
Oliver tetap tenang ketika ia melihat wajah Katterine yang kini berbaring di hadapannya. Sangat berbeda jauh dari Miller. Pria itu sampai kesulitan berdiri ketika melihat Katterine lah korban dari pembunuhan tersebut.
Oliver memegang wajah wanita itu dan merasakan ada yang aneh di sana. Pria itu menarik sebuah lapisan kulit yang ada di bawah dagu. Dengan gerakan cepat ia menarik topeng itu begitu saja. Ketika topeng itu terbuka, wajah wanita itu bukan Katterine melainkan wanita yang biasa datang ke kamar Katterine untuk bersih-bersih.
"Apa ini?" Miller memegang topeng yang kini ada di tangan Oliver.
"Dia menggunakan benda ini untuk menyerupai wajah seseorang. Sepertinya keahlian musuh kita bukan bertarung. Tapi bermain."
Miller memegang dadanya. Ia bisa bernapas dengan lega ketika tahu kalau wanita itu bukan Katterine.
"Lalu, di mana Katterine? Bahkan cctv tidak bisa kita gunakan untuk melacak keberadaannya." Miller menggenggam topeng itu dengan geram.
Oliver kembali memandang wajah wanita yang berbaring di sana. Ia mulai bisa menebak bagaimana kejadian yang terjadi di apartemen Katterine. Memang waktunya sangat pas. Ia yakin saat Katterine ingin di celakai oleh pria misterius itu, tiba-tiba pelayan itu datang. Karena tidak ingin ketahuan pria misterius membunuh pelayan tersebut dan membawa Katterine pergi.
"Aku yakin, dia tidak akan berani membunuh Katterine. Dia pasti menggunakannya sebagai ancaman."
Tiba-tiba saja Oliver kembali ingat dengan Roberto. Tidak tahu kenapa, ketika pria itu pergi masalah langsung datang dan sulit untuk diselesaikan.
"Bagaimana dengan Roberto? Apa kau tidak curiga terhadapnya?"
"Dia tidak akan mungkin tega mencelakai Katterine."
"Bukankah kita juga belum tahu Katterine saat ini celaka atau tidak? Bisa saja dia membawa Katterine ke suatu tempat agar bisa ...." Miller menahan kalimatnya. Ia tahu jika dilanjutkan Oliver akan kembali murkah terhadapnya.
Oliver segera memutar tubuhnya dan pergi dari ruangan tersebut. Pria itu sudah tidak sabar untuk menemui Roberto dan memeriksa keberadaan Katterine di sana. Walau memang kemungkinannya sangat kecil. Karena lokasi yang menjadi tempat tinggal Roberto saat ini sangatlah jauh. Jika memang benar Katterine ada di sana, itu sangat mustahil.
***
__ADS_1
Jordan terbangun dari tidur lelapnya. Leona yang saat itu masih terlelap di alam mimpi juga segera membuka mata. Ia memandang suaminya yang kini duduk dengan napas terputus-putus.
"Ada apa?" Leona memegang lengan Jordan dengan wajah bingung. "Apa kau mimpi buruk?"
Jordan berusaha mengatur napasnya. Ia memandang ke luar jendela dan melihat langit mulai redup. Ia tidak menyangka kalau hanya tidur siang saja sudah bisa menghasilkan mimpi buruk. Apa lagi mimpi itu menyangkut adik kandungnya.
"Katterine. Aku sangat mengkhawatirkannya," ucap Jordan dengan suara pelan. Ia memandang wajah Leona dengan begitu serius.
"Aku sudah bilang sejak kemarin. Jika kau merindukan mereka atau ingin mendengar kabar dari mereka. Kau bisa menggunakan telepon yang ada di hotel ini."
"Aku tidak mau melanggar janji kita. Aku tahu kau sendiri juga sangat ingin menghubungi kedua orang tuamu. Tapi, kau tidak mau melakukannya. Di samping Katterine ada Daddy dan Oliver. Ia pasti akan baik-baik saja. Mungkin aku bermimpi seperti ini karena terlalu merindukannya."
"Kau yakin tidak mau menghubunginya?" Leona mengusap lengan Jordan untuk memastikan perasaan pria itu.
"Tidak." Jordan mengusap pipi Leona dengan lembut.
Baru saja Leona memegang handle pintu, tiba-tiba saja suara ketukan pintu menghentikan langkah kakinya. Leona memutar tubuhnya dan memandang ke arah pintu.
"Baby girl, apa kau ada memesan makanan?"
"Tidak."
"Baiklah, biar aku periksa." Jordan turun dari tempat tidur. Ia ingin melihat langsung siapa tamunya sore itu.
Leona sendiri yang merasa sangat penasaran juga mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi. Ia memilih untuk melihat orang yang sudah mengetuk pintu kamarnya.
"Lusya?" Leona mengeryitkan dahi ketika melihat sahabatnya berdiri di depan sana. Jordan melihat sekilas ke arah Lusya sebelum melihat ke arah Leona. Pria itu tidak mau terlalu baik apa lagi terlalu ramah dengan orang asing seperti Lusya. Walau memang jelas-jelas wanita itu sahabat istrinya.
__ADS_1
"Leona, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu." Jordan menaikan satu alisnya. Pria itu memberi jalan agar Lusya bisa masuk ke dalam.
"Ada apa? Masuklah." Leona berjalan menghampiri Lusya. Wanita itu terlihat sangat mengkhawatirkan sahabatnya. Sedangkan Jordan memutuskan untuk berjalan ke arah kamar mandi. Ia memutuskan untuk mandi lebih dulu daripada harus mendengarkan cerita Lusya.
Sejak awal Jordan tidak setuju jika Lusya ikut bersama mereka ke Swiss. Leona ingin mempekerjakan Lusya di istana Cambridge sebagai pelayannya. Wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain memutuskan hal seperti itu. Hidup Lusya akan berada dalam bahaya jika ia berkeliaran sendirian. Ketika Jordan memutuskan agar Lusya duluan berangkat ke Cambridge, Lusya sendiri yang menolak. Wanita itu merasa takut dan tidak nyaman jika Leona tidak bersama dengannya.
"Ada apa?" Leona memegang tangan Lusya dan memandang wajah sahabatnya dengan penuh rasa kasihan.
"Aku hamil." Lusya berhambur ke dalam pelukan Leona. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Aku tidak mau mengandung anak ini. Dia pasti anak dari pria-pria yang sudah membeliku. Leona, kenapa nasipku seburuk ini?"
Leona tertegun dan semakin terharu dengan cerita Lusya. Wanita itu berusaha memberi ketenangan agar Lusya tidak menangis lagi.
"Jangan seperti itu. Aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu Lusya. Tapi, aku masih memiliki beberapa hari lagi untuk bersama dengan Jordan. Maafkan aku."
Lusya menggeleng pelan. Ia menghapus air matanya dan berusaha menghentikan tangisnya.
"Aku tahu kau tidak seharusnya menolongku. Hidupmu akan menjadi susah jika aku bersama dengan dirimu."
Leona hanya diam memandang Lusya. Sebenarnya Leona sendiri seperti tidak memiliki pilihan lain hingga akhirnya memutuskan untuk membawa Lusya bersama dengannya.
"Kau harus tenang. Jangan banyak pikiran ya."
Di dalam kamar mandi, Jordan melihat Leona dan Lusya yang sedang mengobrol. Walau ia tidak tahu apa yang dibicarakan dua wanita itu, tapi Jordan terlihat serius memperhatikan ekspresi wajah Lusya.
"Aku merasa ada yang aneh dengan wanita ini. Sepertinya dia tidak benar-benar tulus berteman dengan Leona. Apa dia pikir bisa dengan mudah menyakiti Leona. Aku akan membuat sebuah cara agar Leona tidak percaya lagi kepadanya." Jordan mengukir senyuman. Ia melanjutkan mandinya sambil menunggu istrinya selesai mengobrol dengan Lusya.
__ADS_1
😂Ayo kita bobok.