Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 107


__ADS_3

Miller melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil yang membawa Bella benar-benar cepat lajunya. Bahkan kini hilang di jalanan yang dipenuhi mobil berlalu lalang. Di tambah lagi langit yang begitu cerah kini berubah gelap. Kilat-kilat petir bermunculan di mana-mana. Letty masih mengotak ngatik ponselnya untuk melacak posisi Bella. Hanya gelang itu satu-satunya petunjuk yang bisa mempertemukan mereka dengan Bella saat ini.


"Hujannya sangat deras. Kita tidak bisa melaju lebih cepat lagi! Berbahaya." Miller memandang Letty yang masih fokus dengan ponselnya.


"Aku juga belum berhasil menemukan keberadaan Bella. Jaringan menjadi sulit saat hujan petir seperti ini."


"Aku yakin mereka yang membawa Bella pasti karena menginginkan gelang itu."


"Ya, kau benar. Dan gelangnya tidak bersama Bella. Semoga saja Bella baik-baik saja." Letty berusaha keras melacak keberadaan Bella. Hingga akhirnya ia berhasil.


"Aku sudah mendapatkan lokasinya. Ke sana!" Letty menunjuk ke arah kanan. Miller segera membelokkan mobilnya. Namun tetap saja pria itu tidak bisa melaju dengan kencang. Jalanan licin dan kini mereka berada di jalanan menanjak yang begitu berbahaya.


Di sisi lain, Bella berontak ketika dua pria memaksanya turun dari mobil. Di sana sudah ada mobil yang menunggu kedatangan mereka. Walau tidak memiliki keahlian apapun, tapi Bella berusaha melepaskan diri.


"Lepaskan aku!" teriak Bella dengan kedua mata berkaca-kaca. Karena terlalu kencang cengkraman pria itu membuat gelang yang diberikan Letty terlepas dan terjatuh di jalan. Tubuh Bella di dorong begitu saja ke dalam mobil Van sebelum mobil itu melaju dengan cepat.


Bella semakin takut melihat pria yang kini mengelilinginya. Namun ia kembali ingat dengan gelang pemberian Letty dan berharap mereka segera menemukannya. Wajah Bella berubah kecewa ketika tidak bisa menemukan gelang itu di tangannya.


"Gelang itu. Di mana gelangnya. Aku ingat kalau gelangnya ada di tanganku tadi," gumam Bella di dalam hati.


Secara diam-diam pria yang di belakang Bella menyuntikkan sebuah cairan. Ketika jarum itu menancap di lehernya, Bella masih berjuang keras untuk bertahan. Namun cairan itu mulai mengalir di tubuhnya. Hingga tak lama kemudian, Bella mulai lemas. Tubuhnya seperti tidak bertenaga. Kedua matanya ngantuk berat dan Bella ingin tidur. Ia tidak lagi sadarkan diri setelahnya. Tidak lagi bisa memikirkan nasip yang akan menimpahnya nanti.


***


Sekitar 20 menit, Miller menghentikan laju mobilnya. Kini mereka tiba di tempat berhentinya posisi Bella. Letty turun dari mobil tanpa peduli dengan hujan yang kini turun dengan deras. Ia mencari keberadaan Bella yang memang posisinya sudah sangat dekat dengan dirinya.


"Lokasinya berhenti di sini. Tapi, di sini hanya jalanan kosong," ucap Letty dengan wajah ragu.

__ADS_1


Miller memperhatikan keadaan sekitar. Hujan deras menang menghalangi pandangan mereka. Miller melangkah mendekati Letty. Hingga akhirnya ia menemukan gelang yang dipakai Bella tergeletak di jalanan.


"Gelang ini?" Miller menunjukkan gelang itu kepada Letty. Letty menerima gelang itu untuk memeriksa gelang tersebut. Wajahnya kecewa ketika mengetahui kalau gelang itu adalah gelang yang tadi ia berikan kepada Bella.


"Petunjuk kita sudah hilang. Sekarang kita tidak tahu harus ke mana."


Miller tahu kalau Letty kecewa. Ia memegang tangan Letty. "Hujannya sangat deras. Kau bisa sakit jika berada di bawah hujan seperti ini. Sebaiknya kita pulang ke markas untuk menghangatkan diri. Setelah itu kita akan pikirkan lagi cara menemukan Bella."


"Tapi, aku ingin menemukannya sekarang juga."


"Percuma saja. Langit semakin gelap. Bella pasti akan baik-baik saja."


Letty tidak memiliki pilihan lain. Ia mengangguk dan ikut bersama Miller masuk ke mobil. Ponsel yang sejak tadi ia genggam ia lempar ke belakang karena kesal.


"Kenapa bisa seperti ini! Siapa yang sudah menculik Bella?"


***


Di tambah lagi kini Letty pulang bersama Miller. Jelas-jelas tadi perginya bersama dengan Bella. Rasa curiga semakin besar namun tidak ada satupun yang berani bertanya kepada Letty.


"Buatkan minum hangat!" perintah Miller kepada wanita yang berdiri di dekat pintu. Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan kepala sebelum pergi menuju ke dapur.


"Tenanglah." Miller membawa Letty agar duduk di kursi. Ia segera mengambil handuk dan menyelimuti tubuh Letty yang basah.


"Aku menyesal sudah memandangnya sebagai wanita jahat. Aku terlalu ceroboh hingga membiarkannya di culik. Seharusnya aku tidak membawanya keluar tadi. Seharusnya aku tahu kalau di luar sedang tidak aman. Aku berpikir kalau kemampuanku bisa melindunginya. Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan."


Miller memegang kedua tangan Letty yang memutih. Ia mengusap tangan itu agar kembali hangat. "Jangan salahkan dirimu seperti ini. Aku juga ada di lokasi, itu berarti aku juga salah. Bella wanita yang lemah. Pasti kini dia sangat ketakutan."

__ADS_1


"Mereka pasti mengincar data itu. Apa tidak sebaiknya kita berikan saja apa yang mereka inginkan."


"Letty, ada apa denganmu? Kenapa kau berubah menjadi lemah seperti ini?"


"Miller, aku hanya tidak mau ada korban dalam masalah ini. Jika Bella sampai celaka, apa gunanya data itu sama kita? Kita tidak akan bisa bersenang-senang di atas penderitaan orang lain."


"Sssttt ... aku tahu kau sedang panik." Miller meletakkan jarinya di depan bibir Letty. "Tapi melihatmu seperti ini, aku yang semakin khawatir. Aku takut kau sakit, Letty. Aku takut kau sedih. Aku akan berjuang untuk mencari solusi atas masalah ini. Sebaiknya sekarang kau tenang dulu ya."


Letty memandang wajah Miller sebelum menyandarkan kepalanya di dada Miller. Walau belum ada kata cinta yang terucap dari bibirnya, tapi Letty sudah menganggap Miller sebagai bagian penting di dalam hidupnya saat ini.


"Aku tidak pernah setakut ini."


Miller mengusap punggung Letty dan memeluk wanita itu dengan erat. Ia melepas pelukannya ketika melihat pasukan Queen Star muncul sambil membawa minuman hangat.


"Minum dulu ya."


Letty mengangguk pelan. Ia menerima minuman hangat yang diberikan Miller. Meneguknya secara perlahan. Sensasi hangat yang menjalar di tubuhnya memang memberi rasa tenang. Letty bisa kembali berpikir jernih setelah hatinya kembali tenang.


"Kau harus mengganti bajumu yang basah ini." Letty memandang penampilannya. Ia benar-benar kacau hanya karena kehilangan Bella. Letty tersenyum sambil mengangguk.


"Apa mau aku temani?" ledek Miller agar Letty tertawa.


"Coba saja kalau kau berani!"


Miller kembali tenang melihat wajah Letty yang kembali galak. "Aku juga ingin ganti baju. Kita akan membicarakan hal ini lagi setelah ganti baju."


"Baiklah."

__ADS_1


Saat ingin beranjak, tiba-tiba Letty kembali ingat dengan pernyataan cinta Miller. Namun, ia tahu bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Letty melanjutkan langkah kakinya menuju kamar pribadi miliknya. Meninggalkan Miller sendirian di atas sofa.


Maaf ya kalau hasilnya gk maksimal. Author lagi sakit.🙏


__ADS_2