
Keesokan harinya. Di sebuah gedung yang sangat tinggi, Zean dan pasukannya telah tiba. Mereka sudah menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk membunuh ketua mafia yang selama ini sudah meresahkan hidup mereka.
Zean berdiri di pinggiran gedung dengan kedua tangan di dalam saku. Pria itu menikmati embusan angin yang kini terasa sangat kencang. Pria itu melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih ada waktu sekitar lima menit sebelum target mereka tiba. Zean menggunakan waktu singkat itu untuk menikmati pemandangan kota Meksiko. Pria itu merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata.
“Bos, semua sudah siap. Wanita itu sudah tiba di bawah,” ucap seorang pria berjas hitam yang tiba-tiba muncul di belakang Zean.
Zean membuka matanya. Sorot matanya sangat tajam. Pria itu mengukir senyuman licik sebelum merentangkan tangannya. Ia meminta senjata api yang akan ia gunakan untuk membunuh wanita tersebut. Wanita yang membuat penasaran hingga ia harus turun tangan langsung saat ini.
Pria itu memberikan senjata api laras panjang kepada Zean. Ia membungkuk hormat sebelum mundur dan menjauh. Mereka lebih memilih untuk meninggalkan Zean sendirian di tempat itu dan membidik dari posisi yang lainnya.
Zean memperhatikan senjata api itu dengan saksama sebelum melirik jam yang melingkar di tangannya. Jarum jam itu berlalu di angka hingga menandakan kalau lima menit telah berlalu.
“Ok. Show time. Kau harus tahu, kalau saat seperti ini akan tiba. Jangan pernah bermain-main dengan Zean Wick!” ucap Zean dengan senyuman kecil. Ia mengatur posisinya agar bisa dengan bebas membidik sasarannya yang akan segera tiba di lantai bawah.
Zean membidik dengan gigi saling menggertak. Pria itu sudah tidak sabar untuk membunuh musuh yang selama ini menghancurkan hidupnya secara diam-diam. Menyerang secara diam-diam hingga membuat hidupnya mengalami kerugian besar.
__ADS_1
Beberapa mobil hitam berhenti di pintu masuk sebuah perusahaan. Seorang wanita berpakaian resmi turun dari mobil diikuti dengan beberapa bodyguard di sekelilingnya. Wanita itu di sambut dengan senyum hangat dari pemilik gedung yang ia kunjungi. Senyuman ramah terlihat jelas dari wajah orang-orang yang sedang berkumpul itu.
Zean membidik wanita itu dengan perasaan tidak karuan. Sekilas, ia merasa kenal bahkan sangat dekat dengan wanita berstatus musuhnya itu. Tapi, Zean sendiri tidak tahu. Dimana mereka bertemu dan kapan pertemuan itu terjadi.
“Selamat tinggal!” ucap Zean lagi saat posisinya sudah sangat pas.
Zean menarik pelatuk senjata laras panjangnya secara perlahan. Pria itu sudah tidak sabar melihat pemimpin mafia itu tewas di tempat detik itu juga. Leona mengukir senyuman yang sangat indah. Wanita itu tertawa dengan seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Siang itu Leona mengenakan sebuah syal dan kaca mata hitam untuk menutupi penyamarannya. Ia juga menggunakan masker hingga membuat Zean tidak menyangka. Kalau wanita yang ingin ia tembak mati adalah Leona. Mantan kekasihnya. Wanita yang sampai detik ini masih tersimpan indah di dalam hatinya. Wanitanya. Cinta pertamanya bahkan ingin ia jadikan cinta sejatinya.
Angin bertiup dengan sangat kencang. Syal yang menutupi rambut Leona terbang. Rambut panjang wanita itu tergerai dengan indah. Zean semakin bersemangat untuk menembak Leona siang itu. Namun, dalam hitungan detik saja. Langkahnya terhenti.
Dari kejauhan, Leona membuka kaca mata hitam dan masker yang ia gunakan untuk menutupi penyamarannya. Wanita itu tertawa dengan begitu indah. Sepertinya ia sangat bahagia dengan rekan bisnis yang ada di hadapannya. Wanita itu bahkan menutup mulutnya dengan tangan ketika tawanya tidak bisa di kondisikan lagi.
Hanya ada rasa kecewa dan sakit hati yang kini memenuhi perasaannya. Napasnya sesak. Zean menggertakkan giginya sebelum mengatur napasnya yang berubah sesak.
“Leona, kau wanita itu? Kau pemimpin mafia saat ini? Kau wanita kejam yang tidak memiliki hati itu?” gumam Zean dengan wajah tidak percaya. Sebelah matanya yang kini masih membidik Leona tidak lagi bisa berkedip. Ada genangan air mata di kedua matanya yang mulai terasa perih.
__ADS_1
Zean tidak menyangka. Kalau Leona adalah wanita yang selama ini banyak dibicarakan oleh dunia gelap. Wanita pembunuh misterius yang tidak pernah terlacak identitasnya. Wanita yang memiliki sejuta cara untuk menghabisi lawannya. Wanita yang selalu membunuh tanpa menyentuh. Wanita yang selama ini melukai hanya dengan kedipan mata saja.
“Leona, kenapa kau berubah menjadi jahat seperti ini? Apa semua ini karena aku?” sambung Zean lagi dengan wajah menyesal. Pria itu tidak lagi sanggup untuk melihat wajah Leona. Ia melepas senjata laras panjangnya dan melempar senjata api itu ke belakang tubuhnya. Zean berteriak dengan keras untuk melampiaskan rasa kesal dan sakit hati yang kini ia rasakan.
“Aaaaaa!” teriaknya dengan suara serak hingga memenuhi seisi gedung sunyi yang kini ia tempati. “Kenapa harus kau Leona? Kenapa? Apa kau sengaja datang ke Meksiko hanya untuk membalaskan rasa sakit hatimu? Lalu apa arti sikap lugumu selama ini? Kau menipuku? Kau ingin menjebakku?” ucap Zean dengan wajah kecewa.
Kali ini ia merasa sangat sakit hati. Ia merasa dikhianati. Semua perasaan yang dulu di rasakan oleh Leona kini telah berhasil berpindah ke dalam perasaan Zean. Bahkan jauh lebih sakit hingga melukai hatinya dan menyisakan rasa perih. Jantungnya seperti di remas dan membuat napasnya sesak hingga Zean merasa di cekik dan dibunuh tanpa di sentuh.
DUARRR DUARRR
Dua peluru menancap di lengan kanan Zean. Pria itu merasakan sakit yang luar biasa. Walau memang sakit luka tembakan itu belum sebanding dengan luka di hatinya saat ini. Beberapa bawahan Zean keluar dari tempat persembunyian dan melayangkan tembakan yang tiada henti. Salah satu dari mereka berlari dan membawa Zean pergi menuju ke mobil. Mereka tidak ingin Zean terluka lebih parah lagi.
Leona mengangkat kepalanya saat mendengar suara tembakan dari gedung yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Wanita itu bersikap waspada sebelum mengajak rekan kerja samanya masuk ke dalam gedung. Walau penasaran, tapi Leona berusaha untuk tetap profesional dengan pekerjaan yang kini ia kerjakan.
“Selidiki!” ucap Leona pelan melalui Handsfree yang ada di telinga kirinya. Wanita itu berjalan dengan langkah yang cepat dan masuk ke dalam gedung.
__ADS_1
Dari sisi gedung lain. Jordan tersenyum kecil. Pria itu yang baru saja melayangkan tembakan ke lengan Zean. Selama ini memang hidup Leona menjadi perhatian utama hidup Jordan. Pria itu tidak akan membiarkan wanita yang ia kagumi celaka apa lagi sampai terluka.
“Wanita ini, semakin hari semakin banyak saja musuhnya,” gumam Jordan sebelum pergi meninggalkan gedung tersebut. Ia sendiri juga tidak mau penyamarannya sampai terbongkar dan diketahui banyak orang.