Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 52


__ADS_3

“Apa kau pikir aku takut dengan ancamanmu, PIETER?” Oliver terlihat tenang saat itu walaupun ia tahu pria yang berdiri di hadapannya bukan pria waras. Oliver mengangkat tangannya dan meletakkan senjata apinya di dahi Pieter. Jika memang harus mati, mereka akan mati bersama-sama. Hingga tiba-tiba saja, di saat jemari Pieter tidak bisa berhenti lagi menarik pelatuk senjata api tersebut. Jordan mengarahkan sebuah tembakan ke arah senjata tangan Pieter. Dengan cepat senjata api pria itu terlepas dan menyisakan luka di pergelangan tangannya.


Lusya menutup telinganya dengan tubuh gemetar. Mendengar suara tembakan itu membuatnya sadar kalau malaikat maut sudah sangat dekat. Bersamaan dengan itu, Pieter dan Oliver berkelahi. Walau tangan kirinya terluka tetap saja tidak mengurangi kemampuan Pieter untuk melawan musuhnya.


Jordan juga ingin membantu. Namun, ia lebih tertarik untuk mengawasi lokasi tersebut. Firasat Jordan menyatakan kalau mereka sudah kedatangan tamu tidak diundang. Seperti apa yang di pikirkan Jordan. Saat perkelahian antara Pieter dan Oliver mulai memanas, tiba-tiba bom asap muncul dari segala arah. Hal itu membuat semua orang yang ada di dalam sana tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi, kali ini Oliver tidak ingin melepaskan musuhnya begitu saja. Ia segera menembak ke arah tubuh Pieter sebelum asap semakin tebal dan menghalangi penglihatannya.


DUARR DUARR


Tidak tahu bagian tubuh yang mana yang terkena tembakannya. Namun oliver sangat yakin kalau salah satu peluru yang ia keluarkan berhasil menancap di  bagian tubuh Pieter. Tertinggal Lusya di ruangan tersebut. Wanita itu tidak memiliki keahlihan untuk kabur ketika asap mengepul memenuhi ruangan. Ia masih berlutut dengan tetes air mata. Berharap Jordan mau memaafkannya.


“Pangeran, maafkan saya.”


Jordan memandang wajah Oliver. Ia sendiri tidak suka membunuh wanita. Apa lagi wanita lemah seperti Lusya. “Aku sudah memaafkanmu. Tapi sepertinya tempat yang pantas untukmu adalah penjara.”


Lusya kaget bukan main ketika Jordan mengatakan ingin memasukkan dirinya ke dalam penjara. Wanita itu menggeleng kepalanya dan berjalan merangkak untuk memohon maaf dari Jordan.


“Jangan Pangeran. Saya akan melakukan apapun yang Anda inginkan asalkan Anda tidak memasukkan saya ke dalam penjara.” Kali ini Lusya memegang kedua kaki Jordan dan memohon dengan tangisan air mata. Tapi, apapun cara yang ia lakukan. Jordan tetap tidak akan memaafkan kesalahan Lusya.


Oliver memberi kode kepada pasukan Gold Dragon untuk membawa Lusya dan memasukkan wanita itu ke dalam penjara. Rasanya tidak sulit untuk memberi bukti kesalahan Lusya agar wanita itu bisa mendekam di dalam penjara seumur hidupnya.


“Tidak! Lepaskan!” Lusya berusaha berontak. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menangis dan menyesali semuanya. Di mana-mana kini posisinya tidak diharapkan. Lusya sangat yakin kalau dia tidak akan mungkin bebas dari penjara. Pangeran Martine tidak akan membebaskannya karena dia wanita yang tidak berguna. Hingga akhirnya Lusya memutuskan untuk memberi tahu kalau dalang semua ini adalah Pangeran Martine.


“Pangeran, saya akan memberi tahu satu rahasia jika Anda berjanji untuk tidak memasukkan saya ke dalam penjara. Setelah saya memberi tahu rahasia ini, kehidupan saya tidak akan aman lagi. Mereka pasti akan mencari saya dan ingin menghabisi nyawa saya. Berjanjilah jika saya membantu Anda dan berada di pihak Anda, maka Anda akan melindungi saya.”


Jordan dan Oliver saling memandang. Ada baiknya mereka mendengarkan pernyataan Lusya sebelum membawa wanita itu ke dalam penjara. Toh, apapun ceritanya tempat yang tepat untuk Lusya saat ini adalah di dalam penjara.


“Baiklah. Aku tidak suka mengulur waktu. Jadi, katakan saja apa yang ingin kau katakan,” ucap Jordan dengan wajah yang sangat tenang.


“Dia pria yang kejam. Dia sangat jahat dan bisa ada di mana saja!” Lusya merasa sesak ketika ingin mengatakan semuanya. Masih ada rasa takut di dalam hatinya. Namun, ia tidak mau hidup di dalam penjara.

__ADS_1


“Dia?” Oliver mengeryitkan dahi. Ia merasa kalau musuhnya kali ini bukan Pieter saja. Tapi, ada komplotan lain yang belum muncul dan sedang mengamati secara diam-diam.


“Ya, dia adalah ....” Lusya melebarkan kedua matanya ketika sebuah timah panas menancap di dahinya. Darah berkucur deras membasahi bagian wajahnya. Bersamaan dengan itu, Lusya terjatuh ke lantai dan tidak lagi sadarkan diri. Dengan mata melebar ia harus tewas karena tembakan jarak jauh dari seseorang yang sengaja di arahkan ke arah Lusya. Bahkan tidak main-main. Hanya satu tembakan saja sudah berhasil merenggut satu-satunya nyawa yang di miliki Lusya.


Jordan dan Oliver memutar tubuh mereka ke belakang. Tiba-tiba saja peluru muncul dari mana-mana. Peluru itu mengepung mereka yang kini berkumpul di satu ruangan. Para pasukan Gold Dragon sudah berusaha menembak ke arah peluru itu berasal. Bukan menang justru banyak sekali pasukan Gold Dragon yang tewas.


Oliver dan Jordan bersembunyi di balik lemari yang ada di ruangan tersebut. Mereka tidak tahu dari mana musuh mereka berasal. Salah langkah mungkin akan membuat mereka terluka bahkan tewas siang ini.


“Pangeran, berlarilah. Pergi tinggalkan ruangan ini. Saya akan melindungi Anda.” Oliver memandang wajah Jordan dengan begitu serius. Ia tahu tidak akan semudah ini lolos dari musuh mereka. Tidak tahu kenapa Oliver merasa bahaya yang semakin besar akan segera menyerang.


“Tidak. Kita keluar bersama-sama.” Jordan menolak keras tawaran Oliver. Ia tidak mau meninggalkan sahabat terbaiknya begitu saja. 


“Pasukan Gold Dragon ada di dalam sini. Saya tidak bisa membiarkan mereka di sini.”


Jordan melihat pasukan Gold Dragon yang tersisa. Jumlah mereka semakin sedikit karena terkena peluru aneh yang tidak tahu asalnya dari mana.


“Salah satu dari kita harus ada di luar untuk melihat langsung sebenarnya apa yang sudah menyerang kita.” Oliver masih berusaha keras membujuk Jordan.


Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba sebuah benda di lemparkan dari jendela. Oliver dan Jordan memandang benda itu dengan begitu kaget. Sebuah bom yang memiliki waktu telah tergeletak di lantai rumah tersebut. Tepat di tengah-tengah ruangan. Yang semakin membuat khawatir, waktu yang tersisa tinggal 10 detik lagi.


“SHIT!” maki Oliver. “Selamatkan diri kalian.”


Oliver dan Jordan segera berlari. Tidak tahu apa pintu yang mereka gunakan masuk tadi masih berfungsi. Mengingat kini pintu itu tertutup. Saat berlari menuju ke arah pintu, Jordan menarik tangan Oliver. Pria itu ingin membawa Oliver ke arah jendela. Sebuah jendela kaca. Ya, mereka harus menembus kaca tersebut jika ingin keluar dari dalam ruangan tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Oliver mengikuti ajakan Jordan.


Saat mereka ingin melompat, tiba-tiba suara ledakan terdengar dengan begitu jelas. Api menyala seperti mengejar mereka dari belakang karena ingin melahap mereka hidup-hidup.


DHOOOOMM


***

__ADS_1


Prankkk.


Katterine menjatuhkan gelas yang baru saja ia pegang. Pecahan kaca kini bertabur di bawah kakinya. Leona yang saat itu masih bersama Katterine segera berlari mendekat. Wanita itu ingin memasikan kalau adik iparnya baik-baik saja.


“Katterine, apa kau terluka?”


Katterine merasa sesuatu yang  buruk telah terjadi. Nama Jordan dan Oliver yang kini memenuhi pikirannya. 


“Kak, aku merasakan firasat buruk.” Katterine memandang Leona dan memegang tangan wanita itu. “Kak, ayo kita temui Kak Jordan dan Oliver. Aku merasa kalau mereka dalam bahaya.”


Leona tertegun mendengar cerita Katterine. Sebenarnya bukan detik ini saja. Sejak tadi ia sudah tidak tenang dan ingin mengikuti Jordan dan Oliver. Namun, di rumah itu ada Serena dan Daniel. Pergi dengan cara kabur maka akan membuat kedua orang tuanya juga tidak tenang. Leona tidak mau hal itu terjadi.


“Mereka akan baik-baik saja. Bagaimana kalau kita hubungi mereka saja?” tawar Leona dengan wajah yang masih tenang. Ia tidak mau Katterine semakin khawatir ketika menyadari wajahnya yang panik.


“Baiklah.”


Katterine berjalan ke arah meja. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Oliver. Harapan untuk tetap tenang hancur begitu saja ketika nomor Oliver tidak bisa di hubungi. Begitu juga ketika Katterine mencoba menghubungi Jordan. Nomor pria itu tidak bisa di hubungi. Tidak seperti biasanya.


“Kak, tidak bisa!” rengek Katterine dengan kedua mata berkaca-kaca.


Leona mulai panik. Wanita itu mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Letty. Kali ini ia tidak mau tinggal diam di tempat tersebut. Ia ingin pergi menemui suaminya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.


“Katterine, aku akan pergi mencari mereka. Tapi, sebaiknya kau tetap di sini. Pastikan tidak ada yang tahu kalau aku pergi meninggalkan istana. Terutama Mama. Aku tidak mau mama khawatir. Aku akan pergi bersama Letty, Semua akan baik-baik saja.”


Katterine mengangguk setuju. “Baiklah Kak. Kakak harus tetap hati-hati.” Katterine memeluk tubuh Leona dengan sejuta rasa khawatir.


“Ingat Katterine. Jangan sampai ada yang tahu kalau aku tidak ada di istana.” Leona segera pergi meninggalkan kamar Katterine. Ia harus bergerak cepat kali ini. Ketika nanti ia sudah berhasil menemukan Jordan dan Oliver, lalu memastikan keadaan mereka baik-baik saja. Maka Leona akan segera kembali ke istana. Ia yakin, kalau tidak butuh waktu lama untuk memeriksa keadaan suaminya. Di tambah lagi, Leona tahu di mana lokasi tempat suaminya saat ini berada.


Katterine duduk di pinggiran tempat tidur. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa untuk kedua pria yang ia sayangi. Satu persatu air mata mulai menetes.

__ADS_1


__ADS_2