Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kasih Sayang Ibu


__ADS_3

Sapporo


Serena mengukir senyuman bahagia ketika mendengar suara Leona. Ia bahagia bahkan sampai ingin menangis karena kini bisa mengetahui putri kesayangannya baik-baik saja. Bahkan bisa berbicara lagi. Daniel yang berada di dekat Serena juga mengukir senyum bahagia. Ia merangkul pundak Serena dan mengusapnya dengan lembut.


“Sayang, kapan kau kembali?” tanya Serena dengan suara pelan. “Paman Tama dan Tante Anna sudah selamat. Mereka baik-baik saja. Apa lagi yang kau tunggu? Kak Aleo juga sudah menjaga Tamara dengan baik. Mereka terlihat semakin akrab saat ini,” ucap Serena dengan tawa kecil.


“Mama, maafkan Leona. Mama jangan menangis lagi. Leona akan pulang setelah masalah Leona selesai ma.”


“Sayang, apa lagi yang ingin kau selesaikan? Kau pasti tahu kalau kini keadaan tidaklah baik. Para mafia memiliki keterbatasan beroperasi setelah Istana Cambridge memberikan perintah penangkapan,” ucap Serena dengan wajah serius.


“Ma, apa mama meragukan Leona? Tidak ada yang Leona takuti di dunia ini selain kehilangan Mama.”


Serena mengukir senyuman. “Baiklah. Mama percaya kalau kau akan baik-baik saja. Mama sangat yakin kalau Kwan dan Jordan bisa menjagamu dengan baik.” Walau kini hati Serena sangat khawatir. Tapi, ia tidak ingin membuat Leona semakin bersedih.


“Ma, jaga kesehatan ya. Leona sayang mama,” ucap Leona sebelum memberikan kecupan singkat. 


Serena menggenggam ponselnya sambil melamun ke depan. Kini putrinya dalam bahaya. Seperti itulah hal yang terus saja memenuhi pikiran Serena. Kecupan Daniel memecah lamunan Serena. Pria itu mengukir senyuman manisnya sambil memandang wajah sang istri.


“Apa kau memikirkan sesuatu? Sayang, jangan yang aneh-aneh. Kau baru saja sembuh,” ucap Daniel penuh peringatan.


Serena menghela napas. “Aku bingung. Jika nanti aku mengambil tindakan secara sepihak, aku takut akan merusak rencana yang sudah di susun Jordan dan Leona. Tapi, aku tidak bisa duduk diam di sini sambil menonton putriku berkelahi,” ucap Serena dengan suara sedih.


“Hei, kau mau bermain perang-perangan lagi? Kau lupa kalau kesehatanmu sekarang tidak sama seperti dulu?” bisik Daniel dengan kelembutan. “Mungkin kita bisa membicarakan ini dengan Zeroun. Ia pria yang selalu memiliki strategi. Kita pasti bisa membantu Leona walaupun tidak turun tangan langsung.”


Serena memandang wajah Daniel. “Tapi, itu akan membuat mereka curiga. Mereka berpikir kalau Leona sudah tidak ada.”

__ADS_1


“Sayang, kita masih punya Kwan. Kita bisa bilang kalau kita melakukan semua ini demi Kwan. Kita bisa membawa Shabira dan Kenzo juga, bagaimana?” ucap Daniel dengan wajah penuh percaya diri.


Serena mengukir senyuman indah. “Ya. Ide yang bagus.”


***


Oliver segera membuka sebuah laptop. Ia sudah tidak sabar untuk melihat lukisan yang baru saja dikirimkan oleh Katterine. Putri Cambridge itu tidak bisa mengatakan detail wajah Clouse. Ia hanya bisa memberi tahu wajah Clouse melalui lukisan yang kini ia buat. Di samping Oliver ada Kwan dan Jordan. Mereka bertiga sudah tidak sabar untuk mengetahui wajah asli musuh mereka saat ini. Ada dua orang. Yang satu Miller satunya lagi adalah Clouse. 


Pertama kali melihat wajah Miller, Kwan yang paling kaget. Ia menunjuk layar laptop tersebut dengan wajah tidak percaya. “Hei, dia Miller!” ucap Kwan cepat.


Jordan memandang wajah Kwan. “Siapa Miller?”


“Putranya Tante Sonia. Dia seorang kepala Polisi. Jabatannya sangat tinggi. Bahkan saat ini Tante Sonia memberinya tugas untuk menangkap Clouse. Bagaimana bisa mereka berteman?” ucap Kwan tidak percaya.


Saat ketiga pria itu telah sibuk memikirkan cara, tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca dari dalam kamar Leona. Jordan dengan sigap beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu berlari kencang menuju ke kamar Leona. Ia ingin menolong wanita pujaannya.


Kwan dan Oliver juga tidak tinggal diam saja. Mereka berlari kencang menuju ke arah kamar Leona untuk melihat keadaan wanita itu. Senjata api tidak lupa mereka genggam untuk berjaga-jaga jika saja bahaya kini menghampiri Leona.


Leona terduduk di lantai dengan gelas yang pecah di hadapannya. Ia memandang kemunculan Jordan dari arah pintu. Satu tangannya terangkat untuk mencegah Jordan agar tidak berjalan mendekatinya.


“Berhentilah di situ! Aku bisa sendiri!” ucap Leona dengan wajah penuh kesedihan. Ia ingin segera berjalan tanpa harus merepotkan orang lain. Tadi ia bisa melakukannya. Hanya saja, tidak tahu kenapa kakinya tiba-tiba terasa lemah lagi hingga akhirnya membuatnya terjatuh.


“Dokter bilang kak Leona tidak lumpuh! Hanya butuh istirahat beberapa minggu saja. Kak, jangan keras kepala. Kau harus tetap menjaga kesehatanmu. Kau pasti bisa berjalan,” ucap Kwan dengan wajah kesalnya.


“Diamlah! Aku pasti bisa,” ucap Leona sebelum memegang meja yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Jordan melirik Kwan dan Oliver sebelum melihat Leona lagi. Pria itu berjalan pelan agar tidak disadari oleh Leona. Posisinya sangat pas memang karena kini Leona membelakangi mereka.


Jordan berdiri di belakang Leona dan mengulurkan satu tangannya. “Baby girl, ayo lah. Aku akan membantumu berdiri. Jangan keras kepala seperti ini. Bukankah kau bilang kau akan berubah menjadi jauh lebih baik?” bujuk Jordan dengan suara yang pelan.


Leona membuang napasnya kasar. Ia menyambut uluran tangan Jordan dan berdiri dengan mudah. Jordan menahan tubuhnya hingga membuat Leona merasa ringan ketika mengangkat tubuhnya. Wanita itu berdiri di hadapan Jordan. Ia memandang wajah Jordan tanpa berkedip.


“Aku ingin bermain salju,” ucap Leona dengan suara pelan.


Jordan mengukir senyuman. “Kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan. Namun, untuk saat ini kau harus menurut dengan perkataanku dulu,” ucap Jordan membujuk.


“Baiklah.”


Jordan membantu Leona menuju ke arah sofa. Pria itu memandang wajah Oliver dan Kwan yang hanya berdiri mematung. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan ketika ada di dekat Jordan dan Leona.


“Kapan kita akan bermain salju?” ucap Leona dengan wajah penuh harap.


Jordan menyelipkan rambut Leona di balik telinga. “Kita akan bermain salju ketika pesta ulang tahun putri kerajaan Belanda itu hampir tiba,” ucap Jordan dengan wajah yang serius.


“Kau bilang kita akan menyerang saat musim dingin berakhir,” protes Leona tidak percaya.


“Rencana berubah setelah aku menemukan beberapa petunjuk. Mungkin akhir musim dingin,” ucap Jordan lagi.


Leona mengukir senyuman. “Baiklah. Kita akan bermain salju di sana.”


Kwan dan Oliver tertawa kecil mendengar ucapan Leona. Mereka berharap masalah ini segera berakhir. Hingga akhirnya mereka bisa menjalani kehidupan normal seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2