Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Maaf Leona


__ADS_3

Kwan terlihat sangat kesal. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa tunggal. Kedua tangannya menutup wajah dengan hembusan napas yang tidak lagi karuan. Masih terbayang jelas bagaimana Leona membela Zean dan mengabaikannya. Bahkan hingga ia pergi meninggalkan kantor tersebut, tidak ada tanda-tanda Leona akan mengejarnya.


“Kak Leona. Kenapa dia harus bersama dengan pria itu? Apa tidak ada pria lain di dunia ini selain pria breng*sek itu?” umpat Kwan kesal. Kedua kakinya sengaja ia angkat ke atas meja sebelum memejamkan mata.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Leona muncul di balik pintu dengan senyum manisnya. Wanita itu terlihat tidak ada masalah yang terjadi antara dirinya dan Kwan. Ia melangkah dengan tenang mendekati sofa yang di duduki Kwan.


Kwan memandang wajah Leona sekilas sebelum memejamkan matanya lagi. “Untuk apa kakak ke sini?” ujar Kwan dengan wajah tidak tertarik.


“Aku ingin meminta maaf padamu. Tidak seharusnya aku membentakmu seperti tadi,” ucap Leona. Wanita itu duduk di sofa yang menghadap ke arah Kwan.


Kwan menghela napas. “Percuma saja sekarang minta maaf. Kalau masih bersama dengannya,” jawab Kwan asal saja.


“Aku mencintainya,” ucap Leona dengan wajah yang tulus. “Seperti kau jatuh cinta pada Alana,” sambung Leona lagi.


Kwan membuka matanya. Pria itu menatap wajah Leona dengan saksama. “Kakak sudah lama berhubungan dengannya?”


Leona mengangguk pelan. “Sebelum berangkat ke Brazil.”


“Sudah begitu lama tapi tidak memberi tahuku?” protes Kwan semakin kesal.


Leona menghela napas sebelum bersandar. “Aku tidak ingin ada yang tahu hubungan ini. Sampai ... nanti kami memutuskan untuk menikah,” ucap Leona malu-malu.


Zean telah berjanjii untuk menemui Serena dan Daniel dan melamar dirinya. Tidak lama lagi, kita-kira seperti itu janji Zean kepadanya.

__ADS_1


Kwan tidak tahu harus berkata apa lagi. Hatinya menggeram tidak karuan. Ia tidak setuju Leona dekat dengan pria berandal seperti Zean. Statusnya tidak jelas. Tapi, mendengar kata cinta. Kwan kembali berpikiran waras. Bahkan hingga detik ini juga pria itu n mengejar-ngejar cinta Alana. Cinta terkadang memang membutakan hati.


“Kwan, kenapa kau tidak memberi kabar kalau mau datang?” Leona beranjak dari sofa. Wanita itu ingin mengambil minuman dingin dari dalam kulkas.


“Kejutan. Tapi, tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan,” jawab Kwan malas. “Apa Kak Aleo juga tidak mengetahuinya?” Kwan mengikuti arah Leona berdiri. Pria itu memperhatikan tubuh Kakak sepupunya yang masih baik-baik saja. Tentu saja pria yang mesum seperti Kwan bisa membedakan mana wanita suci mana tidak. Jika benar Leona sudah tidak bersegel mungkin pria itu akan segera menancapkan belatih di tubuh Zean.


“Aku akan memberi tahunya sesegera mungkin. Zean juga tidak ingin hubungan kami di sembunyikan lagi,” sambung Leona cepat. Wanita itu membawa dua minuman kaleng. Memberikannya satu kepada Kwan sebelum ia meneguk miliknya sendiri. “Setidaknya usaha yang aku bangun sudah mulai berjaya. Tidak seperti perusahaan milikmu yang masih jalan di tempat,” sindir Leona dengan tawa kecil.


“Aku akan tinggal di sini selama satu minggu. Bersiap-siaplah untuk tidak bertemu dengannya selama satu minggu. Karena aku akan menghalangi kalian bertemu,” ucap Kwan.


Kwan meneguk minuman kaleng itu. Untuk detik ini, ia memberikan kepercayaan kepada Leona untuk berhubungan dengan Zean. Kwan juga tidak ingin terus-terusan menuduh Zean pria jahat. Selama ini ia tidak berhasil membuktikan kalau Zean benar pria jahat.


“Hmm, baiklah. Aku akan menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang denganmu. Aku selalu berharap kau dan Alana segera menyatu. Agar kau tidak lagi menggangguku dan Zean,” ucap Leona dengan satu mata berkedip.


Leona tertawa kencang. “Apa Alana jadi ke Sapporo?” ucap Leona penuh selidik.


“Sebulan lagi. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku dan melupakan nama Kak Aleo,” ucap Kwan penuh semangat.


Leona tertawa lagi sebelum menggeleng kepalanya. Wanita itu meneguk minumannya hingga habis. “Aku tidak bisa mendukung pihak manapun.”


Kwan menatap tajam sebelum memejamkan mata lagi. Pria itu ingin tidur untuk sejenak agar rasa lelahnya hilang.


***

__ADS_1


Zean duduk di depan meja bundar berukuran besar. Jemarinya saling bertaut dan di letakkan di atas meja. Pria itu menatap wajah pria bertopi yang ada di hadapannya. Usia pria itu sekitar 70 an. Ada dua pria berbadan tegab yang menjaga pria tersebut.


“Sudah cukup lama waktu yang aku berikan untukmu, Zean. Aku tidak ingin menunggu lagi. Secepatnya, aku ingin Erena dan seluruh orang terdekatnya tewas,” ucap pria itu penuh penekanan.


Zean membuang tatapannya. “Aku masih butuh waktu,” ucap Zean cepat.


Pria bertopi itu berdiri dengan wajah tidak terima. Ia menggebrak meja hingga membuat beberapa barang berukuran kecil terpental. “Aku ingin sekarang juga! Jika niat awalmu ingin merusak putri dari Erena. Sebaiknya segera lakukan. Untuk apa kau berpura-pura baik dan perhatian hingga selama ini. Bahkan Lily, yang seharusnya menjadi kekasihmu justru kau bunuh. Kau sudah mulai lupa dengan tujuan utamamu, Zean. Mereka telah membunuh orang tuamu. Tepat di depan matamu. Kau tidak pernah bisa membantah takdir itu. Seorang pembunuh tidak di benarkan untuk hidup bahagia. Kau harus segera membalaskan dendam kita!”


Zean menunduk dengan bibir membisu. Pria itu mengambil botol minuman keras yang ada di hadapannya sebelum meneguknya sec. “Aku akan mengirim orang ke Sapporo untuk menyerang wanita itu. Di sini, aku akan menyelesaikan putrinya!” ucap Zean sebelum membanting botol minuman itu. Ia memutar tubuhnya lalu pergi meninggalkan pria tua yang biasa ia panggil Kakek itu.


“Ingat Zean! Balas dendam tidak menggunakan perasaan. Kita harus menyiksa musuh kita seperti musuh kita menyiksa kita dulu! Hilangkan rasa kasihan yang ada di dalam hatimu!” teriak pria itu dengan suara yang lantang dan bisa di dengar jelas oleh Zean.


“Aku tidak akan pernah melupakan tujuan utamaku,” ucap Zean sebelum berjalan dengan sorot mata yang tajam. Pria itu mengambil ponselnya dengan wajah tidak terbaca. Nama Leona muncul di layar ponselnya. Ia mengatur emosinya lalu berusaha berbicara setenang mungkin.


“Honey, aku memiliki kejutan untukmu. Apa kau ada waktu untuk bertemu denganku malam ini?” ucap Zean dengan suara yang sangat lembut.


“Ada Kwan di sini. Aku tidak bisa meninggalkannya. Dia tidak akan membiarkanku pergi untuk menemuimu,” ucap Leona dengan suara bingung.


“Hmm, baiklah. Jika kau tidak bisa hadir,” ucap Zean dengan nada sedih.


“Zean, aku akan menghubungimu lagi nanti.” Leona memutuskan panggilan teleponnya.


Zean mematung sambil memandang ponsel yang sudah tidak ada suara Leona. Pria itu sedikit cemburu dengan sikap Kwan yang terlalu perhatian dengan Leona. Ia memutar-mutar ponselnya sebelum memasukkannya ke dalam saku.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus membereskan pria itu dulu agar tidak menggangguku nanti malam,” ucap Zean sebelum melanjutkan langkah kakinya. Beberapa pria berbadan tegab mengikutinya dari belakang.


__ADS_2