Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Tetes Air Mata


__ADS_3

Jordan menghentikan langkah kakinya ketika tiba di sebuah ruangan berukuran luas. Setelah pasukan Gold Dragon tiba, pria itu tidak lagi mengalami kesulitan untuk masuk ke dalam rumah besar yang mereka pikir menjadi tempat persembunyian musuh yang menculik Katterine.


"Sepertinya rumah ini baru saja di tinggal oleh penghuninya," ucap Oliver sambil memandang gelas yang masih berisi minuman beralkohol.


Jordan memandang ke arah tangga. Pria itu mengamati keadaan sekitar sambil menunggu pasukan Gold Dragon selesai memeriksa isi di dalam rumah.


Walau kini hatinya sedang di selimuti kesedihan, tapi Jordan berusaha tegar. Pria itu berusaha fokus dalam misi penyelamatan adik kandungnya.


"Rumah ini baru saja di tinggal. Itu berarti, mereka belum lama pergi," ucap Jordan mengambil kesimpulan.


Oliver dan Jordan saling memandang satu sama lain dengan pemikiran yang sama. Dalam hitungan detik saja, Jordan melebarkan kedua matanya dan merasa sesuatu yang aneh dengan rumah yang kini mereka kunjungi.


"Semuanya keluar!" teriak Jordan dengan begitu keras. Pria itu juga berlari kencang menuju ke arah pintu. Jordan berlari sekencang mungkin agar bisa terhindar dari bahaya.


Seluruh pasukan Gold Dragon juga bersiap siaga menyelamatkan diri. Sebagian yang ada di lantai dua lebih memilih lompat dari jendela agar bisa cepat tiba di luar rumah dan selamat dari bahaya.


Sesuai dengan apa yang di pikirkan Jordan. Tidak lama setelah ia tiba di depan rumah terdengar suara ledakan yang luar biasa.


Rumah yang tadi mereka masuki hanya sebuah tipuan dan jebakan saja. Sebenarnya musuh mereka tidak ada di dalam. Begitu juga dengan Katterine.


Oliver, Jordan dan yang lainnya tiarap agar tidak terkena ledakan yang terasa begitu panas. Oliver segera berdiri dan memandang ke arah jalan yang berkelok di bawah. Sebuah mobil hitam sedang melaju kencang di bawah sana menuju ke arah kota.

__ADS_1


"Apa mereka pikir bisa dengan mudah kabur dariku!" umpat Oliver dengan gigi geram. 


Jordan berlari ke arah mobil setelah beberapa menit menyelamatkan diri dari ledakan. Sedangkan Oliver, pria itu lebih memilih mengambil tali.


Jordan menghentikan langkah kakinya dan menatap wajah Oliver dengan saksama. "Apa yang mau kau lakukan?"


"Kita tidak akan bisa mengejar mereka dengan mobil. Jalanan ini sangat curam. Jika kita melaju dengan kencang, itu hanya akan mengancam nyawa kita," ucap Oliver sambil mengikat pinggangnya dengan tali. Pria itu mengincar tebing yang curam agar bisa segera tiba di bawah bukit untuk menghentikan dua mobil yang ia sangka ada Katterine di salah satu mobil tersebut.


Jordan mengangguk setuju. "Aku ikut!"


Oliver mengukir senyuman kecil. Pria itu mengambil tali dan memberikannya kepada Jordan. "Hati-hati Pangeran."


Jorda dan Oliver melompat secara bersamaan. Dua pria itu terlihat ahli dalam menjejaki kaki di tebing yang begitu curam. 


***


"Jordan …," lirih Leona lagi. 


Sudah berulang kali Leona menyebut nama Jordan namun tidak juga membuka mata. Semua orang yang ada di rumah sakit terlihat kebingungan. Bahkan mereka juga sempat kesal karena Jordan menghilang tanpa kabar bahkan Zeroun juga tidak bisa di hubungi.


"Kwan, apa kau sudah mendapat kabar dari Jordan?" tanya Shabira dengan wajah panik. Wanita itu menatap wajah putra semata wayangnya dengan penuh harap.

__ADS_1


Kwan menggeleng pelan. "Belum, Ma."


Serena mengusap lembut rambut putri tercintanya dengan mata berkaca-kaca. "Mungkin Jordan memiliki masalah. Aku merasa … sesuatu terjadi pada mereka," tebak Serena asal saja. Tidak tahu kenapa, sejak tadi ia merasa tidak tenang. Serena merasa kalau Zeroun dan keluarganya dalam bahaya. Hanya saja, Serena tidak ingin mengatakannya kepada semua orang. Ia tidak ingin membuat semua orang khawatir dan menjadi kepikiran.


Shabira menghela napas. Di ikuti dengan Daniel dan yang lainnya. Semua yang dikatakan Serena ada benarnya. Maka dari itu, mereka tidak ingin berburuk sangka kepada Jordan yang kini tiba-tiba saja menghilang.


Suara pintu terbuka secara tiba-tiba. Tama muncul dari pintu tersebut dengan wajah paniknya. "Gawat!" ucapnya dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Daniel sambil mengeryitkan dahi.


Tama tidak ingin mengatakan apapun. Pria itu berjalan mengambil remot televisi dan menghidupkan televisinya. Ia juga menambah volumenya agar semua orang bisa mendengar berita terbaru itu.


Bukan hanya Serena saja yang kaget. Semua orang yang ada di dalam ruangan Leona terlihat syok dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Mereka menggeleng dengan wajah tidak percaya.


"Kak Zeroun," lirih Shabira dengan wajah khawatir. Wanita itu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Zeroun. Ia merasa takut ketika melihat berita tentang musibah yang di alami kota Cambridge.


"Daniel …," ucap Serena dengan wajah tidak kalah panik dari Shabira.


"Sayang, kita akan mengirim orang untuk menyelidiki semua ini. Tenanglah," ucap Daniel agar Serena kembali tenang. Pria itu tidak ingin istri tercintanya jatuh sakit karena mendapat kabar buruk seperti ini.


Sedangkan Leona. Wanita itu mulai meneteskan air mata. Tanpa ada yang mengetahuinya, buliran air mata milik Leona telah terjatuh. Wanita itu merasa sedih ketika mendengar kabar buruk yang baru saja di tayangkan di televisi. hanya saja, semua yang ingin ia lakukan tidak berhasil ia lakukan. Leona koma.

__ADS_1


__ADS_2