Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Hukuman Zean


__ADS_3


Leona duduk di pinggiran gedung yang berada tidak jauh dari gedung Zean. Wanita itu menggoyang-goyangkan kedua kakinya sambil tertawa bahagia. Seperti sedang menonton drama kartun di televisi. Di hadapannya, ada asap gelap yang dipenuhi dengan api yang marak dan sangat panas. Asap dan api itu berasal dari gedung mewah milik Zean Wick.


Seluruh karyawan gedung tersebut terlihat berlarian dengan wajah ketakutan. Leona cukup bahagia melihat pemandangan seperti itu. Ia mengambil minuman kaleng yang ada di sampingnya dan meneguknya lagi.


“Ini masih permulaan. Kau akan lebih kaget lagi ketika mendapatkan hadiahku yang lainnya nanti,” ucap Leona dengan tawa bahagia. Wanita itu meneguk minumannya dengan wajah bahagia.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mendekat dengan Leona. Wanita itu meletakkan minuman kaleng yang sempat ia genggam dengan hati-hati. Ia mengatur napasnya agar terlihat tetap tenang. Gedung itu cukup tinggi. Leona tidak bisa sembarangan saja bergerak jika tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Secara perlahan, Leona memutar tubuhnya. Wanita itu melihat wajah Jordan yang sedang berdiri dengan santai. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Ia juga terlihat menikmati pemandangan indah yang kini tersaji di depan matanya.



“Asap gelap ini menutupi pemandangan. Jika asap ini tidak ada, maka pemandangan dari sini terlihat sangat indah,” ucap Jordan tanpa mau memandang wajah Leona.


Leona menatap wajah Jordan dengan saksama sebelum beranjak dari tepian gedung tersebut. Ia tidak tertarik untuk berbincang dengan Jordan. Sejak sakit hati dengan Zean. Leona memang menghindari pria. Ia tidak mau mengenal pria lagi. Apa lagi membuka hati untuk pria.

__ADS_1


Dengan langkah yang sangat tenang. Leona berjalan pergi meninggalkan gedung tersebut. Ia tidak mau memandang wajah Jordan. Bahkan untuk mengeluarkan kata saja ia terlihat tidak tertarik.


“Leona, kau wanita yang sangat sombong dan angkuh!” ujar Jordan dengan alis saling bertaut. Sudah cukup lelah Jordan berusaha mendekati Leona. Wanita pertama yang membuatnya sangat penasaran. Tapi, sejauh ini. Tidak ada sedikitpun respon baik yang diberikan Leona kepada dirinya. Leona tetap saja menghindari dan memasang wajah tidak peduli saat berada di dekat Jordan.


Leona menghentikan langkah kakinya. Wanita itu menatap wajah Jordan dengan tatapan yang sangat tajam. “Ini peringatan terakhir bagimu. Jangan ikuti aku apa lagi muncul di hadapanku!” ucap Leona penuh peringatan.


Jordan menghela napas. Pria itu mengukir senyuman kecil dengan sorot mata yang sangat tajam. Ia menatap wajah Leona dan berjalan mendekat. “Apa kau begitu hebat hingga tidak boleh aku temui?” tanya Jordan sambil terus berjalan.


Leona memundurkan langkah kakinya. Bisa saja detik ini ia membunuh Jordan atau menembak pria itu. Tapi, bukan seperti itu prinsip hidup Leona. Pria yang kini ada di hadapannya bukan target yang harus ia bunuh. Bukan juga musuh yang harus ia habiskan. Leona menganggap Jordan hanya sebagai pria iseng yang tidak punya kerjaan hingga terus-terusan mengikutinya kemanapun pergi.


“Apa tujuanmu mengikutiku?” ucap Leona masih dengan kaki yang terus melangkah mundur ke pinggiran gedung.


“Apa untungnya padaku?” tanya Leona lagi. Wanita it uterus saja melangkah mundur tanpa sadar dengan tepian gedung yang sudah sangat dekat dengan dirinya. Langkahnya terhenti setelah Leona merasakan embusan angin semakin kencang menerpa tubuhnya. Bahkan rambutnya berserak hingga menutupi wajah.


“Oliver. Panggil namaku dengan sebutan Oliver,” ucap Jordan sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Leona. Pria itu terlihat sangat bahagia bisa memegang rambut lembut Leona dengan begitu bebas.


Leona menangkis tangan Jordan saat pria itu ingin menyelipkannya di balik telinga. Dengan gerakan cepat, Leona memutar tubuhnya dan mengangkat satu kakinya. Wanita itu siap untuk bertarung dengan pria asing yang sudah kurang ajar terhadap bagian tubuhnya.

__ADS_1


Jordan masih tetap terlihat tenang. Pria itu menghindar dari serangan Leona. Ia juga memasang wajah yang sangat waspada agar Leona tidak terpeleset dan terjatuh dari gedung tersebut. Mereka berdua saat ini ada di tepian gedung. Satu lokasi yang sangat buruk jika dijadikan sebagai arena bertarung.


Leona tidak menyerah ketika pukulannya tidak tepat sasaran. Wanita itu kembali melakukan penyerangan. High Heelsnya yang runcing seakan mengunci dan melekat pas di permukaan lantai yang ia pijak. Walau posisinya sudah di pinggiran, tapi Leona tetap berhasil mengatur keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Jordan menangkis tangan Leona dengan wajah yang sangat tenang. Baginya, pukulan Leona belum ada apa-apanya. Selama ini, latihan yang diberikan Zeroun kepada dirinya sudah luar biasa hebatnya. Teknik bela diri seperti Leona tentu saja sangat mudah untuk ia kalahkan.


Leona menghentikan gerakannya saat segala pukulan yang ia berikan tidak ada yang berhasil menyentuh tubuh Jordan. Wanita itu mengatur napasnya yang terputus-putus sambil menatap tajam wajah Jordan.



“Oliver!” teriak Leona dengan suara yang lantang dan tegas.


Jordan mengukir senyuman. “Gadis yang pintar,” jawab Jordan dengan wajah berseri. Pria itu menyingkir dan memberikan jalan kepada Leona untuk pergi. “Silahkan, Nona.”


Leona menggertakkan giginya dengan kedua tangan terkepal kuat. Wanita itu melangkah pergi dengan langkah kaki yang gusar. Ia merasa dipermalukan oleh pria asing yang kini ada di hadapannya. Ingin sekali ia memukul dan mengalahkan Jordan detik itu juga. Tapi, tidak tahu kenapa. Ia tidak berhasil.


Jordan memutar tubuhnya dan menatap punggung Leona yang sudah semakin menjauh. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada. “Seandainya saat ini aku tidak dalam kondisi bersembunyi. Ingin sekali aku mendengar suaramu yang merdu itu memanggil namaku. Jordan Zein,” ucap Jordan pelan dengan tawa kecil di bibirnya.

__ADS_1


Leona menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang wajah Jordan lagi. Ia mengamatinya dengan penuh selidik. Setelah puas mengingat wajah Jordan. Leona masuk ke dalam tangga. Wanita itu ingin turun dan pergi meninggalkan atap gedung tersebut. Walau momen bahagianya harus terganggu karena kemunculan Jordan. Tapi, Leona bahagia karena sudah berhasil meratakan gedung mewah dan megah milik Zean Wick dengan tanah.


Sudah bisa di bayangkan di dalam ingatan Leona bagaimana wajah paniknya Zean saat ini. Bagaimana kesalnya pria  itu karena usaha yang sudah ia bangun dan mencapai puncaknya kini harus mengalami kerugian dengan nominal yang sangat fantastis.


__ADS_2