Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 7


__ADS_3

Katterine melangkah maju dengan wajah bingung. Ia menatap wajah Roberto dan mengeryitkan dahi. Sekilas ia melirik bunga yang sejak tadi di pegang Roberto. Indah namun ia sama sekali tidak tertarik untuk menerimanya.


Tiba-tiba saja rencana jahat muncul di kepala Katterine. Ia tahu kalau Oliver bersikap tidak suka terhadap Roberto.


"Aku bisa memanfaatkan Roberto untuk membuat Oliver cemburu." Katterine melipat kedua tangannya di depan dada. Ada senyum indah di bibir manisnya.


"Putri, sepertinya malam ini Anda sangat bahagia."


"Tentu saja aku bahagia." Katterine merebut paksa bunga yang ada di tangan Roberto. "Apa ini untukku?"


"Benar, Putri."


"Terima kasih."


"Putri, kelihatannya Anda sangat dekat dengan pria yang anda panggil pengawal itu." Roberto tersenyum dan tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang sempat beku.


"Sebenarnya dia tidak sekedar pengawal. Dia sahabat Kak Jordan. Kak Jordan dan Daddy memintanya untuk menjaga dan menjamin keselamatanku."


Roberto mengangguk pelan. "Putri, apa kita bisa bicara di dalam?"


"Tentu saja. Silahkan masuk."


Katterine memberi jalan dan membawa Roberto masuk ke dalam apartemen. Ia tidak ingin mengulur waktu lagi. Malam ini Juga Katterine ingin melihat Oliver cemburu.


"Silahkan duduk. Aku akan buatkan minum." Katterine meletakkan bunga yang ia bawa dan berjalan ke arah dapur.


Roberto yang merasa sudah mendapat lampu hijau dari Katterine semakin percaya diri. Bahkan pria itu tidak takut lagi dengan Oliver. Baginya hal utama yang harus ia perjuangkan adalah Katterine.


Di dapur, Oliver sedang membuat minuman hangat. Ia memandang Katterine yang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya. Pria tangguh itu memperhatikan Katterine saat mengambil dua gelas kosong.


"Untuk siapa?"


"Roberto," jawab Katterine dengan wajah yang sangat tenang. Seolah-olah tidak ada masalah ia menyebut nama pria itu.


Oliver hanya diam mematung dengan wajah tidak suka. Ketika Katterine ingin membawa minuman itu ke depan, ia menggenggam lengan Katterine dan menahannya.


"Kenapa kau membiarkan pria itu masuk?"

__ADS_1


"Dia adalah tamu. Sudah sepantasnya di hormati."


"Katterine!"


"Oliver sayang, bisa lepaskan? Ini sakit!" Katterine melirik tangan Oliver yang sejak tadi menggenggam lengannya.


Oliver melepas cengkeramannya. Ia tidak hanya diam saja melihat apa yang dilakukan Katterine. Pria itu merebut paksa gelas yang di bawa Katterine dan membawanya ke depan.


Di dapur Katterine tersenyum bahagia dengan kedua tangan di delan dada. "Dia sangat manis jika sedang marah."


Roberto memandang kedatangan Oliver dengan wajah tidak suka. Ketika Oliver duduk di sofa dan meletakkan dua gelas teh hangat yang dibuatkan Katterine, Roberto berpikir kalau teh itu buatan Oliver.


"Apa dia memberikanku racun?" gumam Roberto di dalam hati.


Oliver mengambil satu gelas dan mendekatkannya ke arah Roberto. Tidak lupa pria itu mengambil sendok yang ada di gelas dan meletakkannya di piring.


"Minumlah. Habiskan secepatnya!" ucap Oliver dengan nada penuh ancaman.


Katterine muncul dari dapur. Ia ikut bergabung bersama dengan Oliver dan Roberto. Senyumnya yang indah membuat Oliver lagi-lagi harus membuang pandangannya.


"Minumlah. Teh ini ... di buat oleh Oliver langsung," ucap Katterine penuh kebohongan.


Oliver merasa senang karena rencananya telah berhasil. Roberto melirik teh itu lagi dan sedikit ketakutan. Ia semakin yakin kalau teh itu berisi racun yang sangat mematikan.


"Ada apa?" tanya Katterine ketika wajah Robert terlihat kebingungan.


"Putri, saya lupa kalau malam ini saya ada pertemuan dengan clien. Maafkan saya karena tidak bisa berlama-lama di sini."


Roberto segera beranjak dari sofa. Ia memandang Oliver sekilas sebelum memandang Katterine lagi.


"Apakah besok saya boleh ke sini lagi?"


"Ehm-"


"Katterine datang ke sini untuk melakukan kegiatan. Bukan sedang berwisata!" ujar Oliver dengan nada ketus.


"Maafkan saya, Putri. Nanti saya akan menghubungi Anda melalui telepon saja." Roberto pergi begitu saja ketika ia mendapat tatapan tajam dari Oliver. Ia bukan takut dengan tatapan pria itu. Melainkan takut kalau saja Katterine sampai memaksanya meminum teh yang ia pikir berisi racun tersebut.

__ADS_1


"Tadi dia terlihat bersemangat. Kenapa sekarang tiba-tiba seperti ketakutan?" ucap Katterine dengan suara pelan.


Oliver hanya diam dengan wajah dinginnya. Ia Memandang Katterine masih dengan tatapan yang sama ketika memandang Roberto. Katterine memiringkan tubuhnya dan memandang wajah Oliver. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan tatapan menantang.


"Ada apa? Kau marah?"


"Kenapa kau tidak pernah menurut. Jauhi pria itu. Dia pria yang jahat."


"Tidak ada bukti yang pasti untuk mengatakan dia pria jahat. Sebenarnya jahat itu seperti apa? Apa pria yang cuek kepada wanita itu juga termasuk jahat?" Katterine melipat kakinya dan memandang Oliver untuk menunggu jawaban pria itu.


"Jangan samakan aku dengan dia."


"Aku tidak bilang itu untuk dirimu. Kenapa kau merasa bersalah?" Katterine yang mulai merasa lelah karena harus berdebat lagi dengan Oliver segera beranjak dari sofa. Ia ingin ke kamar untuk mengurung diri daripada harus memandang wajah Oliver yang menyebalkan.


"Katterine!" Oliver beranjak dari sofa. Ia mengejar Katterine dan menahan wanita itu agar tidak pergi meninggalkannya.


"Lepaskan!"


"Katterine!"


Oliver menarik tangan Katterine. Ia meraih kepala wanita itu dan merem*as rambutnya dengan lembut. Menatapnya dalam-dalam.


"Jangan dekati pria lain karena itu membuatku ...."


"Katakan kalau kau cemburu. Katakan kalau kau mencintaiku," gumam Katterine di dalam hati dengan sejuta harap. Debaran jantungnya sudah tidak karuan. Bahkan napasnya tertahan detik itu sampai Oliver bersuara.


"Ingin membunuhnya." Oliver melepas cengkramannya. Ia memutar tubuhnya ingin meninggalkan Katterine gantian. Namun dengan segera Katterine berlari. Wanita itu berjinjit dan segera mendaratkan bibirnya di bibir Oliver.


Oliver mematung ketika merasakan benda kenyal itu kini mendarat di bibirnya. Sangat unik dan manis. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Katterine dengan berani mencium bibirnya. Merebut ciuman pertamanya.


"Selamat tidur."


Katterine segera berlari ke kamar dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Ia menutup pintu dengan cara membantingnya dan bersandar di balik pintu. Napasnya terputus-putus. Ia tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia lakukan terhadap Oliver.


Perlahan Katterine mengangkat tangannya yang gemetar dan meletakkannya di bibir. Ia masih terlihat kebingungan.


"Apa yang sudah aku lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2