Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 101


__ADS_3

Bella menerima sebuah kotak berwarna biru yang baru saja diberikan Miller. Awalnya ia ragu merima kotak itu. Hari ini bukan hari spesial baginya. Tapi, karena Miller terlihat sangat serius Bella menerima kotak itu tanpa menolak.


“Kau pasti suka,” ucap Miller penuh percaya diri.


“Tapi hari ini bukan ulang tahunku,” jawab Bella. Secara perlahan ia membuka kotak berwarna biru tersebut. Debaran jantungnya tidak karuan karena Bella takut jika didalamnya mengecewakan.


“Baca doa dulu.” Miller menahan tutup kotak itu.


“Miller!” protes Bella. Tanpa mau berdoa, Bella terlihat berseri ketika ia melihat gelang berlian yang kemarin baru saja hilang. Tidak mau tertipu, Bella memeriksa gelang tersebut dengan seksama.


“Apa kau suka?”


“Apa gelang ini milikku?”


“Ya, tentu saja. Kau lupa dengan bentuk gelangmu?”


“Tidak, bentuknya sama. Tapi aku merasa yang ini jauh lebih ringan.” Bella menimbang berat gelang itu dengan tangan.


“Ringan?” Miller mengernyitkan dahi. Ia takut Bella tahu kalau data didalam gelang itu memang telah ia ambil. Padahal ia sudah sedetail mungkin membuat gelang itu agar bentuknya sama seperti semula.


“Miller, bagaimana kau mendapatkan gelang ini? Kau tidak memalsukannya kan?” Bella benar-benar masih curiga dan belum percaya kalau gelang itu miliknya.


“Tentu saja tidak. Hei! apa kau lupa kalau aku seorang polisi? Tugas seperti ini sangatlah mudah bagiku.” Miller melipat kedua tangannya di depan dada. Bella merasa alasan Miller cukup masuk akal. Hingga akhirnya ia tidak mau banyak protes lagi.


“Benarkah?” Bella memasukan gelang itu kembali kekotaknya.


“Bagaimana dengan kalimat yang kau janjikan kemarin?” Miller tidak mau pengorbanannya sia–sia. Pertunangan itu harus di batalkan agar salah paham antara dirinya dan Letty selesai.


“Janji mana?” tanya Bella pura–pura lupa.


Miller segera merebut kotak berisi gelang tersebut. Bella melebarkan matanya dan berusaha mengambil gelang itu kembali. 


“Iya-iya. Apa aku wanita yang buruk hingga kau tidak mau menjadi tunanganku?” Ketika berhasil mendapatkan gelangnya lagi Bella menyimpan gelang itu di balik tubuhnya.


“Kau wanita yang sempurna di mata pria yang tepat.”


“Jika dipandanganmu, aku wanita seperti apa?”


Miller mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


“Manja, lemah, mudah menangis!”


“Miller kau menyebalkan.” Bella membawa gelangnya pergi. Ia tidak lagi peduli dengan Miller yang masih ada di dalam rumahnya. 


“Kita lihat saja. Jika ia tetap menerima gelang itu sebagai miliknya, berarti ia tidak tahu data tersembunyi di dalam gelangnya.” gumam Miller di dalam hati. "Namun ... jika ia protes dan menyangkal kalau gelang itu bukan miliknya itu berarti ia tahu tentang emas tersembunyi tersebut."


Saat ingin naik tangga, Bella menahan langkah kakinya, ia kembali memandang Miller yang masih berdiri di sana.


“Miller, apa kau mau membantuku menjaga gelang ini? Aku takut ada orang yang mencurinya lagi nanti."


“Tentu saja," jawab Miller dengan senyuman.


Bella juga tersenyum manis.” Terima kasih.”


Miller memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan rumah Bella. Namun, baru beberapa meter ia melangkah, tiba-tiba seorang pria berlari dengan tubuh dipenuhi luka. Miller kaget bukan main, begitu dengan Bella yang baru sampai setengah tangga. Wajahnya pucat melihat darah yang ada di sekujur tubuh pria itu.


"Nona, tolong saya," lirih pria itu.


DUARR. Belum sempat pria itu menceritakan apa yang ia alami, tiba-tiba tembakan sudah mendarat di kepala bagian belakang pria itu. Dalam hitungan detik saja pria itu tergeletak di lantai dalam keadaan tidak bernyawa.


“Apa yang terjadi?” teriak Bella dari kejauhan. Baru saja Bella selesai bicara, segerombolan pria muncul di dalam rumah tersebut. Miller melebarkan kedua matanya. Ia mengeluarkan senjata api yang ia bawa. Memandang Bella sekilas sebelum menembak pria besenjata api itu.


“Tapi … Bagaimana denganmu?”


“Cepat bersembunyi, selamatkan dirimu!” teriak Miller lagi.


Duarr Duarr


Suara tembakan yang begitu memekakkan telinga, membuat Bella semakin ketakutan. Wanita itu segera berlari ke lantai atas rumahnya. Sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan Miller. Tapi, mau bagaimana lagi. Miller juga yang memintanya untuk bersembunyi.


“Siapa mereka? Kenapa mereka menyerangku? Apa yang mereka inginkan?” Kini pikiran Bella dipenuhi seribu tanya dan kekhawatiran. Ia benar tidak tahu harus bagaimana.


Bella terus berlari dengan wajah pucat. Adu tembak dilantai satu terdengar sangat jelas. Seolah–olah peluru itu mengejarnya yang kini berlari. Bella masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia tidak tahu harus bersembunyi di mana. Selama ini belum pernah ada perampok atau penjahat jenis apapun yang berani menyerang rumahnya. Bella percaya kalau pengawal bayaran miliknya pati bisa memberikan keamanan bagi dirinya. Kalau mereka tidak bisa, Bella juga bisa meminta bantuan polisi.


“Apa yang harus aku lakukan?” Bella terlihat kebingungan didalam kamarnya. Ia berjalan mondar-mandir tanpa tahu harus melakukan apa.


“Apa aku telepon polisi saja?” Bella berlari ke arah kasur. Saat tangannya ingin meraih telepon di atas nakas, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Bella memutar tubuhnya dan memandang seorang wanita berdiri di sana. Dengan pakaian ketat dan otot yang kuat, wanita itu justru terlihat seperti seorang pria.


“Siapa kau? Apa yang kau inginkan?” tanya Bella semakin ketakutan.

__ADS_1


“Serahkan gelang itu!” Bentaknya dengan wajah sangar. Bella memandang kotak di tangannya sebelum menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


“Tidak ada! Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan kecuali gelang ini!”


Wanita itu terlihat kesal dengan perkataan dan tingkah laku yang di lakukan oleh Bella, wanita bertubuh kekar itu berlari untuk merebut paksa gelang itu. Bella berlari ke sudut ruangan. Ia tidak tahu lagi harus kabur kemana lagi saat ini.


Hingga terdengar pecahan kaca. Seseorang sengaja memecah kaca jendela kamar. Bella memandang ke arah gorden yang bergerak. Tidak bisa di bayangkan apa jadinya kalau yang muncul adalah musuh baru. Saat gorden terbuka, ternyata Letty yang muncul di sana. Samar-samar Bella berusaha mengingat tentang Letty. Tanpa banyak kata, Letty menyerang wanita bertubuh kekar yang ada di kamar Bella. Dua wanita tangguh itu akhirnya bergulat di dalam kamar Bella. Sedangkan secara diam-diam Bella kabur dari dalam kamar itu untuk menyelamatkan gelang miliknya.


"Aku tidak akan membiarkan gelang ini hilang lagi. Aku tidak mau jatuh miskin." Saat ingin berlari meninggalkan kamar, tiba-tiba wanita yang tadi ingin merebut gelangnya terpental dan tergeletak di hadapannya. Bella menahan langkah kakinya karena tidak memiliki jalan untuk kabur. Ia memandang Letty yang terlihat puas karena bisa dengan mudah mengalahkan musuhnya.


"Ayo lawan aku!" Letty seperti sudah tidak sabar untuk menyiksa dan menghabisi musuhnya. Memang Miller tidak sendirian datang ke rumah Bella. Letty dan pasukan Queen Star juga ikut. Maka dari itu Miller terlihat kaget ada musuh yang muncul di rumah Bella. Sebenarnya tadi Miller mengkhawatirkan Letty. Dia takut terjadi sesuatu kepada Letty.


"Apa kau juga ingin merebut gelangku?" tanya Bella kepada Letty. Sebelum membela, Bella ingin memastikan kalau Letty ada dipihaknya.


"Aku tidak tertarik dengan gelang itu," ketus Letty. Masih terlihat jelas wajah tidak sukanya ketika memandang wajah Bella. Ia berjalan mendekati musuhnya untuk menghajar wanita tangguh itu lagi.


Bella tersenyum bahagia. Setidaknya kini ada orang yang ingin melindunginya. Walau ia belum jelas sebenarnya siapa Letty. Ia tidak ingat kalau pernah bertemu Letty dua kali. Bedanya yang satu di pesta dan memang ramai orang. Pertemuan kedua karena Letty menggunakan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Tanpa banyak kata Letty menghajar wanita itu. Tapi wanita itu juga tidak mau kalah. Ia membalas pukulan Letty walau tenaganya yang ia miliki sudah mulai habis.


"Rasakan ini wanita ******!" Bella terlihat ngeri melihat aksi Letty memukul musuhnya. Seperti ada dendam yang sudah lama tidak tersampaikan.


"Wanita ini benar-benar mengerikan. Jangan sampai aku punya masalah dengannya. Satu hentakan saja tubuhku bisa remuk. Tulang dan dagingku bisa dicincang olehnya," gumam Bella di dalam hati.


Beberapa pria kembali muncul. Bella melangkah mundur karena takut. Letty yang masih asyik menghajar wanita itu tidak menyadari kedatangan pria tangguh tersebut. Bella yang melihat pria itu menodongkan senjata segera berteriak.


"Awas!"


Letty segera menghindar ketika peluru tersebut meluncur. Hingga akhirnya peluru itu salah sasaran dan menewaskan rekan mereka sendiri. Letty segera berdiri untuk menghajar dua pria yang baru datang. Walau begitu, ia juga tidak membiarkan satu orang pun mendekati Bella. Sebisa mungkin Letty ingin melindungi Bella agar tetap baik-baik saja.


"Pukul mereka. Bila perlu bunuh saja. Tendang bagian produksinya!" sorak Bella yang sudah seperti penonton. Letty mengeryitkan dahi ketika tidak paham dengan apa yang dikatakan Bella.


"Bagian produksinya?"


Bella mengangguk dengan wajah manisnya. Ia menunjuk ke arah bawah perut yang dimiliki setiap pria. Ketika Letty mulai memahami apa yang dimaksud Bella, ia hanya mengangguk pelan. Namun, dalam sekejap saja Letty benar-benar melakukan apa yang di katakan Bella.


Pria itu merasakan sakit yang luar biasa. Letty merasa senang karena kini ia mengetahui kelemahan pria lagi. "Lebih baik mati daripada hidup bukan?" ujar Letty sebelum menusuk belati yang ia bawa.


Bella menutup wajahnya ketika melihat darah di mana-mana. Kamar yang selai bersih dan wangi itu kini dipenuhi darah di mana-mana. Bukan hanya itu saja. Kamar itu juga tercium bau amis yang tidak mengenakkan. Bella merasa mual hingga akhirnya lari ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk bersembunyi di kamar mandi saja daripada harus melihat adegan pembunuhan itu.

__ADS_1


Letty melirik Bella sekilas sebelum menghajar pria itu lagi. "Lucu juga. Menarik!"


__ADS_2