Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 92


__ADS_3


Letty keluar dari kamar hotel dengan jaket cokelat di tubuhnya. Wajahnya terlihat tenang. Sepertinya ia sudah melupakan yang terjadi tadi malam. Wajah galaknya sudah terlihat jelas di sana. Ia seperti Letty yang siap melahap pria yang berani mengusik ketenangannya. Sesekali terdengar lagu merdu yang keluar dari mulut Letty. Langkahnya terhenti ketika melihat Miller sudah ada di depan sana. Pria itu sudah rapi dengan kaos hitam melekat di tubuhnya. Letty memutar bola matanya karena tidak tertarik dan berjalan pergi tanpa menghiraukan Miller.


"Kita harus bicara." Miller segera menggenggam tangan Letty. Ia tidak mau berpisah dengan Letty namun memiliki kesan buruk seperti ini.


"Katakan saja." Letty menghempaskan tangan Miller dan melipat kedua tangannya di depan dada. Sedikitpun ia tidak tertarik memandang wajah Miller secara langsung.


"Aku tidak tahu kalau Bella akan melakukan itu. Aku tidak terlalu dekat dengannya selama ini."


"Aku tidak peduli, Miller. Itu urusanmu!" Letty berjalan pergi. Ia tidak mau mendengar penjelasan apapun yang dikatakan Miller.


"Letty, maafkan aku!" teriak Miller. Namun Letty hanya melambaikan tangannya di udara dan masuk ke dalam lift. Wanita itu ingin melupakan apa yang terjadi. Ia tidak suka larut dalam sakit hati apa lagi karena pria.


"Kenapa susah sekali membujuknya." Miller menghela napas kecewa. Ia sendiri harus pulang untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertunda. Miller juga ingin bertemu dengan Sonia dan membahas masalah ini secara langsung di sana.


Di dalam lift Letty memandang pantulan wajahnya. Ia terlihat muram. Memang seperti itu ekspresi wajahnya selama ini. Namun, kali ini wajah muram itu karena ulah seseorang.


"Tidak semua pria baik," gumam Letty kecewa. Ia bersandar dan mengatur napasnya. Membayangkan sikap Jordan dan Oliver yang berubah romantis setelah jatuh cinta memang terkadang membuatnya iri. Sangat sulit mencari pria seperti mereka saat ini.


Bersenang-senang dengan Queen Star adalah tujuan utama Letty saat ini. Hanya geng mafianya itu yang bisa membuatnya merasa bahagia. Bukan karena pekerjaan mereka yang suka menganiaya orang lain. Namun terkadang merasakan hidup yang bebas tanpa aturan membuat Letty merasa nyaman.


Lift terbuka dengan cepat. Letty segera berjalan ke arah mobilnya yang terparkir. Lokasinya sunyi hingga membuat Letty sedikit waspada.


Letty masuk ke dalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Ia kembali ingat kebodohannya ketika ingin menemani Miller datang ke pesta.

__ADS_1


"Hal itu tidak akan terulang lagi." Letty melajukan mobilnya meninggalkan hotel. Bukan hanya hotel saja, tapi wanita itu akan meninggalkan Dan Fransisco dan menetap di negara lain untuk bersenang-senang. Tamu undangan yang lain juga sudah pada pulang. Tidak ada lagi yang akan tersisa di Dan Fransisco selain tuan rumah.


***


Di dalam pesawat Aleo memandang Tamara yang kini sedang membaca buku. Pria itu tersenyum mengagumi kecantikan sang kekasih.


"Pantas saja kau jadi dokter. Selain cantik, kau juga sangat suka membaca. Pasti pasienmu sangat suka sakit agar bisa bertemu dengan mu setiap hari."


Tamara menurunkan bukunya yang sejak tadi menutupi wajah. Ia tersenyum malu ketika mendengar godaan yang dikatakan Aleo.


"Apa lagi yang harus aku lakukan? Perjalanannya sangat membosankan."


Aleo mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku tidak merasa bosan sama sekali. Di hadapanku ada wanita cantik jadi bagaimana bisa aku bosan. Justru aku ingin lebih lama lagi ada di dalam pesawat ini."


"Kak Aleo, sejak kapan kakak pandai merayu seperti ini?"


Tamara tertawa geli mendengar cerita Aleo. "Oke Oke. Alasan di terima. Kebetulan sekali kalau selama ini belum ada pria yang berani menggodaku."


"Benarkah?"


Tamara mengangguk. "Aku sibuk bekerja hingga tidak sempat memikirkan soal ... pacaran." Tamara menyelipkan rambutnya. Hal itu membuatnya terlihat semakin cantik.


"Tamara, jika suatu saat nanti aku melakukan kesalahan. Jangan langsung tinggalkan aku, tapi tanya dulu alasanku melakukan hal itu." Wajah Aleo terlihat serius hingga membuat Tamara juga berwajah serius.


"Aku selalu berpikir. Ketika nanti aku dekat dengan wanita apa aku bisa memperlakukannya dengan baik. Apa aku bisa membahagiakannya?"

__ADS_1


"Kenapa Kak Aleo memiliki pemikiran seperti itu?"


"Saat kedua orang tuaku mempercayaiku menjaga Leona, aku justru gagal menjaganya. Ia sempat terjerumus ke dunia yang begitu menyeramkan. Saat itu aku menyesal. Bahkan memandang diriku sendiri saja di cermin aku tidak berani. Sebagai seorang kakak aku merasa-"


"Semua sudah berlalu." Tamara memegang tangan Aleo agar pria itu kembali tenang.


"Walau jalan itu terkesan buruk, tapi itu jalannya bertemu dengan jodohnya. Kak Aleo tidak perlu merasa bersalah."


"Ya. Memang seiring berjalannya waktu aku tidak lagi menyalahkan diriku."


Di sisi lain, Serena dan Anna terlihat bahagia dengan hubungan yang kini dijalani anak-anak mereka. Namun, masih ada rasa bersalah di dalam hati Serena karena pernah membawa Clara ke dalam kehidupan Aleo.


"Anna, mungkin kau pernah mendengar tentang Clara. Saat itu aku tidak pernah berpikir kalau anak kita akan berjodoh. Maafkan aku."


"Tidak, Nona. Anda tidak salah. Memang sudah sepantasnya Anda mencarikan jodoh untuk Aleo. Saya dan Tamara tidak pernah menyalahkan Anda. Justru kami merasa tidak enak dengan Clara. Kalau saja Tamara tidak muncul mungkin Aleo dan Clara ...."


"Jodoh tidak bisa kita atur. Hanya hati yang bisa menentukan kepada siapa ia mau berlabuh. Jika saja Aleo memilih Clara, saya juga tidak bisa memaksanya mencintai Tamara. Tapi sepertinya pilihan kami sama. Kami akan membuat Tamara bahagia."


"Terima kasih, Nona. Selama ini Tamara jarang memikirkan dirinya sendiri. Ia hanya memikirkan keselamatan pasiennya. Sejak bertemu dengan Aleo ia mulai memikirkan tentang dirinya. Seperti menjaga kesehatannya dan perawatan wajahnya."


Serena tertawa bahagia. "Apa semua wanita yang sedang jatuh cinta selalu begitu?"


"Entahlah Nona. Saya juga pernah seperti itu dulu. Tamara memiliki sifat yang sama seperti Tama. Mungkin jika dia menjadi wanita galak seperti saya Aleo tidak akan mungkin jatuh hati padanya."


"Belum tentu. Ada beberapa pria yang justru merasa tertantang mendapatkan wanita galak."

__ADS_1


"Benarkah?"


Anna dan Serena tertawa bersama-sama hingga memenuhi pesawat tersebut. Sedangkan para pria lebih memilih tidur karena lelah memanjakan istri mereka tadi malam. Bagaimana tidak, ternyata adegan kusuk mengusuk itu tidak hanya dilakukan oleh Lukas saja. Tapi semua pria beristri yang istrinya kelelahan karena menari di pinggiran pantai. Walau usia sudah tidak muda lagi tidak sedikitpun mengurangi rasa cinta mereka terhadap sang kekasih.


__ADS_2