
Zeroun berdiri di pinggiran jalan. Ia duduk di bagian depan mobilnya. sambil melihat ke arah depan. Wajahnya terlihat sangat tenang. Zeroun kembali membayangkan masa kejayaannya di dunia mafia dulu. Gold Dragon adalah hidupnya.
"Aku tidak menyangka kini semuanya telah berlalu. Waktu memang berputar dengan begitu cepat."
Zeroun memperhatikan cahaya terang yang ada di hadapannya. Beberapa mobil berhenti tepat di hadapannya. Seorang pria turun dari dalam mobil. Sedangkan sisanya bertahan di dalam sana.
Seorang pria berpakaian layaknya preman berjalan mendekati posisi Zeroun berada. Pria itu membungkuk hormat sambil memberikan beberapa lembar foto. Ia terlihat sangat takut dan menghormati Zeroun sebagai atasannya.
"Pangeran Jordan berada di Puerto Rico, Bos. Oliver dan putra Nona Shabira juga ada di sana," ucap pria itu sambil memandang wajah Zeroun.
Zeroun memperhatikan beberapa foto yang kini ada di tangannya. "Hanya mereka bertiga?" tanya Zeroun dengan wajah serius. Ia masih kurang yakin jika putra kesayangannya bersembunyi di tempat terpencil bersama dengan Oliver dan Kwan. Jordan suka menyendiri tanpa mau di ganggu. Termasuk Oliver.
"Tidak, Bos. Ada seorang wanita di sana. Namun, kami tidak bisa mendapatkan fotonya. Pangeran Jordan sangat waspada. Kami tidak ingin ketahuan kalau selama ini mengikutinya" ucap pria itu lagi dengan wajah bersalah.
"Wanita?" tanya Zeroun dengan alis saling bertaut. Zeroun kembali ingat dengan pertanyaan yang pernah ditanyakan Jordan kepada dirinya. Sudut bibirnya tertarik ke samping secara perlahan. "Leona masih hidup. Dia melakukan semua ini untuk menjaga Leona. Sepertinya aku tidak perlu memaksanya untuk pulang. Aku hanya perlu mengetahui strategi apa yang sudah ia siapkan untuk mengalahkan Isabel," gumam Zeroun di dalam hati.
"Bos, ada kabar baru lagi. Nona Shabira dan Nona Serena dalam perjalanan ke London. Sepertinya mereka sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan Anda," ucap pria itu lagi dengan wajah serius.
"Hmm, ya. Soal itu sudah aku pikirkan. Jika memang benar Leona masih hidup, Serena tidak akan mau berdiam diri di rumah. Persiapkan semuanya. Sambut kedatangan mereka dengan baik," perintah Zeroun. Ia mengamati foto putranya dengan wajah bahagia. Walau tidak bisa bertatap muka secara langsung, setidaknya kini ia bisa tahu kalau putranya baik-baik saja.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Bos." Pria itu menundukkan tubuhnya. Ia berjalan pergi meninggalkan Zeroun sendirian di tempat sunyi itu.
Zeroun masih asyik mengamati foto-foto itu. Ia bahkan tidak memperhatikan ke mana perginya mobil-mobil itu. Hingga tidak lama kemudian, Zeroun mengangkat wajahnya. Ia menyimpan foto-foto itu di dalam saku.
"Keluarlah," ucap Zeroun dengan ekspresi dingin favoritnya.
Seorang pria muncul dari balik pohon. Pria itu berjalan mendekati posisi Zeroun berada. "Maafkan saya, Bos."
Zeroun memandang wajah pria itu. Ia menggeleng pelan. "Kau meragukanku ... Lukas?"
Lukas kembali menunduk. "Maafkan saya, Bos," ucap Lukas sekali lagi. Ia benar-benar merasa bersalah karena kini mengikuti Zeroun secara diam-diam seolah sedang mencurigai.
"Oliver sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Jika aku memberimu perintah, itu karena aku menyayanginya. Aku tidak mau dia dalam bahaya. Berbeda dengan Jordan. Aku bisa bebas memarahinya dan memaksanya. Sedangkan kepada Oliver, aku tidak bisa melakukannya sehingga memintamu untuk menyuruh Oliver pulang kemarin," ucap Zeroun dengan jelas agar Lukas dan Lana tidak lagi salah paham dengannya.
"Ya. Maka dari itu aku tidak bisa duduk diam di dalam Istana. Aku ingin memastikan kalau Jordan dan yang lainnya menang dalam pertarungan ini," ucap Zeroun dengan sorot mata yang tajam.
"Bos, apa Anda sudah menemukan caranya?" tanya Lukas dengan wajah yang sangat penasaran.
"Saat ini belum. Mungkin ketika nanti aku bertemu dengan Serena dan Kenzo, aku bisa menemukan cara untuk memenangkan pertarungan ini. Kali ini kita butuh trik bukan sekedar pasukan."
__ADS_1
***
Jerman
"Kau di mana? Kau membohongiku. LAGI!" Miller menggenggam ponselnya dengan erat. Sudah ratusan kali ia berusaha menghubungi Clouse. Namun baru ini panggilannya di angkat.
"Tentu saja tidak," sangkal Clouse tanpa mau mengakui.
"Tidak kau bilang? Kau pasti tahu kalau Leona adalah kakak sepupuku. Oke kami tidak ada hubungan darah. Tapi ibuku dengan kedua orang tua Leona memiliki hubungan baik. Dan semalam Paman Tama. Kau tahu Clouse bagaimana frustasinya aku ketika mendengar kabar kalau Paman Tama sahabat terbaik ibuku!" Miller melampiaskan rasa kesalnya kepada Clouse. Kini ia berada di ruangan pribadinya. Ia sangat yakin kalau tidak ada yang bisa mendengar apa yang dia bicarakan bersama dengan Clouse.
"Itu kebetulan. Aku tidak sengaja," ucap Clouse lagi.
"Lalu, sekarang bagaimana? Mommy memintaku untuk menangkapmu. Bahkan dia tidak mengizinkanku menemui Natalie dan pulang ke rumah jika aku tidak berhasil mengangkapmu!" ucap Miller lagi
"Kenapa kau berubah bodoh seperti ini! Kau bisa menangkap Clouse yang palsu," jawab Clouse santai. Ia berpikir kalau Miller terlalu membesarkan masalah. "Kau pria yang sangat tenang dan tidak pernah panik. Hanya masalah seperti ini saja kau berubah seperti itu."
Miller menggenggam botol minum yang ada di hadapannya. Ia mengatur napasnya dengan teratur. "Clouse. Sebenarnya apa yang sudah kau rencanakan? Apa ini belum berakhir?"
"Bahkan belum di mulai. Bagaimana bisa kau bilang berakhir?" ucap Clouse dengan suara penuh tawa.
__ADS_1
"Kau mencintai Isabel. Tapi kenapa kau mau membalaskan dendamnya hingga seperti ini. Seharusnya kau senang karena mereka tidak jadi menikah. Bukan bertindak seperti ini."
Clouse diam sejenak. Pria itu tidak berani mengucapkan kalimat apapun kepada Miller. Jangan hubungi aku lagi. Aku yang akan menghubungimu nanti."