Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 110


__ADS_3

Letty duduk di depan televisi yang kini memberitakan pria yang sangat ia kenali. Wajahnya terlihat pucat karena memang Letty sedang sakit. Walau luka di tangannya sudah sembuh, tapi hati dan pikirannya tidak bisa tenang. Bagaimana tidak? Miller terbukti bersalah dan terancam menjalani hukuman mati.


Pria yang sempat di panggil Bella paman itu telah tewas setelah ia melewati hukuman matinya beberapa hari yang lalu. Sudah berulang kali Letty mengirim pasukan Queen Star untuk membebaskan Miller. Tapi, hasilnya nol besar. Miller menolak karena pria itu percaya kalau kebenaran akan terungkap. Jika dia kabur itu berarti dia mengakui kesalahannya.


Sedangkan Bella? Wanita itu masih depresi. Ia terlihat seperti wanita gila. Di ajak bicara tidak bisa. Apa lagi di minta untuk memberikan kesaksian agar Miller terbebas. Itu hal mustahil. Padahal kalau kondisi Bella baik-baik saja, mungkin kini Miller tidak ada di penjara.


"Kenapa harus seperti ini?" Letty menutup wajahnya dengan tangan. Kisah hidupnya kali ini sedikit unik. Tidak tahu apa masih ada atau tidak stok kesabaran di dalam dirinya. Bahkan saat menemui Bella dan membujuk wanita iri, Letty tidak sanggup. Antara rasa bersalah dan kesal. Ia tidak mau semakin melukai hati Bella jika ia datang menemui Bella di rumah sakit.


Oliver muncul dari dapur sambil membawa minuman hangat dan obat. Sejak berita itu muncul, ia segera mencari keberadaan Letty. Bahkan Oliver juga yang menjaga Letty sejak Miller di penjara. Padahal pernikahannya dengan Katterine tidak lama lagi. Tapi, ia tidak bisa tenang jika melihat adiknya bersedih seperti ini.


"Kau harus meminum obat ini agar lekas sembuh!" Oliver meletakkan obat dan minuman yang ia bawa.


"Kak, bagaimana caranya? Aku tidak mau Miller di hukum mati. Aku tidak mau kehilangan dirinya." Letty kembali menangis. Oliver juga bersedih melihat Letty lemah seperti itu. Ia menarik Letty dan memeluknya dengan erat.


"Miller akan segera bebas. Kebenaran akan terungkap. Tenanglah!"


"Hari ini. Hari ini Miller akan di pindahkan ke penjara yang lebih jauh. Aku tidak mau membiarkan nya semakin menderita. Aku mau membebaskannya kak. Aku harus membawanya pergi." Letty memegang tangan Oliver dan memohon.


"Letty, tapi itu beresiko. Keadaanmu saat ini juga sedang sakit." Oliver tidak mah langsung mengiyakan permintaan adiknya.


"Kak, bantu aku! Aku ingin bertemu dengan Miller!"


Oliver diam sejenak. Mendengar permintaan Letty yang dicampur air mata membuat Oliver semakin tidak tega. Ia harus membantu Letty membebaskan Miller. Apapun caranya keinginan Letty harus bisa terkabulkan. Oliver tidak mau sakit Letty semakin parah. Walau ini cukup beresiko karena pernikahannya tidak lama lagi tapi ia justru bermain dengan aparat kepolisian.


"Baiklah. Tapi, berjanjilah satu hal. Setelah kita berhasil membawa Miller kabur, kau harus kembali menjadi Letty yang dulu. Letty yang ceria dan tidak cengeng seperti ini."


Letty mengangguk. "Ya, kak. Aku janji!"


Di sisi lain, Natalie dan Sonia menemui Bella. Walau harapannya kecil, tapi mereka berharap Bella bisa membantu untuk membebaskan Miller dari jerat hukum.


Bella duduk di ujung tempat tidur sambil menghadap ke jendela yang terbuka. Angin membuat rambutnya bergerak. Tatapannya kosong seperti orang yang tidak lagi memiliki semangat hidup. Harta kekayaan yang begitu menggiurkan kini tidak ada artinya. Bella merasa sendiri dan tidak ada satu orangpun yang menyayanginya saat ini.


"Bella ...." Sonia memandang Natalie sebelum mendekati Bella. Dua wanita itu duduk di sisi kanan dan depan Bella. Menatap wajah wanita itu dengan kesedihan. Bella terlihat kurus dan pucat. Di tambah lagi kini tatapan wanita itu seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup.


"Bella, Tante tahu kau pasti bisa mendengarkan apa yang Tante katakan. Sebelumnya Tante Ingin minta maaf. Kau marah sama Letty dan Miller bukan? Percuma saja kalau Tante menjelaskan yang sebenarnya terjadi, karena kau tidak akan mendengarkan penjelasan Tante. Hari ini Miller akan menjalani hukumannya. Dia akan dipindahkan ke penjara yang jauh. Beberapa hari lagi Miller akan menjalani hukuman mati."


Sonia menghapus air mata di pipinya. Begitu juga dengan Natalie. Mereka berdua tidak sanggup kehilangan Miller. Kali ini yang mereka benar-benar tidak berarti sama sekali.


"Miller anak Tante. Kau juga anak Tante. Sejak Ella memberikan jantungnya kepada Natalie, Tante sudah menganggap kau sebagai putri Tante. Bella, ini bukan rayuan agar kau mau membebaskan Miller. Tapi, ini perkataan seorang ibu kepada anaknya. Miller tidak bersalah. Tante tidak siap kehilangan Miller. Sama seperti ketika hati ini tidak sanggup kehilangan dirimu."


Natalie berusaha menenangkan Sonia. Ia melihat wajah Bella dan memegang tangan wanita itu.


"Jantung Ella ada di sini. Setiap kali ada di dekatmu, aku selalu ingin memelukmu. Mungkin Ella ingin kita menjadi saudara. Bella, maafkan kami. Hanya kau yang bisa menolong kami saat ini. Tolong, Bella. Bangun dan selamatkan Kak Miller. Tolong!"


Bella masih tetap pada posisinya. Memandang ke depan tanpa menghiraukan orang yang ada di dekatnya. Seolah-olah mereka memohon hanya angin lalu saja.


Sonia dan Natalie menunggu jawaban Bella selama berjam-jam. Mereka menyerah ketika waktunya Miller dipindahkan telah tiba. Ketika dua wanita itu pergi meninggalkan Bella sendirian di kamarnya. Saat pintu tertutup, Bella mulai menggerakkan matanya. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya.


"Miller ...."


***


Pukul 5 sore.


Mobil kepolisian berbaris rapi melalui jalanan sunyi. Di antara mobil itu ada mobil yang kini ditumpangi Miller. Dengan tangan terborgol, Miller menunduk dalam. Ia tahu bagaimana kesedihan yang dirasakan semua orang saat ini. Tapi, di lubuk hati yang paling dalam ia yakin kalau Bella akan sembuh dan mengatakan yang sebenarnya terjadi. Miller yakin akan hal itu.


"Maafkan aku, Letty. Jika aku kabur, selamanya Bella akan menganggap diriku sebagai penjahat. Aku bukan penjahat. Sejak awal masalah kita hanya di dasari salah paham. Bukan hatiku memihak pada Bella. Tapi, aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pergi dengan cara seperti ini."


Miller berkeyakinan kuat kalau tidak lama lagi dirinya akan bebas. Ya. Tapi ia tidak pernah menyangka kalau orang yang akan membebaskannya adalah Oliver and Gold Dragon.


Miller mengangkat kepalanya ketika mobil yang ia tumpangi berhenti. Dahinya mengernyit melihat puluhan mobil dan sepeda motor mengelilingi mobil rombongan polisi.


"Apa-apaan ini? Gold Dragon? Kenapa mereka bisa di sini?" gumam Miller di dalam hati.


Polisi turun dari mobil untuk menyerang. Begitu juga dengan pasukan Gold Dragon. Semua berusaha untuk saling mengalahkan. Bahkan Miller sendiri yang merasa tidak terjaga kini memberanikan turun dari mobil untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika Miller turun, Letty juga turun. Dengan wajah pucat ya wanita itu menatap wajah Miller.


"Letty? Kenapa ... kenapa wajahnya pucat seperti itu?" gumam Miller bingung.


Letty berlari kencang tanpa peduli dengan baku tembak yang kini ia lewati. Wajah Miller membuatnya sembuh dan jauh lebih bersemangat. Miller melangkah maju. Ia berusaha menyambut tubuh Letty. Namun tangannya terborgol. Ia tidak bisa membuka kedua tangannya untuk menyambut Letty.


"Miller ...."

__ADS_1


Letty berhambur ke dalam pelukan Miller. Pasukan polisi mengarahkan senjata mereka ke arah Letty bersamaan dengan itu pasukan Gold Dragon juga mengarahkan senjata api mereka ke arah polisi.


Oliver yang menyaksikan kejadian itu di dalam mobil hanya bisa bersikap waspada. Ia tidak mau turun tangan langsung karena tidak ingin terlibat.


"Ikut denganku ya. Kita pergi dari sini!" ajak Letty dengan tangisan.


Miller hanya diam. Ia merasa kalau kini situasi semakin sulit. Tidak tahu keputusan apa yang harus ia ambil.


"Saat itu kau pernah berkata kalau kau mencintaiku. Miller, aku ingin menjawab ya. Tapi, aku malu. Ya, aku malu. Aku tidak menyangka kalau cinta tidak boleh di tunda. Sekarang aku katakan padamu kalau aku mencintaimu. Aku mencintaimu Miller."


Miller tersenyum bahagia. Perasaan yang ia rasakan telah terbalaskan.


"Letty, aku mencintaimu."


"Aku mencintaimu." Letty memandang wajah Miller. "Ikut pergi denganku ya."


"Semua akan baik-baik saja." Miller masih berusaha menyakinkan Letty tidak membujuknya kabur.


"Tidak, Miller. Ikut denganku atau aku ikut masuk ke penjara bersamamu!" ancam Letty dengan tegas.


Miller merasa tidak memiliki pilihan lain. Hingga akhirnya ia mengangguk setuju. Saat Miller setuju, pasukan Gold Dragon mengambil tindakan. Mereka melakukan strategi yang di susun Oliver. Membawa kabur Miller dan Letty serta memastikan mereka baik-baik saja.


Di tengah baku tembak di mana-mana, Miller dan Letty berlari. Masih dengan tangan yang terborgol hingga pria itu tidak bisa membantu Letty menyerang para polisi.


"Sebenarnya aku tidak suka kabur seperti ini. Tapi, demi cintaku. Di manapun aku akan tetap bahagia asalkan Letty ada di sisiku," gumam Miller di dalam hati.


Letty membawa Miller masuk ke dalam mobil yang didalamnya sudah ada Oliver. Mobil itu melaju kencang. Pasukan Gold Dragon segera menghadang jalan agar pihak kepolisian tidak berhasil mengejar mereka.


Kepala polisi yang bertugas menangani Miller menghubungi pihak kantor. Ia butuh bantuan untuk menangkap tersangka mereka yang kabur.


"Kami butuh bantuan!"


"Masalahnya telah selesai! Biarkan mereka pergi!"


Seperti mendapat kabar mengangetkan. Kepala polisi itu berdiri mematung setelah mengeluarkan perintah agar tidak ada yang mengejar Miller kabur.


"Sejak awal aku sudah yakin kalau Tuan Miller tidak bersalah! Syukurlah kalau kini kebenaran terungkap. Tuan Miller memang pria yang bijaksana. Saya tahu kalau ia bisa kabur sejak kemarin, tapi ia tidak mau melakukannya," gumam polisi itu di dalam hati sambil memandang kepergian pasukan Gold Dragon yang semakin menjauh.


***


"Di mana Lettyku yang galak!"


"Berhentilah merayu! Keadaan kita sedang tidak aman."


"Kau yang membuat tidak aman."


"Jika tidak membebaskan mu dengan cara seperti ini, kau pasti tidak akan mau kabur. Kau bahkan mengancam akan membenci siapapun yang datang membebaskanmu. Semua orang mengkhawatirkanmu! Apa kau tahu?"


"Benarkah? Bukankah kau bilang aku pria yang payah!"


"Jangan katakan itu lagi!" Letty membuang borgol yang sudah terlepas. "Kita akan pergi ke negara yang jauh. Tinggal di desa terpencil."


"Keputusan seperti apa itu? Karena pria ini kau meninggalkan kami?" protes Oliver.


"Kak, aku tidak mau Miller di tangkap lagi!"


"Siapa yang berani menangkap Miller! Dia sudah bebas!" jawab Oliver santai. Tentu saja ia tidak pernah terlambat mendapat informasi kalau ternyata Miller telah terbukti tidak bersalah.


"Bebas?" celetuk Miller dan Letty bersamaan.


"Ya. Sekarang kita akan pergi menemui orang-orang yang sudah menunggu kedatangan kita."


Letty memandang wajah Miller dengan wajah malu-malu. Miller terlihat bahagia melihat wajah Letty yang memerah. Jarang-jarang ia bisa melihat wajah Letty yang manis seperti itu.


"Aku sudah bilang. Semua tidak akan seburuk yang kau pikirkan!"


"Aku benar-benar menyesal sudah membebaskanmu!" Letty melipat tangannya dan memandang keluar jendela.


"Tapi tidak menyesalkan sudah mencintaiku?" bisik Miller lembut. Letty yang tidak tahu mau mengatakan apa lagi hanya bisa menunduk malu. Miller menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Hari ini Miller mendapat keberuntungan yang tidak pernah ia sangka-sangka. Wanita yang ia cintai memberikan hati dan cintanya. Serta ia terbukti tidak bersalah dari tuduhan yang sempat menimpah dirinya.


"Aku mencintaimu, Letty. Sangat mencintaimu." Miller mengecup pucuk kepala Letty. Ia benar-benar sangat menyayangi wanitanya.

__ADS_1


***


1 Minggu kemudian.


Pesta pernikahan Katterine dan Oliver telah tiba. Semua orang lagi-lagi berkumpul di istana Cambridge untuk merayakan hari bahagia itu. Kali ini semua berkumpul. Termasuk Diva dan keluarganya. Senyum bahagia mengembang indah mewakili hati masing-masing.


Katterine muncul dengan gaun panjang yang menyapu lantai. Semua orang kagum melihat keindahan dan kemewahan gaun yang dikenakan Katterine. Oliver yang sedang menyambut kedatangan calon istri juga terlihat gugup. Bahkan tanpa di sangka-sangka, pria itu sampai meneteskan air mata. Ia terlalu bahagia hingga tidak bisa menahan air matanya.


"Air mata apa ini? Kenapa aku menangis?" gumamnya di dalam hati. Kedua matanya kembali menatap Katterine yang sudah semakin dekat dengannya. "Dia ... benar-benar cantik."


Di balik selendang putih yang menutupi wajah cantiknya, Katterine memandang wajah Oliver dengan senyuman. Ia tidak menyangka kalau tidak lama lagi dirinya akan menjadi istri sah Oliver. Pria yang memang sejak dulu membuatnya tergila-gila.


Ketika Katterine tiba dan melepas genggaman tangannya dari Zeroun, Oliver segera menyambut tangan Katterine. Mereka akan segera melakukan akad nikah sebelum sah menjadi suami istri.


Zeroun merasa terharu. Menyerahkan putrinya untuk menjadi seorang istri memang momen terharu yang tidak akan pernah terlupakan.


"Mulai nanti, dia bukan anak Perempuanku yang manja lagi. Dia akan memiliki dua pasang orang tua dan suami. Aku tidak menyangka kalau momen seperti ini akan tiba," gumam Zeroun di dalam hati.


Tidak butuh waktu lama untuk menjadikan Katterine dan Oliver sah menjadi suami istri. Semua tamu undangan terlihat haru ketika menyaksikan momen pernikahan itu. Tetes air mata bahagia melengkapi kebahagiaan di hari minggu yang cerah.


Zeroun sudah ada di samping Emelie. Pria itu memegang dan mengusap tangan sang istri ketika air mata yang begitu deras menetes.


"Aku bahagia ... sangat bahagia," ucap Emelie.


"Ya. Aku juga sangat bahagia. Anak-anak kita telah bahagia dengan cinta mereka."


Momen pernikahan memang momen yang didambakan bagi pasangan yang saling mencintai. Di antara tamu undangan, ada pasangan yang baru jadian di sana. Siapa lagi kalau bukan Letty dan Miller. Walau perjuangan cinta mereka terbilang unik dan mendebarkan, tapi akhirnya kini mereka memiliki akhir cinta yang tidak kalah bahagia dari yang lain.


"Kapan kita menikah?" ledek Miller dengan wajah khasnya.


"Menikah?" Letty mengeryitkan dahinya.


"Ya. Apa kau mau berpacaran sampai tua? Aku tidak mau berlama-lama menjagamu!"


Letty melebarkan kedua bola matanya. "Kau tidak rela menjagaku? Tidak ikhlas maksudnya?"


Miller membungkam mulut Letty dengan tangan. "Berisik! Apa kau tidak tahu kalau ada banyak tamu di sini."


"Tapi kau menyebalkan Miller!"


Suara tepuk tangan yang meriah ketika sepasang pengantin berciuman membuat pertengkaran Miller dan Letty tertahan. Mereka kembali duduk dengan posisi sewajarnya agar tidak ada yang curiga.


"Kau menyebalkan!" umpat Letty.


Miller tersenyum. Ia menarik pinggang Letty dan merangkulnya dengan mesra. Sejak mereka berpacaran, Miller selalu saja memiliki ide untuk membuat Letty luluh. Seperti sekarang, wanita itu tersenyum seolah melupakan kekesalannya.


***


Bella berlari mengejar Natalie. Dua wanita itu bermain di pinggiran kolam renang. Bella telah sembuh ketika Sonia dan Natalie mengunjunginya siang itu. Bahkan Bella sendiri yang datang ke kantor polisi untuk membebaskan Miller. Tidak ada lagi dendam di hatinya. Ia kini terlihat bahagia karena memiliki Natalie dan Sonia.


"Kejar aku jika kau bisa. Dasar wanita manja!" ledek Natalie.


"Beraninya kau meledekku!" umpat Bella kesal. Ia terus mengejar Natalie dan ingin menangkap ya. Bella tidak mau kalah dari saudaranya itu.


"Anak-anak, bersiaplah! Kita akan datang ke resepsi pernikahan Katterine dan Oliver!" teriak Sonia. Di sampingnya ada Aldi yang selalu setia menemani.


"Dua anak saja sudah repot sekarang kita memiliki tambahan satu lagi yang sikapnya sama dengan Natalie dan Miller!" Sonia memegang kepalanya yang pusing.


"Itu tandanya, kau ditakdirkan menjadi mommy yang galak!"


"Semakin galak mereka semakin tidak takut."


Aldi menahan kalimatnya ketika Natalie dan Bella berlari ke arah mereka. Dua wanita itu menarik tangan Sonia dan Aldi secara bersamaan.


"Ayo mom!"


"Apa yang mau kalian lakukan!" Tiba-tiba saja Natalie dan Bella membawa Sonia dan Aldi masuk ke kolam renang. Baju mereka basah ketika mereka berempat sudah terapung di atas kolam renang.


"Apa-apaan ini!" protes Sonia.


"Kami sayang Mommy dan Daddy." Bella dan Natalie memeluk Sonia dan Aldi bersamaan. Hal itu membuat amarah Sonia meredam. Hingga akhirnya ia hanya bisa tersenyum dan memeluk kedua putrinya.

__ADS_1


"Kalian adalah semangat hidup mommy!"


__ADS_2