
Jordan membawa Leona ke arah mobilnya terparkir. Pria itu memandang keadaan sekitar tempat mereka berada. Sangat sunyi. Tidak mungkin ada kehidupan manusia di sanakecuali rerumputan yang memang tingginya hampir setengah tubuh Jordan. Angin di lokasi tersebut juga sangat kencang dan dilengkapi bebatuan yang bisa digunakan untuk duduk. Sekilas sangat menyeramkan memang.
“Wanita ini. Bisa-bisanya ia memiliki pemikiran hingga ingin bunuh diri di tempat ini,” gumam Jordan di dalam hati. Ia memandang wajah Leona sekilas sebelum membukapintu mobil.
Tanpa banyak kata lagi, Leona masuk ke dalam mobil. Wanita itu tidak lagi peduli mau kemana Jordan saat ini membawanya. Ia lelah. Bukan hanya tubuhnya saja, tapi juga pikirannya. Leona butuh waktu untuk menenangkan pikirannya dan beristirahat.
Jordan berjalan cepat mengitari bagian depan mobilnya. Pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di baik kemudi. Ia memandang wajah Leona sekilas sebelum menghidupkan mesin mobil. Jordan melihat sabuk pengaman yang belum dikenakan. Kini Leona membuang tatapannya keluar jendela.
Jordan mendekati Leona. Pria itu menarik sabuk pengaman yang ada di samping jok mobil. Ia melirik wajah Leona sekilas sebelum mengunci sabuk pengaman itu pada tempatnya.
Leona masih tidak bergerak. Wanita itu seperti patung yang melihat sekelilingnya dengan tatapan kosong. Pikirannya kini memang di penuhi dengan nam Zean. Tapi, bukan lagi penyesalan. Wanita itu kembali pada dendamnya. Dalam waktu dekat, ia ingin menyerang markas besar milik The Devils. Membuat Zean hancur hingga pria itu bosan dengan hidupnya sendiri.
Jordan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sangat berhati-hati saat melajukan mobilnya karena kini ia membawa wanita yang tidak tertebak jalan pikirannya. Bisa saja Leona tiba-tiba melompat dari dalam mobil. Atau melakukan hal yang ada di luar perkirannya.
Bukit itu sangat curam. Sepanjang jalan hanya ada jurang yang terpampang dengan begitu jelas. Jordan sendiri merasa ngeri ketika melihat jalanan yang kini ia lalui. Bisa-bisanya ia berhasil menemuk keberadaan Leona di tempat terpencil seperti itu.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” ucap Leona tanpa memandang. Nada bicaranya sudah jutek seperti biasa. Dan ... itu membuat Jordan bahagia. Setidaknya Leona tidak lagi terlihat seperti wanita yang lemah.
“Aku akan selalu tahu kemanapun pacarku pergi,” ledek Jordan tanpa peduli situasi.
Leona hanya diam. Wanita itu mengatur napasnya dan memperhatikan jalanan yang kini mereka lewati. Ponsel yang ada di dalam saku Leona berdering. Setekah tiba di jalanan yang dekat dengan kota, Jaringan ponsel itu kembali aktif. Ada nama Letty di layar ponsel Leona.
__ADS_1
“Kenapa dia tiba-tiba menghubungiku?” gumam Leona di dalam hati. Tanpa pikir panjang, Leona mengangkat panggilan masuk Letty. Melekatkannya di telinga. “Apa kabar?” tanya Leona dengan suara pelan.
Jordan memalingkan wajahnya. Ia melihat wajah Leona dengan dahi mengeryit dan pikiran yang bingung. Awalnya Leona bersikap seperti orang yang putus asa, lalu berubah menjadi jutek dan sangat menyebalkan. Tapi, detik ini wanita itu berubah lagi menjadi wanita yang ramah. Ia sengaja membuat tawa kecil agar seseorang yang menghubunginya tidak tahu kesedihan yang ia rasakan.
“Baiklah,” jawab Leona lagi sebelum memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Wanita itu menarik tangan Jordan dan melihat jam yang melingkar di sana. Tangan Jordan kembali ia hempaskan setelah ia sudah mengetahui waktu yang masih sore. “Aku masih punya waktu beberapa jam sebelum bertemu dengan Letty nanti,” gumam Leona lagi yang hanya terdengar oleh hatinya.
“Apa kau baik-baik saja?” ucap Jordan penasaran. Pria itu masih tetap kosentrasi pada laju mobilnya. Namun, sesekai kedua matanya berusaha curi pandang terhadap Leona yang duduk di sampingnya.
“Lupakan. Jangan bahas hal tadi lagi. Aku tidak ingin mengingatnya,” ucap Leona dengan mata yang masih kembali berkaca-kaca.
“Seorang pria telah menyakitimu?” ucap Jordan lagi. Kali ini pria itu benar-benar bertekad untuk menyelidiki kehidupan Leona.
Jordan menghela napas. Pria itu menambah laju mobilnya agar segera tiba di markas milik Leona. Hari ini ia tidak bisa membawa Leona ke mansion miliknya karena adik tercintanya akan datang.
***
Jordan menghentikan mobilnya di depan rumah yang selama ini di tempati Leona. Sekaligusmarkas bagi Leona dan pasukan Queen Star miliknya. Memang rumah itu terlihat sama dengan rumah pada umumnya. Tapi, tidak di dalamnya. Karena nyatanya, Leona memiliki ruang bawah tanah tempat stok senjata dan pasukan miliknya bersembunyi.
Leona terlihat kaget ketika ia sudahsampai di depan rumah. Padahal sejak awal ia tidak memberi tahu Jordan alamat rumahnya. Ia menghela napas sejenak sebelum membuka sabuk pegamannya. Menatap wajah Jordan sekilas sebelum kaluar dari dalam mobil.
Jordan juga ikut keluar dari dalam mobil. Pria itu memandang wajah Leona yang kini menatap wajahnya. Ada senyuman di sudut bibir Jordan. “Apa kau tidak mau mengajakku masuk?” ucap Jordan dengan suara pelan. “Sekedar minum air putih?” sambung Jordan lagi.
__ADS_1
Leona hanya menghela napas. Tanpa banyak kata, wanita itu berjalan masuk ke dalam markasnya. Iamelirik beberapa pasukan Queen Star yang mengawasinya secara diam-diam sebelum membuka pintu rumah tersebut.
Jordan mengikuti Leona dari belakang. Pria itu terlihat sangat penasaran dengan markas yang menjadi tempat persembunyian Leona selama ini. Si mafia cantik yang memiliki misi membunuh tanpa menyentuh.
Leona menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa. Wajahnya terlihat sangat lelah. Kedua matanya menatap wajah Jordan dengan tatapan menyelidik. Ada banyak pertanyaan di dalam pikirannya hanya saja ia simpan di dalam hati saja.
“Di mana dapurnya?” tanya Jordan sambil mencari-cari.
Leona menunjuk ke arah samping untuk menunjukkan letak dapur tersebut. Wanita itu terlihat tidak bersemangat. Kedua matanya terpejam dengan posisi yang sangat nyaman.
Tidak butuh waktu yang terlalu lama, Jordan muncul dengan dua minuman kaleng di tangannya. Pria itu meletakkan satu di atas meja sebelum meminum yang ada di tangannya.
“Kau sendirian di sini?” tanya Jordan setelah meneguk minumannya dua kali.
“Tidak. Aku bersama dengan pasukan Queen Star,” jawab Leona apa adanya.
Jordan mengangguk pelan dan melanjutkan kegiatan untuk meminum minuman kaleng tersebut.
“Leona, kenapa kau tidak berhenti saja membunuh? Apa kau tidak lelah melakukan pekerjaan seperti itu,” ucap Jordan dengan penuh keberanian. Sebenarnya, ucapannya sangat beresiko. Tapi, Jordan berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
Leona membuka matanya. Ia menatap wajah Jordan dengan tatapan tidak suka. “Jika sudah selesai, pergilah. Aku ingin tidur,” ucap Leona dengan wajah yang sangat menyakinkan.
__ADS_1