Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Demi Tamara


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu


Leona sudah bisa membuka matanya setelah sekian lama ia kesulitan untuk melakukannya. Bibirnya tersenyum. Leona ingin bersuara namun tiba-tiba terdengar suara seseorang mendekat. Tidak tahu kenapa, Leona ingin menutup matanya lagi.


Leona berpikir jika orang yang datang adalah orang terdekatnya, ia akan memberi kejutan dengan membuka mata secara tiba-tiba. Tidak di sangka orang itu Tamara. Leona mengurungkan niatnya untuk membuka mata. Ia berpikir kalau kejutannya akan gagal jika Tamara memberi tahu semua orang sekarang.


"Tidak ada pilihan. Kau bunuh wanita ini agar keluargamu selamat. Jika kau biarkan wanita ini bangun, bersiaplah datang ke pemakaman keluargamu besok!" Suara seorang pria yang sangat berat itu membuat Leona kaget bukan main. Ia tidak menyangka kalau kini di dekatnya ada orang jahat.


"Siapa kau? Kenapa kau menginginkan Kak Leona mati?" ucap Tamara pelan. Dari suaranya saja sudah bisa dipastikan kalau kini Tamara gemetar dan ketakutan.


"Hei cantik, jangan takut. Semua akan tetap pada posisinya jika kau menurut. Aku sudah meletakkan benda berbahaya di tempat kedua orang tuamu kini berada. Benda mungil itu akan meledak jika mendapat perintah dariku. Jadi, jika kau tidak ingin benda itu membunuh kedua orang tuamu, sebaiknya kau turuti saja perintahku. Jangan buat wanita ini membuka mata sampai kapanpun! Aku ingin ia tetap berbaring lemah seperti ini," ancam pria itu dengan suara berbisik.


"Kau pria yang jahat!" ucap Tamara dengan sisa keberaniannya.


"Satu lagi. Aku akan memasang alat penyadap suara di tubuhmu. Jika sedikit saja kau berbicara dengan orang lain tentang masalah ini. Maka selesailah sudah," ancam pria itu lagi.

__ADS_1


"Ba ... baik. Aku akan memberi obat agar Kak Leona tidak pernah bangun!" jawab Tamara dengan suara terputus-putus. "Tapi, aku tidak bisa membunuh Kak Leona. Bagaimanapun juga, kini Kak Leona tidak beda dengan orang yang tidak bernyawa. Ia koma dan tidak bisa melakukan apa-apa."


"Bagus!"


Suasana hening. Leona tahu kalau pria itu telah pergi meninggalkan Tamara. Namun, tetap saja kini Leona tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Terdengar jelas kalau pria itu mengatakan telah memasang penyadap suara di tubuh Tamara. Bisa jadi juga ruangan itu sudah di pasang camera untuk memantau keadaan Leona selama ini. Leona tidak bisa berbuat ceroboh hingga membuat orang lain celaka.


"Kak Leona, maafkan aku." Tamara terdengar bingung dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu memegang tangan Leona dan melekatkan jarum suntik di sana. Leona sempat berpikir kalau Tamara benar-benar akan membuatnya tidak bangun.


Namun, satu hal yang aneh terjadi. Tamara tidak menancapkan jarum suntik itu ke kulit Leona. Wanita itu hanya menempelkannya saja seolah ia melakukan sesuatu yang akan membuat Leona tidak sadar. Setelah berakting, Tamara merapikan alat medisnya. Wanita itu duduk di samping tempat tidur Leona sambil mengusap lembut punggung tangan kakaknya.


"Kak Leona, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan semua ini demi menyelamatkan kedua orang tuaku. Aku harap kau mengerti posisiku saat ini," ucap Leona pelan sebelum ruangan itu kembali hening.


"Siapa pria itu? Kenapa dia bisa masuk ke kamar ini? Ke mana yang lainnya? Kenapa mereka tidak melindungi Tamara. Selama ini dari semua sahabat Papa, hanya Paman Tama yang tidak memiliki pertahanan yang kuat. Mereka hidup dengan nyaman di sebuah rumah sederhana yang ada di Jepang. Apa jadinya jika pria tadi benar-benar ingin mencelakai Paman Tama? Aku harus melakukan sesuatu. Tapi, sebelum menemukan ide untuk menangkap pria jahat itu. Aku harus tetap memejamkan mata. Aku harus membuat seolah-olah Tamara membuatku tidak bangun," gumam Leona di dalam hati. "Jika seperti ini, aku bisa melindungi Tamara secara tidak langsung."


***

__ADS_1


Jordan terbangun dengan wajah ketakutan dan keringat yang berkucur deras. Pria itu baru saja bermimpi buruk kalau Leona pergi meninggalkannya. Dengan tatapan sendu, pria itu memandang wajah Leona dan mengusap rambutnya.


"Leona, kapan kau akan bangun?" bisik Jordan. Ia mengitari ruangan Leona. Ada Kwan yang tertidur di sofa dengan posisi yang nyaman. Pria itu terlihat sangat nyenyak dan menikmati tidurnya.


Jordan menghela napas dan memandang Leona lagi. Bibirnya tersenyum indah. Ia bahagia bisa melihat Leona masih bernapas dan kini ada di depan matanya. Tidak seperti di mimpi tadi saat ia melihat Leona berbaring di sebuah peti dan siap di kebumikan.


"Baby girl, aku sangat merindukanmu. Apa aku boleh menciummu?" ucap Jordan dengan suara pelan.


Leona menggeram di dalam hati. Saat itu posisi Leona sedang dalam keadaan sadar. Ia bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Jordan.


"Pria ini, benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya ia berpikiran seperti itu saat aku tidak sadarkan diri!" umpat Leona di dalam hati.


Jordan membuang napasnya dengan kasar. "Tapi, itu tidak akan mengasyikkan. Kau hanya diam dan tidak membalas apapun. Akan lebih asyik dan menantang jika kau bangun. Aku yakin, setelah aku menciummu kau akan memasang wajah memerah seperti kepiting rebus. Bahkan melayangkan tanganmu ini ke wajahku dengan kesal," ledek Jordan sambil tertawa kecil untuk menghibur Leona.


Leona berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawanya. Ia tidak ingin ketahuan. Walaupun kini ucapan Jordan membuatnya jngin tertawa geli.

__ADS_1


"Aku ingin melanjutkan tidurku. Cepatlah bangun. Jika kau tidak bangun-bangun, aku akan melakukan hal yang membuatmu menyesal karena tidak mau membuka mata. Aku akan menikmati bibirmu yang pucat ini agar kembali memerah." Jordan mengusap bibir Leona dengan jarinya. "Aku akan memberi gigitan kecil di sekitar sini," ancam Jordan lagi dengan tawa meledek. Saat puas meledek Leona, pria itu kembali memejamkan matanya dan melanjutkan tidurnya.


"Jordan Zein! Kau benar-benar pria mesum!" teriak Leona yang hanya bisa di dalam hati saja.


__ADS_2