
Jordan sedang berada di dalam kamar Emelie. Karena Katterine memutuskan makan malam di luar. Jordan dan Leona memutuskan untuk makan lewat jadwal makan malam. Sedangkan Emelie dan Zeroun sudah makan di dalam kamar. Malam itu tidak tahu kenapa, Jordan ingin mengobrol berdua bersama ibu kandungnya. Sudah lama ia tidak bercerita dengan Emelie.
"Jordan, di mana Leona? Kenapa kau tidak membawanya ke sini?" Emelie merapikan rambut Jordan yang kini bersandar di sandaran sofa. Pria itu ada di samping Emelie sambil menatap wajahnya.
"Tadi pelayan memanggil Leona agar datang ke kamar Katterine, Mom. Mungkin masalah wanita." Jordan memegang tangan Emelie dan memperhatikan wajah ibundanya yang terlihat sangat pucat.
"Mommy yakin baik-baik saja?"
Emelie mengangguk pelan. "Mommy baik-baik saja. Selama kau dan Katterine ada di depan mata mommy. Mommy akan baik-baik saja."
"Mom, apa Mommy sudah memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Mommy?"
"Jordan, kau tidak perlu mengingatkan mommy seperti itu. Daddy-mu selalu memanggil dokter yang sudah lama bekerja dengan kita ke istana setiap kali kondisi mommy memburuk. Dokter bilang karena Mommy terlalu banyak pikiran. Jadi, jangan terlalu dibesar-besarkan."
"Bagaimana bisa aku tidak khawatir. Kalau saat ini ada orang yang sedang mengincar nyawa mommy," gumam Jordan di dalam hati.
"Oh ya, apa kau dan Leona sudah bertemu dengan dokter kandungan? Kalian benar-benar ingin memiliki momongan? Sangat berbeda dengan mommy dulu. Ingin sekali mommy cepat mengandung tapi ... Daddy mu tidak terlalu ingin memaksa keadaan."
Jordan tersenyum mendengar pertanyaan Emelie. Ia mengangguk perlahan. "Mom, Jordan tidak mau jadi Raja sebelum Leona mengandung."
"Jordan, kau membohongi mommy. Kau bilang setelah menikah mau menerima tahta ini." Emelie sedikit protes melihat sifat putranya yang kini plin-plan.
"Mom, Jordan memiliki alasan sendiri kenapa menolak tahta ini. Mommy dan Daddy akan pergi ke rumah yang telah kalian persiapkan. Jordan belum siap berpisah dari mommy dan Daddy. Setidaknya mommy dan Daddy pergi setelah Katterine menikah. Jika Katterine sendirian, Jordan khawatir dengan keadaannya. Dia sangat membutuhkan kasih sayang mommy dan Daddy."
Emelie merenungi perkataan Jordan. Semua yang dikatakan pangeran Cambridge itu benar adanya. Emelie sendiri juga akan jauh lebih lega ketika melihat anak-anaknya bersama dengan orang yang mereka cintai.
Untuk beberapa menit, Jordan dan Emelie berada dalam pikiran mereka masing-masing. Lamunan mereka pecah ketika Zeroun masuk ke dalam kamar. Pria itu muncul dengan beberapa pelayan di belakangnya.
Jordan memandang wajah Zeroun dan tersenyum hangat. "Dad, apa yang Daddy bawa?"
Zeroun melirik beberapa nampan yang ada di tangan pelayan sebelum memandang Jordan dan menjawab pertanyaan pria itu.
"Ini ramuan yang biasa di minum mommy-mu Jordan."
"Ramuan?" Jordan mengeryitkan dahi dengan wajah menyelidik. Ia melihat ramuan yang disiapkan di atas meja dan wajah pelayan yang membawanya satu persatu.
"Sejak kapan mommy meminum minuman ini?"
Jordan mengambil ramuan tersebut dan menghirup aromanya. Tidak ada yang salah karena memang tercium aroma rempah yang begitu khas. Seperti jamu yang sengaja di buat untuk menyegarkan tubuh.
"Sudah sejak lama. Bahkan saat nenek dan kakek-mu masih ada. Keluarga kita selalu meminum minuman ini," jawab Emelie dengan santai.
"Kenapa aku dan Katterine tidak pernah meminumnya?" Jordan meletakkan ramuan itu kembali ke atas meja.
__ADS_1
"Karena kau dan Katterine akan jatuh sakit setiap kali meminumnya. Bisa di bilang kalian tidak cocok meminum rempah seperti ini. Sama seperti daddy-mu." Emelie mengambil ramuannya dan ingin segera meneguknya. Selagi hangat ramuan itu tidak akan terasa pahit.
"Tunggu, Mom!" Jordan memegang tangan Emelie untuk mencegah wanita itu meneguk minumannya. Bersamaan dengan itu Zeroun juga terlihat bingung atas sikap putranya.
"Apa yang menyebabkan aku dan Katterine tidak cocok meminumnya? Sejak kapan hal itu terjadi?" Kali ini wajah Jordan benar-benar serius.
Zeroun menghela napas. Ia tahu kalau putranya sangat menyayangi mereka. Wajah saja rasa khawatir itu muncul pada diri Jordan.
"Sejak kalian masih kecil." Emelie mengukir senyuman. "Ini hanya ramuan herbal. Jangan melihatnya seolah-olah racun."
"No, Mom!" Jordan merebut paksa ramuan tersebut. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki. "Malam ini Mommy libur dulu minum ramuannya. Jordan ingin memastikan kalau ramuan ini baik-baik saja."
Dengan santai dan tanpa peduli ekspresi wajah kedua orang tuanya saat ini, Jordan pergi meninggalkan kamar tersebut.
"Jordan!" Emelie berusaha mencegah kepergian Jordan. Namun Zeroun lebih dulu menahan istrinya.
"Biarkan saja. Dia sangat menyayangimu hingga mengkhawatirkanmu seperti ini. Minum saja obatnya setelah itu istirahat lah."
Zeroun mengambil beberapa buliran obat dan memberikannya kepada Emelie. Pria itu juga sudah sangat lelah hingga tidak ingin memperbesar masalah yang ada. Para pelayan juga pergi setelah Emelie menghabiskan pil nya.
***
Jordan berjalan dengan penuh semangat. Ia tahu harus menemui siapa kali ini. Hanya Leona yang bisa membantunya dan mengerti apa yang ia rasakan. Dengan langkah cepat pria itu berjalan menuju ke kamar tidurnya dan sang istri.
"Aku lapar. Apa kita bisa makan di luar? Aku ingin makan makanan cepat saji," ucap Leona dengan satu kedipan mata. Wajahnya terlihat memohon karena ia tahu Jordan tidak akan setuju. Selama program wanita itu harus menjaga pola makannya. Tidak boleh menamakan makanan yang tidak sehat. Tapi, melihat wajah Leona yang begitu memelas Jordan menjadi tidak tega hingga akhirnya pria itu mengangguk setuju.
"Apa itu?" Leona memandang cangkir yang kini ada di tangan Jordan.
"Ini ramuan yang selama ini di minum mommy. Aku takut jika di dalamnya ada racun."
Leona berjalan mendekati Jordan. Ia meminta ramuan itu tersebut untuk memeriksanya secara langsung.
"Aku akan memberikannya kepada Letty untuk diselidiki. Kita akan mendapat jawabannya secepat yang kau ingin." Leona mengukir senyuman untuk menghilangkan wajah panik di wajah Jordan.
"Terima kasih baby girl. Aku mencintaimu." Jordan menarik tubuh Leona dan memeluknya dengan erat.
***
Di sisi lain, Katterine dan Oliver sedang menikmati dinner romantis mereka. Walau biasanya si pria yang mempersiapkan dinner romantis seperti itu. Kali ini kebalikannya. Katterine rela memesan tempat romantis asalkan dirinya bisa bersama dengan pria yang ia cintai.
"Makanannya enak sekali di sini. Aku ingin ke sini lagi jika takdir memberiku kesehatan."
Oliver menahan makanan yang ingin ia lahap. Pria itu menatap wajah Katterine dengan begitu tajam.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Kau akan baik-baik saja."
"Hei Bos Oliver! Semua sudah ada yang mengatur. Kita sebagai manusia hanya bisa berharap saja." Katterine memasukkan makanannya ke dalam mulut dengan wajah yang sangat tenang. Tidak dengan Oliver yang tiba-tiba saja meletakkan alat makannya dan tidak lagi berselera untuk makan. Pria itu beranjak dari kursinya hingga membuat Katterine bingung.
Tiba-tiba saja Oliver menarik tangan Katterine dan membuat alat makan yang dipegangnya terlepas dan menimbulkan suara yang jelas di sana.
"Oliver, apa yang-"
Katterine tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika kini tubuhnya ada di dalam pelukan Oliver.
"Aku tahu kalau pengorbananku tidak sebanding dengan pengorbananmu selama ini. Aku tahu kalau sikapku tidak seperti yang kau inginkan. Aku juga sadar kalau aku bukan pria yang peka terhadap apa yang kau rasakan. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tahu aku salah. Lihatlah pengorbananku malam ini. Kenapa kau membicarakan hal yang membuat hatiku takut?"
"Takut?" ucap Katterine dengan suara yang sangat pelan.
Oliver melepas pelukannya dan memandang wajah Katterine. "Kejadian kemarin sudah berhasil membuatku sadar. Aku sangat mencintaimu Katterine. Aku tidak sanggup kehilangan dirimu. Jika takdir mengizinkan, aku ingin yang pergi lebih dulu. Aku tidak bisa melihatmu pergi."
Kedua mata Katterine tampak berkaca-kaca ketika mendengar perkataan Oliver. Ia memegang wajah pria itu dengan tatapan tidak percaya.
"Kau Oliver? Kau Oliver yang selama ini aku kenal?"
"Aku tidak akan membiarkan Oliver palsu mendekatimu lagi," ketus Oliver dengan ekspresi wajahnya yang kembali ke semula.
"Ya. Kau benar Oliver ku." Katterine tersenyum bahagia.
Oliver mengusap kepala atas Katterine dengan begitu lembut. Terlihat jelas kalau pria itu tulus mencintai wanitanya.
"Aku akan berubah menjadi yang kau ingin asalkan kau tetap ada di sisiku."
Katterine menggerakkan tubuhnya dengan wajah malu-malu. "Sepertinya jika aku mengajakmu menikah besok, kau tidak akan menolak."
"Bahkan malam ini aku siap menikahimu." Oliver menarik tubuh Katterine dan memeluknya dengan erat. Inilah cinta. Ia benar-benar sangat menyayangi wanitanya. Hatinya telah luluh hingga kesulitan bersikap cuek di hadapan Katterine.
Oliver menatap wajah Katterine dan melekatkan jemarinya di sudut bibir merah wanita itu. Secara perlahan wajahnya mendekat untuk mendaratkan bibirnya di sana. Debaran jantungnya semakin tidak karuan. Ini merupakan hal yang bisa di bilang sangat mendebarkan jika di bandingkan menangkap musuh secara diam-diam.
"Kau memang pria payah!" Katterine tertawa ketika melihat wajah Oliver hanya diam di hadapannya ketika jarak bibir mereka beberapa centi lagi.
Oliver berkeringat seperti habis lari maraton. Pria itu benar-benar gugup ketika ingin mengecup bibir wanitanya. Namun, Tiba-tiba saja keberanian kembali muncul. Pria itu memejamkan matanya dan menarik pinggang ramping Katterine. Ia berhasil mendaratkan bibirnya di atas bibir manis Katterine yang begitu nikmat seperti madu.
Katterine meletakkan satu tangannya di dada bidang Oliver sebelum memejamkan mata. Putri Cambridge itu juga sangat menikmati sentuhan dari kekasihnya.
Letty tersenyum melihat adegan romantis itu. Ia harus menjaga Oliver dan Katterine karena permintaan Oliver sendiri. Pria itu tidak mau ada yang mencelakai Katterine. Bisa di bilang, selain Oliver kini Letty adalah penjaga Katterine.
"Dia benar-benar di mabuk cinta!" Letty meletakkan senjata api Laras panjangnya dan memandang taburan bintang di angkasa.
__ADS_1
"Apa jatuh cinta menyenangkan?"