
Kwan menatap tajam wajah Zean ketika pria itu masuk ke dalam ruangan Leona. Ia terlihat tidak suka. Kedua tangannya terkepal kuat. Ingin sekali Kwan menghajar Zean saat itu. Apapun yang ingin dikatakan Zean, Kwan tidak lagi mau mendengarnya. Bagi Kwan, Zean lah yang menyebabkan keadaan menjadi seperti ini.
"Pergi kau dari sini!" umpat Kwan dengan sorot mata yang sangat tajam. Kakinya melangkah secara perlahan untuk mendekati Zean dan menghajar pria itu. Namun, Alana ada di samping Kwan. Wanita itu merangkul lengan Kwan dan mencegah Kwan berbuat hal yang tidak diinginkan kepada Zean.
"Kwan, tenanglah. Jangan membuat keributan di sini. Kak Leona masih sakit. Dia butuh ketenangan," bujuk Alana dengan suara lembutnya. Wanita itu memandang wajah Zean dengan saksama. ini pertama kalinya bagi Alana melihat wajah Zean secara langsung. Selama ini wanita itu hanya mendengar nama Zean saja tanpa pernah bertatap muka langsung.
Ketika Zean tiba di ruangan itu, Leona memberikan reaksi. Namun ... reaksi yang diberikan Leona merupakan reaksi yang tidak diinginkan semua orang. Monitor detak jantungnya menunjuk angka terendah. Hingga pada akhirnya, suara yang sangat dibenci semua orang terdengar dengan jelas. Bahkan memenuhi seisi ruangan yang sunyi tersebut.
Angel dan Tamara segera memeriksa keadaan Leona. Memegang pergelangan tangan wanita itu untuk memastikan kalau Leona masih ada. Sedangkan Tamara. Wanita itu di bantu oleh perawat mengambil alat pacu jantung.
Tamara berusaha memberikan kejutan berupa listrik ke jantung Leona untuk membantu merangsang agar detak jantung dan otot jantung kembali berfungsi dengan normal. Namun, sudah berulang kali Tamara melakukan aksi percobaan itu. Tapi, tetap saja tidak memberikan hasil apapun. Hingga pada akhirnya, wanita itu harus melangkah mundur dengan wajah yang pucat. Angel yang sejak tadi sudah menangis menggeleng kepalanya sebagai ungkapan tidak terima. Ia tidak setuju dengan kalimat yang akan diucapkan oleh Tamara.
__ADS_1
"Kita kehilangan Kak Leona," ucap Tamara dengan tatapan tidak berkedip. Kedua matanya terasa perih seperti di siram cairan asam. Secara perlahan, buliran air mata menetes membasahi pipinya.
Zean mematung. Pria itu menggeleng sebagai ungkapan tidak setuju. Ia berlari kencang mendekati tempat tidur Leona. Pria itu ingin membangunkan Leona. Ia tidak mau Leona pergi meninggalkan dirinya.
Zean mengambil tangan Leona. Mengecupnya hingga berulang kali. Pria itu juga menangis sejadi-jadinya. Ia tidak lagi gengsi untuk memperlihatkan wajah sedih dan bersalahnya di depan Leona. Zean benar-benar menyesal dengan perbuatan yang ia lakukan.
"Jangan pergi, Leona. Bangun Honey ... bangun sayang. Maafkan aku. Maafkan aku karena telah menyakitimu. Maafkan aku karena sudah membuatmu menjadi seperti ini. Maafkan aku sayang ...," Zean terus mengecup punggung tangan Leona.
Ruangan itu kini dipenuhi dengan isak tangis dari semua orang. Tidak tahu siapa yang benar siapa yang salah. Malam itu mereka berduka. Ya, mereka berduka karena telah kehilangan wanita ceria seperti Leona.
"Jangan tinggalkan aku, Leona. Aku sendiri sekarang. Temani aku. Hanya kau yang aku miliki. Jangan pergi sayang ...," lirih Zean semakin menjadi. Pria itu jatuh dan duduk di permukaan lantai. Tepat di samping tempat tidur Leona. Tulang kaki ya seakan rapuh dan tidak lagi bisa menopang tubuhnya. Zean terpuruk. Dia lemah tak berdaya.
__ADS_1
Kwan menangis di dalam pelukan Alana. Pria itu juga tidak sanggup melihat kepergian Leona yang terjadi secara mendadak. Waktu seakan terhenti hingga membuat nyawa mereka direbut paksa. Jantung mereka semua di remas hingga menimbulkan rasa perih yang luar biasa.
"Aku akan membunuh wanita sialan itu. Demi apapun ia harus mati di tanganku," ucap Kwan penuh dendam. Ia tidak lagi peduli dengan siapa dirinya kini berbicara. Bagi Kwan nyawa harus di bayar nyawa. Bahkan Zean yang ada di dalam ruangan itu juga tidak luput dari target yang akan dibunuh Kwan.
"Kwan, tenanglah. Kau tidak boleh seperti ini," bisik Alana dengan suara lirih. Wanita mengerti dengan apa yang kini dirasakan oleh Kwan. Bahkan Alana merasa bangga mengenal pria tangguh seperti Kwan. Kasih sayang pria itu benar-benar tulus hingga tidak rela wanita yang ia sayangi menderita.
Angel dan Tamara berdiri di samping tempat tidur Leona sambil menghapus air mata yang terus saja menetes. Dua dokter cantik itu menyerah. Usaha Terakhir mereka seakan gagal. Semua terasa sia-sia dan tidak menghasilkan apapun lagi.
Aleo mematung. Bahkan air mata tidak lagi bisa menetes untuk membasahi wajahnya. Bagi Aleo ini mimpi buruk. Ia ingin segera terbangun dan menyadari semuanya. Ia tidak ingin semua ini menjadi nyata. Aleo masih percaya kalau apa yang ia lihat hanya mimpi. Leona tidak mungkin pergi secepat itu.
Anna dan Sharin juga menangis. Sedangkan Biao dan Tama hanya diam di depan ruangan Leona. Baru saja beberapa menit yang lalu Serena pingsan karena melihat keadaan Leona yang kritis. Mereka tidak tahu bagaimana nanti cara menyampaikan kepergian Leona kepada Serena. Kondisi Serena cukup lemah. Mantan Big Boss Queen Star itu tidak lagi tangguh seperti dulu. Apa lagi, jika masalah yang ia hadapi menyangkut hidup putri tercintanya.
__ADS_1