Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Pendekatan


__ADS_3

Leona tiba di dalam kamar. Wanita itu mencari-cari handsfree yang baru saja dikatakan oleh Jordan. Dengan wajah berseri, Leona berjalan ke arah meja. Memang benar apa yang dikatakan oleh Jordan. Handsfree itu ada di dalam kamar dan tergeletak di atas meja.


“Pria itu bukan seorang pembohong,” ucap Leona dengan wajah baik. “Ada sisi baiknya juga walau tidak banyak,” sambung Leona lagi. Ia mengambil handsfree itu dan memandangnya dengan saksama. Memang tidak salah lagi. Benda mungil itu memang miliknya yang akan menghubungkannya dengan orang-orang kepercayaannya yang ada di markas Queen Star.


Namun, saat Leona memakainya di telinga. Benda imut multifungsi itu tidak lagi bisa di gunakan. Dengan napas memburu cepat, Leona merem*as benda kecil tersebut. “Pria itu benar-benar membuat kesabaranku hilang!” teriak Leona kesal. Ia merasa telah dibohongi pagi itu. Amarah wanita itu memuncak hingga ke permukaan. Wajahnya memerah. Wanita itu menghempaskan handsfree yang sempat ada di tangannya dan berjalan ke arah pintu. Langkahnya sangat gusar dan tidak beraturan.


Leona melangkah cepat menuju ke arah tangga. Ia terlihat sangat emosi. Kali  ini hanya pistol yang ada di pikirannya. Ia ingin merebut senjata api itu dari salah satu pengawal yang berjaga sebelum menembak pria yang ia kenal dengan nama Oliver tersebut.


Satu pengawal yang berdiri tidak jauh dari posisi Leona berdiri ia pukul dengan trik yang ia miliki. Pengawal itu tidak bisa melawan karena memang serangan Leona yang secara mendadak. Pistol yang terselip rapi di pinggang pengawal Jordan berhasil di rebut oleh Leona.


DUARR DUARR


Dua peluru di lepas Leona ke sembarang arah sebagai bentuk pembukaan perang antara dirinya dan Jordan. Leona menatap ke arah bawah. Jordan berdiri di bawah tepatnya di depan tangga. Pria itu menatap wajah Leona dengan tatapan yang sangat tenang walau kini ada senjata api di tangan Leona.


“Habislah, Kau!” umpat Leona kesal sambil menjejaki kakinya di anak tangga.

__ADS_1


Baru beberapa langkah menjejaki anak tangga, kaki Leona terpeleset. Wanita tangguh itu kehilangan keseimbangan tubuhnya. Leona merasa melayang dengan kedua mata memandang curamnya tangga ke lantai bawah. Pistol yang sempat ada di tangannya terlepas dan terhempas begitu saja. Leona belum pernah sesial itu saat menjejaki anak tangga. Sepertinya, langit saja tidak berpihak kepadanya pagi itu. Niatnya untuk melawan Jordan harus gagal lagi dan lagi. Satu tangannya berusaha meraih pegangan tangga yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Namun tidak berhasil.


Jordan yang saat itu ada di lantai bawah membalikkan tubuhnya. Pria itu terlihat kaget saat melihat Leona mau terjatuh. Dengan gerakan cepat ia berlari untuk menolong Leona. Kedua kakinya berjalan dengan cepat dan pasti. Setelah tiba di dekat Leona, satu tangannya menarik tangan Leona ke dalam pelukannya. Satu tangannya yang lain melindungi kepala Leona dari benturan. Ia tidak ingin Leona terluka saat terjatuh dari tangga.


Jordan dan Leona terjatuh bersama-sama dari tangga. Tubuh mereka bergulung-gulung dengan hantaman-hantaman yang sangat menyakitkan. Leona memejamkan mata dengan rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya. Hanya tubuhnya. Wanita itu merasa terlindungi di bagian kepala. Jordan benar-benar melindungi kepalanya dari benturan.


Hingga pada akhirnya, Leona dan Jordan berada di permukaan lantai. Leona berada di atas tubuh Jordan. Wanita itu membuka mata untuk melihat keadaan Jordan. Beberapa pengawal milik Jordan berlari dengan wajah khawatir. Jordan hanya memberikan kode dengan tangannya agar mereka tidak mendekat. Pria itu terluka pada bagian dahinya. Namun, ia hanya memasang wajah tersenyum seolah baik-baik saja.


“Apa kau baik-baik saja?” ucap Jordan pelan sambil menatap wajah Leona. Jordan melihat pengawal lainnya yang mendekat. Pria itu melambaikan lagi tangannya sebagai perintah agar semua pengawalnya pergi. Jordan ingin berdua saja bersama Leona di rumah itu.


Jordan meraih luka yang ada pada dahinya. Pria itu merasa sakit pada sekujur tubuhnya. Ia berdiri dan berjalan menuju ke arah sofa. Jordan berjalan dengan tertatih-tatih tanpa peduli dengan kepergian Leona kemana.  Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa sebelum memejamkan mata.


“Lumayan sakit,” ucap Jordan di dalam hati.


Leona muncul dengan beberapa alat medis. Wanita itu ingin mengobati luka pria yang sudah mau menolongnya. Jika tidak ada Jordan, mungkin detik itu tubuh Leona yang terluka. Dengan ekspresi dingin tanpa senyuman, Leona duduk di samping Jordan. Wanita itu mengambil alkohol dan kapas untuk membersihkan darah Jordan. Tidak peduli kalau pria yang ada di hadapannya masih memejamkan mata dan tidak melihat keberadaannya.

__ADS_1


Jordan membuka matanya. Pria itu menatap wajah Leona dengan senyuman kecil. “Terima kasih,” ucap Jordan.


Leona hanya diam. Wanita itu masih fokus dengan apa yang kini ia kerjakan. Membersihkan luka Jordan sebelum menutup luka itu. “Aku harus segera pergi. Jangan mengikutiku lagi. Hidupmu tidak akan bisa tenang jika mengikuti hidupku. Kita memiliki tujuan hidup yang tidak sama,” ucap Leona dengan wajah yang sangat serius. Leona meletakkan alat medis yang sejak tadi ia gunakan untuk mengobati luka Jordan. Wanita itu beranjak dari sofa yang ia duduki.


Jordan menarik tangan Leona. Pria itu meletakkan tubuh Leona di atas pangkuannya sebelum memeluknya dengan mesra. “Apa bedanya? Kau membunuh aku juga bisa membunuh. Kau menembak aku juga bisa menembak. Apa lagi bertarung, itu hal yang sangat mudah bagiku. Aku bisa membantumu menyelesaikan semua masalah yang kau punya,” bisik Jordan dengan senyuman kecil.


Leona membisu. Wanita itu kembali ingat dengan tujuannya berangkat ke Meksiko. Hanya nama Zean yang memenuhi pikirannya. Setidaknya orang yang bernama Zean Wick itu target utamanya. Leona ingin membalaskan rasa sakit hatinya sesegera mungkin.


“Kenapa kau diam? Apa itu artinya kau setuju? Kau mengijinkanku menemanimu bermain-main?” ucap Jordan dengan penuh rasa percaya diri.


“Sejak awal, kau sudah tahu siapa aku sebenarnya. Maafkan aku. Kita tidak bisa berteman atau dekat seperti apa yang kau harapkan,” ucap Leona dengan suara pelan. Leona mencengkram tangan Jordan sebelum memelintirnya. Wanita itu segera beranjak dari pangkuan Jordan. Sorot matanya sangat tajam. “Jangan ganggu aku lagi. Aku tidak ingin ada orang lain yang ikut campur dalam masalahku!” ucap Leona sebelum menghempaskan tangan Jordan dan melangkah pergi. Wanita itu tidak lagi mau memutar tubuhnya untuk memandang Jordan.


Jordan duduk bersandar dengan bibir tersenyum kecil. “Maaf, baby girl. Aku  tidak akan menuruti permintaanmu!” ucap Jordan sebelum memejamkan matanya.


 

__ADS_1


__ADS_2