Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 61


__ADS_3

Zean menghela napas mendengar pertanyaan Letty. Kemarin ia bertemu dengan Leona. Sudah pasti Letty juga ada di sana karena Leona dan Letty adalah keluarga sekarang. Tidak ada yang perlu ia curigai. Berbeda dengan Letty yang kini menatap Zean dengan tatapan curiga.


"Biar saya yang membayarnya." Zean memberikan sejumlah uang kepada pemilik toko saat pria itu ingin mengatakan sesuatu. Setelah pemilik toko pergi Zean kembali menatap wajah Letty.


"Apa ini wilayah kekuasaan Queen Star sekarang?"


Letty tertegun. Pertanyaan Zean ada benarnya. Wilayah ini bukan wilayah mereka jadi wajah saja Zean ada di sana. Namun, kemunculan Zean yang dibarengi dengan hilangkan Jordan dan Oliver sungguh tidak wajar. Ke mana saja pria itu selama ini? Kenapa harus muncul ketika Jordan dan Oliver menghilang?


"Letty, sejak kapan kau menjadi pendiam seperti ini?" tanya Zean lagi ketika Letty tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Tidak. Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau mengikutiku?" tuduh Letty tanpa mau basa basi.


Zean menaikan satu alisnya. Tuduhan Letty jelas-jelas di luar perkiraannya.


"Kau sadar saat menanyakan kalimat itu kepadaku, Letty?"


"Zean, kau muncul ketika ...." Letty menahan kalimatnya. Ia tidak mau membocorkan masalah yang mereka hadapi. Bagaimanapun juga semua ini masih dirahasiakan demi reputasi Jordan sebagai seorang Pangeran.


"Ketika?" Zean mulai penasaran dan sudah tidak sabar mendengar lanjutan kalimat Letty.


"Kau muncul ketika aku ada di sini!" sambung Letty asal saja.


"Oh my God, Letty. Aku sudah bilang tadi. Ini tempat umum. Wajar saja kita bertemu. Mungkin hanya kebetulan." Zean mengangguk pelan sambil memandang pasukannya yang sudah siap.


"Dari seluruh tempat yang ada di dunia ini kau bilang pertemuan ini kebetulan?" Letty masih tidak percaya dengan Zean.


"Mungkin saja takdir mempertemukan kita lagi. Anggap saja begitu. Aku tidak lama di tempat ini. Malam ini juga sudah pergi. Jadi, jangan terlalu menyelidikiku seolah aku sedang mengikutimu!" Zean pergi begitu saja. Ia tidak mau banyak berdebat dengan Letty. Walau di antara mereka sudah damai dan tidak mau bermusuhan lagi. Tapi, satu-satunya orang yang masih belum percaya atas kebaikan Zean adalah Letty.


Letty juga pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak lagi ingat dengan tujuannya masuk ke dalam mini market tersebut.


"Aneh! Aku yakin ini bukan kebetulan!" umpat Letty ketika tiba di dalam mobil. Bahkan wanita itu membanting pintu ketika sudah masuk ke dalam.


Miller memandang Letty dengan bingung. Ia segera mematikan musiknya dan mencari air minum yang seharusnya di beli Letty.


"Ada apa? Mana minumnya?"


Letty memandang wajah Miller sekilas dengan wajah jutek. "Habis!'


"Habis? Ada banyak jenis minuman kau bilang habis?"


"Kebetulan habis," jawabnya santai.


Miller menghela napas. "Baiklah kalau begitu. Kita langsung berangkat saja ya."


Miller melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu tidak terlalu mencurigai sikap Letty saat ini.


Letty melihat keluar jendela. Saat itu jendela mobil Miller di biarkan terbuka agar udara segar masuk ke dalam. Saat lampu berwarna merah, beberapa mobil berhenti di samping mobil Miller. Kebetulan sekali kalau mobil itu dipenuhi dengan cowok-cowok tampan. Letty yang sedang bosan tertarik menggoda pria-pria itu. Hanya satu kedipan mata saja sudah berhasil membuat para pria itu tertawa bahagia.


"Hai, Nona. Apa pacar Anda tidak keberatan jika anda pindah ke mobil kami?"


Mendengar kalimat tersebut Miller segera memiringkan kepalanya. Ia mengeryitkan dahi dan menatap pria-pria itu dengan tatapan yang tajam.


Letty hanya diam. Ia justru melirik Miller sekilas sebelum menggoda pria-pria itu lagi dengan senyuman.


"Nona, kemarilah. Ayo kita bersenang-senang. Tinggalkan saja pria tidak berguna itu. Wajahnya sangat bodoh. Sepertinya dia pria yang dungu!" Kalimat itu di tutup dengan tawa yang begitu meriah. Letty sampai geleng-geleng tidak percaya.


"Kalau saja mereka tahu siapa Miller," gumam Letty di dalam hati.


Miller mulai emosi mendengar kalimat ledekan itu. Ia merogoh sakunya dan mengambil sesuatu di dalam sana dan memamerkannya dengan wajah bangga. Jelas saja pria-pria di mobil itu ketakutan ketika mengetahui Miller seorang polisi. Ketika lampu berubah warna mereka segera melajukan mobil mereka dan pergi begitu saja.


Letty menggeleng pelan. Namun, ia sedikit terhibur siang itu. "Dasar pria payah!"

__ADS_1


Miller menutup kaca jendela mobil sebelum melajukan mobilnya. Pria itu tidak mau banyak kata lagi. Begitu juga dengan Letty yang lebih memilih diam selama perjalanan.


"Aneh, kenapa aku tidak suka pria-pria tadi menggoda Letty? Tidak. Ini bukan karena Letty. Tapi karena perkataan mereka yang merendahkan ku sebagai pria," gumam Miller di dalam hati.


Setelah belasan menit suasana di dalam mobil itu hening, akhirnya Letty mulai mengatakan sesuatu.


"Tadi aku bertemu Zean."


"Ada apa dengannya? Bukankah wajar? Ini tempat umum."


"Miller, kenapa kau bodoh sekali. Lokasi ini adalah titik utama sebelum Jordan dan Oliver menghilang. Apa kau tidak curiga?" ujar Letty dengan wajah serius.


"Maksudmu Zean ada hubungannya dengan hilangnya Jordan dan Oliver?"


"Apa lagi? Sudah lama dia menghilang tanpa jejak dan kabar. Kenapa saat masalah ini muncul ia juga muncul?"


"Letty, apa alasan Zean melakukan semua ini?"


Letty diam sejenak. Kalimat yang ingin ia katakan sedikit tidak masuk akal memang. Tapi, ia harus memperjelas dugaannya kali ini.


"Mungkin Zean belum rela Leona menikah dengan Jordan. Mungkin sikap baiknya selama ini hanya bohongan saja agar kita tidak lagi mencurigainya. Saat kita tidak waspada, ia memanfaatkan keadaan untuk merusak rumah tangga Leona dan Jordan."


Miller mulai menyangkut pautkan semuanya. Alasan yang dikatakan Letty ada masuk akal. Walau itu agak jahat memang. Bagaimanapun juga menuduh Zean adalah sebuah hal yang memiliki resiko tinggi. Jika terbukti salah bisa membuat hubungan baik mereka dengan Zean kembali memburuk.


"Ini hanya perkiraan kita bukan? Sebaiknya jangan memperburuk keadaan dengan memberi tahu keberadaan Zean kepada Leona."


"Baiklah. Aku juga tidak mau Zean dan Leona dekat lagi." Letty melipat tangannya.


"Itu tidak mungkin. Leona dan Jordan saling mencintai. Cinta mereka tulus bukan karena paksaan. Aku juga sangat yakin kalau Leona wanita yang setia."


Letty kembali diam setelah mendengar kalimat Miller. Ia mengotak-ngatik ponselnya untuk mendapatkan kabar dari Leona. Hingga detik ini Letty belum tahu kalau Serena dan yang lainnya sudah mengetahui kabar hilangnya Jordan dan Oliver.


***


Pangeran Martin duduk di sebuah cafe sambil memandang kopi yang ada di hadapannya. Bibirnya tersenyum saat anak buahnya memberinya kabar baik tentang hilangnya Jordan dan Oliver. Walau ia sendiri tidak tahu mereka ada di mana. Tapi, di lubuk hati Pangeran Martine yang paling dalam. Ia berharap dua pria tangguh itu telah tewas di makan hewan buas.


Siang ini Pangeran Martine sedang mengatur jadwal pertemuan dengan seseorang. Seseorang yang menurutnya bisa memberi kejelasan tentang keberadaan Jordan dan Miller.


"Dia pria yang saya ceritakan tadi, Pangeran."


Pangeran Martine memandang ke depan ketika melihat seorang pria berjas hitam berjalan kenarah kursinya. Pangeran Monaco itu beranjak dari kursinya untuk menyambut tamu kehormatannya siang ini.


"Selamat siang Tuan Marco. Senang bertemu dengan Anda." Pangeran Martine mengulurkan tangannya yang ketika itu langsung di sambut dengan senyuman hangat dari Tuan Marco.


"Selamat siang pangeran Martine. Senang bertemu dengan Anda. Saya tidak menyangka kalau orang penting seperti Anda masih memiliki waktu untuk menemui pria biasa seperti saya."


"Pria biasa? No no. Anda pembisnis yang sukses."


"Oh tidak. Bisnis ini milik saudara saya. Lebih tepatnya saudara sepupu saya yang sudah tiada. Saya meneruskannya karena tidak mau para clien yang ditinggalkan sepupu saya kecewa."


"Anda pria yang begitu murah hati Tuan Marco."


"Anda terlalu berlebihan memuji saya, Pangeran Martine."


"Silahkan di minum, Tuan Marco." Pangeran Martine menunjuk minuman hangat yang ada di depan Tuan Marco.


"Terima kasih Pangeran." Tanpa curiga Marco meneguk minuman hangat tersebut. Begitu juga dengan Pangeran Martine. Dua pria itu menikmati minuman mereka sebelum membicarakan tujuan utaman mereka bertemu.


"Saya turut berduka cita atas kepergian saudara Anda. Memang saya belum pernah bertemu dengannya. Tapi, siapa sih yang tidak kenal dengan nama Roberto?" Pangeran Martine meletakkan gelasnya kembali.


"Dia pria yang baik. Dia sudah seperti orang tua sekaligus kakak bagi saya. Sejak kecil sekolah saya di biayai oleh keluarganya. Bahkan ketika kedua orang tuanya tiada, ia masih memikirkan kehidupan saya. Dia tidak mau saya menjadi orang susah. Saya tidak menyangka kalau karena jatuh cinta dia harus kehilangan nyawanya."

__ADS_1


Pangeran Martine mulai paham dengan cerita Marco. Ia justru tertarik untuk memanfaatkan situasi itu untuk membuat orang yang membenci keluarga Zeroun bertambah.


"Sayang sekali. Kalau boleh saya tahu, siapa wanita beruntung yang sudah membuat Tuan Roberto tergila-gila?"


Marco menggeleng. Sepertinya ia tidak mau mengatakan nama Katterine di depan Pangeran Martine.


"Itu tidak penting, Pangeran. Oh ya, Anda bilang butuh bantuan saya. Kalau boleh saya tahu hal apa yang bisa saya bantu?"


Pangeran Martine menyandarkan tubuhnya. Ia memasang wajah setenang mungkin agar tidak mencurigakan.


"Kami sedang mencari seorang pria pembunuh. Dia lari dan bersembunyi di sebuah hutan. Kebetulan saat itu kami melihat Anda muncul di sana. Tuan Marco, bukan maksud menuduh. Tapi, kalau boleh saya tahu apa yang Anda lakukan di hutan kemarin?"


Tuan Marco mematung dengan wajah pucat. Ia tidak mau ada yang tahu jika kini ia sedang menyembunyikan Jordan dan Oliver. Bagaimanapun juga Marco pria yang takut dengan penjara.


"Hutan?" Marco memasang wajah linglung. "Oh ya. Saya tidak melakukan apapun di sana. Hutan itu sangat indah. Maksud saya, saya hanya ... saya hanya."


"Tuan Marco, jika Anda memiliki sebuah informasi yang sangat menguntungkan, sebaiknya Anda beri tahu saya. Saya akan membayarnya dengan bayaran yang fantastis. Bahkan jauh lebih besar dari keuntungan bisnis yang kini Anda jalankan." Pangeran Martine berusaha menekan Marco. Walau begitu Marco tetap saja berat berkata jujur.


"Pangeran Martine, saya masih belum paham dengan perkataan Anda."


"Tiga hari lagi. Pikirkan keuntungan yang akan anda dapatkan. Saya tahu kalau Anda menyelidiki kematian Roberto hingga mengikuti Pangeran Jordan kemanapun pergi."


Deg. Marco mematung dengan wajah pucat. Kali ini posisinya benar-benar tersudutkan. Pangeran Martine beranjak dari kursinya. Pria itu tersenyum sebelum memakai jas nya.


"3 hari. Anda bisa mengambil keputusan itu. Lebih cepat lebih baik." Pangeran Martine berjalan dan menepuk pundak Marco perlahan. Ia tersenyum puas karena dari ekspresi Marco siang ini ia bisa menebak kalau Marco mengetahui keberadaan Jordan dan Oliver.


"Bagaimana bisa dia tahu?" gumam Marco dengan wajah takut. Pria itu mengepal kuat tangannya dengan mata terpejam.


Memang sejak kematian Roberto, Marco mulai mengikuti Pangeran Jordan. Kemanapun pria itu pergi ia akan mengikuti secara diam-diam. Hingga saat Oliver dan Jordan ingin menyerang Pieter. Marco juga tahu namun ia tidak mau berbuat apapun. Maka dari itu ketika Jordan dan Oliver kritis, dia adalah pria pertama yang berhasil melihatnya.


Karena bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, Marco membawa Jordan dan Oliver pergi meninggalkan hutan dengan helikopter. Meminta kepada bawahannya untuk menghilangkan jejak tersebut. Maka dari itu tidak ada yang berhasil menemukan jejak mereka karena semua sudah di tangani oleh bawahan Marco.


"Apa aku serahkan saja Pangeran Jordan dan temannya kepada Pangeran Martine? Setelah itu aku bisa pergi ke negara yang jauh dari mereka. Aku akan hidup tenang tanpa beban. Dua pria itu juga seharusnya bertanggung jawab atas kematian Roberto. Tapi, bagaimana kalau tuduhanku salah? Bagaimana kalau mereka tidak bersalah?"


Kali ini Marco benar-benar dilema. Tanpa sadar kini nyawanya juga sedang dalam bahaya. Pangeran Martine tidak akan membebaskan Marco begitu saja walau nanti sudah berhasil mengetahui keberadaan Jordan dan Oliver.


***


Di dalam mobil, Pangeran Martine duduk dengan wajah yang tenang. Seorang pria masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Pangeran Martine.


"Pangeran, kami sudah mengirim orang untuk mengikuti Tuan Marco."


"Bagus. Saya yakin setelah ini ia akan pergi ke tempat Pangeran Jordan dan Oliver berada. Bagaimana dengan Pieter? Apa sudah ada kabar?"


"Berdasarkan penyelidikan, Pieter berhasil di tangkap pasukan Gold Dragon, Pangeran."


"Pria tidak berguna!" umpat Pangeran Martine kesal.


"Apa yang harus kita lakukan Pangeran? Apa Pieter tidak akan membocorkan identitas Anda? Dia juga tahu kalau kita yang membunuh Roberto."


Pangeran Martine berpikir sejenak. Ia tersenyum ketika sudah menemukan rencana jahat.


"Bunuh dia. Buat seolah-olah dia mati karena pasukan Gold Dragon yang membunuhnya."


"Memasukkan orang kita ke dalam markas Gold Dragon cukup sulit, Pangeran." Pria itu sedikit ragu. Ia merasa rencana ini adalah rencana buruk yang sangat membahayakan. Namun penolak itu hanya mendapat tatapan tajam dari Pangeran Martine hingga membuat pria Tidka berdaya itu akhirnya mengangguk setuju.


"Baik, Pangeran. Saya akan berusaha."


Pria itu pergi dari mobil. Setelah pintu tertutup rapat mobil itu melaju kencang. Pangeran Martine tersenyum sambil memandang keindahan kota di luar sana.


"Aku pasti menang. Kalian semua akan menderita," gumamnya penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2