Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Cemburu


__ADS_3

“Bukankah malam ini wanita itu akan datang ke sini?” ucap Letty kepada Zean yang kini berdiri di sampingnya.


Letty melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan semua orang yang terlihat sibuk beraktifitas di atas es. Hingga detik itu Letty dan Zean belum menyadari keberadaan Leona. Memang lokasi tersebut sangat ramai. Di tambah lagi penyamaran Leona dan Jordan yang terbilang sangat sempurna.


“Aku mendapat kabar dari bawahanku. Maka dari itu aku mengajakmu ke sini,” ucap Zean pelan. Wajahnya masih terlihat jelas kalau kini dia sedang bersedih. Zean masih belum bisa melupakan Leona. Baginya Leona adalah nyawa yang membuatnya tetap bertahan hidup. Setelah balas dendam ini berakhir, ia tidak tahu harus bagaimana melangsungkan kehidupannya nanti.


Letty membuka mantel panjang yang ia kenakan. Wanita itu sudah memakai gaun indah yang mengikuti lekuk tubuhnya. Letty ingin menari di atas es. Sejak awal ia memang sudah mempersiapkan semuanya. Sepatu dengan pisau yang tajam. Pistol di paha dan belati yang terselip indah di sepatu boot yang ia kenakan. 


Zean memandang wajah Letty dengan alis saling bertaut. “Apa yang ingin kau lakukan?”


“Tentu saja mengalihkan perhatian semua orang,” ucap  Letty sebelum berjalan ke depan. Wanita itu mulai melakukan gerakan tarian yang indah di atas es. Beberapa orang yang sempat ada di dekat Letty mulai menyingkir ke tepian. Memberi ruang bagi Letty untuk menunjukkan bakat indahnya.


Zean menghembuskan napas dengan kasar. Pria itu juga jalan mendekati Letty untuk menjadi pasangan Letty. Dengan begitu elegan Letty menari di atas es tersebut. Zean memegang pinggangnya dan mereka menari bersama. Sesuai dengan tujuan Letty sejak awal. Kini semua pasang mata yang ada di lokasi tersebut hanya fokus kepada Letty dan Zean. Tidak terkecuali Leona dan Jordan.


Di antara orang-orang yang kini mengelilingi lokasi tersebut, ada Leona yang memperhatikan wajah Zean dan Letty dengan saksama. Bahkan wanita itu tidak berkedip sama sekali. Ia baru saja tahu kalau kini Zean dan Letty juga ada di Belanda.

__ADS_1


Jordan memperhatikan wajah Leona sejenak. Ia tahu kalau kini Leona pasti memikirkan Zean. Pria itu mengukir senyuman kecil. Ada rasa cemburu di dalan hatinya. Tanpa meminta izin, Jordan menarik tangan Leona dan membawa wanita itu pergi. Jordan tidak mau Zean melihat keberadaan Leona. Tidak tahu kenapa, hatinya menjadi tidak rela. Jordan tidak mau Zean dan Leona bertemu.


“Kita mau ke mana?” tanya Leona bingung.


“Ke mana saja. Asalkan tidak di sini,” ucap Jordan sambil terus saja berjalan pergi.


Oliver yang sejak tadi memperhatikan Jordan dan Leona dari jarak yang jauh hanya bisa mengukir senyuman kecil. Pria itu menepuk pundak Kwan sebelum berjalan pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Leona melepas sepatu yang sejak tadi ia kenakan. Kali ini ia menggunakan sepatu boot biasa. Leona memandang wajah Jordan dengan wajah kesal. Ia berjalan lebih dulu ke depan. Jordan menghela napas sebelum mengikuti Leona dari belakang.


“Kau marah padaku? Kau ingin melihat dia?” tanya Jordan dengan suara menyelidik.


“Leona, di sini salju turun dengan indah. Tempat tadi tidak terlalu menyenangkan,” ucap Jordan. Pria itu mengangkat kepalanya dan memandang buliran salju yang turun dari langit. Telapak tangannya menangkap setiap salju yang turun.


Leona menghentikan langkah kakinya. Ia melihat seorang wanita memegang biola. Wanita itu berdiri di pinggiran jalan sambil memperhatikan wajah setiap orang. “Apa yang ingin dilakukan wanita itu?” gumam Leona dengan kedua tangan yang sudah masuk ke dalam jaket.

__ADS_1


Jordan memandang Leona yang hanya diam saja. Pria itu berjalan dan berdiri di samping Leona. “Apa yang kau lihat?”


“Wanita itu. Apa yang ingin ia lakukan? Kenapa dia membawa biola di tempat seperti ini? Bahkan dia terlihat sangat kedinginan,” ucap Leona bingung.


Jordan mengikuti arah pandang Leona. Pria itu mengukir senyuman kecil. “Dia ingin mengamen,” ucap Jordan sambil memandang wajah wanita itu.


“Mengamen? Di tempat seperti ini? Tapi di sini sangat dingin,” ucap Leona lagi.


Jordan hanya mengangkat kedua bahunya. Pria itu memandang wajah wanita itu lagi untuk menunggu nada yang ingin di mainkan. 


Tidak butuh waktu yang lama wanita itu mulai menggesek biolanya dan memainkan sebuah lagu yang sangat indah. Leona terlihat kaget ketika pertama kali mendengarkan alunan lagu itu. Musiknya sama dengan musik yang pernah di mainkan Jordan saat di rumah sakit.


“Kau mengingat sesuatu?” bisik Jordan tiba-tiba. Jordan sangat yakin saat ia memainkan biola dulu, Leona belum sadar dan tidak akan mungkin mengetahuinya. Walau memang Tamara pernah bilang kalau Leona merespon apa yang ia mainkan.


Leona menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Aku merasa sangat dekat dengan lagu ini,” ucap Leona pelan. Ia memandang wanita itu lagi dan menikmati alunan biolanya. Karena terlalu asyik menghayati, Leona memejamkan matanya. Ia tidak lagi sadar kalau Jordan telah pergi menjauh dari dirinya. “Sepertinya aku ingin belajar main biola nanti,” ucap Leona pelan. 

__ADS_1


Leona tersadar ketika Jordan tidak lagi merespon apa yang ia ucapkan. Wanita itu mengitari keadaan sekitar yang kini di penuhi dengan salju. “Jordan,” ucap Leona.


Leona mencari-cari ponsel dari dalam saku. Ia menepuk dahinya saat ingat kalau kini ia tidak membawa ponsel. Leona berjalan pergi untuk mencari keberadaan Oliver dan Kwan. Ia ingin meminta bantuan dua pria itu untuk mempertemukannya dengan Jordan lagi.


__ADS_2