Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Bertemu Zean


__ADS_3

Leona baru saja mendapat kabar dari pengawalnya kalau Alana dan Kwan mengalami penyerangan. Hari sudah sangat malam. Leona tidak ingin membuat panik seisi rumah. Ia ingin menemui Kwan dan Alana yang katanya masih ada di rumah sakit.


“Semoga saja, memang benar ini rumah sakitnya,” ucap Leona pelan sebelum keluar dari dalam mobil. Wanita itu segera melangkah masuk ke dalam. Ia sangat khawatir dengan keadaan Kwan saat ini.


Tiba-tiba saja ada tangan kekar menarik lengannya. Bahkan menyeret paksa tubuh wanita itu agar berada di lorong rumah sakit yang sunyi. Leona terlihat protes. Tapi, tenaga pria itu sangat kuat. Pria itu mengenakan topi yang membuat Leona tidak bisa mengenalinya.


“Siapa kau!” protes Leona.


Pria itu melepas genggamannya. Ia memandang wajah Leona dengan senyuman tipis. Satu pemandangan yang membuat Leona sendiri syok seketika.


“Zean!” celetuknya tidak percaya.


“Hai, Honey. Apa kabar?” ucap Zean dengan senyum manisnya.


Leona mengukir senyuman kecil. Wanita itu tidak terlihat takut sama sekali. Ia justru memandang wajah Zean dengan tatapan menantang. Kedua matanya terlihat sangat tajam. Rahang wajahnya terlihat jelas kalau sedang menahan emosi.


“Apa kau pikir aku masih Leona yang sama dengan yang dulu?” ucap Leona dengan nada tidak suka.


“Di mataku, kau tetap Leona yang dulu aku kenal.” Zean memegang rambut Leona yang terikat. Pria itu mengukir senyuman kecil sebelum mengambil sedikit rambut Leona. Ia menghirup aromanya dengan saksama. “Dulu maupun sekarang, kau tetap wanitaku....”


Leona mengepal kuat tangannya. Kali ini ia tidak bisa diam lagi. Satu tamparan yang sangat kuat ia layangkan di pipi Zean. Menyisakan bekas kemerahan yang membuat Zean berhasil meringis kesakitan.


“Apa saat ini kau sudah berubah menjadi wanita yang sok jagoan, Honey?” ujar Zean. Pria itu memegang kedua tangan Leona dan mendorong tubuh Leona agar terpojok ke dinding. Ia segera mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir merah dan manis milik Leona.

__ADS_1


Tapi, tidak semudah dulu. Walau kedua tangannya kini di genggam erat oleh Zean. Leona masih memiliki kaki yang bisa bergerak bebas. Dengan tenaga penuh, Leona menendang perut Zean. Wanita itu merasa sangat puas karena berhasil menghajar pria yang pernah menyakitinya. Memang seperti itu rencananya sejak dulu.


Zean lagi-lagi harus meringis kesakitan. Kedua tangannya yang sempat memegang pergelangan tangan Leona telah terlepas secara otomatis. Pria itu mundur beberapa langkah dengan wajah tidak suka. Ia menatap wajah Leona dengan tatapan penuh arti.


Leona membalas tatapan Zean. Tidak ada rasa takut sama sekali dari raut wajah Leona saat itu. Ia berjalan pelan mendekati Zean dan mengukir senyuman licik. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Zean. “Itu belum seberapa. Ada di mana saatnya kau akan merasakan rasa sakit yang jauh lebih menyakitkan,” bisik Leona. Wanita itu mendorong tubuh Zean agar menyingkir dari hadapannya. Ia berjalan pergi dengan wajah puas dan bahagia. Meninggalkan Zean yang masih berdiri dengan wajah bingung.


Zean membuang napasnya kasar sebelum menyunggingkan senyuman kecil. “Apa itu benar Leona?” gumamanya di dalam hati. Pria itu memandang punggung Leona yang sudah menjauh pergi. “Tapi, tidak tahu kenapa. Kali ini ia terlihat lebih menarik dari sebelumnya.”


Leona masuk ke dalam IGD dengan wajah gusar. Wanita itu terlihat sangat kesal karena baru saja bertemu dengan Zean. Pria yang paling ia benci. Di dalam ruangan itu, Kwan dan Alana sudah tidak ada. Leona terlihat bingung. Ia berjalan mendekati suster yang ada di ruangan itu.


“Permisi, apa tadi pria bernama Kwan ada di rawat di sini?” tanya Leona pelan.


“Ya. Dia baru saja pulang, Nona.” Perawat itu terlihat sangat sibuk. Setelah menjawab, ia pergi meninggalkan Leona sendirian di ruangan tersebut.


“Di mana?” ucap Leona pelan.


“Aku sudah sampai di rumah. Tadi aku juga sudah mengantarkan Alana ke rumah. Kak, jangan cerita kepada siapa-siapa tentang penyerangan ini. Aku tidak ingin semua khawatir. Mereka hanya preman saja. Aku sudah berhasil mengatasinya. Tidak ada yang harus di khawatirkan,” ucap Kwan penuh penjelasan.


“Hmm, baiklah.” Leona memutuskan panggilan telepon Kwan. Wanita itu memutuskan untuk kembali pulang dan menanyakan kejadian itu langsung kepada Alana di rumah nanti.


***


Beberapa hari kemudian, Rumah utama.

__ADS_1


Alana dan Serena duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Ada Aleo dan Daniel juga di sana. Mereka terlihat sangat asyik dengan siaran televisi yang ada. Dari arah tangga, terdengar suara sandal Leona yang ingin ikut bergabung dengan mereka. Wanita itu baru saja selesai mandi. Ia terlihat sangat segar dan wangi.


“Sore Ma, Pa, Kak, Alana,” sapa Leona sebelum menjatuhkan tubuhnya di sofa. Baru saja Leona duduk, tiba-tiba seorang pelayan datang mendekati sofa tersebut. Pelayan itu menatap wajah Leona.


“Nona, Tuan Kwan menelepon,” ucap pelayan tersebut. Alana mengukir senyuman penuh harap. Wanita itu sangat ingin berbicara dengan Kwan.


“Siapa yang sedang ia cari?” tanya Leona. Ia tahu, kalau Kwan pasti akan mencari Alana saat ini.


“Anda, Nona,” jawab pelayan. Membuat Alana terlihat sangat kecewa. Wanita itu membuang tatapannya ke arah televisi dan memasang wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin semua orang tahu kalau kini hatinya sedang sakit hati.


Leona mengangguk pelan sebelum beranjak. Wanita itu ingin segera mengangkat telepon Kwan dan menanyakan tujuan pria itu menghubunginya.


“Alana, kau mau mencoba ini?” tawar Aleo saat melihat Alana hanya melamun dengan tatapan kosong.


Alana memandang snack yang baru saja diberikan oleh Aleo. Wanita itu mengukir senyuman sebelum menerima snack tersebut. “Terima kasih, Kak.”


“Nanti malam mamamu akan tiba, Alana,” ucap Serena dengan senyuman.


“Mama akan datang? Apa Papa juga ikut Tante?” ucap Alana kegirangan.


“Ya. Tentu saja,” jawab Serena pelan.


Alana mengukir senyuman bahagia. Wanita itu memandang ke arah lain sambil membayangkan wajah kedua orang tuanya. Ia sudah tidak sabar untuk memberi tahu Sharin bagaimana perasaannya saat ini. Ia bahagia. Ia sedang jatuh cinta dengan seorang pria.

__ADS_1


__ADS_2