu lagi. Baik Leona maupun Aleo saat ini terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka di rumah. Tertawa bahagia dengan kedua orang tua mereka yang memang sudah tidak muda lagi.


Sore itu, Leona berbaring di atas sofa. Kepalanya sengaja ia letakkan di atas pangkuan Serena. Sesekali ia memejamkan mata saat merasa sangat nyaman ketika ada di pangkuan sang ibu.


Sejak kejadian itu, Leona maupun Serena tidak ada yang mau menyinggung soal Zean dan kehidupan mafia Serena dulunya. Mereka seperti berusaha melupakan kejadian yang pernah ada. Mencoba bangkit dan menjadi lebih kuat lagi.


“Ma, ajari Leona menembak dan memukul,” ucap Leona masih dengan mata terpejam.


Serena yang sejak tadi terlihat asyik mengusap rambut Leona menghentikan gerakannya. Ia menatap wajah Leona dengan tatapan tidak percaya. Wanita itu terlihat memastikan kalau permintaan Leona bukan sebuah candaan semata.


Leona membuka matanya saat tidak mendapat jawaban apapun dari Serena. Wanita itu beranjak dari pangkuan Serena dan memegang kedua tangan ibunya. Ia memasang wajah serius yang menandakan keinginannya tidak sekedar candaan saja. Leona memang ingin menembak seperti Serena.


“Ma ... Aku butuh bakat seperti itu untuk melindungi diriku sendiri. Agar kejadian itu tidak terulang lagi,” ucap Leona dengan wajah memohon.


Serena mengukir senyuman. Wanita itu mengusap lembut pipi Leona. “Mama akan mengajarkanmu cara menembak. Tapi, ingat hanya untuk melindungi dirimu saja,” ucap Serena dengan wajah serius. Wanita itu tidak ingin putri kesayangannya terjerumus ke dalam dunia gelap seperti dirinya dulu. Seumur hidup tidak pernah bisa melupakan nyawa yang sudah pernah mereka renggut.


Leona mengangguk dengan wajah penuh menyakinkan. “Bagaimana dengan trik bela dirinya, Ma?” tagih Leona lagi. “Aku tidak akan bisa menembak jika musuh menyerangku lebih dulu. “


Serena menghela napas. “Akhir-akhir ini mama sangat mudah lelah jika terlalu banyak bergerak. Mungkin karena perubahan cuaca saat ini. Kau bisa meminta bantuan Tante Shabira, ia sangat hebat dalam trik bela diri. Bahkan, hanya satu trik saja. Ia bisa melumpuhkan lawannya,” sambung Serena lagi. Ia tidak ingin mengecewakan Leona lagi. Kali ini permintaan Leona masuk di akal. Serena sendiri tidak mau putrinya mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.


Leona memeluk tubuh Serena dengan wajah bahagia. “Terima kasih, Ma. Leona sayang banget sama mama.”


Serena membalas pelukan Leona. “Apa karena latihan menembak ini kau baru sayang sama Mama?” protes Serena dengan tawa tertahan.


“Leona sayang sama mama sejak lahir hingga sekarang. Mama malaikat Leona. kebahagiaan Leona dan semangat hidup Leona, Ma,” jawab Leona dengan wajah berseri.

__ADS_1


“Hmm, baiklah. Kali ini mama percaya dengan rayaunmu itu,” ucap Serena dengan tawa kecil.


***


Aleo berada di dalam ruangan kerjanya yang ada di rumah utama. Pria itu terlihat sangat serius saat memeriksa beberapa berkas yang akan ia bawa rapat besok pagi. Daniel duduk di hadapan Aleo dengan wajah yang sangat serius. Karena selama ini tidak ada lagi rutinitas yang harus ia kerjai, sehingga Daniel memutuskan untuk membantu Aleo mengurus perusahaan. Walau sejak awal, Aleo menolak dengan keras.


“Aleo, kau harus memeriksa laporan ini. Ada kejanggalan di dana keluar pada bulan ini,” ucap Daniel sebelum meletakkan berkas yang sempat ia pegang. Pria itu merasa sangat bangga karena bisa membantu putra kesayangannya.


Aleo mengambil berkas tersebut. Ia kembali memeriksa ulang berkas tersebut. Sesuai dengan perkataan Daniel. Memang ada yang salah dari laporan bulanan itu.


“Pa, terima kasih,” ucap Aleo dengan senyuman. “Papa memang selalu bisa di handalkan. Pasti S.G. Group bisa sampai seperti sekarang berkat kemampuan Papa yang hebat, dulunya,” puji Aleo sambil menatap wajah Daniel.


“Kau salah, Aleo. S.G. Group tetap berjaya berkat Mamamu,” ucap Daniel dengan tawa kecil.


“Dulu S.G. Group mengalami penurunan dan hampir bangkrut. Perusahaan Kakekmu yang menolong perusahaan ini,” ucap Daniel sambil kembali mengenang memori pertemuan pertamanya dengan Serena.


“Kakek Wang?” celetuk Aleo dengan wajah kurang yakin. Selama ini, ia hanya tahu kalau ia memiliki Kakek bernama Wang yang sudah tiada sebelum ia lahir. Berbeda dengan Tuan dan Ny. Edritz. Aleo pernah bertemu dan bermain dengan kakek neneknya itu.


“Ya. Kakek Edritz dan Kakek Wang bersahabat sejak SMA. Mereka menjodohkan papa dan mama,” sambung Daniel lagi dengan senyuman indah yang menjadi ciri khasnya.


“Bahkan untuk saat ini, masih banyak orang tua yang suka menjodohkan anak mereka,” sambung Aleo cepat.


Daniel mengangguk pelan. “Aleo, kau harus tahu kalau kedua orang tua kita pasti ingin yang terbaik hingga memilih yang terbaik dari yang baik,” ucap Daniel dengan wajah menyakinkan.


“Ya. Perjodohan tidak buruk. Aleo juga tidak keberatan jika papa dan mama yang menentukan jodoh Aleo,” sambung Aleo pelan. Pria itu tertawa kecil.

__ADS_1


Belum habis topik pembahasan itu, ponsel milik Daniel yang tergeletak di atas meja berdering. Daniel meraih ponselnya. Ia mengeryitkan dahi saat melihat nama Biao ada di dalam layar ponselnya.


“Apa kabar?” sapa Daniel lebih dulu. Pria itu terlihat sangat serius dengan lawan bicaranya di telepon.


“Ya, baiklah. Aku akan menyuruh Aleo untuk menjaganya. Serahkan pada kami, maka semua akan baik-baik saja,” ucap Daniel lagi. Aleo menatap wajah Daniel sekilas sebelum melanjutkan pekerjaannya. Daniel meletakkan ponselnya di atas meja. Pria itu menatap wajah Aleo dengan wajah yang sangat serius. “Aleo, besok pagi kau harus menjemput Alana. Ia akan tiba di Sapporo sekitar jam delapan pagi,” ucap Daniel.


Aleo mengangguk pelan. “Baiklah, Pa.” Aleo melanjutkan pekerjaannya lagi.


“Aleo, apa ...,” ucapan Daniel tertahan.


“Ada apa, Pa?” tanya Aleo dengan wajah serius.


Daniel menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.” Pria itu merasa kesulitan saat ingin menanyakan hubungan yang terjadi antara Aleo dan Alana. Ia banyak mendapat kabar dari Biao kalau Alana dan Aleo terlihat sangat dekat dan akrab sejak lama. Dari arah pembicaraan Biao, Daniel sudah paham kalau ia ingin Aleo dan Alana memiliki hubungan yang lebih dari kakak adik.


Suasana di ruangan kerja itu kembali hening. Tidak ada terdengar suara apapun. Hingga, tiba-tiba saja terdengar suara yang membuat Daniel dan Aleo terperanjat kaget.


DUARR DUARR


Tidak hanya sekali. Suara tembakan itu terus hadir seperti tiada jeda untuk berhenti.


“Mama!” celetuk Aleo.


“Leona!” celetuk Daniel.


Daniel dan Aleo mengambil senjata api dari dalam laci. Mereka menggenggam senjata berbahaya itu dan berlari kencang meninggalkan ruangan tersebut. Hanya ada nama Serena dan Leona di dalam pikiran mereka. Dua pria itu berharap besar kalau kedua wanita yang mereka sayangi kini baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2