Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Rahasia


__ADS_3

Jordan duduk sambil membuang tatapannya ke arah jendela. Di sampingnya ada Oliver yang telah fokus dengan laju mobilnya. Pria itu memandang keindahan kota Meksiko dengan wajah bahagia. Sudah lama ia tidak berkunjung di kota tersebut.


“Oliver, apa kau kenal Queen Star?” tanya Jordan dengan wajah penasaran. Selama ini Jordan tidak pernah mengurus dunia mafia. Satu-satunya mafia yang ia ketahui adalah Gold Dragon milik sepupunya. Walaupun ia tahu ada banyak  komplotan mafia di dunia ini, tapi Jordan tidak tertarik untuk mengetahuinya.


“Tidak,” jawab Oliver cepat. Pria itu berbohong. Lukas sudah menjelaskan semuanya. Tapi, pria itu meminta Oliver untuk merasahasiakan semuanya sambil menunggu perintah dari Zeroun.


“Apa Leona membentuk grup mafia itu sejak ia belum kenal dengan Zean?” ucap Jordan pelan. Pria itu sedikit frustasi karena tidak ada satupun orang bayarannya yang berhasil menyelidiki masalah yang terjadi antara Zean dan Leona. Walau secara garis besar Jordan bisa menyimpulkan kalau Leona dan Zean tidak memiliki hubungan baik.


“Seseorang ada di balik semua ini,” ucap Oliver tanpa memandang. Pria itu tega melihat Jordan frustasi dan memasang wajah bingung seperti itu.


“Siapa?” celetuk Jordan dengan tatapan penuh selidik. “Oliver, apa kau menutupi sesuatu dariku?” ucap Jordan lagi.


“Maaf, Pangeran. Saya tidak bisa mengatakan apapun kepada Anda. Tuan Zeroun akan menyampaikannya langsung kepada Anda nanti,” ucap Oliver dengan wajah menyakinkan.


“Daddy juga tahu soal ini?” sambung Jordan dengan wajah kaget.


Oliver mengangguk pelan. “Mereka telah mengetahui kehidupan anda selama ini,” jawab Oliver pelan.


“Sudah aku duga sejak awal. Kunjungan kalian ke Meksiko memang sangat mencurigakan!” umpat Jordan kesal. “Setelah mengunjungi Sapporo, apakah pesta pertunangannya akan di gelar?” sambung Jordan lagi dengan wajah kesalnya.


“Maaf Pangeran, saya tidak tahu soal itu,” ucap Oliver dengan suara pelan.

__ADS_1


“Kau memang bos mafia yang payah! Tidak bisa di andalkan sama sekali,” ucap Jordan sebelum membuang tatapannya ke arah jendela.


Oliver mamandang Jordan sejenak. Ia tahu kalau Jordan kini pasti sangat kesal. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Ancaman Lukas sungguh menakutkan hingga membuat Oliver tidak berani mengatakan yang sebenarnya terjadi.


Malam yang semakin dingin. Mobil yang di kemudikan Oliver menembus kabut malam yang begitu tebal. Lampu warna warni yang berbaris di pinggiran jalan membuat jalanan terlihat sangat indah.


Setelah memasuki jalanan sunyi, Oliver mengambil senjata apinya yang terselip di samping jok yang ia duduki. Membuat Jordan bingung saat itu. “Apa yang terjadi?”


“Ada yang mengikuti kita Pangeran,” jawab Oliver dengan tatapan yang sangat tajam.


Jordan menghela napas sebelum mengambil senjata api miliknya. Tentu saja Pangeran Cambridge itu tidak ingin ketinggalan. Jika benar ada yang ingin menghalangi laju mobilnya, maka Jordan siap bertarung dan memenangkan pertarungannya.


Seperti apa yang di pikirkan Oliver, tiba-tiba saja beberapa mobil dan sepeda motor muncul bersamaan. Mereka terdiri dari pria dan wanita dengan pakaian serba hitam. Ada logo Queen Star di sana. Oliver mengukir senyuman tipis karena sudah tahu kalau perkelahian itu pasti akan terjadi dan tidak bisa di hindari lagi.


Semua kendaraan yang memenuhi jalanan itu berhenti. Termasuk mobil yang dilajukan Oliver. Jordan memandang musuhnya dengan wajah bingung. Mereka pasukan Queen star, Tidak terbayang jika kini juga ada Leona di sana. Menyerangnya dan siap mengalahkannya.


“Oliver, kau bermusuhan dengan Queen Star?” ucap Jordan dengan tatapan menuduh.


Oliver memandang Jordan dengan ekspresi dingin favoritnya. “Letty juga pemilik Queen Star, Pangeran. Anda harus berhati-hati dengan mereka,” ucap Oliver dengan wajah menyakinkan.


“Letty? Wanita itu lagi? Jadi, dia dan Leona ....” Jordan membuang tatapannya ke arah lain. “Shi*t! Kenapa semua bisa kebetulan seperti ini,” umpatnya kesal.

__ADS_1


Letty dan pasukan Queen Star turun dari kendaraan. Mereka berdiri dengan tatapan menantang di depan mobil Oliver. Jordan dan Oliver memandang wajah Letty dengan tatapan tidak terbaca samasekali.


“Ingat, Oliver. Jangan bunuh Letty!” ucap Jordan penuh peringatan.


Oliver memandang wajah Jordan sebelum mengangguk pelan. “Baiklah, Pangeran.”


Dua pria itu keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan dengan santai untuk berdiri di depan mobil yang lampunya masih menyala. Tidak ada senyuman. Semua orang memasang wajah yang sangat dingin dengan tatapan membunuh. Lokasi tersebut berubah hening walau ada puluhan orang di sana.


Mereka berkumpul di bawah sinar rembulan yang berbentuk setengah lingkaran. Sesekali suara binatang yang berasal dari pepohonan terdengar dengan begitu jelas. Setiap pasukan memandang wajah lawannya dengan tatapan yang sangat tajam.


“Selamat malam, Letty. Apa kau belum puas dengan pertemuan kita tadi?” tanya Jordan sambil memandang wajah Letty.


Letty membuang tatapannya ke arah lain. “Jordan, apa yang terjadi jika aku memberi tahu Leona kalau kau adalah Jordan Zein?” ancam Letty dengan tatapan penuh kemenangan. “Kau pasti tahu. Ia wanita yang tidak suka di bohongi. Kesalahanmu kali ini bisa aku manfaatkan untuk membuat Leona membencimu. Dan ... membantuku membalaskan dendamku,” sambung Letty dengan tawa kecil di bibirnya.


Jordan terdiam seribu bahasa. Memang sejak awal ia sudah melakukan kesalahan. Seharusnya ia jujur saja. Kini, semua sudah terlanjur terjadi. Jordan tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi apa yang ingin Leona lakukan kepadanya nanti.


Oliver melirik wajah Jordan sekilas. Pria itu tahu arti tatapan bingung Jordan saati itu. dengan langkah yang sangat santai, Oliver melangkah maju untuk mendekati Letty. Memang sejak dulu, ia yang selalu berhasil membuat Letty tenang dan tidak berontak lagi.


“Lalu sekarang, apa yang  kau inginkan?” ucap Oliver sambil memandang kedua mata Letty dengan tatapan yang sangat tajam. “Apa kau ingin menyerang pasukanku dengan pasukan yang kini kau miliki? Kau yakin akan menang? Kau lupa bagaimana kuatnya pasukan yang aku miliki?” sambung Oliver lagi.


Letty mengangkat senjata api yang ada di genggaman tangannya. Wanita itu mengarahkan ujung senjata apinya ke arah Oliver yang sudah semakin dekat dengannya. “Berhenti, Oliver. Jangan berjalan lagi atau aku akan menembakmu!” ancam Letty dengan wajah gugup.

__ADS_1


“Lakukan saja. Aku ingin lihat. Apa kau berani menembak sahabatmu sendiri?” ucap Oliver dengan senyuman tipis.


__ADS_2