
Leona dan Jordan sudah ada di rumah Edritz Chen. Jordan duduk di sofa sambil menikmati jus segar yang baru saja di siapkan pelayan. Leona baru saja turun dari lantai atas untuk mengambil ponselnya. Ia segera mengaktifkan ponselnya.
Betapa kagetnya Leona ketika melihat puluhan pesan dari Aleo. Semua hanya tulisan 'Leona'. tidak mau bertanya-tanya, Leona segera menghubungi Aleo.
"Kenapa tidak matikan saja ponselnya sampai bulan depan. Seharusnya kau mengaktifkannya lagi ketika nanti kau sudah menikah dengan Jordan!"
Dari nada bicara Aleo, terdengar jelas kalau pria itu marah. Bukan nada seperti biasanya yang terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Kali ini Aleo benar-benar kesal. Leona bisa membayangkan wajah kesal kakaknya di sebrang sana.
"Kak, maaf." Leona memandang wajah Jordan sekilas sebelum bersandar dengan posisi malas. "Ada apa? Apa semua baik-baik saja?" Leona bertanya dengan nada yang lembut. Ia juga sudah jauh berubah menjadi Leona yang baik hati dan pemaaf saat ini.
"Mama dan Papa," ucap Aleo tidak lengkap. Leona mengeryitkan dahinya. Ia kembali ingat kalau kedua orang tuanya berangkat ke rumah Diva untuk menjenguk dan memastikan wanita itu baik-baik saja. Leona duduk tegak dengan wajah serius.
"Apa apa kak?"
"Mama dan papa menjodohkanku lagi ...." Suara Aleo melemah. Pria itu seperti kehilangan semangat hidupnya. Jawaban tidak bersemangat Aleo di sambut dengan senyuman kecil penuh ledekan dari bibir Leona.
__ADS_1
"Kak, bukankah Kwan sendiri yang bilang kalau kau memintanya untuk mencarikan wanita. Kau ingin menikah dalam waktu dekat setelah aku. Lalu, di mana masalahnya? Mama dan Papa sudah berbaik hati mencarikanmu seorang wanita. Kenapa kau bingung seperti ini?" Leona berusaha meluruskan masalah yang terjadi. Ia juga tidak tahu jelas sebenarnya tujuan kedua orang tuanya apa.
"Itu sebelum Kakak tahu kalau ... Tamara." Aleo menahan kalimatnya. "Sepertinya kakak masih ada kesempatan untuk mendapatkan Tamara. Kemarin saat berdansa, Tamara bilang kalau pria yang ia cari sudah menikah dengan wanita lain. Bukankah itu kesempatan yang bagus?"
"Ya, itu kesempatan yang bagus. Tapi, bagaimana kalau mama dan papa sudah menyiapkan wanita yang jauh lebih sempurna dari Tamara?"
"TIDAK! KAKAK HANYA MAU TAMARA!"
Leona menjauhkan ponselnya saat Aleo berteriak dengan intonasi yang sangat tinggi.
"Leona, hubungi mama dan cari tahu siapa wanita itu. Mama bilang akan membawanya pulang ke Sapporo untuk di kenalkan denganku."
"Oke, Kak. Tidurlah dengan tenang. Aku akan membantumu." Nada bicara Leona melembut. "Siapa tahu besok wanita yang di bawa Mama adalah Tamara."
"Itu tidak mungkin. Kami baru saja makan malam tadi. Tamara ada di Sapporo," sangkal Aleo.
__ADS_1
"Oke, berarti tebakanku salah. Aku akan mencari tahu dalam waktu singkat. Serahkan semuanya padaku."
Leona dan Aleo menyudahi pembicaraan mereka. Leona meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia memandang Jordan dan mengukir senyuman. Wanita itu beranjak dan menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Jordan. Leona memeluk Jordan dan menjadikan dada bidang pria itu sebagai bantalnya.
"Mungkin Kak Aleo sudah merasakan yang namanya cinta. Dia sudah memiliki niat untuk menolak. Selama ini dia sangat penurut. Bahkan jauh lebih penurut jika dibandingkan diriku sejak dulu." Leona mulai memejamkan mata.
"Kekuatan cinta?" celetuk Jordan.
"Tidak, lebih tepatnya. Perjuangan cinta. Kak Aleo harus berjuang mendapatkan cinta Tamara dan menolak pilihan mama. Itu tidak sulit bagiku. Tapi, sangat sulit bagi pria seperti Kak Aleo," jawab Leona dengan tawa kecil.
"Itu karena kau pembangkang. Sedangkan Kak Aleo penurut."
"Itu bedanya kami," jawab Leona lagi sebelum memejamkan kedua matanya.
Jordan memeluk erat tubuh Leona dan mulai memejamkan matanya. Mereka memutuskan untuk tidur siang di sofa empuk berukuran besar di depan televisi yang menyala. Walau posisinya tidak berbaring tapi tetap saja nyaman karena ada orang yang mereka cinta di pelukan mereka.
__ADS_1