Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 114


__ADS_3

Beberapa pria yang kini ada di depan Jordan terlihat menahan senyuman. Mereka mencium aroma yang aneh sejak Jordan tiba. Namun ketika Jordan menceritakan apa yang ia pakai dan penyebab ia memakai aroma itu. Semua orang berusaha memahaminya.


"Baiklah, Tuan Jordan. Kita bisa langsung mulai saja."


Jordan menyiapkan berkas yang ia butuhkan. Bakat yang dimiliki Zeroun telah mendarah daging di dirinya. Hanya sekali promosi saja lawan bicaranya tertarik untuk bekerja sama dengannya. Jordan bukan hanya hebat dalam memimpin sebuah geng dan kerajaan. Tapi ia mampu menjadi pemimpin sebuah perusahaan.


"Terima kasih, Tuan."


"Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Jordan. Saya harap kerja sama kita bisa berlangsung lama."


Jordan mengangguk. Para klien memutuskan pergi meninggalkan restoran. Sedangkan Jordan memilih untuk mengecek ponselnya. Kali saja sang istri ada mengirim pesan singkat di sana.


Senyum Jordan mengembang ketika pesan singkat itu benar-benar ada. "Aku ke rumah Katterine. Jemput aku di sana ya suamiku. Aku mencintaimu."


Jordan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Leona. Ia juga ingin melihat keadaan adiknya dan Oliver. Memang kini mereka memiliki rumah sendiri-sendiri. Bahkan Zeroun dan Emelie juga telah tinggal di rumah impian yang sejak dulu mereka harapkan. 


"Kita pergi ke rumah Katterine," perintah Jordan kepada supir di depannya. 


***


Di sisi lain, Zean segera mengambil pistol di yang tersimpan. Ia bersikap waspada ketika mendapat kabar kalau musuh telah tiba. Memang kebetulan sekali Zean tidak membawa pasukan miliknya. Ia merasa sangat percaya diri kalau bisa menghadapi masalah yang akan menghadangnya. Toh, dia di sana hanya ingin liburan bukan melakukan sebuah misi.


"Menyerang? Maksudnya, siapa yang menyerang?" Clara terlihat panik. Ia menatap wajah Zean dan berharap pria itu tetap mau ada di sisinya.


"Mereka datang untuk menculik Anda, Nona."


Mendengar perkataan Zean membuat Clara khawatir. Wanita itu segera merangkul lengan Zean karena ketakutan. "Tuan, jangan biarkan mereka menculik saya lagi."


Zean melirik tangan Clara yang kini melingkari lengannya. Tatapannya sangat tajam hingga membuat Clara tidak enak. Ia segera melepas tangannya dan menjauh dari Zean.


"Maaf."


Zean memegang tangan Clara. Ia meletakkan pistol itu di tangan Clara. "Anda bisa menggunakan senjata ini untuk melindungi diri Anda sendiri. Jangan selalu bergantung kepada orang lain!"


"Ap ...apa ini?" 


"Apa kau tidak tahu nama benda apa ini?"


"Ya, saya tahu. Tapi, untuk apa Anda memberikannya kepada saya."


Zean tidak lagi peduli. Ia segera melangkah maju untuk menyambut tamunya yang baru datang. Sedangkan Clara memandang senjata berbahaya di tangannya dengan gemetar.


"Kenapa aku harus turun tangan?"


Zean tidak peduli dengan Clara di belakangnya. Ia menembak satu persatu musuhnya sambil bersembunyi di balik dinding.


"Bos, jumlah mereka sangat banyak."


Zean mengangguk. "Apa kau bisa menghubungi yang lain?"


"Jaringan tiba-tiba kacau, Bos."

__ADS_1


Zean paham. Karena tadi ia sempat mengalaminya. "Mereka mengincar wanita itu."


"Ya, aku juga tahu. Apa kau ingin menyerahkan ku kepada mereka?" Tiba-tiba Clara muncul dan memotong pembicaraan Zean dan pengawalnya. Ia benar-benar tidak peduli dengan adu tembak yang kini terjadi di hadapannya.


"Kenapa kau di sini?"


"Tentu saja membantumu. Apa kau pikir aku tidak bisa menembak?" ujar Clara penuh kesombongan. 


Clara maju dan berusaha menembak. Padahal jelas-jelas tangannya gemetar. Tapi ia tidak mau dipandang lemah oleh orang lain. Apa lagi pria seperti Zean yang kini ia anggap sebagai seorang pengawal.


"Tuan, apa yang harus aku lakukan jika ingin menembak?" Clara memandang Zean dengan senyum terpaksa. Tiba-tiba Zean menarik Clara hingga wanita itu hampir terjatuh. Satu tangan Zean yang lain menahan tubuh Clara agar tidak terjatuh. Wajah mereka saling memandang ketika momen itu terjadi.


"Pria ini … kenapa dia menarikku ke dalam pelukannya?" gumam Clara. Namun baru saja ia berkata di dalam hati, tiba-tiba Clara mendengar suara tembakan. Peluru itu melintas di tempat Clara tadi berdiri.


Zean menggagalkan lamunan Clara. Ia membuat Clara kembali berdiri. Memegang kedua tangan Clara ke depan dengan posisi memegang senjata yang pas.


"Tarik bagian ini! Tembak ke musuhmu. Jika kau kau takut, kau bisa menembak mereka sambil memejamkan mata," bisik Zean. Walau terbilang pelajaran singkat. Tapi Clara cepat paham. Wanita itu mengangguk dan langsung melayangkan tembakan pertamanya. Walau gagal tapi Clara puas karena bisa menembak.


"Bagus! Anggap saja sekarang kita sedang latihan."


Zean kembali menembak musuh yang menurutnya tidak ada habisnya. Padahal kalau di hitung-hitungan sudah cukup banyak musuh yang berhasil ia tembak sejak tadi.


"Tembak ini sungguh menarik. Sangat asyik. Cocok untuk menghilangkan stress!" teriak Clara. Zean tersenyum kecil mendengar teriakan Clara.


"Dasar wanita aneh!"


***


"Usianya masih 10 Minggu. Kami sengaja merahasiakan jenis kelaminnya."


"Ya, kak Leona. Aku kan ingin tahu sebenarnya keponakanku ini laki-laki atau perempuan."


"Apa saja jenis kelaminnya, yang penting sehat."


Katterine memandang wajah Oliver yang sibuk dengan ponselnya. Ia melempar bantal kursi untuk menarik perhatian sang suami.


"Gold Dragon lagi?"


Oliver memandang wajah Katterine. "Lima menit saja."


Oliver beranjak dari sofa. Ia berjalan menjauh untuk menyelesaikan masalahnya. Kebetulan sekali ada Leona di sana, jadi Oliver memiliki kesempatan untuk fokus kepada geng mafia miliknya.


"Kak, lihatlah. Dia tidak mencintaiku!" umpat Katterine dengan wajah kesal.


"Jangan berkata seperti itu. Dia hanya pergi ke depan."


"Tapi dia tidak ada di depan mataku!"


Leona menggeleng pelan. Ia juga pernah merasakan ada diposisi seperti itu. Ketika sang suami menjauh rasanya ada yang hilang. Seperti di tinggal pergi dalam waktu yang lama.


"Katterine, bagaimana dengan rumah ini? Kalian betah tinggal di sini?"

__ADS_1


Katterine memandang sekeliling rumah mewahnya. Tidak ada yang kurang di sana. Semua fasilitas yang ada di dalamnya terbilang modern dan canggih. Tapi, tidak tahu kenapa Katterine seperti tidak nyaman. Tidak sama perasaannya seperti ia tinggal di istana Cambridge dulu.


"Ada yang beda. Mungkin karena aku terbiasa melihat mommy dan Daddy."


Leona mengusap rambut Katterine. "Mereka sudah tua. Sudah saatnya menikmati masa tua mereka. Saat muda dulu mereka selalu memikirkan kebahagiaan anak-anaknya. Sekarang saat yang tepat bagi mereka untuk memikirkan kebahagiaan mereka sendiri."


"Apa Kak Jordan benar-benar berbisnis sekarang?"


"Ya. Malam ini ia akan bertemu dengan klien pertamanya."


"Kak Leona, dulu aku selalu berpikir kalau sampai tua kami akan tinggal di istana. Keputusan mommy memang baik, tapi tidak tahu kenapa, makin ke sini aku merasa tidak tenang."


"Kau masih menyimpan rasa cemburu terhadap Pieter?"


Leona paham dengan apa yang dirasakan Katterinel. Sejak mereka harus meninggalkan istana dan menyerahkan tahta itu kepada Pieter. Katterine satu-satunya orang yang terlihat tidak rela. Mungkin karena memang sejak lahir ia sudah menjadi seorang putri. Memiliki kakak seorang pangeran. Jadi untuk menjalani kehidupannya yang sekarang ia masih harus berusaha menyesuaikan diri.


"Bukan kak. Pieter pria yang baik. Dia juga tidak mau menyandang status sebagai Raja hingga sekarang."


"Lalu?"


"Aku memikirkan Kak Jordan. Bukankah dulu dia sangat ingin menjadi Raja? Bahkan dia mau menikah agar tahta kerajaan bisa jatuh ke tangannya."


Leona tertegun. Jordan pernah bercerita akan hal itu. "Itu pemikiran Jordan ketika ia belum menikah. Sekarang, setelah dia menikah dia paham dengan keputusan mommy."


"Apa benar kak Leona dan Kak Jordan bahagia setelah meninggalkan istana?"


Leona mengangguk. "Kami bahagia. Setiap detiknya kami bahagia. Di tambah lagi ada dia di sini." Leona mengelus perutnya.


"Kakak sering-sering main ke sini ya biar aku tidak bosan."


Oliver menyaksikan hal itu dengan senyuman. Setelah menikah bukan hal yang mudah bagi Oliver. Mendidik Katterine yang selama ini sangat manja untuk menjadi sosok istri memang sedikit sulit. Tapi, dengan sikap dewasa yang dimiliki Oliver, semua berjalan dengan baik setiap harinya. Walau memang tidak pernah tidak ada perdebatan di antara mereka setiap hatinya.


"Leona." Jordan yang baru saja muncul segera berjalan ke arah Leona. Ketika melihat Jordan tiba, Oliver segera berjalan ke sofa. Pria itu tersenyum ramah menyambut kedatangan Jordan.


"Apa yang kalian bicarakan? Kelihatannya sangat serius." Jordan duduk di antara dua wanita yang ia sayangi. 


"Kak, sempit!" protes Katterine sebelum beranjak. Ia lebih memilih duduk di sofa lain bersama sang suami.


Sedangkan Jordan, segera merangkul Leona karena terlalu rindu. "Apa kau baik-baik saja? Selama perjalanan tidak ada yang mencurigakan?"


"Semua baik-baik saja."


Katterine memandang wajah Oliver. "Apa ada hal yang serius? Kenapa wajahmu terlihat serius seperti itu?"


Jordan dan Leona juga memandang wajah Oliver yang terlihat berbeda. "Aku hanya ingin memberikan ini." Tiba-tiba Oliver mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. "Tadi yang menghubungi bukan Gold Dragon, tapi kurir."


"Kurir? Apa ini?" Wajah Katterine berseri. Ia merasa bahagia mendapat kejutan dari sang suami.


"Buka saja jika kau ingin tahu."


Leona dan Jordan sangat bahagia melihat pengantin baru itu. Walau begitu, tetap saja Leona memikirkan panggilan telepon Zean tadi. Tidak biasanya pria itu menghubunginya seperti itu.

__ADS_1


"Semoga saja Zean baik-baik saja."


__ADS_2