
"Aku mengambil ini." Zean menunjukkan ponsel yang kini ada di tangannya.
Clara melihat ponsel di tangan Zean dengan wajah tidak percaya. "Kau mengintipku!" Kedua nata Clara melebar. Ia menutup bagian dadanya dengan tangan.
"Apa untungnya aku mengintipmu!" Zean kesal karena lagi-lagi Clara menuduhnya tanpa bukti yang jelas. Padahal dia masuk karena memang ingin mengambil ponselnya. Tidak ada sedikitpun niat untuk mengganggu apa lagi menggoda Clara.
"Tentu saja banyak! Kau terpesona dengan kecantikanku!" ujar Clara dengan penuh percaya diri. Karena selama ini ia selalu di kejar dan dikagumi, maka dari itu Clara bersikap sombong seperti itu.
Padahal Zean berbeda dari pria yang selama ini ia temui. Zean bukan tipe pria yang langsung tertarik dengan wanita cantik. Karena tidak tahu mau menjawab apa dan ingin menghindari perdebatan, Zean memutuskan untuk meninggalkan Clara sendiri di dalam mobil. Ia sempat kaget ketika melihat Clara menangis tadi sambil memejamkan mata. Namun, masih memandang beberapa menit saja Clara sudah bangun dan menuduhnya yang bukan-bukan. Hingga akhirnya rasa simpatik itu berubah menjadi rasa kesal.
"Aku tidak suka wanita cengeng!" Zean membanting pintu mobil dan keluar dari sana. Perkataan Zean membuat Clara melebarkan kedua matanya. Ia terlihat tidak terima hingga akhirnya mengikuti Zean keluar dari mobil. Rasa kantuknya telah hilang.
"Apa maksudmu? Siapa yang menangis?" teriak Clara tidak terima. Walau masih ada batang bukti di pipinya. Pipi wanita itu masih basah atas air mata yang ia keluarkan akibat mengenang masa lalunya dengan Aleo.
"Percuma saja kau berbohong, aku tahu kapan seorang wanita menangis karena sedih dan kapan dia sedang menangis karena bahagia," jawab Zean apa adanya. Walau hanya sekali, tapi tangisan menyedihkan Leona mengiang hingga sekarang. Tidak mudah untuk dilupakan begitu saja.
"Ternyata Anda pria yang hebat. Sepertinya Anda pernah membuat wanita menangis ya," ujar Clara asal saja.
Kali ini Zean yang menahan langkah kakinya. Ia memutar tubuhnya untuk memandang Clara. Tiba-tiba saja wanita itu sudah berdiri di hadapannya dengan tangan di pinggang.
"Kenapa? Kau marah? Atau jangan-jangan tebakanku benar." Clara semakin yakin kalau tuduhannya benar. Namun, ia tidak akan menyangka dengan jawaban yang akan dikatakan oleh Zean.
"Ya, tebakanmu benar. Aku pernah membuat wanita yang aku cintai menangis," jawab Zean dengan suara pilu. Seolah-olah rasa bersalahnya terhadap Leona muncul kembali dan membuat penyesalan di sana.
__ADS_1
Clara tidak tahu harus menjawab apa. Ia mengerjapkan matanya sambil memikirkan alasan selanjutnya. Sambil memandang pohon yang mengelilingi mereka saat ini. "Aku tidak menyangka kalau dia mau menjawab jujur seperti ini. Kalau dia jujur seperti ini, jadinya aku yang bingung harus berkata apa," gumam Clara di dalam hati.
"Kenapa?" tanya Clara dengan suara pelan. Bahkan nyaris tidak terdengar. Ada sedikit rasa takut di sana. Ia tahu segala hal yang menyinggung perasaan akan menjadi hal yang sensitif.
"Karena aku sangat mencintainya!" jawab Zean dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan. Pria itu tidak mau menyalahkan Clara karena sudah mengingatkannya dengan kesalahan yang pernah ia perbuat.
Clara menggeleng pelan. Ia masih belum paham dengan jawaban Zean. "Kau membuatnya menangis karena kau sangat mencintainya? Bagaimana bisa? Jika kau mencintainya, kau akan membuatnya bahagia." Clara yang merasa sudah salah jalan tetap saja kepo. Ia ingin tahu sebenarnya bagaimana kisah percintaan pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Cinta tidak harus memiliki. Jadi, jangan tanyakan kenapa aku harus melakukan hal itu."
Zean pergi meninggalkan Clara. Sedangkan Clara berdiri mematung di tempatnya. Ia tahu sekarang, kalau Zean memiliki kisah cinta yang sama dengannya. Merelakan orang yang di sayangi bahagia dengan yang lain.
"Ternyata pria yang terlihat dingin bisa mengalami kisah cinta yang menyakitkan," gumam Clara di dalam hati. Ia terus saja memandang kepergian Zean. Pria itu kembali pada tempatnya yang tadi. Ia duduk sambil mengotak ngatik ponselnya. Walau mustahil tapi Zean berharap pasukannya datang untuk membantu.
Clara memakai jaket yang sejak tadi ia peluk. Tubuhnya sudah mengigil ketika kabut pagi mulai menyelimuti.
Clara sengaja berbasa-basi agar pria dingin di dekatnya bisa di ajak ngobrol. Zean meletakkan ponselnya. Ia memandang wajah Clara sekilas sebelum menghela napas.
"Aku mencintai Kak Aleo. Majikan lama mu, kau pasti tahu. Sayangnya dia mencintai Tamara. Dokter cantik yang memang menurutku pantas mendampingi Aleo. Tadinya aku ingin merebutnya saja. Menggunakan segala cara agar bisa memenangkan hati Kak Aleo. Aku tahu harta yang aku miliki bisa dengan mudah membuat Tamara jelek di mata Kak Aleo. Tapi, itu sama saja cinta yang salah. Aku tidak mau menjalani cinta yang salah."
Zean tersenyum. Awalnya ia mengira Clara wanita yang sombong. Tapi ketika ia tahu kalau Clara memiliki hati yang lapang untuk melepaskan Aleo, ia kagum. Bahkan dirinya merasa sulit melepaskan Leona dulunya.
"Kau wanita kaya yang cantik. Pasti bisa dengan cepat mendapatkan pria yang cocok denganmu."
__ADS_1
"Tidak. Sejak Kak Aleo menolakku, aku memutuskan untuk tidak mengenal pria lagi. Aku takut sakit." Clara memegang dadanya dan menunduk.
Zean mengeryitkan dahi. Ia menepuk batu yang ada di sampingnya. Zean meminta Clara duduk di sampingnya.
"Ada apa?"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Clara hanya menurut saja. Ia duduk di samping Zean. "Apa yang ingin kau tunjukkan. Aku tahu kau tidak akan berbuat aneh-aneh padaku."
"Lihatlah benda ini." Zean menunjukkan sebuah peluru di hadapan Clara.
"Aku sudah melihatnya sejak tadi. Lalu, apa hubungannya peluru ini dengan hidupku?"
"Dia bisa melindungi bisa juga mencelakai. Semua keputusan itu ada di sini." Zean menunjuk pistol di tangan kanannya.
"Jika kau memilih melukai, sampai kapanpun akan terus melukai. Jika kau memilih melindungi, sampai kapanpun kau harus melindungi. Sayangnya hidup kita tidak sesempurna itu. Pertama kita mencelakai, kedua kita melindungi. Itu sangat sakit. Clara, keputusan yang kau ambil sudah tepat. Kau adalah orang baik."
"Bagaimana denganmu? Kau bukan orang baik?"
"Aku bukan orang baik. Aku tidak bisa melindungi."
Clara menggeleng pelan. "Kau pria yang baik juga, Zean. Aku yakin itu."
__ADS_1
"Clara, jangan terlalu percaya sama orang asing yang baru kau temui. Kau bisa menyesal nanti."
Clara hanya diam sejenak sebelum tertawa. Ia memukul lengan Zean layaknya teman yang sudah lama kenal. "Kaua sangat pandai bercanda, Zean. Kau memang pria baik," puji Clara dengan tawa bahagia. Seolah-olah tidak ada masalah di sana.