Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Nevada


__ADS_3

Danau Tahoe


Leona, Jordan dan Oliver sudah tiba di Las Vegas. Mereka akan datang ke resepsi pernikahan Lusya pada malam hari. Siang ini mereka memutuskan untuk menjelajahi keindahan kota Nevada. Kali ini Jordan memilih Danau Tahoe sebagai tempat berlibur dengan Leona. 


Keindahan tempat yang dipilih Jordan memang tidak main-main. Lokasinya terletak di dataran tinggi Sierra Nevada. Sebuah danau dengan air biru dan jernih ini semakin lengkap dengan hamparan pegunungan yang mengelilinginya. Danau ini menjadi tujuan utama setiap wisatawan yang berkunjung ke Las Vegas. Pada musim salju, danau ini juga sering digunakan sebagai tempat untuk hiking dan ski. Angin bertiup dengan kencang hingga membuat pohon pinus yang ada di sekitar lokasi terlihat bergoyang. Melengkapi kesejukan lokasi tersebut.


“Tempat ini sangat indah. Sangat cocok untuk bersantai,” ucap Leona sambil menurunkan kaca mata hitamnya. Ia berjalan ke arah bebatuan yang tersusun acak di pinggiran danau.



Jordan mengikuti Leona dari belakang. Sedangkan Oliver memutuskan untuk menunggu Leona dan Jordan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ia duduk di sebuah kursi untuk menikmati keindahan danau. Tiba-tiba saja wajah Katterine kembali mengiang di dalam ingatannya. Bahkan saat itu, sampai tiba di dalam istana, Katterine dengan manjanya meminta Oliver untuk mengantarkannya ke dalam kamar. Ada rasa bahagia di dalam hati Oliver setiap kali membayangkan kejadian itu. Padahal selama ini setiap kali Katterine bersikap manja seperti kepadanya, Oliver terlihat biasa saja.


Dari kejauhan, Leona memperhatikan Oliver yang sedang senyum-senyum sendiri. Pria yang dingin seperti Oliver tentu saja setiap kali dia tersenyum akan menyimpan tanda tanya. 


“Baby girl, apa yang kau lihat?” tanya Jordan ketika melihat Leona hanya mematung sambil melihat Oliver.


“Apa Oliver baik-baik saja?” tanya Leona dengan bingung. Ia menatap wajah Jordan sekilas sebelum memandang wajah Oliver lagi.


Jordan tertawa kecil. Ia duduk di salah satu batu dan menarik tangan Leona. Ia ingin Leona duduk di batu yang ada di sampingnya. “Oliver lagi kasmaran. Aku bisa melihat itu dari matanya. Sepertinya ia mulai sadar kalau sebenarnya ia sudah jatuh cinta kepada Katterine.”

__ADS_1


“Benarkah?” tanya Leona dengan wajah penasaran.


Jordan mengangguk pelan. “Katterine semalam cerita, bagaimana wajah panik Oliver ketika melihatnya kesakitan. Bahkan pria itu terlihat tidak tega meninggalkan Katterine di dalam kamar. Padahal di dalam kamar sudah ada Mommy dan daddy.” Jordan memandang wajah Leona. “Katterine wanita yang sangat manja. Setiap kali tamu bulanannya datang, dia bersikap seperti wanita yang paling tersiksa di dunia ini.”


Leona mengukir senyuman. “Kau beruntung karena aku baik-baik saja setiap tamu bulananku datang,” ledek Leona dengan tawa kecil.


“Aku akan menemanimu jika kau sama seperti Katterine.” Jordan mendaratkan kecupannya di punggung tangan Leona. Ia mengecupnya dengan penuh cinta. “Ayo kita berenang.”


“Berenang?” tanya Leona tidak percaya.


Jordan mengangguk pelan. “Cuacanya sangat cerah. Aku tidak pernah berenang bersamamu. Bahkan aku tidak tahu kau bisa berenang atau tidak.” Wajah Jordan terlihat serius.


Leona mengusap pipi Jordan dengan mesra. “Sayang, aku wanita yang serba bisa. Hanya berenang saja, itu sangat mudah. Sekarang, ayo kita berenang.” Leona beranjak dari batu yang ia duduki.


Leona duduk di atas pangkuan Jordan. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang pria itu. Mendaratkan kecupan singkat dengan senyuman. “Aku janji, apapun yang akan terjadi nanti, kita tidak akan berpisah.”


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian.” Jordan memeluk Leona dengan erat.


“Kenapa kau berubah menjadi seperti ini?” protes Leona ketika melihat Jordan yang berubah menjadi lelaki yang manja. Jauh berbeda dari sikapnya yang selama ini terlihat lebih tegas dan terhormat.

__ADS_1


Jordan memejamkan matanya. Ia kembali ingat dengan kisah Zeroun dan Serena. Saat itu Zeroun menceritakan kisahnya yang berpisah setelah mereka bertunangan. Jordan tidak mau kisah yang sama kini ia alami. Semakin cinta dengan Leona, Jordan semakin paham dengan perasaan ayah kandungnya saat itu.


“Jordan,” bisik Leona mesra. Wanita itu memegang kedua sisi tunangannya dan menatapnya dalam-dalam. “Ada apa?”


Jordan menggeleng pelan. Tiba-tiba saja kedua mata pria itu berkaca-kaca. “Kau akan menikah denganku, kan?” tanyanya untuk kembali memastikan.


“Ya. Tentu saja,” jawab Leona mantap.


“Sayang, jika suatu saat kau lupa ingatan dan melupakanku. Lalu, kau kembali mengingat kisah cinta dan kebersamaanmu dengan Zean, apa kau akan meninggalkanku?” tanya Jordan dengan wajah yang serius.


Leona tertegun dengan pertanyaan Jordan. Sebenarnya ia ingin marah, tapi Leona kembali mengingat-ngingat apa yang sebenarnya membuat Jordan berubah menjadi seperti itu.


“Jordan sayang, aku tahu kau pasti mengaitkan hubungan kita dengan mama dan paman Zeroun bukan?” ucap Leona dengan suara pelan dan hati-hati. “Kau harus tahu satu hal, kita ini hanya manusia. Garis takdir kita sudah di tentukan. Semua telah digariskan termasuk jodoh. Dulu memang mereka tidak berjodoh. Apa kau pernah bepikir, jika seandainya mereka berjodoh, apa mungkin kita ada di sini? Atau jangan-jangan kita terlahir sebagai adik kakak.”


“Semakin mencintaimu, pikiranku semakin sulit berpikir jernih. Maka dari itu aku memintamu untuk tinggal di London sampai pesta pernikahan kita tiba,” jawab Jordan dengan wajah yang serius. “Aku tahu, kehilangan itu sakit. Bahkan jauh lebih sakit daripada di sakiti.”


Cup. Leona mendaratkan kecupan di bibir Jordan. “Kenapa jadi seperti ini. Bukankah kita ke sini untuk bersenang-senang? Bisakah kita selesaikan sampai di sini saja masalah ini?”


Jordan menaikan satu alisnya. “Sayang, apa kau mau mengulanginya? Aku akan semakin yakin kalau kau tidak akan meninggalkanku, jika kau menciumku lebih lama lagi.”

__ADS_1


“Hei, kita belum menikah. Bukankah kau bilang jangan berciuman terlalu lama jika tidak ingin ada yang bangun?” ledek Leona sambil tertawa geli meledek Jordan.


Jordan hanya diam tanpa mau mengikuti Leona yang saat itu tertawa. Pria itu menarik leher Leona dan mendaratkan bibirnya di sana.  Ia ingin semua orang tahu. Bahkan dunia. Kalau Leona miliknya. Dan akan menjadi miliknya. “Jika memang semua sudah di takdirkan, aku meminta kepada sang pencipta agar aku ditakdirkan untuk hidup bersama denganmu. Aku mencintaimu. Aku berjanji untuk tidak menyakitimu dan tidak akan pernah mengecewakanmu,” gumam Jordan di dalam hati.


__ADS_2