Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Aku Mendukungmu!


__ADS_3

Semua orang hanya diam membisu. Termasuk Leona dan Jordan. Satu kenyataan telah terungkap. Mereka tidak menyangka kalau kedua orang tua mereka memiliki kisah percintaan yang begitu rumit. Bahkan sebuah cinta sejati harus terpisah karena takdir tidak mengijinkan mereka bersatu. Termasuk Kwan. Pria yang lebih suka protes itu kini hanya diam membisu sambil memperhatikan ke arah meja dengan tatapan kosong. Ia kembali mengulang semua yang terjadi. Seperti sebuah adegan film yang terputar di dalam pikirannya.


“Maafkan mama, Leona,” ucap Serena dengan wajah bersalah. “Mama sudah banyak berbohong padamu.”


Leona memandang wajah Serena. Kedua matanya berkaca-kaca. Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Leona memeluk Serena dengan wajah sedihnya. Ia tidak menyangka, wanita kuat dan selalu tegar seperti ibunya ternyata memiliki masa lalu yang begitu melukai hati. Leona sendiri tidak bisa bertahan hidup jika masalah percintaannya sampai separah itu. Pilihan yang sulit antara dua pria yang sangat kita cintai.


“Ma, mama jangan sedih,” ucap Leona sambil memeluk tubuh Serena.


Emelie juga menghapus tetes air mata yang sejak tadi menetes. Dengan setianya Shabira memeluk tubuh Emelie agar wanita itu tidak lagi bersedih.


Jordan menatap wajah Leona. Dari sekian banyaknya cerita sedih yang ia dengar, hanya satu kalimat yang masih ia ingat dengan jelas. “Dulu, Jordan dan Leona sangat dekat dan saling menyayangi.” Ada senyum indah di bibir Jordan. Pria itu memiliki harapan besar kalau nantinya Leona bisa menerimanya dan mau menjadi istrinya.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Emelie dan Zeroun berjalan-jalan ke rumah Shabira dan Kenzo. Namun, Katterine dan Jordan memilih untuk tetap tinggal di rumah utama. Selain Kwan juga masih ada di sana. Mereka juga tidak mau pergi dari rumah ke rumah. Karena menurut mereka, itu hal yang sangat membosankan.


Kwan dan Jordan ada di dapur. Dua pria itu berbincang-bincang dengan sangat akrab. Bahkan saling memaafkan atas kesalahpahaman yang pernah terjadi di Meksiko.


“Aku dukung hubunganmu dengan Kak Leona,” ucap Kwan mantap.


Jordan mengukir senyuman sambil meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya. Pria itu bahagia, bisa memiliki sepupu segokil Kwan. “Terima kasih. Aku akan mengenalkanmu dengan Oliver. Dia juga sepupu kita. Ya, walau tidak sepupu kandung,” ucap Jordan lagi.


“Bos mafia itu? Ya, aku ingat.” Kwan menuang air putih ke dalam gelas. “Dunia begitu sempit bukan?”


Kwan bersandar di dinding, ada segelas air di tangan kanannya. Pria itu memandang wajah Leona yang baru saja muncul di dapur. Ia memandang wajah Jordan dan memberikan kode kepada pria berstatus sepupunya tersebut. 

__ADS_1


Jordan mengukir senyuman sambil memandang wajah jutek Leona. Bibirnya mengukir senyuman. Jordan berdiri dan pria itu siap ikut dalam permainan Kwan.


“Kak, kenapa kau tidak pernah tersenyum lagi akhir-akhir ini?” ucap Kwan sambil meletakkan gelas yang sudah kosong.


Leona memandang wajah Kwan sejenak sebelum melanjutkan langkah kakinya. “Diamlah! Jika kau ada di pihaknya maka aku tidak lagi menganggapmu adik,” ucap Leona dengan wajah kesalnya.


Kwan mengukir senyuman kecil. Pria itu memajukan satu kakinya agar bisa menjegal Leona. Leona saat itu melangkah dengan gusar dan tatapan yang tidak fokus. Sebuah kecerobohan yang sudah pasti berhasil memberi keuntungan sebelah pihak.


Kwan berhasil menjegal Leona hingga membuat tubuh Leona terdorong ke depan secara cepat. Karena kehilangan keseimbangannya begitu saja, Leona seperti kebingungan. Ia berusaha mencari pegangan agar tidak jatuh ke depan.


Jordan mengukir senyuman kecil. Dengan sangat mudahnya, pria itu menarik pinggang Leona hingga wanita itu ada di dalam dekapannya. Ia mengukir senyuman dan sejuta terima kasih kepada Kwan.


“Kau!” protes Leona sambil berusaha melepas pelukan Jordan. 


Jordan tertawa kecil. Pria itu memandang wajah jutek Leona yang sudah memerah dan siap marah-marah. “Baby girl, kau semakin hari semakin cantik,” puji Jordan masih dengan kedua tangan memeluk Leona.


“Lepaskan!” teriak Leona geram. Ia selalu kalah jika bersama dengan Jordan. Bagi Leona, ilmu bela diri milik dirinya tidak pernah berhasil menyelamatkannya dari cengkraman tangan Jordan.


Jordan mendaratkan kecupan di pipi kanan Leona sebelum melepas pelukannya. Tanpa banyak kata lagi, Jordan juga pergi meninggalkan Leona di dapur itu. Jordan berjalan ke arah yang sama dengan jalan yang di lewati Kwan.


Leona menggertakkan giginya dengan kedua tangan terkepal kuat. Napasnya berubah cepat dan kedua matanya terpejam. “Pria breng*sek!” umpatnya kesal. Leona menghapus bekas ciuman Jordan dengan telapak tangan. Wajahnya sore itu benar-benar kusut seperti baju belum di setrika.


***


Kwan dan Jordan duduk di kursi yang ada di taman belakang. Mereka tertawa kencang saat membayangkan wajah jutek Leona yang berubah menjadi jutek dua kali lipat. Dua pria itu duduk berhadapan. 

__ADS_1


“Kak Leona pasti akan menggenggam gelas dan meminum air minum itu dengan cepat. Hingga dalam hitungan detik saja, air di gelasnya sudah habis,” ucap Kwan yang masih kesulitan mengendalikan tawanya.


“Dia pasti tidak mau menemuiku. Atau jangan-jangan, dia memikirkan cara untuk balas dendam?” ucap Jordan asal saja sambil membayangkan wajah Leona.


Kwan mengatur tawanya. Pria tampan itu memandang wajah Jordan dengan ekspresi wajah yang serius. “Terima kasih, Jordan.” Kali ini tidak ada lagi candaan di wajah Kwan. Pria itu terlihat serius dengan apa yang ingin ia katakan. “Sudah cukup lama aku menemani Kak Leona. Ia wanita yang sangat ceria dan tidak pernah cemberut. Jika saja takdir tidak mempertemukannya dengan Zean, dia tidak akan menjadi wanita seperti sekarang.”


Jordan mengukir senyuman. “Apa yang ingin dilakukan Leona kepada Zean? Dendam apa yang membuatnya memusuhi Zean?” Jordan tertarik untuk mengorek informasi kepada Kwan. Ia juga ingin tahu banyak tentang kehidupan Leona selama ini.


“Zean itu ....” 


“Kakak, temani aku berkeliling kota. Aku ingin menjelajahi kota Sapporo,” rengek Katterine yang baru saja muncul di taman tersebut. Wanita itu berjalan cepat mendekati posisi Jordan dan Kwan berada. “Aku bosan di rumah saja.”


Jordan memandang wajah Kwan. “Kwan, kau punya hutang padaku. Ceritakan padaku jika nanti waktunya sudah tepat.”


Kwan mengangguk setuju. “Baiklah. Aku berjanji akan menceritakan semuanya.”


“Cerita tentang apa?” tanya Katterine dengan wajah ingin tahunya.


“Anak kecil tidak boleh tahu,” ucap Jordan sambil merangkul pundak Katterine.


“Kakak, aku sudah 25 tahun. Aku bukan anak kecil lagi,” protes Katterine kepada Jordan.


Kwan mengukir senyuman melihat kedekatan Katterine dan Jordan. Sifat manja Katterine mengingatkannya kepada Alana. Pria itu mengambil ponselnya untuk menghubungi Alana. Ia sangat rindu walau  baru berpisah satu hari lamanya. 


“Apa dia juga memikirkanku saat ini?” gumam Kwan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2